
Sudah satu bulan berlalu sejak terakhir kali Irgi menemui Arumi. Pria itu sudah berusaha untuk merela meski sesuatu di sudut hatinya tetap menyuarakan ketidaksetujuan. Hati kecilnya masih terlalu sulit untuk merelakan Arumi bahagia bersama pria lain termasuk Devan sekalipun.
Pria itu menghela napas berat. Berusaha mengusir rasa perih yang terus saja menyayat hati tanpa kenal waktu. Terhitung sejak ia tahu bahwa Arumi sudah benar-benar tidak menginginkannya.
Langkah kaki Irgi begitu lemah menapaki lantai sebuah restoran bintang lima tempat ia akan bertemu dengan seorang klien baru. Meski, dirinya tahu ia tidak sedang baik-baik saja, namun Irgi tetap harus bersikap profesional dengn tidak mencampurkan urusan hati dan pekerjaan.
Mata pria itu tiba-tiba memicing ketika menangkap sosok dua sejoli yang sedang bermesraan di dalam sebuah ruangan VIP restoran yang tak sengaja ia lihat saat seorang pelayan membuka pintu untuk mengantar makanan. Langkah pria terhenti. Untuk sepersekian detik berikutnya, mata pria itu melebar. Jantungnya memompa jauh lebih cepat dan tangannya terkepal penuh amarah.
Tanpa pikir panjang, Irgi masuk dan melabrak mereka. Menarik kerah baju si pria dan menghadiahinya sebuah bogeman mentah berbalut kemarahan. Pelayan wanita yang mengantarkan makanan barusan terkesiap dan cepat-cepat keluar dari sana usai Irgi mengusirnya dengan nada yang dingin.
"Kau bilang bahwa kau akan membahagiakan Arumi dan tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Tapi, apa-apaan ini ? Kau berselingkuh dengan perempuan lain ?" Irgi menatap nyalang Devan yang sudah tersungkur di lantai berkat pukulannya.
"Apa kau gila ? Kenapa kau memukuli calon suamiku, hah ?" Wanita yang bersama Devan segera membantu pria itu untuk bangkit kembali.
"Calon suami ?" Irgi tertawa keras. Sinis dan meremehkan namun terdengar terluka di satu waktu. "Jadi, kau sudah bertunangan tapi kau masih menginginkan Aru juga ?" Mata Irgi menatap nyalang. "Apa bedanya kau dan aku di masa lalu, Dev ?"
Devan bungkam. Tak bisa menjawab kalimat penghakiman yang Irgi layangkan.
"Bagaimana kau bisa berada di sini ?" Hanya itu kalimat yang terpikir di benak Devan sekarang.
"Apa itu penting ?" Irgi kembali melangkah mendekati Devan. Sementara Devan tetap berdiri di posisinya. Melawan tatapan tajam Irgi yang mulai mengintimidasi dirinya. Banyak kemarahan yang bisa Devan lihat di netra hitam Irgi.
"Jelaskan padaku ! Sebenarnya ada apa ?" Wanita yang memeluk bahu Devan sedari tadi turut bersuara. Bingung pada apa yang sebenarnya baru saja ia saksikan.
Irgi tersenyum miring. "Calon suamimu berpacaran dengan perempuan lain. Apa kau tidak tahu ?"
Wanita yang sedari tadi mengenakan masker itu mulai membuka maskernya. Membuat Irgi cukup terkejut saat tahu siapa dirinya. Dia Selina. Seorang aktris yang namanya sudah di kenal di mana-mana.
"Benarkah ?" Pertanyaan Selina menyiratkan ketidakpercayaan.
"Dia berselingkuh dengan mantan istriku, Arumi !" ucap Irgi.
__ADS_1
Selina terkejut mendengar ucapan Irgi. Tak berselang lama, ia menoleh menatap Devan. Mulutnya terbuka sambil menatap Devan dengan mata yang berkedip-kedip.
"Dia Irgi ?" tanya Selina pada tunangannya.
Devan mengangguk lemah. "Iya."
Selina tertawa kecil kemudian beralih menatap Irgi dengan tatapan kesal. Langkah kakinya terdengar memenuhi ruangan karena ketukan dari heels yang sedang ia pakai. Tepat ketika dia berdiri di depan Irgi, tangan wanita itu melayang. Menampar Irgi dengan begitu keras.
"Harusnya kita bertemu lebih cepat agar tamparan ini bisa lebih awal ku berikan !" desis Selina dengan nada rendah.
Irgi memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Selina. Pria itu berdecih dan menatap Selina penuh tatapan bertanya.
"Kenapa kau menamparku ?"
"Karena pria sepertimu masih lancang menginginkan perempuan sebaik Arumi setelah kau sendiri yang dengan sadar sudah membuangnya."
Irgi menghela napas kasar. Di lihatnya Devan yang tampak masih syok karena Selina menampar Irgi tanpa aba-aba.
"Tunanganmu juga menginginkannya." Irgi mendesis tak kalah pelan.
" Devan dan Aru hanya berteman. Kami bertiga memang sangat akrab. Dan aku tahu, tunangan dan sahabatku bukan orang yang akan mengkhianati dan menusukku dari belakang. Devan hanya berkata begitu agar kau menjauhi Arumi."
"Jadi itu semua hanya kebohongan, Dev ?" tanya Irgi setengah terkesiap.
"Kau benar. Aku hanya membantu Arumi agar kau tidak mengganggunya lagi, Gi ! Arumi sudah tidak ingin kembali padamu." Devan menjawab jujur. Tak ada waktu untuk dirinya menebar kebohongan lagi. Ia tahu, cepat atau lambat Irgi pasti akan mengetahui kebohongannya mengingat acara pernikahan dirinya dan Selina di jadwalkan akan berlangsung dua bulan lagi.
Irgi meringis tak percaya. Pria itu mundur dua langkah. Menyisir rambutnya dengan jemari tangan sambil menjerit frustasi.
"Kau memang br*ngsek Devan !" Irgi melangkah keluar. Di tinjunya pintu itu sebelum ia menutupnya dengan kasar.
Di dalam ruangan, Devan dan Selina saling berpandangan. Selina memegang pipi Devan yang tampak memar karena pukulan Irgi.
__ADS_1
"Apa sakit ?" lirih perempuan itu pelan.
Devan menangkap tangan Selina yang memegang lukanya. Pria itu tersenyum teduh memancarkan kasih sayang.
"Tidak apa-apa," jawab Devan ringan.
Selina tertunduk. "Maaf karena aku membocorkan kebohonganmu dan Aru di hadapan pria itu."
"Ini bukan salahmu, Sel ! Irgi memang akan tahu cepat atau lambat tentang kebohongan ini. Jangan menyalahkan dirimu untuk sesuatu yang tidak kau perbuat. Oke ?"
Selina mengangguk. Satu senyum cantik menghias wajahnya meski mata perempuan itu terlihat berkaca-kaca.
* * *
Usai menemui klien tadi, Irgi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menemui Arumi. Pria itu tersenyum. Harapannya masih ada untuk bisa menggapai Arumi kembali.
"Kali ini aku tak akan menyerah lagi, Aru ! Aku bersumpah akan mendapatkanmu lagi meski apapun caranya."
Sampai di butik milik Arumi, senyum Irgi harus terpaksa surut. Wanita cantik itu tidak ada di sana. Salah seorang pegawainya mengatakan bahwa baru saja Arumi di jemput oleh seorang pria paruh baya. Irgi bisa menebak bahwa pasti Jonathan Liem yang di maksud oleh pegawai Arumi tersebut.
"Kenapa Tuan Jo baru mencari Arumi sekarang ? Apa dia punya rencana untuk mengorbankan Aru lagi seperti dulu ?" gumam Irgi yang sedang duduk di dalam kursi pengemudi mobil namun belum menjalankannya.
Pria itu memukul stir mobilnya. Matanya terpejam rapat memikirkan bagaimana keluarga Liem akan memperlakukan Arumi lagi jika perempuan itu berhasil di bujuk oleh Jonathan untuk kembali.
"Tidak ! Aku tidak akan pernah membiarkan Aru di manfaatkan lagi oleh mereka. Aru hanya akan menikah kembali denganku. Dia hanya milikku dan bahkan Tuan Jo sekalipun tidak berhak untuk mengambilnya dariku !"
Rahang Irgi bergemelatuk. Kedua tangannya mencengkram erat stir mobil dengan tatapan mata penuh kebencian.
Selina & Devan
__ADS_1
Irgi