
Esok harinya, Irgi menepati perkataannya. Pagi-pagi sekali, pria itu sudah datang menemui Arumi dengan sebuah bungkus makanan yang ia tenteng di tangan kanan. Pria itu tersenyum manis yang hanya di sambut Arumi dengan tatapan tidak suka.
"Mau apa lagi kemari ?" Arumi bersedekap dada. Memandang Irgi dengan sinis.
"Ingin menemuimu ! Apa lagi ?" Pria itu mengangkat kedua bahunya seraya meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja kerja Arumi.
"Apa Kak Irgi tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk ?"
"Untuk apa ? Kau pasti tidak akan membukanya jika aku melakukan hal itu, Aru !" Irgi masih menebar senyum manis. Membuka bungkus makanan yang ia bawa dan memberikan isinya kepada Arumi. Ada segelas kopi hangat dan sepotong red velvet. Ia menyodorkannya untuk Arumi.
"Makanlah !" pinta Irgi.
"Aku tidak lapar," ucap Arumi yang kemudian kembali fokus pada sketsa rancangan yang tengah ia buat.
"Aru ! Aku tahu kau belum sarapan ! Makanlah walau hanya sedikit !" mohon Irgi dengan nada memelas.
Arumi menghela napas. Gadis itu meletakkan kembali pensil yang sedang ia gunakan untuk menggambar dan menatap tajam ke arah Irgi yang duduk berseberangan dengannya.
"Sudah ku bilang aku tidak lapar, Kak !" ucap Arumi mengulang perkataannya.
Irgi merebahkan punggungnya di sandaran kursi di belakangnya. Kecewa lagi-lagi harus ia telan bulat-bulat kala penolakan menjadi hadiah atas usaha dan kerja kerasnya dalam mendapatkan kepercayaan Arumi kembali. Irgi sakit hati. Namun, ia juga mengerti jika dosanya di masa lalu terhadap Arumi memang terlampau besar. Wajar jika Arumi masih menaruh sakit hati padanya. Tapi, tak apa. Irgi akan terus berusaha sampai cinta yang dulu pernah ada untuknya kembali tumbuh di hati Arumi.
"Baiklah ! Jika kau belum mau makan, simpan saja ! Aku akan segera ke kantor ! Jaga dirimu baik-baik !" Irgi berdiri dan mengelus puncak kepala Arumi.
Sementara, Arumi hanya diam. Menerima perlakuan lembut Irgi yang kini tak berarti apa-apa baginya. Jika saja Irgi selembut dan seperhatian ini padanya ketika mereka masih berstatus sebagai suami istri, pasti Arumi akan sangat senang. Namun, sayang. Sekarang semua sudah berlalu. Bagi gadis itu, perlakuan Irgi yang seperti ini tidak akan mampu untuk mengubah haluan hatinya kembali yang terlanjur menjauh.
__ADS_1
* * *
"Uncle Xander ! Uncle !" Claire berteriak seperti orang kesetanan begitu masuk ke dalam mansion keluarga Wellington.
Ronald dan Frederick keluar bersamaan lalu saling berpandangan heran ketika menemui Claire berada di ruang tamu dengan wajah dan penampilan yang berantakan. Entah apa yang baru saja terjadi padanya.
"Jane ? Mau apa kau kemari ?" Frederick mendekat dan menatap Claire penuh pertanyaan.
"Di mana Uncle Xander ? Aku ingin menemuinya !" kata Claire yang mencoba menerobos menuju ke ruang kerja Duke Xander namun segera di tahan Ronald.
"Anda tidak bisa seenaknya masuk, Nona !" ucap Ronald tegas sembari memegang kedua lengan Claire yang masih mencoba menerobos.
"Lepaskan aku ! Aku ingin bicara dengan Uncle Xander !" teriak Claire histeris.
Duke Xander yang memang sedang mengerjakan beberapa berkas di ruang kerjanya mendadak berhenti dan memutuskan untuk keluar usai keributan yang Claire lakukan terdengar hingga ke dalam ruangan itu. Duke Xander melangkah tenang dengan kedua tangan yang saling bertautan di belakang punggung mendekati Claire. Tampak sekali bahwa dia sudah memprediksi bahwa gadis mantan calon menantunya itu akan datang kemari.
Ronald dan Frederick lekas berbalik dan menjumpai Duke Xander sudah berada di belakang mereka. Ronald pun segera menunduk memberi hormat kemudian melaksanakan apa yang Tuannya minta. Ia melepas tangan Claire dan mundur dua langkah dari tempatnya berdiri.
"Ada apa kau kemari ?" Duke Xander menatap Claire.
"Uncle ! Kenapa Uncle membatalkan pernikahanku dan Leon ? Bukankah Uncle sendiri yang berjanji padaku bahwa pernikahan hanya akan di tunda sampai Leon sembuh ? Lalu, kenapa sekarang Uncle berubah pikiran ?" serang Claire dengan membabi buta. Gadis itu frustasi dan kehilangan arah karena impiannya hancur seketika saat kedua orangtuanya mengatakan bahwa Duke Xander tak ingin melanjutkan rencana pernikahan itu lagi.
"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada Ayahmu, Jane ?" Duke Xander mengangkat sebelah alisnya. Pria itu melangkah santai dan mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu mansion miliknya yang empuk.
"Ayahku ? Apa maksud Uncle ?" desak Arumi tak mengerti.
__ADS_1
Duke Xander memanggil Ronald dengan melambaikan tangannya. Kepala pelayan itu langsung mendekat dan mendekatkan telinganya ketika Duke Xander memberi kode bahwa ia ingin berbisik hal penting. Tak lama, Ronald tampak manggut-manggut dan berjalan cepat masuk ke ruang kerja Duke Xander.
Satu menit kemudian, kepala pelayan itu kembali dengan sebuah amplop cokelat di tangannya. Ia menyerahkan amplop tersebut pada Duke Xander dan kembali berdiri tegak di samping Duke Xander.
Duke Xander mengeluarkan isi dari amplop tersebut dan melemparnya di atas meja. Ada beberapa foto dan berkas-berkas laporan perusahaan. Claire segera meraih foto-foto beserta dengan laporan perusahaan tersebut dan membacanya dengan teliti.
"Uncle ! Apa-apaan ini ?" ujar Claire panik.
"Itu semua bukti bahwa Ayahmu selama ini sudah menjual rahasia perusahaanku kepada saingan bisnisku. Dia bahkan berencana mengambil alih perusahaan yang sudah ku jaga selama turun temurun tepat ketika kau menikah dengan putraku. Apa menurutmu hal itu bisa di ampuni, Jane ?"
"Mustahil, Uncle ! Perusahaan Ayahku tak kalah besar dengan perusahaan Uncle ! Mustahil jika Ayahku bisa bertindak sejahat itu pada Uncle !" sanggah Claire dengan cepat.
"Kau belum tahu bahwa perusahaan Ayahmu sedang berada di ambang kehancuran rupanya," Duke Xander menyeringai tipis.
Claire terpundur begitu mendengar perkataan Duke Xander. Ia tidak pernah tahu akan hal itu selama ini.
"Lebih baik kau pulang, Jane ! Bersyukur aku hanya sekedar membatalkan pernikahanmu dengan Leon dan bukannya memasukkan Ayahmu ke dalam penjara."
"Jangan, Uncle ! Ku mohon !" Mendengar kata penjara semakin membuat Claire bertambah kaget.
"Kalau begitu, terima saja keputusanku dan cari kebahagiaanmu di luar sana !"
Claire menggeleng keras. Ia tidak mau melakukan apa yang Duke Xander minta Karena bagi Claire, bahagianya hanya bersama Leon seorang.
"Tidak. Aku tidak mau meninggalkan Leon, Uncle !" Claire menangis terisak.
__ADS_1
"Sayangnya, kau harus ! Atau, foto-fotomu bersama pria yang sering kau temui di apartemen dan di hotel itu akan ku sebar," ancam Duke Xander.
Claire bungkam seketika. Ia tak percaya bahwa aksi sembunyi-sembunyinya menemui selingkuhannya ternyata ketahuan Duke Xander. Saat ini, tak ada lagi yang bisa Claire perbuat. Satu-satunya jalan agar skandalnya itu tak terbongkar adalah dengan merelakan Leon. Di atas segalanya, karir Claire masih berada di posisi teratas di hati gadis itu.