Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#105


__ADS_3

Tiba di rumah, napas Arumi seketika berhenti begitu menemukan Irgi tengah duduk di ruang tamu bersama ayahnya. Wajah pria itu nampak cerah dengan senyum lebar yang menambah kesan tampan yang melekat pada dirinya. Berbanding terbalik dengan Jonathan yang terlihat mendung dan menahan amarah.


"Ada apa dia kemari?" Arumi duduk di sofa tunggal. Gadis itu meletakkan tas yang ia bawa di atas meja. Lirikan sinisnya ke arah Irgi cukup membuat senyum pria itu surut kembali.


"Ayah ingin kau menjauhi pemuda asing itu mulai sekarang!" perintah Jonathan dengan tegas tanpa memandang ke arah putrinya. Pria paruh baya itu takut tidak akan sanggup mengeluarkan kalimat itu jika netranya memandang dalam ke netra sang putri.


"Tapi kenapa?" Suara Arumi nyaris tak terdengar. Seluruhnya, tercekat di tenggorokan karena perkataan sang ayah.


Jonathan kali ini memutuskan memandangi wajah Arumi yang sepenuhnya tak rela dengan keputusan yang ia buat. Kedua jemari Jonathan terkepal kuat. semua ini demi kebaikan putrinya di masa depan.


"Dia tidak pantas untukmu, Aru!" ucap Jonathan yang tahu akan melukai Arumi.


"Jelaskan alasannya, Ayah!" Napas Arumi terdengar memburu.


"Dia dan kita tidak setara." Jonathan tertunduk kemudian menatap Irgi sekilas. "Irgi sudah memberitahu semuanya."


"Kau... Apa yang sudah Kak Irgi katakan pada Ayahku?" Arumi menggeram marah pada Irgi. Reflek, pria itu tertunduk.


"Om, lebih baik saya permisi!" Merasa situasi sudah tidak kondusif untuk keberadaannya, Irgi memilih pergi dari sana. Setidaknya, ia berhasil menjauhkan Leon dan Arumi. Perihal kebencian Arumi, itu masalah yang akan ia urus belakangan.


Setelah Irgi menghilang dari balik pintu, Arumi kembali pada ayahnya. Gadis itu masih tidak terima akan keputusan Jonathan.


"Apa saja yang sudah Kak Irgi katakan mengenai aku dan Leon?" Arumi berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Mengumpulkan kekuatan sebanyak yang ia bisa demi mengetahui seberapa jauh Irgi telah meracuni ayahnya dengan kata-kata yang bersumber entah darimana.


Jonathan mendesah samar. "Dia putra bangsawan Eropa, Aru! Keturunan murni dan penerus kerajaan bisnis yang tak terhitung jumlahnya. Sementara kau?" Pria paruh baya itu menjeda kalimatnya. Merasa setengah tak tega untuk melanjutkan.


"Kau hanya putri seorang pengusaha kosmetik yang sebentar lagi akan bangkrut," lanjut Jonathan serak. Mata pria itu mulai menganak sungai. Ia menengadah ke atas. Mengigit bibir bawahnya karena telah merasa gagal memberi kebahagiaan untuk Arumi seperti gadis-gadis lain di luaran sana.


Arumi turut berkaca-kaca. Beberapa kali ia tertunduk menatap tautan jemarinya yang semakin kuat terjalin. Yang ayahnya katakan benar. Dia dan Leon memang seperti langit dan bumi. Jaraknya terlalu jauh untuk bisa bersama dalam satu wadah. Mustahil juga Duke Xander akan membiarkan dia yang tak memiliki apa-apa bersanding dengan putranya yang sejak kecil sudah di limpahi dengan kemewahan yang luar biasa.


"Tapi, aku mencintainya, Ayah..." lirih Arumi. Kata-kata itu jujur. Sekarang, ia benar-benar menyadari perasaannya. Ia masih menginginkan Leon sebesar pemuda itu juga menginginkannya.


"Cinta saja tidak cukup, Aru!" Jonathan mengusap sudut matanya yang berair. Mata merah pria itu menatap lekat putri kesayangannya dengan pandangan iba.

__ADS_1


"Kau sudah pernah mengalami penghinaan sekali. Sudah cukup! Jangan lakukan lagi! Mendengarnya saja sudah membuat Ayah merasa sakit, apalagi jika melihatnya langsung."


Arumi memejamkan matanya rapat-rapat. Gadis itu meremas ujung bajunya kuat-kuat. Ia sudah terisak dalam sakit yang semakin bertambah perih.


"Ingat! Kau juga sudah pernah menikah. Sedangkan dia?" lanjut Jonathan lagi.


"Kami akan berjuang bersama untuk meyakinkan Ayahnya, Ayah!" lirih Arumi yang berusaha meyakinkan Jonathan.


"Tidak!" Jonathan berdiri. Dada pria itu membusung. Meraup udara sebanyak-banyaknya.


"Sampai kapan pun, Ayah tidak akan membiarkan kau bersama dia!" putus Jonathan tegas.


"Ayah!"


"Jangan membantah Ayah, Aru! Setidaknya, ini kesempatan Ayah untuk menjadi orangtua yang baik untukmu!" Pria paruh baya itu melangkah menuju ke kamarnya.


"Yang Ayah lakukan justru menyakitiku, Ayah!" Gadis itu menyusul Ayahnya dan berteriak tak terima di belakang punggung Jonathan.


Jonathan berbalik. Sungguh! Ia benar-benar tidak tega melihat air mata putrinya.


Jonathan meninggalkan Arumi yang masih terpaku di tempatnya. Usai sang Ayah sudah memasuki kamar, gadis itu merosot dan menangis. Kenapa sesulit ini jalan jodohnya dengan Leon? Apa mereka memang tidak bisa bersama?


***


"Mau kemana, Aru?" Suara Jonathan berhasil mencegat langkah Arumi yang mengendap-endap ingin keluar.


"Ke butik."


"Kau tidak perlu ke sana. Ayah sudah memberitahu asistenmu bahwa kau tidak akan ke butik untuk seminggu ke depan."


"A-apa?" Rahang Arumi hampir terjatuh ke lantai. " Tapi kenapa, Ayah?"


"Ayah ingin kau menjauh dari pemuda asing itu selamanya," jawab Jonathan.

__ADS_1


Arumi mendengus marah. Jonathan benar-benar berniat menjauhkan dia dengan Leon.


"Ayah jahat!" desis Arumi sebelum berlari masuk ke dalam kamarnya kembali.


Sementara itu, Jonathan hanya menggeleng prihatin dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa keputusannya sudah benar.


***


"Aargghhh!!" Leon mengerang kesal setelah panggilannya yang ke sepuluh tak juga di jawab oleh Arumi. Padahal, Arumi sudah berjanji akan menjenguknya namun sampai sekarang tak juga datang.


"Kau ingin merusak ponselmu, Bodoh?" seru Alarick yang reflek menangkap ponsel yang di lempar oleh Leon.


"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin Aru, Rick!" rengek Leon.


"Mungkin dia sedang sibuk. Bersabarlah!" ujar Alarick yang berusaha menenangkan sepupu tak sabarannya.


"Jika dia sedang sibuk, kenapa tidak mengirimiku pesan singkat saja? Bisa kan?"


"Entahlah! Mungkin saja dia lupa." Alarick mengangkat bahunya.


Setelah perdebatan panjang dengan dokter serta Alarick yang masih belum membolehkan ia untuk keluar rumah sakit, Leon akhirnya tetap nekat untuk pergi dari sana. Pria itu kini berkendara sendiri menuju ke apartemen Arumi setelah Alarick mengantarnya ke butik dan mendapat informasi bahwa Arumi ijin cuti selama seminggu.


Leon jadi bertanya-tanya sendiri. Ada dengan gads Asianya? Apa Arumi sakit? Semoga saja tidak.


Setelah tiba di depan pintu apartemen sang pujaan hati, Leon segera menekan bel. Tiga kali percobaan, akhirnya pintu itu terbuka dan menampilkan sosok Jonathan tanpa Arumi di depan pintu.


"Mau apa kau kemari?" tanya Jonathan dingin.


"Saya ingin bertemu Arumi!" jawab Leon dengan sopan. Wajah pucatnya tetap tersenyum ramah seperti biasa.


"Pergilah! Aru tidak ingin menemuimu!" ucap Jonathan yang di iringi dengan gerakan tangan untuk menutup pintu.


"Ta-tapi... Uncle! Uncle!" teriak Leon sembari berusaha menggedor pintu yang sudah tertutup rapat.

__ADS_1


"Uncle! Ku mohon! Izinkan aku menemui, Aru!" teriak Leon.


__ADS_2