
"Lebih baik kita pulang sekarang ! " Zack berusaha membantu Leon untuk berdiri kembali.
Leon mendongak menatap Zack. Wajah pucat pria itu semakin bertambah pucat. Mata sayunya semakin menyayat hati Zack yang melihatnya.
Kenapa kau bisa semenyedihkan ini, Leon ?
Zack mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tak sanggup berlama-lama menatap netra cokelat sahabat sekaligus adik tirinya itu. Melihat Leon yang terluka membuat Zack turut merasakan penderitaan yang sulit untuk ia gambarkan. Zack perlahan membawa Leon menuju mobilnya. Menuntun Leon duduk di bangku penumpang sementara dia berjalan memutari mobil menuju ke bangku pengemudi.
Zack menyalakan mesin mobil dan melajukan benda besi itu menjauh dari kediaman Aldric. Dia juga sudah menelepon seseorang untuk membawa mobil yang di kendarai Leon kembali ke mansion. Di dalam mobil, hanya wajah Leon yang banjir air mata yang menjadi objek perhatiannya. Zack kembali mengingat masa lalunya. Ketika untuk pertama kalinya dia tahu bahwa selama ini dia memiliki seorang adik meski berbeda ibu.
7 tahun yang lalu....
Inessa berderap memasuki mansion besar kediaman Duke Xander Syer Wellington dengan menggenggam erat tangan seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun. Inessa sempat kebingungan melihat banyaknya orang yang datang hari ini di kediaman Duke dengan pakaian hitam tanda berkabung.
Inessa bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang meninggal ? Dari kejauhan di lihatnya Duke Xander sedang memeluk seorang bocah kecil tampan yang sedang menangis dalam gendongannya. Inessa meneguk ludahnya kasar saat melihat foto Duchess Greysha di atas sebuah peti yang terletak di tengah-tengah ruangan. Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca sambil menutup mulutnya tak percaya. Sementara, bocah laki-laki yang berada di sampingnya hanya menatap Inessa dengan tatapan bingung.
Duke Xander yang menangkap sosok Inessa tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang segera memberikan putra yang ia gendong pada Ronald. Entah, Duke Xander berkata apa kepada kepala pelayan itu. Inessa tak bisa mendengar karena kebisingan di area sekitar yang cukup memekakkan telinganya.
Tak lama, Duke Xander melangkah mendekati Inessa dan menyuruh Inessa mengikuti pria itu menuju ke ruang kerjanya.
"Ada apa anda memintaku kemari ?" tanya Inessa to the point.
Duke Xander menatapnya dengan mata memerah. Menandakan bahwa pria dingin itu masih di selimuti duka meski tak menitikkan air mata barang setetes pun.
"Duchess Greysha meninggal tadi malam," kata Duke Xander datar.
Inessa terpundur. Meski dirinya sudah menebak sebelumnya, namun tetap saja ia sama sekali tak menyangka bahwa dugaannya ternyata benar.
"A-apa ? Apa yang terjadi ? Apa beliau sakit ?" tanya Inessa dengan suara bergetar.
Duke Xander mengangguk. "Ya. Leukimia mielositik akut."
Air mata Inessa kini sudah membasahi pipinya. Wanita itu menangis karena kabar duka yang baru saja dia dengar. Ia turut merasa kehilangan atas kepergian wanita yang selama ini sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
Wanita yang bahkan tidak memusuhinya ketika tahu bahwa Inessa hamil anak suaminya. Malah, jika bukan karena Duchess Greysha, mungkin sekarang putranya tidak akan tumbuh sampai sebesar ini. Duchess Greysha yang melarang Inessa kala itu untuk menggugurkan janin yang ia kandung saat tahu dirinya hamil.
__ADS_1
"Sejak kapan ?" Suara Inessa serak nyaris tak terdengar.
"Kata Dokter pribadinya sudah satu tahun belakangan. Tapi, dia tidak pernah mengatakannya. Greysha merahasiakan penyakitnya dariku, Leon dan juga kedua orang tuanya." Duke Xander tertunduk. Kini air mata itu sudah bisa Inessa lihat dengan jelas.
Menggenang di sudut mata pria itu dan perlahan luruh meski hanya sebentar.
"Bagaimana dengan Leon ?" Inessa baru saja teringat akan putra Duchess Greysha.
"Seperti yang tadi kau lihat. Leon masih tidak bisa terima dengan kepergian ibunya," jawab Duke Xander.
"Lantas, kenapa anda memanggil saya dan Zack kemari ?"
"Aku ingin Zack bisa berteman dengan Leon."
"Apa ?" tanya Inessa tak percaya. Ia tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Duke Xander yang selama ini sudah melarangnya bersama Zack untuk muncul di depan wajah Leon.
Duke Xander mendesah samar dan melambaikan tangannya pada bocah laki-laki yang sejak tadi bersembunyi di belakang Inessa.
"Zack, kemarilah !" panggil Duke Xander.
mendekat pada Duke Xander. Ayah yang selama ini tak mau di panggil dengan sebutan 'Daddy' olehnya.
"Apa kau ingin memanggilku dengan sebutan Daddy, Zack ?" tanya Duke Xander seraya memegang kedua pundak Zack.
Bocah kecil itu mengangguk.
"Kalau begitu, apa kau ingin melakukan sesuatu untukku ?" tanya Duke Xander.
Zack kembali mengangguk.
"Baiklah !" Duke Xander tersenyum. Senyum yang sama sekali tak pernah Zack peroleh dari ayah kandungnya itu sejak dulu. Namun, sekarang lihatlah ! Senyum itu terkembang hanya untuknya.
"Aku ingin kau berteman dengan Leon. Jadilah sahabat baik untuknya. Jaga dia dengan seluruh jiwa dan ragamu. Dan jangan biarkan satu orang pun menyakitinya. Kau mengerti ?"
"Siapa Leon ?" tanya Zack kecil dengan polos.
__ADS_1
Duke Xander memutar sedikit kursi yang ia duduki. Meraih sebuah bingkai foto di mana ada potret dirinya dengan seorang bocah berusia 5 tahun berambut brunette di atas meja kerjanya.
"Ini Leon !" Duke Xander mengetuk-ngetuk kaca bingkai foto. Memperlihatkan wajah Leon yang sedang tertawa pada Zack.
"Dia adikmu, Zack !" lanjut Duke Xander lagi.
Zack menatap lamat-lamat foto Leon. Senyumnya mengembang saat tahu bahwa dia memiliki seorang adik laki-laki yang sangat tampan. Sementara, Inessa hanya bisa memalingkan wajahnya. Tak tahan melihat putranya yang di perlakukan layaknya pengemis hanya karena sebuah pengakuan dari ayah kandungnya sendiri.
"Jika aku menjadi temannya, apa aku boleh memanggilmu Daddy ?" tanya Zack kecil.
"Ya. Tentu saja," jawab Duke Xander meyakinkan.
"Baiklah ! Akan Zack lakukan, Daddy. Tapi, apa aku boleh meminta satu hal lagi ?"
"Apa ?" tanya Duke Xander.
"Bolehkah aku berfoto bersama Daddy dan Leon ?"
"Tentu saja. Tapi dengan satu syarat !"
"Apa Daddy ?"
"Kau hanya boleh memanggilku Daddy saat tidak ada orang. Dan jangan sampai Leon tahu bahwa kau adalah kakaknya," kata Duke Xander.
Zack mengangguk lemah. Hati bocah kecil itu sedih karena perkataan terakhir ayahnya. Namun, tak lama kemudian Zack kecil mengangguk. Menyanggupi permintaan Duke Xander walaupun hatinya terluka.
Saat sudah keluar dari ruangan Duke Xander, Zack melangkah menghampiri seorang bocah kecil yang meringkuk di sudut ruangan sambil menatap nanar pada peti mati milik ibu yang sudah melahirkannya. Air mata bocah kecil itu masih terus mengalir sembari menyebut-nyebut nama ibunya tanpa henti.
"Hai ! Aku Zack !" sapa Zack. "Berdirilah ! Jangan bersedih terus ! Aku berjanji akan menjadi temanmu," sambungnya seraya mengulurkan tangan.
Leon ragu-ragu menyambut uluran tangan Zack. Dia bangkit berdiri dengan bantuan Zack. Dan, Zack langsung tersenyum. Memeluk Leon sambil menepuk-nepuk pundak Leon kecil.
"Aku akan menjadi teman yang baik untukmu ! Percayalah ! Jadi, berhentilah menangis !" kata Zack.
"Mommy meninggal, Zack ! Dia baru saja meninggalkanku untuk selamanya ,, hiks...," sahut Leon sambil mengusap air matanya.
__ADS_1