Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
Tiba-tiba menghilang


__ADS_3

"Bersiaplah ! Kita kembali malam ini juga." Ujar Duke Xander tanpa menatap lawan bicaranya.


Gerakan Leon yang baru saja ingin melepas jas yang ia pakai langsung terhenti. Untuk beberapa detik, ia sempat mematung.


"Malam ini ? Aku tidak mau daddy ! Biar daddy saja yang kembali. Aku akan tetap di sini untuk beberapa hari bersama Zack." Tolak Leon dengan wajah tersenyum paksa.


"Kau mulai ingin membantah daddy lagi ?" Duke Xander melirik putranya lewat ekor matanya yang tajam.


Pemuda tampan itu tertunduk diam. Tak berani lagi mengeluarkan suara jika ayahnya sudah menyinggung masalah 'membantah' dalam kalimatnya.


"Bereskan semua pakaianmu. Sebentar lagi, jemputan kita akan datang." Duke Xander berjalan menaiki tangga. "Kau juga, Zack !" Sambungnya lagi yang sempat berhenti sebentar di hadapan Zack yang mematung di dekatnya.


"Ba-baik, uncle !" Balas Zack terkesiap.


Setelah Duke Xander berlalu, Zack segera menghampiri Leon yang tampak masih syok dengan keputusan ayahnya. Zack mengusap punggung Leon agar sahabat baiknya itu bisa bersabar untuk menghadapi sikap ayahnya yang otoriter, tegas dan dingin itu.


Leon meninju bantalan sofa. Menyalurkan rasa frustasi karena sudah membuat janji pada seorang gadis asia yang beberapa hari ini sudah membuatnya merasa terhibur namun tak dapat lagi ia penuhi. Dirinya bahkan tidak tahu lagi, apakah nantinya dia bisa bertemu kembali dengan Arumi atau tidak setelah kepulangannya dari pulau Moorea.


"Kalian berdua sudah siap ?" Tanya Duke Xander pada kedua anak muda yang berdiri di belakangnya.


Zack dan Leon hanya mengangguk lemah. Keduanya benar-benar merasa berat meninggalkan segala kesenangan yang ada di Pulau Moorea. Terlebih untuk Leon yang memiliki misi 5 hari mendapatkan cinta Arumi yang harus kandas bahkan sebelum ia memulai.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil datang dan menjemput mereka untuk mengantar ke landasan pacu jet pribadi milik keluarga Wellington. Leon lagi-lagi hanya terdiam sambil menatap ke luar kaca jendela mobil. Tatapannya kosong karena pikirannya yang berlarian menghadirkan sosok Arumi dalam ingatannya.


Duke Xander di sampingnya hanya menatap lurus ke depan walaupun ekor matanya memperhatikan setiap gerakan kecil yang putranya lakukan. Pria paruh baya itu tahu, bahwa putranya sudah pasti sedang memikirkan gadis asia yang ia lihat di pesta Mr. Kovalev beberapa jam yang lalu.


Maafkan, Daddy ! Tetapi Daddy harus mencabut akarnya sebelum berkembang. Jangan sampai kau jatuh cinta pada gadis itu dan melupakan pertunanganmu dengan Jane.


*


*

__ADS_1


*


Pagi-pagi sekali, Arumi sudah bangun dan membuka tirai yang menghalangi sinar mentari masuk ke dalam kamarnya dan Charlie. Gadis cantik itu tersenyum lalu mengguncang-guncangkan tubuh Charlie sekuat mungkin.


"Ayo bangun, Char ! Katanya kau ingin lari pagi." Teriak Arumi penuh semangat sambil menarik selimut yang masih membungkus tubuh Charlie.


"Aku tidak mau, Aru ! Kakiku masih sangat sakit gara-gara heels sialan itu." Gerutu Charlie yang malah menutup wajahnya dengan bantal.


Arumi menggeleng lalu menarik bantal yang menutupi wajah manis Charlie.


"Jangan manja, Charlie ! Cepat bangun !" Arumi menarik tangan Charlie untuk bangun. Memaksa sahabat baiknya itu untuk membuka mata lebar-lebar.


"Ku bilang aku tidak mau ! Aku mau tidur , Aru !" Rengek Charlie kesal dengan kaki yang ia hentak-hentakkan di atas kasur.


Arumi mundur ketika Charlie kembali memperbaiki posisi tidurnya. Dia hanya mendengus kesal sambil beranjak untuk berganti pakaian olahraga.


"Ya sudah, biar aku saja sendiri." Sungut Arumi kesal.


Arumi berbalik dengan mulut komat-kamit menggerutu pada sahabat baiknya sendiri. Dengan sangat tidak ikhlas, dia menutup kembali tirai jendela yang sudah dia buka dan kembali menuju ke lemari untuk mengeluarkan pakaian olahraga. Sementara Charlie di balik selimut tersenyum puas karena berhasil mengalahkan perdebatan pertama mereka untuk hari ini. Skor 1-0 ucapnya dalam hati.


"Ingin jogging, sayang ?" Isabella yang sedang duduk di teras depan menyapa Arumi sambil tersenyum. Di sebelahnya, Charles tampak sangat serius membaca majalah bisnis yang membicarakan pengusaha muda yang tiba-tiba saja namanya melejit cepat di kancah Internasional yang bernama Bima Dirgantara. Seorang pengusaha asal Indonesia yang terkenal cerdas dan paling pintar melihat peluang.


"Iya, Aunty. Aunty mau ikut ?"


Isabella menghela tangannya di udara. "Mungkin lain kali, sayang !" Ucapnya tersenyum.


"Charlotte di mana, Aru ?" Charles meletakkan kembalibmajalah yang ia baca di atas meja.


"Masih asyik bermimpi indah di bawah selimut tebalnya, Uncle." Jawab Arumi sambil tertawa kecil.


"Kenapa tidak kau bangunkan ?"

__ADS_1


"Sudah ku coba. Tapi, dia malah memarahi Aru. Dia bilang kakinya sakit karena terlalu lama mengenakan heels di pesta tadi malam."


Mendengar itu, Charles hanya menggeleng seraya mendengus kesal.


"Lihatlah kelakuan putrimu, Bella ! Bagaimana bisa dia mendapatkan jodoh jika jam segini saja dia masih tidur ? Ayam bahkan jauh lebih pagi terbangun daripada putri manjamu itu." Ujar Charles berdecak kesal.


"Charles, dia itu putrimu juga." Balas Isabella tak terima.


"Tapi kau kan, yang seharusnya mendidik dia ?"


"Itu bukan hanya tugasku, tapi tugasmu juga."


"Tapi, kau kan yang lebih banyak di rumah."


"Memangnya kenapa kalau aku yang lebih banyak di rumah ?


Pusing mendengar perdebatan sepasang suami istri itu, Arumi akhirnya memilih untuk segera pergi.


"Uncle ! Aunty ! Aru berangkat ya !" Teriak gadis itu ketika sudah mencapai gerbang.


"Hati-hati, sayang !" Balas Isabella seraya melambaikan tangan sebelum ia kembali fokus untuk berdebat dengan suaminya.


Perdebatan kecil seperti yang tadi Arumi lihat antara Charles dan Isabella bukanlah hal baru baginya. Sepasang suami istri itu memang hampir setiap hari melakukannya meski hanya mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak perlu. Namun, meski selalu berdebat setiap hari, ajaibnya pernikahan mereka tetap langgeng bahkan tergolong harmonis hingga sekarang.


Arumi lari pagi di sepanjang bibir pantai. Banyak orang yang juga berlalu lalang di sana untuk olahraga pagi, sama sepertinya. Mata gadis itu melirik kanan-kiri, mencari keberadaan pria tampan yang semalam berjanji akan membuatnya jatuh cinta dalam beberapa hari ke depan. Kecewa. Tak ada Leon di antara banyaknya orang yang berseliweran ke sana-sini. Kemana perginya pria menyebalkan itu ?


"Untuk apa juga aku memikirkannya ? Hahaha." Ujarnya sambil meregangkan otot-otot tangannya. "Justru bagus untukku jika dia tidak muncul seperti ini."


Arumi mengangguk membenarkan perkataannya sendiri. Walaupun, dalam hati gadis itu merasa ada sesuatu yang hilang saat Leon tidak muncul seperti biasa.


Matahari semakin meninggi yang menandakan bahwa siang sebentar lagi akan datang. Cepat-cepat Arumi berputar arah dan berlari menuju resort keluarga Aldric kembali. Gadis itu masih bertanya-tanya. Kemana Leon yang biasanya selalu muncul tiba-tiba itu menghilang ? Apa dia masih tidur ?

__ADS_1


Jutaan pertanyaan tersimpan di benak Arumi. Rasa penasaran akan keberadaan Leon benar-benar membuatnya melupakan perkara lain, bahkan hal yang menyangkut Irgi sekalipun.


__ADS_2