
Di pagi hari yang cerah, senyum semangat Arumi mendadak tumbang ketika menemukan sosok pemuda yang semalam katanya ia benci sedang berdiri tegak dengan senyum semanis madu di depan pintu apartemennya. Mendesah malas, Arumi langsung menutup pintu apartemennya kembali. Lima menit kemudian, pintu itu kembali ia buka. Masih sama. Pemuda itu masih belum beranjak dari tempatnya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Arumi ketus. Ia mengira bahwa Leon akan pulang begitu ia mengacuhkan pemuda itu. Namun, rupanya Leon masih berada di sana tanpa kenal menyerah.
"Menjemputmu. Apalagi?" Leon semakin melebarkan senyumnya.
"Aku memiliki kendaraan sendiri Leon. Kau tidak perlu susah-susah kemari untuk menjemputku!" Arumi tersenyum namun wajahnya terlihat begitu geram. Kenapa pula pemuda ini tak mau menyerah juga dalam mengejarnya?
"Aku menjemputmu karena aku ingin. Apa itu salah?"
"Jelas salah!" balas Arumi dengan suara yang meninggi tanpa sadar.
"Ada siapa, Aru?" Suara Jonathan terdengar dari dalam. Tak lama berselang, sosoknya sudah berada di depan pintu bergabung bersama Arumi dan Leon.
"Siapa dia?" tanya Jonathan begitu melihat ada seorang lelaki muda berparas Eropa yang tengah berada di depan apartemen putrinya.
"Di-dia... "
"Selamat pagi, Mr. Liem! Perkenalkan saya Leon Wellington, kekasih Arumi!" Leon buru-buru menjabat tangan Jonathan yang masih nampak kebingungan mencerna kata-katanya. Pemuda itu tersenyum ramah. Berusaha mengambil hati calon mertua.
"Darimana asalmu?" tanya Jonathan penasaran karena mendengar pemuda itu berbicara dalam bahasa Inggris yang fasih.
"Prancis!" jawab Leon.
"Kenapa kau tidak mengatakan kepada Ayah bahwa kau rupanya memiliki seorang kekasih di Prancis?" Jonathan menghadap sang putri. Meminta penjelasan yang terasa sulit untuk Arumi jawab. Apa yang harus dia katakan? Mustahil ia mengatakan hal yang sebenarnya. Haruskah dia berkata bahwa dirinya sudah di tipu oleh pemuda itu dan ayah dari pemuda tersebut juga menyuapnya dengan uang demi menjauhi putranya? Yang benar saja. Kondisi Jonathan bisa saja kembali drop jika mendengar semua hal itu.
__ADS_1
Belum selesai kekalutan yang melanda Arumi, perkataan Jonathan berikutnya semakin menambah beban pikiran gadis itu.
"Masuklah! Mari kita bicara di dalam!" Dengan ramah Jonathan mempersilahkan Leon untuk masuk. Dan, tentu saja Leon segera mengangguk tanpa perlu di minta dua kali.
Melewati Arumi yang nampak begitu kesal namun tak berdaya untuk melakukan apa-apa, Leon mengedipkan sebelah matanya. Menggoda gadisnya dengan senyum nakal yang semakin menambah kadar kemarahan Arumi terhadapnya.
"Buatkan minuman untuk tamu kita, Aru!" perintah Jonathan usai mempersilahkan Leon duduk di ruang tamu.
"Dia tidak perlu di beri minum, Ayah!" ucap Arumi ketus. Gadis cantik itu melipat kedua tangannya. Duduk dengan wajah yang masih di tekuk dan enggan menatap Leon.
"Aru!" panggil Jonathan lembut. "Apa begitu caramu menjamu tamu?"
"Dia bukan tamu, Ayah! Dia hanya pengangguran tidak jelas yang datang menganggu orang di pagi hari! Ck, merepotkan!" decak Arumi kesal. Ia melirik sinis Leon. Berharap pemuda itu merasa sedikit tersinggung namun sepertinya gagal.
Bukannya tersinggung, Leon justru mengangkat sebelah alisnya. Menggigit bibir bawah kemerahan miliknya dengan senyum yang masih betah menghias wajah tampan dengan netra kecoklatan miliknya.
"Aru! Jaga bicaramu! Apa begitu perilaku Ayah dan Ibumu ajarkan jika ada tamu yang datang berkunjung?" Kali ini, suara Jonathan sudah menunjukkan ketegasan. Sikap Arumi di rasanya sudah cukup keterlaluan.
Gadis itu reflek tertunduk. Sikapnya yang dulu perlahan mulai kembali. Membantah perintah Jonathan adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh ia lakukan.
Meski merasa kesal, Arumi tetap melenggang menuju ke dapur membuat minuman untuk tamu menyebalkannya. Gadis itu bersungut-sungut kesal. Timbul ide jahil di dalam kepalanya.
Lima menit kemudian, Arumi keluar dengan dua cangkir kopi yang ia bawa di atas nampan. Dengan senyumnya yang merekah, ia meletakkan cangkir itu satu per satu ke atas meja kemudian duduk di sebelah Ayahnya sembari memeluk nampan.
"Silahkan di minum!" ujar Jonathan mempersilahkan. Ia terlebih dulu menyesap kopinya lalu meletakkannya kembali di atas meja.
__ADS_1
Leon menatap curiga pada Arumi yang sejak keluar dari dapur nampak begitu ceria. Wajah kesalnya menguap yang membuat Leon menduga bahwa ada sesuatu yang sedang tidak beres terjadi di sini. Hati-hati, ia mengangkat cangkir kopinya. Mencium aroma kopi itu kemudian tersenyum. Tanpa perlu merasakan, Leon tahu bahwa campuran kopinya bukanlah gula melainkan sesuatu yang lain. Ia beralih menatap Arumi. Sepertinya, Arumi berniat mengerjainya. Begitu pikiran Leon.
Leon sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Bisa mengetahui campuran kopi hanya dari aroma saja sudah menjadi keahlian biasa dalam tradisi keluarga mereka. Banyaknya pesaing serta orang-orang yang ingin menyingkirkan keluarga mereka membuat Leon terlatih sejak kecil membedakan mana kopi atau minuman lain yang layak di minum dan yang tidak.
Melihat wajah kekasih hatinya yang nampak begitu menantikan penderitaannya dalam menikmati kopi aneh itu, Leon tanpa pikir panjang langsung menyesap kopi itu. Asin. Itu yang di tangkap Indra pengecapnya. Namun, ekspresi wajahnya nampak biasa saja. Berusaha menyembunyikan rasa tersiksanya di hadapan Jonathan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Arumi dengan sengaja. Senyum gadis itu berusaha di tahan agar tidak muncul ke permukaan. Ada ayahnya di sini. Pria paruh baya itu bisa menaruh curiga jika Arumi tertawa sekarang.
"Nikmat! Ini kopi ternikmat yang pernah aku coba," jawab Leon berbohong.
"Tak apa jika kau ingin terus menyiksaku, Aru! Asal kau masih bisa kembali padaku, seratus kali lebih sadis dari ini pun aku sanggup menahannya."
"Kalau begitu, habiskan!" pinta Arumi dengan senang.
"Ya. Benar. Jangan malu-malu!" ujar Jonathan menimpali.
Leon menarik napas panjang. Satu tegukan saja sudah cukup menyiksanya. Jika ia memaksakan menghabiskan satu cangkir penuh, lidahnya bisa dipastikan akan mengalami mati rasa.
Bergetar, tangan pemuda itu kembali meraih cangkir kopinya. Menghabiskan cairan hitam di dalam cangkir berwarna putih gading itu hanya dalam sekali tarikan napas.
"Bisa aku ke toilet sebentar?" tanya pria itu usai kopi di dalam cangkirnya tandas tak bersisa.
"Tentu saja. Ada di di sebelah sana!" tunjuk Arumi ke arah pintu toilet di dekat dapur.
Leon mohon diri sebentar lalu segera berlalu ke arah toilet yang di tunjuk Arumi. Sampai di tujuan, Leon segera memuntahkan isi perutnya. Rasa tidak enak itu menyiksanya. Kram terasa di area perut di tempat bekas operasinya yang dulu. Pemuda itu juga berusaha meminum air kran demi mengusir rasa tidak enak di dalam perutnya. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Rasa kram itu justru kian menyiksanya.
__ADS_1
Keluar dari dalam toilet, Leon kembali bergabung bersama Jonathan dan Arumi di ruang tamu. Wajahnya kini tampak mulai pucat. Ia menyadari bahwa lambungnya pasti mengalami masalah akibat konsumsi garam berlebih yang baru saja ia lakukan. Padahal, dokter sudah memperingatkannya akan kondisi lambungnya yang sudah sukar membaik sejak tindakan operasi yang ia lakukan beberapa bulan lalu karena konsumsi alkohol berlebihan yang pernah ia lakukan.