Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#104


__ADS_3

"Mr. Liem! Bolehkah saya mengantar Arumi berangkat bekerja?" ucap Leon meminta izin.


"Tentu saja." Jonathan menjawab antusias tanpa perlu berpikir lama.


"Ayah!" Arumi di sebelah Jonathan memekik tertahan. Tidak setuju sama sekali dengan ide yang di ajukan Leon dan di setujui ayahnya begitu saja.


"Tidak apa, Aru! Berangkatlah bersama Leon. Mungkin, ada sesuatu yang ingin di utarakan padamu!" Jonathan menepuk bahu putrinya dengan lembut. Meski ia bisa melihat kekesalan di dalam mata milik putrinya, Jonathan juga mampu melihat bahwa ada cinta yang berusaha Arumi samarkan dalam kebencian itu.


"Apapun masalah kalian berdua, Ayah harap kau bisa mengambil keputusan yang benar, Aru!" sambung Jonathan dalam bahasa Indonesia yang tentu saja tidak akan di mengerti oleh Leon.


"Sekarang, berangkatlah! Kau akan terlambat jika terus berlama-lama seperti ini!" Jonathan kembali menepuk bahu putrinya sebelum menanamkan kecupan ringan di puncak kepala Arumi.


Arumi pada akhirnya mengalah. Kini, ia sudah berada di dalam mobil milik Leon yang melaju menuju ke butik miliknya yang tidak berjarak terlalu jauh dari apartemen. Keduanya sama-sama terdiam selama perjalanan yang membuat Arumi merasa aneh.


"Kenapa Leon mendadak berubah menjadi pendiam seperti ini?" gumam Arumi dalam hati. Sesekali, ia melirik Leon sembunyi-sembunyi.


"Kau pucat, Leon!" kata Arumi tiba-tiba. Setelah beberapa kali memastikan bahwa penglihatannya tidak salah, gadis cantik itu akhirnya membuka suara.


"Aku tidak apa-apa," jawab Leon datar. Pandangannya masih fokus ke arah jalan.


Arumi memiringkan sedikit posisi duduknya agar bisa berhadapan langsung dengan Leon.


"Hentikan mobilnya!" perintah Arumi.


"Kenapa, Aru? Sebentar lagi kita akan sampai. Aku akan tetap mengantarmu sampai di depan butik."


"Ku bilang, hentikan mobilnya, Leon!" Arumi berseru lagi.


Leon menatap Arumi sesaat sebelum menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu melepaskan seat beltnya dan menghadapkan wajahnya ke arah Arumi.


"Kita belum sampai. Kenapa kau memintaku berhenti?" protes Leon penuh tanya.


"Kau sakit, Leon! Lihat wajahmu! Sangat pucat." Arumi menangkup wajah Leon dan memeriksa suhu badan pemuda itu. Dingin. Tapi, kenapa ia berkeringat begini?


"Aku baik-baik saja." Leon meraih kedua tangan Arumi. Mengecupnya dengan penuh rasa sayang yang membuncah, lelaki itu tersenyum.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Arumi.


"Aku sungguh tidak apa-apa, Aru!" Pemuda itu masih keras kepala.


"Turun! Biar aku yang menyetir!"

__ADS_1


"Tapi, Aru..."


"Leon! Jangan membantahku lagi!" desis Arumi tajam.


Tanpa berucap apa-apa, Leon akhirnya menurut. Kondisinya memang sedang tidak baik-baik saja. Rasa perih pada bagian lambungnya membuat ia pasrah untuk di bawa ke rumah sakit.


"Sebenarnya kau kenapa?" tanya Arumi panik saat menyadari bahwa Leon semakin bertambah pucat.


"Hanya sedikit terserang maag, mungkin?"


"Kau belum sarapan?"


"Sudah."


"Lalu, kenapa penyakit maagmu bisa kambuh?"


Leon menoleh menatap wajah Arumi yang terlihat begitu mengkhawatirkannya. Pemuda itu tersenyum sambil tak ingin melepaskan pandangannya dari wajah cantik gadis Asia di sampingnya.


"Kau semakin cantik!" gumamnya dengan memuja.


"A-pa?" Arumi menganga. Bukan itu jawaban yang ia minta dari Leon.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di salah satu rumah sakit. Leon segera di periksa dan di tangani oleh seorang dokter. Setelah hasilnya keluar, dokter itu hanya menggeleng prihatin.


Leon mengangguk lemah.


"Kapan?" Dokter itu bertanya lagi.


"Mungkin, sekitar dua bulan yang lalu!"


"Kondisi lambung dan hati anda tidak sebagus orang normal biasanya. Lalu, kenapa anda dengan sengaja mengkonsumsi garam berlebih dalam satu waktu sekaligus? Anda tahu bahwa hal itu bisa membahayakan nyawa anda, bukan?"


"A-apa, Dok?" Arumi mendekat. Mulut gadis itu menganga tak percaya.


"Iya, Nona! Itu benar."


Sejak mendengar penjelasan dokter beberapa saat yang lalu, Arumi hanya banyak diam. Ia tak menyangka bahwa tindakan jahilnya akan menghasilkan dampak sebesar ini untuk kesehatan Leon.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Leon mengelus lembut wajah Arumi yang terduduk di samping brankarnya. Kata dokter, ia harus di rawat inap selama beberapa hari untuk memantau perkembangan kesehatan lambung dan hatinya.


"Maaf!" lirih Arumi dengan air mata berlinang. Ia membiarkan jemari pria itu tetap mengelus lembut pipinya.

__ADS_1


"Kau tidak salah apa-apa, Aru! Jangan sedih!" hibur Leon.


"Kenapa kau tetap meminumnya, Bodoh?" Arumi memukul pelan dada Leon.


"Karena aku mencintaimu! Aku hanya ingin membuatmu tersenyum. Itu saja!" jawab Leon.


"Bodoh, bodoh, bodoh!" Arumi terus memukul dada Leon sambil terus terisak.


Leon menangkap tangan Arumi. Di tariknya tubuh gadis itu hingga kini Arumi terjatuh di dadanya.


"Tidurlah bersamaku di sini!" pinta Leon.


Bak kena hipnotis, Arumi menurut. Di naikkanya kedua kakinya ke atas brankar dan berbaring di dalam dekapan pemuda yang masih nampak pucat itu. Kecupan ringan di dahi dan punggung tangannya membuat Arumi semakin luluh. Lagi-lagi, ia hanyut dengan cepat dalam pusaran cinta Leon. Pemuda itu selalu berhasil meruntuhkan kebencian yang susah payah Arumi bangun dalam sekali hentakan.


"Kembalilah padaku, Aru! Ku mohon!" lirih Leon dengan nada rendah.


Arumi tak menjawab. Ia memilih semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Leon dan mengeratkan pelukannya pada pinggang pemuda itu.


"Aku ingin tidur!" ucapnya.


Leon mengangguk mengerti. "Tidurlah!"


Meski sedikit kecewa karena Arumi belum menjawab permintaannya, Leon tetap merasa bahagia. Setidaknya, kini Arumi tidak memusuhinya lagi. Pemuda itu turut memejamkan mata. Ia balas memeluk wanitanya yang semoga sebentar lagi bisa menerimanya kembali.


"Aku mencintaimu, Aru! Dulu, sekarang dan selamanya," gumam Leon pelan.


Arumi masih diam. Sebenarnya, ia tidak tidur. Matanya masih terbuka dengan segenap keraguan yang tersisa banyak di dalam hatinya. Ia masih mencintai Leon. Namun, ia tahu bahwa ayah dari pemuda itu akan menjadi batu sandungan terbesar dalam hubungan mereka.


***


Sore hari, Arumi terusik oleh dering ponselnya. Gadis itu terbangun dan melihat Leon masih terlelap dalam tidurnya. Pelan, ia memindahkan lengan Leon yang melingkar di perutnya. Gadis itu lalu turun dari atas brankar dan merogoh ponselnya dari dalam tas yang ada di atas nakas.


"Ya, Ayah?"


"Kau belum pulang?"


"Leon di rumah sakit. Aku menemaninya di sini!"


"Pulang sekarang! Ada hal yang harus Ayah tanyakan padamu!"


Arumi mengernyit heran. Nada suara Jonathan terdengar marah. Entah, karena hal apa, semuanya akan terjawab jika ia pulang sekarang. Tak ingin membangunkan Leon, Arumi memutuskan menempelkan sebuah memo di gelas minum yang berada di atas nakas.

__ADS_1


...*Aku pulang! Jangan lupa makan malam dan minum obatmu! Besok aku akan kembali lagi."...


...~Aru*...


__ADS_2