Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
Kehilangan


__ADS_3

"Apa yang sedang kau cari-cari, Aru ?" Charlie bertanya sambil membuka tutup botol air mineral yang ia pegang. Meneguknya beberapa saat sebelum beralih menatap Arumi yang tampak gelisah sejak tadi.


"Tidak ada." Jawab gadis cantik yang mengenakan dress panjang dengan tali spaghetti di sampingnya.


Charlie menatap lekat wajah cantik Arumi, gadis itu kemudian memukul paha Aru dengan sangat kencang.


"Sakit , Char !" Ringis Arumi sambil mengusap-usap pahanya yang terasa perih.


"Makanya, jangan coba-coba membohongiku." Tukas Charlie yang kembali meminum airnya.


"Apa kau tidak bertemu Leon, seharian ini ?" Akhirnya, Aru memberanikan diri menanyakan soal Leon pada Charlie. Meskipun, ia sedikit takut akan reaksi apa yang bisa Charlie berikan nantinya.


Charlie kembali menoleh menatap Arumi. Hampir saja ia tersedak air minumnya karena pertanyaan aneh Arumi. Siapa yang kemarin mengatakan tidak ingin mengenal Leon lagi ?


"Kenapa kau menanyakan pria itu ? Bukannya kau membencinya ?"


Aru menegakkan sedikit punggungnya. Menatap salah tingkah pada Charlie yang menatapnya penuh selidik.


"Salah jika aku bertanya tentangnya ?"


Charlie mengangguk sambil tersenyum sebagai jawaban. Sementara Arumi hanya mendengus kasar sambil mengomel dalam hati. Charlie benar-benar membuatnya kesal setengah mati.


"Kenapa kau mencari Leon ? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi di antara kalian dan aku tidak tahu ?" Tanya Charlie setelah beberapa saat membiarkan hening menguasai keadaan. Gadis tomboy itu sangat tidak tahan menatap wajah sahabat baiknya yang kusut macam pakaian belum di setrika sejak pulang dari jogging tadi pagi. Jika asumsi Charlie benar, maka sudah pasti ini berkaitan erat dengan sosok pemuda tampan putra dari Duke Xander yang baru mereka kenal.


"Tidak ada." Sergap Arumi cepat.


Namun, siapa sangka jika gerakan refleknya menjawab justru semakin meyakinkan Charlie bahwa antara dirinya dan Leon memang ada sesuatu yang belum Charlie tahu. Di tambah lagi, gerakan tangannya yang berulangkali memperbaiki letak rambut panjangnya yang tampak sekali sedang menyembunyikan rasa groginya.

__ADS_1


"Baiklah ! Ku anggap itu sebagai jawaban bahwa asumsiku benar."


"Hei ! Mana bisa itu bisa di anggap benar, Char !" Protes Arumi dengan mata melotot.


"Tentu saja bisa jika tingkahmu seperti remaja kecil yang baru pertama kali jatuh cinta macam ini." Charlie sudah berdiri dari bangku yang ia duduki. Berjalan mundur, sambil mengolok Arumi yang sepersekian detik sudah bangkit dan mengejarnya penuh tenaga.


"Kejar aku jika kau sanggup, Aru !" Teriak Charlie meremehkan.


"Awas kau, ya !" Pekik Arumi yang merasa terlalu di pandang enteng oleh Charlie.


*


*


*


Indonesia


Perempuan bertubuh sexi itu memutar bola matanya jengah lalu menurunkan ponselnya sebentar.


"Cari saja sendiri. Itu kan barangmu, kenapa malah menanyakannya padaku." Sahut Beverly malas.


Irgi keluar dari walk in closet mereka dengan penampilan yang masih amburadul. Kemeja putihnya belum terkancing sempurna, rambut belum di sisir dan dasi yang bahkan belum ketemu. Padahal, dia ada rapat penting dalam tiga puluh menit dari sekarang dengan salah satu direktur utama sebuah perusahaan besar.


"Kau kan istriku, sayang ! Sudah tugasmu untuk menyiapkan segala keperluanku sebelum aku berangkat kerja."Ujar Irgi yang masih berusaha untuk bersabar.


Beverly berdiri sambil berkacak pinggang di depan Irgi. " Apa kau pikir aku menjadi istrimu hanya untuk di jadikan pembantu ? Kau pikir aku ini akan sama dengan Arumi, begitu ? Ingat Irgi ! Aku ini sedang hamil. Jika bayiku kenapa-napa, apa kau mau tanggung jawab ?" Desis Beverly marah.

__ADS_1


Irgi segera menghampiri istrinya dan berusaha menenangkannya. Biar bagaimanapun, dia harus tetap bersabar menghadapi Beverly yang kata dokter memang akan sering berubah-ubah mood selama masa kehamilan. Belum lagi, Beverly sedang mengandung putra pertama yang begitu ia nantikan kehadirannya.


"Maaf, sayang ! Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kelelahan. Hanya saja, menurutku ini kan bukan pekerjaan yang terlalu berat." Irgi berucap selembut mungkin demi membujuk istrinya.


"Sudahlah ! Daripada di sini, lebih baik aku ke rumah ayahku saja." Sungut Beverly yang langsung meraih kunci mobil dan bergegas pergi.


"Beverly, tunggu !" Teriak Irgi yang berusaha menahan langkah sang istri. Namun, Beverly tetap tak peduli. Ia dengan terburu-buru meninggalkan Irgi dan menuju ke rumah orang tuanya.


"Sial !" Umpat Irgi kesal. Sejak menikah dengan Beverly, tak ada yang berjalan dengan baik dalam hidupnya. Bahkan, dalam usia pernikahan yang baru menginjak hari ke-5, tak terhitung sudah berapa banyak hal penting yang Irgi lewatkan hanya demi memenuhi keinginan Beverly.


Perempuan yang ia nikahi saat ini sangat berbeda jauh dengan Arumi yang dulu pernah dengan setia selama 2 tahun mendampinginya. Meski, pernikahan itu terjadi karena ulah jahat Arumi saat itu, tetapi Irgi tidak bisa menampik bahwa dirinya nyaman dengan Arumi. Gadis itu tak pernah mengeluh. Tak pernah meminta apapun. Dan, tak pernah melawan sedikitpun.


Arumi gadis yang patuh, pintar mengurus rumah, dan telaten dalam melayani suami. Berbanding terbalik dengan Beverly yang keras kepala, hanya tahu bersolek dan menghabiskan uang. Beverly sama sekali tidak pernah mau mengurus Irgi apalagi ibunya yang saat ini tiba-tiba saja terkena stroke sehari setelah pernikahan mereka di laksanakan. Separuh tubuh Nyonya Berta lumpuh akibat penyakit itu yang membuat list masalah dalam hidup Irgi semakin banyak saja. Tiba-tiba, dia lagi-lagi mengingat Arumi. Mantan istri yang sudah ia singkirkan dengan cara yang begitu kejam.


"Apa Tuan Kenan masih ada ?" Tanya Irgi pada sekretarisnya setelah datang terlambat 15 menit dari janji yang seharusnya.


Sekretarisnya itu menghela napas. " Sudah pulang sejak tadi, Pak ! Beliau sudah membatalkan kerja sama perusahaannya dengan kita."


"Kenapa kau tidak berusaha menahannya, Lia ?" Geram Irgi frustasi.


"Sudah saya coba, pak ! Tapi anda tahu sendiri bahwa tuan Kenan itu sangat tidak suka mentoleransi masalah waktu." Jawab Lia, membela diri. Memang ini salahnya jika Tuan Kenan pergi ? Bukannya Irgi sendiri yang terlambat padahal sudah tahu karakter Tuan Kenan seperti apa ? Lalu, kenapa Lia yang seolah di persalahkan dalam masalah ini ?


Tak mau berdebat panjang dengan Irgi, Lia meninggalkan atasannya itu yang masih betah berdiri di luar ruang rapat. Masih banyak pekerjaan menumpuk yang harus Lia lakukan selain menemani Irgi menyesali kesalahannya.


"Kenapa jadi tambah kacau gini, sih ?" Erang Irgi frustasi.


Sudah genap dua klien penting dari perusahaannya yang hilang karena kesalahannya sendiri. Alasannya sama. Irgi selalu terlambat datang yang mengakibatkan kliennya tidak suka dan malah memutus kerja sama secara sepihak. Semua karena Irgi tidak bisa bangun pagi karena setiap malam selalu harus memijit Beverly, mengurus segala hal yang wanita itu butuhkan dan hanya bisa tidur jika Beverly juga sudah tidur.

__ADS_1


Berbeda dengan bersama Arumi dulu. Ia selalu bisa tidur lebih awal tanpa khawatir apapun. Gadis itu yang justru akan memijitnya, menyiapkan baju tidur untuknya dan akan tertidur setelah dia tidur. Tapi, yang ajaib adalah, Arumi tetap bisa bangun lebih awal, menyiapkan sarapan bersama pembantu di bawah dan membangunkan Irgi satu setengah jam sebelum pria itu berangkat kerja. Segala kebutuhannya ke kantor akan selalu tersedia dengan lengkap setelah dia mandi. Sesuatu yang saat ini tidak mungkin bisa Irgi dapatkan dari Beverly.


Irgi jadi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa benar dia masih mencintai Beverly dan sungguh-sungguh tidak memiliki rasa terhadap Arumi ? Dan yang lebih penting adalah, apakah Arumi memang benar-benar melakukan segala hal kejam yang sudah di tuduhkan terhadapnya ?


__ADS_2