Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#26


__ADS_3

"Aku pada akhirnya ikut tinggal bersama ayahku. Tapi kau tahu, Leon ?" Arumi kembali menjeda kalimatnya. Ia terkekeh kecil dengan air mata yang tidak pernah bosan menghias wajah cantik itu.


"Ibu tiriku tidak menyukai aku. Begitu pun dengan kakak tiriku. Tapi, meski begitu aku tetap mencintai mereka. Hingga suatu ketika, kak Beverly akan menikah, tapi dia tiba-tiba bilang tidak mencintai calon suaminya lagi dan memilih pria lain. Ayah dan tante Katherine tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya mendukung apapun yang di pilih oleh kak Lily. Bahkan, mereka membantu kak Lily kabur bersama kekasih barunya dan meminta aku untuk menggantikan kak Lily untuk menikah dengan calon suaminya."


"Tunggu ! Maksudmu, lelaki yang kau nikahi itu sebenarnya adalah calon suami kakakmu ?" Ungkap Leon terkesiap.


Arumi mengangguk lemah membenarkan perkataan Leon.


"Ya. Itu dia. Namanya kak Irgi. Alasan aku bersedia menikah dengannya adalah demi mempertahankan nama baik keluarga. Di tambah lagi, aku memang mencintai kak Irgi sejak pertama kali bertemu."


Remuk terasa di dalam dada Leon. Entah apa yang patah di dalam sana sehingga begitu sakit rasanya ketika melihat senyum Arumi terbit saat mengatakan bahwa dia mencintai Irgi sejak pandangan pertama. Jantung Leon bergemuruh hebat ketika pertama kali di dalam hidup dia mengakui bahwa dirinya sedang cemburu.


"Kau tahu apa yang lebih lucu lagi , Leon ?" Gadis itu masih enggan menyudahi kisah yang sama sekali tidak indah itu.


"Ketika aku menikah dengan kak Irgi, orang-orang menganggap aku sengaja menculik kakakku sendiri demi menggantikannya menjadi mempelai wanita. Dan yang lebih parah, Kak Irgi juga mempercayai hal itu. Lebih sakit lagi, ketika aku tahu bahwa kak Irgi dan kak Lily ternyata sudah kembali menjalin cinta sehingga aku harus di cerai dengan cara yang tidak adil. Kak Lily hamil, dan itu anak dari suamiku sendiri. Dan pada akhirnya, aku di buang oleh orang-orang yang sepenuh hati sudah ku jaga dengan tulus. Miris bukan ?"


"Kau membenci mereka ?" Tanya Leon lembut.


"Tidak. Untuk apa ?" Jawab gadis itu yang saat ini sudah menghapus kembali jejak air mata dari wajahnya. "Aku sudah mengikhlaskan segalanya, Leon. Makanya, aku memilih kemari untuk melupakan segalanya dan memulai hidupku yang baru."


Leon mengangguk paham. Arumi menghela napas lega ketika berhasil meluapkan segala cerita sedih itu kepada Leon. Beban di pundaknya sedikit terangkat, meski rasa sakitnya masih terasa sama.


"Setelah kau mendengarnya, apa keputusanmu ?" Manik hitam gadis itu kembali menatap dalam pada manik cokelat milik Leon.


Leon tampak berpikir keras sebelum ia pada akhirnya menarik napas panjang. Matanya memandang ke arah depan, menyaksikan lampu taman yang berkedip teratur begitu indah.


"Apa menurutmu, aku akan mundur hanya karena masa lalumu, Aru ?"


Arumi terkesiap. Pertanyaan Leon sudah cukup mewakili apa jawaban dari pria itu.


"Leon, ku mohon ! Berpikirlah dengan baik sekali lagi. Jangan mengambil keputusan begitu cepat seperti ini."


"Apa kau mengatakan ini karena takut aku akan menyesal suatu saat nanti atau karena kau yang memang tidak ingin memberi kesempatan untukku, Aru ?" Raut wajah Leon berubah datar. Entah kenapa, perasaan takut muncul saat membayangkan bahwa Arumi masih menyimpan rasa untuk Irgi.


"Bukan seperti itu, Leon. Ini bukan hanya masalah perasaan kita saja. Tapi, kau juga harus memikirkan tentang perbedaan kita. Apa ayahmu bisa menerima jika putranya berhubungan dengan wanita yang sudah pernah menikah ?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan itu, Leon tergugu diam. Pertanyaan itu seperti menguliti perasaan Leon tanpa belas kasih. Leon bahkan tidak pernah berpikir bahwa ayahnya akan tahu kedekatan dirinya dan Arumi. Namun, jika suatu hari nanti tetap ketahuan, apa yang bisa Leon lakukan ? Membayangkan saat ini saja Leon bahkan belum bisa. Apalagi menghadapinya secara langsung.


"Jangan pikirkan hal itu, Aru ! Daddy-ku, biar aku sendiri yang mengurus. Aku hanya butuh kau percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu."


* * *


"Beverly ! Dari mana saja kau ?" Lagi-lagi, pertengkaran Irgi dan Beverly menjadi sarapan wajib bagi seluruh penghuni rumah keluarga Antonio.


Bagaimana bisa Irgi tidak marah ? Beverly baru pulang setelah dua hari perempuan itu pergi kelayapan entah kemana. Dan yang lebih parah lagi, dia sedang hamil namun bau alkohol menguar begitu tajam dari tubuhnya. Bisa Irgi pastikan bahwa Beverly pasti semalaman berpesta minuman keras bersama rekan-rekan sejawatnya.


"Jangan urus urusanku, Irgi ! Menyingkirlah !" Beverly mendorong tubuh Irgi yang menghalanginya untuk memasuki kamar.


"Kau sedang hamil, Lily ! Apa kau tidak bisa tinggal di rumah dan menjadi istri yang baik saja ? Kenapa kau malah asyik berpesta minuman keras, padahal ada bayi kita di dalam perutmu." Ucap Irgi penuh emosi. Lelaki itu mengekori langkah Beverly masuk ke dalam kamar hingga perempuan yang berprofesi sebagai model itu menjatuhkan badannya ke atas kasur dan memilih untuk tidur.


"Kau pikir aku ini Arumi, hah ? Aku tidak sudi menjadi pembantu yang harus mengurus rumah, suami dan mertua sakit seperti Aru. Aku ini istrimu ! Aku ratu di rumah ini. Dan ratu sama sekali tidak cocok melakukan semua pekerjaan rendah seperti itu." Gumam Beverly dengan mata terpejam.


"Kau ini kenapa, Lily ? Kenapa kau berubah jadi seperti ini ? Dulu, saat masih menjadi sepasang kekasih, tingkahmu baik dan begitu lembut. Tapi sekarang ?"


" Sssttt...Jangan terlalu cerewet, Irgi. Aku bukan bayi kecil yang bisa kau omeli terus seperti ini. Kau mengerti ?" Teriak Beverly masih setengah sadar akibat pengaruh alkohol.


Irgi berkacak pinggang melihat betapa kacaunya keadaan Beverly sekarang. Kemana perempuan manis yang ketika mereka pacaran bertingkah sangat baik dan sopan itu ? Kenapa justru setelah menikah, sifat Beverly berubah 180 derajat dari sebelumnya ? Ia bahkan tidak pernah membayangkan bahwa ternyata kehidupan Beverly sudah sekacau ini dari awal.


Irgi yang baru turun untuk bergabung dengan sang ibu yang kondisinya sudah mulai membaik hanya terduduk lesu. Sepertinya, selera makannya sudah tidak ada lagi.


"Tidak tahu, Ma." Jawab pria itu seraya memejamkan mata.


"Apa kau tidak bisa mendidik istrimu itu, Gi ? Cobalah ajari dia untuk diam di rumah dan melakukan segala pekerjaan seperti Arumi dulu."


"Jangan menyebut nama Arumi lagi, Ma. Bukankah Irgi sudah mengatakannya berulang kali ? Nama itu sudah pantang di ucapkan dirumah ini sejak dia pergi." Suara Irgi terdengar bergetar. Tangannya terkepal erat di kedua sisi dengan bola mata yang berkilat saat mengingat sosok Arumi lagi.


Ya, wanita itu adalah sosok yang sangat ingin Irgi temui ketika berada di dalam masa sesulit ini.


Sosok wanita yang pernah mengisi hari-harinya selama 2 tahun tanpa pernah meminta apapun. Sosok wanita yang akhir-akhir ini mulai membuat hati Irgi merasa ragu. Apa benar Arumi sejahat yang Beverly dan orang tuanya katakan, atau justru Arumi benar di jebak oleh keluarganya sendiri, seperti perkataan Arumi terakhir kali ? Mana yang harus Irgi percaya ?


"Apa kau tahu di mana perempuan itu saat ini ?" Tanya Nyonya Berta.

__ADS_1


"Sudah kubilang, Ma ! Aku tidak ingin membahas tentangnya lagi. Ti-tik." Irgi merampas jas yang tadi dia sampirkan di kursi sebelahnya lalu segera pergi dari rumah yang sudah terasa seperti neraka itu.


Ada istri yang selalu bertingkah sesukanya dan ibu yang sepertinya sudah tidak memiliki urat malu. Nyonya Berta sendiri yang mendukung penuh niat Irgi menceraikan Arumi, namun setelah melihat watak asli, Beverly, dia malah menyuruh Irgi membawa kembali gadis itu untuk di jadikan istri kedua. Hitung-hitung sebagai pembantu gratis yang bisa jauh lebih telaten mengurus Irgi dan dirinya seperti dulu di banding Beverly.


Arumi Liem



Leon Wyatt Wellington



Irgi Antonio



Beverly Liem



Charlotte Meredith Aldric a.k.a Charlie



Zack Murphey



Jane Claire Savich



Charles & Isabella Aldric


__ADS_1


Duke Xander



__ADS_2