Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#32


__ADS_3

Seperti biasa, Arumi berangkat pukul 8 pagi ke butik menggunakan taksi. Gadis itu berhenti tak jauh dari lokasi tempatnya bekerja dan memutuskan mampir sebentar ke Coffe shop yang berjarak dua bangunan dari butik Nyonya Nastya untuk membeli kopi dan sarapan pagi. Tadi dia berangkat buru-buru, sehingga harus melewatkan sarapan yang biasanya tak pernah absen dia lakukan bersama keluarga Aldric.


Usai membeli apa yang di inginkan, Arumi berjalan santai dan segera masuk ke dalam tempat kerjanya. Sudah ada beberapa karyawan yang ternyata jauh lebih pagi dari dirinya. Alasan mereka datang pagi mungkin saja karena deadline beberapa pesanan pelanggan yang harus segera mereka selesaikan sebelum tenggat waktu yang di beri. Memang, akhir-akhir ini butik sedang ramai pesanan dan Arumi termasuk salah satu karyawan yang harus ikut terlibat dalam kesibukan itu.


"Aru, ada seseorang yang mencarimu." Ucap salah seorang pegawai ketika Arumi baru saja meletakkan segala barang bawaannya di atas meja kerjanya.


"Siapa ?" Alis Arumi mengernyit heran. Baru pukul 8.30 pagi. Siapa yang mencarinya sepagi ini ?


"Seorang wanita. Katanya dia pemilik gaun pengantin yang sekarang kau kerjakan."


"Oh ya ? Di mana dia ?" Seulas senyum langsung terbit di wajah gadis itu ketika tahu siapa yang datang.


"Ada di ruangan Nyonya Nastya."


"Baiklah ! Aku segera ke sana."


Pegawai itu mengangguk dan segera pergi. Arumi melepas mantel yang dia pakai, merapikan penampilannya sebentar lalu melangkah ke ruangan Nyonya Nastya.


"Selamat pagi, Nona Claire !" Sapa Arumi sesaat setelah dia membuka ruangan Nyonya Nastya.


Tentu sang pemilik ruangan belum ada di sana. Namun, alasan Claire bisa masuk adalah karena Nyonya Nastya dan ibu Claire sudah berteman sejak lama. Di tambah lagi, Claire adalah tamu VVIP butik mereka bukan ? Jadi, tidak aneh jika Claire bebas masuk ke ruangan Nyonya Nastya kapan pun dia mau. Dan, sudah pasti itu atas perintah wanita pemilik butik itu sendiri.


Perempuan cantik yang duduk di dalam sofa di ruangan itu tersenyum saat melihat sosok Arumi dan langsung segera menyambut gadis asia itu.


"Selamat pagi, Aru ! Duduklah !" Ucapnya mempersilahkan.

__ADS_1


"Kenapa anda datang sepagi ini, Nona Claire ?" Tanya Arumi heran. Gadis itu mendudukkan bokongnya di samping Claire.


"Panggil Claire saja, Aru ! Kan, sudah ku bilang." Tutur Claire jengah. Gadis itu memutar bola matanya malas.


Arumi menepuk jidatnya seraya terkekeh kecil. Dia lupa akan aturan itu.


"Maaf, Claire !" Ujarnya.


"Lupakan. Aku kemari bukan untuk memperpanjang masalah itu. Aku ke sini ingin melihat gaunku. Bagaimana perkembangannya ?" Sahut Claire bersemangat. Terlihat sangat tidak sabaran untuk melihat wujud dari gaun pengantin impiannya.


"Ayo, ikutlah denganku." Ajak Arumi yang kini sudah berdiri dan siap memimpin jalan untuk Claire.


"Oke." Jawab Claire sembari turut berdiri. Mengiringi langkah kaki Arumi menuju tempat di mana gaun pengantinnya berada.


"Claire, kapan calon suamimu akan kemari untuk fitting jas pengantinnya ?" Tanya Arumi di sela-sela kegiatannya membantu Claire memakai gaun pengantin.


Pasalnya, Claire hanya selalu datang sendiri. Dia hanya membawa kertas rincian berisi ukuran sang calon suami dan tidak membawa orangnya secara langsung. Meski hal itu saja sudah cukup, namun bagi Arumi itu tetap saja kurang sempurna. Bagaimana kalau ukurannya ternyata ada selisih ? Atau jika tiba-tiba ukuran badannya bertambah atau malah berkurang ? Tentu, itu akan sedikit memberi kekurangan pada penampilan sang mempelai pria nantinya jika jasnya kebesaran atau malah kekecilan.


"Entahlah !" Claire mengangkat bahu. Wajahnya yang terpantul di cermin terlihat pasrah. " Sebenarnya, dia tidak menyukai aku, Aru. Kami menikah hanya karena perjodohan. Makanya, dia sama sekali tidak peduli dan hanya menyuruh aku yang mengurus semuanya." Lanjut Claire sambil membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk melihat bagaimana dirinya terlihat di pantulan cermin.


Arumi mundur dua langkah. Membiarkan Claire memeriksa sendiri gaunnya dan menunggu gadis cantik itu untuk melayangkan komentar.


"Bagaimana ? Ada yang tidak kau sukai dari gaunnya ?" Tanya Arumi harap-harap cemas setelah hampir satu menit, mulut Claire tetap bungkam tak bersuara.


"Tidak." Claire menggeleng. "Aku menyukainya. Hanya saja... bukankah aku harus diet lagi ? Sepertinya aku masih terlihat gendut." Claire menggembungkan pipinya sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Claire ! Kau itu sudah sangat sempurna. Apalagi yang ingin kau kuruskan ?" Tanya Arumi tergelak. Melihat ekspresi lucu Claire benar-benar membuat Arumi tidak tahan untuk tertawa.


"Benarkah ?" Claire menengok Arumi sebentar sebelum kembali memperhatikan dirinya di cermin. "Tapi, bukankah akan lebih sempurna jika aku menurunkan 3 atau 4 kilo lagi ?"


"Tubuhmu sudah benar-benar ideal, Claire ! Sungguh !" Arumi masih berusaha meyakinkan Claire. Tubuh Claire sudah sangat indah bahkan bisa di bilang jika tubuhnya adalah tubuh yang di idamkan oleh setiap wanita. Lalu, apalagi yang ingin gadis itu rubah dari dirinya ?


Claire tampak berpikir sebentar. " Aku setuju. Tapi tetap akan ku turunkan 2 kilo lagi." Putusnya sambil tersenyum.


Arumi hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin setiap selebriti memang seperti ini. Selalu merasa ada yang kurang pada dirinya. Padahal, jika orang biasa yang seperti Aru melihatnya, justru sudah begitu sempurna.


"Claire, tadi kau bilang kalau calon suamimu tidak menyukaimu, kan ? Lantas, kenapa kau tetap ingin menikah dengannya ?" Tanya Arumi penasaran. Pernyataan Claire tadi benar-benar membuatnya tak habis pikir. Pria macam apa yang mampu menolak wanita secantik dan seanggun Claire di dunia ini.


Claire tampak menghela napas, masih memakai gaun pengantinnya, perempuan cantik itu duduk di salah satu sofa berbentuk bundar di dekatnya.


"Aku tidak tahu. Mungkin karena sejak kecil aku sudah mencintainya. Bisa di bilang dia cinta pertamaku." Jawab Claire seraya menghela napas pelan. Ia tersenyum penuh arti kala mengingat momen pertama dia bertemu dengan Leon. Lelaki cinta pertamanya, yang dulu membantunya ketika dia menjadi bahan bully-an teman-temannya sewaktu taman kanak-kanak.


Sejak itu, Claire mulai menganggap Leon spesial. Bahkan, Claire sudah menyimpan Leon di dalam hatinya dan berjanji hanya akan menikah dengan pria itu suatu saat. Ya, walaupun tak di pungkiri bahwa Claire suka bergonta-ganti pacar namun semua itu hanya sekedar pengisi waktu. Pengusir kebosanan saat Leon tak juga melirik keberadaannya sedikit pun.


"Tapi, apa kau yakin akan bahagia jika kau menikah dengan pria yang tidak mencintaimu ?"


"Entahlah ! Aku juga tidak tahu. Tapi, setidaknya mencoba memenangkan hatinya tidak ada salahnya, bukan ?" Claire kembali bangkit. Mematut lagi dirinya di depan cermin.


"Memangnya siapa nama calon suamimu itu ?" Tanya Arumi. Gadis itu bersedekap, dengan telunjuk kanan yang dia letakkan di bawah dagu.


Claire memberi jeda beberapa detik sebelum menjawab. "Rahasia. Akan ku bawa dia kemari suatu saat. Aku janji."

__ADS_1


__ADS_2