
Leon melangkahkan kakinya dengan hati-hati menaiki anak tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia takut, jika sang ayah ternyata sudah tiba lebih awal dan akan menginterogasi Leon tentang darimana saja dia hari ini. Tentu, Leon sangat menghindari hal itu. Bisa gawat jika Duke Xander tahu bahwa seharian ini dia bersama Arumi, si gadis asia kesayangannya.
Tiba di kamar yang nampak begitu gelap, Leon mencari saklar lampu di dekat pintu masuk. Di nyalakannya lampu di dalam kamar hingga terang dalam sekejap menyapu ruangan tidur nan mewah itu.
"Daddy ?" Leon terperanjat kaget bukan main. Pasalnya, orang yang sudah dengan susah payah ia hindari sejak tadi sedang berada di hadapannya. Duduk begitu santai di sofa ujung tempat tidur.
"Darimana saja kau ?" Suara Duke Xander terdengar datar namun mampu menggetarkan ketakutan di lubuk terdalam Leon.
"Jalan-jalan bersama Jane, Daddy. Bukankah Daddy menyuruhku mengajaknya jalan-jalan beberapa hari yang lalu ?" Leon tersenyum, berusaha semaksimal mungkin mengarang cerita yang bisa di percayai oleh Duke Xander.
"Kau pikir Daddy percaya ?" Tatapan Duke Xander menghunus tajam pada manik cokelat milik sang putra.
"Maksud, Daddy ?" Perasan Leon mulai tidak enak. Jika prediksinya benar, ayahnya pasti sudah tahu bahwa dia sedang berbohong.
Duke Xander membuka amplop cokelat yang sejak tadi dia pegang. Amplop yang sama, yang di berikan oleh mata-mata suruhannya untuk membuntuti Leon.
"Apa ini ? Jelaskan pada Daddy !" Ucap Duke Xander sambil menghambur isi amplop itu di atas lantai.
Foto-foto Leon dan Arumi yang sedang makan siang dan asyik melempar canda satu sama lain di restoran yang tadi siang mereka datangi berserakan di lantai kamar Leon. Pemuda berambut brunette itu terlihat begitu syok. Langkahnya terpundur ke belakang dengan kedua tangan yang mengepal kuat.
"Dad, ini ...."
__ADS_1
"Sudah Daddy katakan untuk tidak menemui gadis asia itu lagi. Kenapa kau begitu keras kepala, hah ? Kau ingin mempermalukan Daddy di depan keluarga Jane ?" Amarah Duke Xander sudah tidak dapat pria itu kontrol lagi. Wajahnya memerah karena emosi yang sudah sampai di ubun-ubun.
"Dad, apa salahnya jika Leon berteman dengan Arumi ? Dia gadis yang baik dan tidak pernah meminta apapun dari Leon." Ujar Leon memberi pembelaan.
"Baik kau bilang ? Omong kosong ! Tidak ada gadis seperti itu dengan status sosial serendah dia. Gadis asia itu hanya ingin memanfaatkanmu, anak bodoh !" Bentak Duke Xander tak terima karena putranya ternyata membela gadis kelas rendahan itu.
"Dad ! Jangan berkata seperti itu tentang Arumi." Teriak Leon balas membentak. Seluruh tubuhnya bergetar di selimuti adrenalin yang membuatnya melawan sang ayah untuk pertama kali. Sesuatu yang tidak pernah bisa dia lakukan sedari kecil.
Duke Xander tertawa tak percaya. " Berani sekali nada suaramu lebih tinggi daripada Daddy ?" Ujar Duke Xander dengan nada begitu rendah.
Leon menghela napas kasar. "Maaf, Leon tidak bermaksud begitu, Daddy !"
"Apa kau mencintai gadis asia itu ?"
Duke Xander mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berdiri. Pembawaannya kembali terlihat tenang, walaupun Leon lebih dari sekedar tahu bahwa ayahnya sudah marah besar.
"Jadi, gadis asia itu sudah mempengaruhi otakmu ternyata. Jurus apa yang dia pakai sampai-sampai kau bisa di perdaya olehnya ? Katakan pada Daddy !"
"Arumi tidak melakukan apa-apa, Dad. Sejak awal aku yang mengejar-ngejarnya. Bahkan, dalam masalah ini hanya aku yang jatuh cinta sedangkan dia tidak." Kembali Leon berteriak putus asa.
Sakit rasanya harus mengungkap fakta bahwa Arumi masih belum bisa menerima perasaannya meski ini sudah kencan mereka yang kelima. Padahal, Leon sudah sangat percaya diri bisa mendapatkan Arumi. Ia bahkan memberi kejutan dengan meledakkan kembang api di Menara Eiffel saat menyatakan perasaannya. Namun, yang di lakukan semua sia-sia. Arumi masih belum bisa menerima Leon.
__ADS_1
"Apa Dad tahu bagaimana perasaanku ? Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan patah hati, Daddy ! Ku pikir, aku bisa berbagi kepada Daddy seperti anak laki-laki pada umumnya yang akan berbagi cerita tentang kehidupannya terhadap ayah mereka. Tapi, Daddy justru memarahiku hanya karena aku jatuh cinta pada gadis biasa dan bukan putri orang terpandang ?" Lirih Leon menahan sakit hatinya.
"Ingat, Leon ! Kau bukan putra orang biasa. Kau itu...."
"Putra orang terpandang, keturunan bangsawan yang di segani orang-orang ? Itukan yang Daddy ingin katakan ?" Mata Leon mulai terlihat sembab. Ia sesekali menengadah ke atas, agar air mata yang tak pernah tumpah di depan sang ayah sejak umur 5 tahun tidak terjatuh sekarang.
"Dad, jika boleh memilih, aku lebih ingin menjadi orang biasa. Aku tidak peduli dengan gelar keluarga kita. Aku tidak peduli dengan latar belakang kita. Untuk apa aku memiliki semua itu jika aku tidak bisa menentukan jalan hidupku sendiri ? Sejak kecil, aku bergaul dengan siapa, itu Daddy yang mengatur. Bahkan, perempuan yang akan menjadi pendamping hidupku pun, Daddy yang menentukan tanpa bertanya apa aku mau atau tidak."
"Itu semua karena Daddy peduli, Leon ! Daddy tidak mau kau menyesali keputusanmu suatu hari nanti."
"Bohong. Ini bukan untukku, Daddy. Ini untuk Daddy sendiri." Leon berteriak putus asa lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkan ayahnya. Air matanya sudah tumpah ruah. Dan, Leon sama sekali tidak ingin ayahnya melihat hal itu sampai kapan pun.
"Leon, tunggu ! Daddy belum selesai bicara." Panggil Duke Xander yang sama sekali tak di hiraukan Leon.
Duke Xander menghela napas panjang. Ia bingung harus bereaksi bagaimana dalam menghadapi sikap Leon yang tiba-tiba saja berubah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, putranya yang penurut berani membangkang hanya karena seorang wanita yang tak jelas asal usulnya.
"Semua ini gara-gara gadis asia itu." Geram Duke Xander dengan tangan terkepal.
Leon berlari tak tentu arah hingga pada akhirnya dia masuk ke dalam sebuah ruangan yang terletak di ujung sebelah barat mansion. Sebuah tempat yang penuh dengan lukisan dan banyak buku-buku novel romansa dan percintaan yang tertata rapi di rak-rak kayu berukir di sudut ruangan. Leon mengunci ruangan itu agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam.
Setelahnya, pemuda bermata cokelat itu meluruhkan tubuhnya di sebuah sofa kulit berwarna cokelat lalu terisak sendirian di sana. Tangannya bergerak meraih sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja kayu berbentuk bundar di sebelah sofa. Di belainya gambar wanita yang terlihat tersenyum sambil menggendong seorang balita berumur kurang lebih 4 tahun yang juga ikut tertawa tak kalah ceria.
__ADS_1
"Mommy ! Leon merindukan Mommy. Tolong, datang dan hibur Leon walaupun hanya di dalam mimpi, Mom. Please ! Leon sangat sangat membutuhkan Mommy saat ini. Please, Mom !" Tangis pemuda itu, yang kini tengah meringkuk seraya terisak pedih memeluk foto ibunya yang sudah lama meninggal ketika Leon baru berusia 5 tahun.