Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
Pekerjaan Baru


__ADS_3

"Aru ! Ayo bangun kawan !" Teriak Charlie penuh semangat sambil melompat-lompat di atas kasur Arumi.


Gadis yang di bangunkan hanya mengerang kesal sambil menutup wajahnya dengan selimut. Enggan untuk membuka mata cantiknya meskipun Charlie memaksa.


"Ayo, Aru ! Jangan malas !" Charlie membuka selimut yang menutupi wajah Arumi. Memaksa tubuh kurus gadis itu untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Ada apa, sih ? Aku masih mengantuk Char ! Tubuhku juga masih lelah." Gerutu Arumi dengan mata yang masih menyipit, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya.


"Kau sudah tidur siang selama dua jam, Aru ! Apa itu tidak cukup ?"


"Tidak." Jawab Arumi cepat.


Charlie bersedekap dengan kaki yang masih berdiri di atas ranjang Arumi. Kepalanya menggeleng dengan tatapan penuh penghakiman pada sahabatnya sendiri. Seolah-olah, Arumi adalah manusia termalas di bumi dan dirinya adalah yang paling rajin.


"Kenapa menatapku begitu ?" Wajah Arumi jelas masih di tekuk. Tak ada rona bahagia di wajahnya saat ini. Hanya ada rona kekesalan dan benci menggunung untuk Charlie yang telah semena-mena membangunkannya.


"Hei, pemalas !" Telunjuk Charlie mengacung menghakimi Arumi. "Cepat cuci muka dan rapikan rambut singamu. Sahabat baikmu yang cantik ini akan menemanimu ke butik Aunty Nastya untuk melamar pekerjaan."


Charlie menyeringai begitu pongahnya. Mengisyaratkan pada Arumi untuk memuja dirinya layaknya ratu karena sudah berhasil menemukan pekerjaan yang cocok untuk Arumi.


Satu detik. Otak Arumi masih dalam proses loading. Dua detik. Otaknya mulai memproses kata-kata yang baru di ucapkan Charlie. Tiga detik. Gadis itu ikut melompat. Berdiri di atas tempat tidur dan mengcengkram kuat kedua lengan Charlie.


"Kau bilang apa barusan ?" Mata gadis itu membulat sempurna dengan mulut terbuka tanpa sadar.


Charlie memutar bola matanya malas. Kurang jelaskah suaranya tadi ? "Ku bilang, bersiaplah ! Satu jam lagi kau ada interview kerja di butik Aunty Nastya."


"Katakan lagi !"

__ADS_1


"Kau ada interview kerja di butik aunty Nastya, Aru ! Masih kurang jelas ?" Teriak Charlie keras. Arumi di depannya reflek menutup kedua telinga dengan wajah tersenyum lebar.


"Baiklah ! Aku akan bersiap sekarang " Arumi melompat turun ke lantai kemudian berlari secepat mungkin memasuki kamar mandi. Dia terlalu bersemangat untuk pekerjaan yang sudah sangat lama ia impikan.


Charlie yang masih berdiri di atas tempat tidur ikut turun. Dengan mulut berdecak kesal melihat kelakuan Arumi, gadis itu menggeleng kecil sambil keluar dari kamar tidur sang sahabat.


"Setidaknya, berucap terima kasihlah gadis pemalas !" Charlie menggerutu sendiri sambil membanting pintu kamar Arumi dengan sangat keras. Sengaja betul, agar gadis pemilik kamar menjadi peka sedikit.


Dua hari yang lalu, Arumi dan Charlie sudah kembali dari pulau Moorea. Aru kini sudah kembali ke mansion keluarga Aldric dan bersiap untuk memulai kehidupan barunya sebagai Arumi yang terlahir kembali. Arumi yang kuat, mandiri dan bisa meraih mimpi. Itulah harapan Arumi yang ia gantungkan di langit Moorea. Gadis cantik itu berharap, setelah ini, bahagia juga akan sudi mampir dalam hidupnya yang sudah cukup di penuhi kesedihan.


Arumi tidak berharap banyak. Ia bahkan sudah berniat menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk siapa pun yang hanya berniat singgah namun tidak untuk menetap. Gadis itu kini hanya akan hidup untuk dirinya sendiri.


"Wah ! Kau sangat cantik, sayang !" Isabella berdiri dan memeluk Arumi yang tampak begitu anggun dengan dress selutut berwarna putih yang di padukan dengan flatshoes berwarna krem. Rambut gadis itu ia biarkan tergerai dengan tas berwarna hitam yang tersampir di pundaknya.


"Terima kasih, aunty." Ucap Arumi tersenyum.


"Kau siap untuk pekerjaan barumu, sayang ?"


Arumi kemudian berangkat dengan di temani oleh Isabella dan Charlie menuju butik sahabat baik Isabella. Kebetulan, nyonya Nastya memang sedang membutuhkan seorang designer baru karena designer lamanya ada yang mengajukan resign. Isabella yang mendengarkan hal itu tentu saja senang dan langsung merekomendasikan Arumi dengan memperlihatkan sebagian karya Arumi yang memang sangat bagus. Nyonya Nastya langsung setuju dan menyuruh Isabella untuk membawa Arumi bertemu langsung dengannya.


"Apa kau gugup ?" Charlie menyikut lengan Arumi di sebelahnya. Mereka berdua masih berdiri mematung di depan butik 'Carole Bigielman' milik sahabat baik Isabella, Nyonya Nastya.


"Sedikit." Arumi mengepalkan tangannya berulang kali. Tak tahu kenapa, rasa gugup tiba-tiba saja menyergap Arumi sesaat setelah turun dari mobil.


"Jangan takut. Aku dan Mommy akan selalu mendukungmu." Charlie merangkul Arumi dan memaksa sahabatnya itu untuk menyeret langkah memasuki butik tempatnya akan bekerja nanti.


"Kenapa kau diam di sana, Aru ? Pekerjaanmu sebagai designer di butik ini, bukan malah jadi patung selamat datang." Gerutu Charlie kesal yang sudah membuka pintu butik namun ternyata Arumi malah berhenti kembali tepat di anak tangga terakhir.

__ADS_1


Segera Arumi mempercepat langkahnya dengan telunjuk kanan yang menempel pada bibir kemerahannya. Memberi isyarat pada Charlie agar sahabat baiknya itu mau berhenti mengoceh atau setidaknya memperkecil volume suaranya.


"Bisakah bicaramu di pelankan sedikit ?" Arumi berbisik dengan tangan membekap mulut Charlie.


"Tidak bisa." Jawab Charlie sambil berdecak kesal. Setengah mati dia berusaha melepaskan bekapan tangan Arumi dari mulutnya.


"Apa yang kalian lakukan di sana ? Cepatlah kemari, Aru !" Teriak Isabella dengan tangan melambai.


"Iya Aunty." Arumi menarik lengan Charlie dan bergegas menghampiri Aunty Bella yang sedang berbincang dengan seorang wanita yang hampir sebaya dengannya. Bisa Arumi tebak bahwa itu pasti Nyonya Nastya, pemilik butik ini.


"Hai, Sweety ! Kau Arumi ?" Nyonya Nastya berdiri dan menyambut begitu antusias kedatangan Arumi.


"Iya, Nyonya. Saya Arumi, senang bertemu anda." Arumi mengulurkan tangan, tersenyum seramah mungkin pada Nyonya Nastya.


Nyonya Nastya memandangi jemari halus yang terulur di depannya, tersenyum kecil dan malah memeluk Arumi secara tiba-tiba.


"Senang juga bertemu denganmu, cantik."


Mata Arumi berkedip beberapa kali karena kaget. Tangannya kaku dan hanya mengepal tanpa berniat membalas pelukan yang Nyonya Nastya berikan. Gadis itu tersenyum canggung saat Nyonya Nastya melepas pelukan dari tubuh kurusnya.


"Kapan kau bisa bergabung dengan kami untuk bekerja, sayang ?" Tanya Nyonya Nastya dengan tangan yang menyisir rambut panjang milik Arumi.


"Eh ?" Arumi lagi-lagi terbelalak kaget.Takut salah mengerti dengan perkataan Nyonya Nastya. " Maksud anda apa, Nyonya ?" Gadis itu bertanya memastikan.


"Kau sudah diterima bekerja di sini. Jadi, kapan kau bisa mulai ?"


"Anda tidak meng-interview saya dulu, Nyonya ?"

__ADS_1


"Tidak perlu ! Saya sudah mengetahui segala tentangmu dari Bella." Nyonya Nastya berucap sambil menoleh pada Aunty Bella yang tengah duduk di sofa sambil menikmati secangkir teh. Ibu dari sahabatnya itu hanya mengedipkan mata. Memberi kode bahwa dia sudah mengurus segalanya untuk sang anak angkat.


Senyum senang terbit begitu indah di wajah cantik Arumi. Gadis itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ingin melompat keluar dari dadanya. Dia mengenggam tangan Nyonya Nastya. Berseru terima kasih beberapa kali hingga membuat orang-orang yang melihat ikut terkekeh bahagia.


__ADS_2