Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#90


__ADS_3

Irgi memaksa kedua kakinya untuk bekerja sama agar bisa menopang tubuhnya dengan gagah kembali. Kemunculan Devan bagaikan jawaban dari pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Harusnya ia tahu siapa pria yang Arumi maksud. Pria itu tersenyum di sela kesakitan yang meradang di dalam hati. Sakit yang tak akan pernah memiliki penyembuh meski ke dokter hebat mana pun ia pergi.


"Jadi, kau benar-benar sudah melupakan aku dan lebih memilih Devan ?" Suara itu masih bergetar. Mewakili rasa yang tak bisa Irgi teriakkan dengan lantang.


Arumi tak menjawab. Mustahil dirinya mengiyakan jika itu adalah sebuah kebohongan. Arumi bukan ahli dalam hal seperti itu. Dirinya payah.


"Ya. Kau benar ! Arumi memang sudah memilihku. Dan aku, tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu sepertimu dulu, Gi." Devan berseru sambil melangkah dan mendekap erat pinggang Arumi.


Matanya tajam menyorot Irgi. Berhasil meyakinkan mantan suami Arumi sekaligus sahabat baiknya bahwa antara dia dan Arumi adalah sebuah kenyataan. Persis seperti yang Irgi pikirkan.


Irgi menatap nyalang pada tangan Devan yang melingkar mesra di pinggang Arumi. Mengirimkan sinyal terhadap dirinya bahwa perempuan itu benar milik Devan dan Irgi sama sekali tidak berhak menyentuhnya barang seinci pun.


"Kau berjanji tidak akan pernah mengecewakan Aru, Dev ?" Suara pesakitan Irgi menggema di sela-sela suara rintik hujan yang masih menghujam bumi di luar sana.


"Tentu saja. Aru terlalu berharga untuk di kecewakan, Gi ! Dan aku, bukan lelaki bodoh yang akan melakukan hal seperti itu." Devan menjawab mantap dan meyakinkan. Memaksa Arumi mendongak menatap wajah pria yang saat ini tengah menyelamatkan harga dirinya dari kejaran mantan suami yang sudah ia lupakan. Sementara, tatapan Devan masih bergeming. Tetap mengunci Irgi sebagai target sosok intimidasinya.


"Ku harap kau menepati janjimu, Dev !" Irgi menggunakan sisa tenaga yang ada untuk segera menyeret tubuhnya pergi dari sana. Rasanya, ia tak akan sanggup jika harus berada dalam ruangan yang sama bersama Arumi dan Devan dalam waktu yang lebih lama lagi.


Kepingan hatinya yang berhamburan tak sanggup ia punguti satu persatu dan ia tata kembali. Biarkan saja seperti itu. Berantakan bagaikan puzzle yang tak akan pernah bisa tersusun rapi kembali kecuali Arumi yang melakukan itu dengan sukarela.


"Hah !!!" Devan menghela napas terengah-engah usai memastikan Irgi sudah tidak ada lagi.


Pria itu lantas merapatkan pintu ruang kerja Arumi dan duduk di kursi kerja Arumi. Ia memegang dadanya. Berusaha menetralkan kembali degupan jantung yang memompa dua kali lebih cepat ketika berakting serius seperti tadi.


"Ku pikir tadi aku akan ketahuan, Aru !" Devan menumpukan kepalanya di meja kerja Arumi. Jujur, ia gugup saat harus berakting seperti tadi di depan Irgi. Demi apapun, ini yang pertama kali untuknya. Dan, untuk sepersekian detik tadi, ia sempat ragu bahwa Irgi akan mempercayai serta menelan mentah-mentah omongannya.


"Terima kasih karena sudah menolongku, Kak !" Arumi menyerahkan segelas air putih untuk Devan.


Pria itu kembali menegakkan punggungnya. Ia menerima air yang di berikan Arumi lalu meminumnya hingga tandas. Arumi tersenyum kecil melihat itu.


"Kak Dev sudah cocok menjadi seorang aktor," puji Arumi seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kerjanya yang saat ini sedang di kuasai Devan.

__ADS_1


"Apa menurutmu aktingku tadi meyakinkan ?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, bereskan barang-barangmu sekarang dan ikut pulang denganku !" putus Devan kemudian.


"Ada apa ?" tanya Arumi bingung.


Devan mengangkat kedua bahunya. "Entahlah ! Aku juga tidak tahu. Aku hanya sekedar melaksanakan titah dari ratuku saja !" Devan tersenyum.


Arumi turut tersenyum lalu berdiri dan mengambil tasnya yang tersampir di gantungan. Arumi paham bahwa pasti Selina yang mengirim Devan kemari. Ia lalu memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas kemudian memakai jaket denimnya dan meraih lengan Devan untuk lekas berdiri.


"Ayo kita pulang !" ajak Arumi tersenyum.


"Baik !" Devan segera bangkit lalu melangkah bersama Arumi untuk pergi dari sana.


* * *


Zack yang sedang asyik bermain PS di sebelahnya menghela napas kasar.


"Lukamu masih belum kering, bocah manja ! Bersabarlah sedikit lagi," jawab Zack seadanya.


"Hanya itu jawaban yang selalu kau ucapkan, Zack ! Apa tidak ada yang lain ?" Leon mengacak rambutnya frustasi.


Zack menghentikan sejenak permainannya. Ia meletakkan stick game yang sedang ia pegang ke pangkuannya dan sedikit menyerongkan tubuhnya menghadap Leon. Zack tersenyum.


"Tidak ada."


Setelah mengucapkan hal itu, ia kembali meraih stick gamenya dan melanjutkan lagi permainan yang sempat terjeda.


"Kau kakak yang tidak berperasaan !"

__ADS_1


"Dan aku adik yang terlalu manja !"


Keduanya saling berpandangan dalam diam sebelum meletupkan tawa secara bersamaan.


Duke Xander kembali menutup rapat pintu kamar Leon usai melihat keakraban dua orang putranya. Pria itu tersenyum tipis nyaris tak terlihat. Bohong jika ia mengatakan tak bahagia akan perubahan hidupnya yang kini terasa benar-benar hidup.


"Kau senang mengintip mereka ?" Frederick sukses mengagetkan Duke Xander meski pria datar itu mampu menguasai ekspresinya kembali dalam hitungan detik.


"Bukan urusanmu !" Duke Xander melangkah pergi.


"Aku akan kembali ke Inggris dalam dua hari !" teriak Frederick. Langkah Duke Xander tertahan seketika. Dan, sepersekian detik berikutnya, ia berbalik dan kembali menghampiri kakak kandungnya itu.


"Apa ?" tanya Frederick bingung ketika Duke Xander hanya berdiri kaku di hadapannya.


"Kenapa kau cepat sekali ingin kembali ?"


"Apa lagi kalau bukan karena masa cutiku sudah habis ?"


"Apa tidak bisa di perpanjang ?"


Frederick terdiam. Matanya memicing dan menatap heran kepada adiknya. Sejak kapan Duke Xander menginginkan dirinya untuk tinggal di mansion besar itu dalam waktu lama ?


"Ada apa ? Kau ingin aku tinggal lebih lama lagi di sini ?"


"Ya." Duke Xander mengangguk jujur.


Frederick memeluk tubuh kaku sang adik yang tentu saja tak di balas Duke Xander.


"Kau dan kedua putramu akan baik-baik saja meski tanpaku, Xander ! Yang perlu kau lakukan hanyalah menuruti nalurimu sebagai seorang ayah. Kau pasti bisa merasakan apa yang baik dan yang tidak baik untuk kedua putramu. Dan, ingat satu hal. Kebahagiaan tidak melulu harus di ukur berdasarkan kekayaan dan status sosial. Semua itu hanya sekedar bonus jika kau mendapatkannya bersama dengan orang yang kau cintai. Dan, anak-anakmu berhak untuk itu. Mereka berhak memilih dengan siapa mereka akan hidup, Xander. Tidak seperti kita dulu. Tidak sepertimu ! Jadilah ayah yang jauh lebih baik dari Daddy kita dulu. Aku tahu kau bisa melakukannya jauh lebih baik di banding siapapun."


Frederick melepaskan pelukannya. Ia tersenyum sebelum masuk ke dalam kamar Leon. Bergabung bersama kedua keponakannya untuk menghabiskan waktu bersama sebelum dua hari lagi ia harus kembali ke Inggris.

__ADS_1


__ADS_2