Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#53


__ADS_3

"Zack Murphey. Sahabat baikmu itu sedang bersama anak buahku. Dan jika kau tidak menuruti permintaanku saat ini, maka aku akan menyuruh anak buahku untuk membunuh pelayan pribadimu itu sekarang juga." Ancam Claire.


"Jangan mengarang cerita Jane." Ucap Leon tak percaya.


Claire melangkah santai mendekati Leon. Dia memperlihatkan sebuah video pada Leon yang sontak membuat pemuda itu tak bisa lagi berkutik. Zack benar-benar di culik orang suruhan Claire.


"Jadi bagaimana ? Mana yang akan kau pilih ?" Alis Claire terangkat licik.


Leon mendengus dan pada akhirnya menyerah. Dia memilih menuruti permintaan Claire walaupun ia tahu bahwa sesuatu yang buruk sudah pasti akan terjadi pada hubungannya dan Arumi. Namun Leon tak mau egois. Yang lebih penting dari apapun sekarang adalah nyawa Zack. Urusannya dengan Arumi bisa dia urus belakangan. Semoga saja Arumi mau mendengar dan mengerti penjelasannya nanti.


"Akan ku turuti kemauanmu Jane ! Tapi ingat ! Jika Zack kembali dalam kondisi tergores sedikit pun, maka kau yang akan berada dalam masalah besar." Ucap Leon balas mengancam.


"Semua tergantung padamu, Hon !" Kata Claire sambil bergelayut manja di lengan Leon dengan seringai liciknya.


Leon sudah bisa menebak bahwa Claire pasti sudah tahu perihal keberadaan Arumi. Itu pasti yang menjadi alasan kuat kenapa Claire memaksanya datang kemari. Perempuan licik ini sudah pasti merencanakan semuanya dengan rapi sejak awal demi menjebak dia di hadapan Arumi.


Mereka berdua sudah memasuki pintu masuk butik dengan perasaan berdebar. Meskipun alasan keduanya memiliki perasaan tersebut tentu saja jelas sangat berbeda jauh. Jika Leon berdebar karena takut melihat ekspresi terluka Arumi saat mengetahui segala kebohongan yang sudah dia sembunyikan selama ini, Claire justru berdebar karena tak sabar melihat adegan dramatis yang akan terjadi nanti.


Sampai di depan ruangan Nyonya Nastya, Claire mengetuk pintu dengan tangan sebelah yang masih menggamit lengan Leon posesif. Leon mengedarkan pandangannya ke sekitar. Berusaha mencari keberadaan Arumi demi menghindari gadis itu.


"Jane ! Kau sudah datang ?" Nyonya Nastya langsung memeluk Claire ketika dia menemukan sosok perempuan cantik itu di depan pintu.


"Apa kabar Aunty ?" Tanya Claire ramah.


"Baik. Apa dia putra Duke Xander ?" Nyonya Nastya menunjuk Leon. Bertanya penasaran.


"Ya Aunty. Benar. Dia adalah Leon putra Duke sekaligus tunanganku." Claire kembali memeluk lengan Leon. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman dan tak peduli pada ekspresi kesal Leon yang berusaha menolak sentuhannya.


"Benar-benar tampan seperti Ayahnya." Puji Nyonya Nastya sambil tersenyum.


Leon turut menanggapi pujian itu dengan sedikit mengangkat sudut bibirnya. Sekedar menghargai pujian yang di berikan Nyonya Nastya.

__ADS_1


"Masuklah !" Nyonya Nastya mempersilahkan mereka masuk.


Leon dan Claire duduk di sofa sementara Nyonya Nastya tetap duduk di kursi kerjanya. Beberapa kali Claire seperti berusaha membelai wajah Leon yang hanya di tepis kasar oleh pemuda itu. Mendapat penolakan sekejam itu dari calon suaminya sendiri tentu membuat Claire merasakan sakit bercampur geram dalam hatinya.


"Apa anda bisa memperlihatkan jas pengantin saya ? Saya ingin mencobanya sekarang agar ukurannya bisa di sesuaikan." Kata Leon tak sabaran.


Dalam pikiran pemuda itu hanyalah menyelesaikan urusan ini secepat mungkin agar bisa keluar secepat mungkin juga tanpa harus bertatap muka dengan Arumi.


"Ah, sebenarnya bukan saya yang bertanggung jawab pada busana pengantin kalian. Ada pegawaiku yang khusus menghandle tugas itu dengan baik." Aku Nyonya Nastya.


"Ya sudah. Bisakah anda memintanya membawakan jasku kemari ?" Lanjut Leon.


"Baiklah ! Tunggu sebentar." Nyonya Nastya menghubungi salah seorang pegawainya. Meminta orang itu untuk segera datang ke ruangan pribadinya.


"Ada apa Nyonya ?" Tanya pegawai wanita itu.


"Ke ruanganku sebentar !" Katanya sambil memutus sambungan telepon.


Jantung Leon sudah hampir lepas dari tempatnya. Dalam hati dia berharap bahwa pegawai yang di hubungi Nyonya Nastya itu semoga bukan Arumi. Satu menit kemudian, terdengar suara ketukan dari arah pintu luar. Leon semakin panik dibuatnya.


Claire yang memperhatikan ekspresi lega Leon hanya tersenyum sinis.


Cih ! Apa sebegitu takutnya kau melukai hati perempuan tak tahu diri itu ? Gumam Claire dalam hati.


"Ada apa Nyonya ?" Si pegawai bertanya maksud atasan memanggilnya.


"Ambilkan gaun pengantin Miss Savich dan jas calon suaminya kemari !" Perintah Nyonya Nastya.


"Baik Nyonya !" Pegawai itu mengangguk patuh.


"Tunggu !" Claire mencegah langkah pegawai itu sebelum berbalik meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Ya Miss ?"


"Panggilkan saja desainernya kemari. Katakan bahwa aku mencarinya." Ujar Claire tersenyum.


Pegawai itu balas tersenyum sambil menundukkan setengah badannya. Tak lama kemudian dia pamit undur diri dan bergegas keluar dan menutup pintu ruangan Nyonya Nastya.


Leon sudah semakin merasa ada yang aneh. Gelagat mencurigakan Claire sudah semakin bisa dia cium. Namun Leon tetap berusaha mensugesti dirinya untuk berpikiran positif. Banyak desainer senior di butik ini. Tidak mungkin kan secara kebetulan Arumi yang notabenenya anak baru bisa langsung memangku tanggung jawab besar dengan menghandle busana pengantinnya dan Claire ?


Ya. Itu mustahil. Benar-benar mustahil pikir Leon. 10 menit berlalu begitu cepat. Leon masih gelisah dalam diamnya. Sementara sekitar 5 menit yang lalu Claire mohon diri untuk keluar sebentar. Entah ingin kemana wanita itu Leon juga tidak peduli.


Sesaat kemudian terdengar suara pintu terdorong yang sontak membuat Leon mendongakkan kepala yang sejak tadi hanya tertunduk menatap tautan jemarinya sendiri.


Deg !


Jantung Leon bagai di remas kuat ketika melihat sosok gadis Asianya berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca memandang ke arahnya. Leon membisu. Lidahnya kelu untuk sekedar menyebut nama yang selalu dia gumamkan setiap malam.


"Aru ! Ini dia calon suamiku. Namanya Leon Wyatt Wellington. Tampan bukan ?" Ujar Claire bangga sambil kembali duduk dan merangkul lengan Leon kembali.


Leon tak bisa berkutik. Otaknya tak bisa berpikir jernih. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana cara meredakan luka di hati Arumi yang saat ini pasti menganga lebar karena ulahnya.


"A-aku permisi ke toilet sebentar !" Sahut Arumi sebelum gadis itu berputar balik dan menghilang begitu cepat di balik pintu.


"Mau kemana kau ?" Claire menahan Leon yang tampaknya akan berlari menyusul Arumi saat ini juga.


"Aku ingin keluar." Kata Leon.


"Tetaplah di sini bersamaku jika kau masih menyayangi Zack !" Ucap Claire dengan nada mengancam.


Leon memejamkan matanya menahan perih karena sudah menyebabkan air mata Arumi terurai kembali. Mau tidak mau dia kembali duduk menuruti permintaan Claire. Zack masih tetap prioritas utamanya saat ini. Walaupun badai sudah berkecamuk memenuhi rongga dadanya.


"Ada apa ?" Nyonya Nastya yang sejak tadi hanya menjadi penonton turut angkat bicara. Bingung pada situasi yang terasa menegangkan tiba-tiba saja begitu Arumi datang.

__ADS_1


"Tidak ada Aunty. Semua baik-baik saja." Jawab Claire dengan senyum palsunya.


Ya. Semua memang baik-baik saja tetapi hanya untuk dirinya. Sementara untuk sepasang anak manusia yang saling mencintai yang sudah berhasil dia patahkan semuanya tidak ada yang baik-baik saja.


__ADS_2