Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#36


__ADS_3

Ada apa ini ? Mengapa Arumi merasa bahwa rongga dadanya akan meledak seketika ? Senyumnya tak berhenti terbit. Bahkan, hingga dia mendaratkan tubuhnya di atas ranjang sekalipun Arumi masih saja tersenyum. Apakah mungkin dirinya sudah mulai tidak waras ?


Pertemuan dengan Leon hari ini serta pernyataan cinta yang lolos begitu saja dari bibirnya untuk pria bermanik cokelat itu, sungguh membuat Arumi tersipu sekaligus senang. Bagaimana bisa kalimat itu keluar dari bibirnya ? Ah ! Memikirkan hal itu sudah membuat seluruh permukaan wajah Arumi bersemu merah.


"Kenapa kau senyum sendiri-sendiri ?" Tegur Charlie yang sedang bersandar di depan pintu kamar Arumi dengan tangan bersedekap.


"Siapa yang sedang senyum-senyum sendiri ?" Ujar Arumi balas bertanya. Gadis itu bangkit dan duduk di tepi ranjang membelakangi Charlie yang masih berdiri di depan pintu.


"Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Aru ?" Charlie melangkah masuk, duduk di sebelah Arumi dengan tangan yang merangkul pundak sahabat baiknya itu.


"Tidak Char ! Mana mungkin." Sangkal Arumi.


"Ayolah kawan ! Jujur saja. Sesuatu yang baik sedang terjadi, kan ? Hmmm ?" Charlie mempererat rangkulannya hingga Arumi tertawa dan berusaha melepaskan rangkulan posesif Charlie.


"Kau mau tahu ?"


"Tentu saja." Angguk Charlie antusias.


"Aku dan Leon sudah resmi berpacaran." Bisik Arumi di telinga Charlie.


"What ? Are you serious ?" Pekik Charlie tak percaya.


Gadis di sebelahnya mengangguk malu-malu. Persis ABG yang baru pertama kali mengenal cinta.


"Ba-bagaimana bisa ? Bukannya kau bilang bahwa dia sudah tak pernah datang menemui lagi ?"


"Ya. Ku pikir begitu. Tapi, tiba-tiba saja tadi sore dia kembali muncul. Dan...."


" Dan ?"


"Aku mengatakan bahwa aku juga menyukainya."


"Kau menyatakan perasaan pada pria yang sudah kau tolak ?" Tanya Charlie terkesiap.

__ADS_1


"Memangnya kenapa ?" Alis Arumi terangkat.


"Dasar gadis bodoh ini !" Charlie berdecih kesal. " Bagaimana jika dia ternyata menolakmu, bodoh ? Apa kau tidak akan merasa malu ?"


"Tapi, dia tidak menolak bukan ?" Balas Arumi acuh.


Charlie terdiam. Gadis tomboy itu memandang lekat wajah sahabatnya yang tampak begitu bersinar. Ia tahu, bahwa Arumi sedang sangat bahagia. Namun, entah kenapa hati Charlie merasa sedikit tidak tenang. Ia merasa sedikit takut jika kebahagiaan sahabatnya hanya akan bertahan sebentar. Biar bagaimanapun, Leon masih bergerak di bawah kontrol Duke Xander. Charlie hanya tidak mau jika Arumi terluka suatu saat karena hal itu.


"Kenapa kau diam ?" Tanya Arumi yang sukses membuat lamunan Charlie buyar seketika.


"Tidak. Tidak apa-apa." Geleng gadis itu tersenyum.


"Apa aku bisa berharap bahagia sekarang, Charlie ?" Tanya Arumi dengan penuh harap. Matanya berkaca-kaca menahan keraguan yang perlahan mulai tumbuh seiring kebahagiaan yang baru saja dia rasakan.


Arumi cukup tahu diri untuk berani mencintai seorang pria berdarah bangsawan seperti Leon. Dia tahu benar dengan konsekuensi yang akan dia dapatkan di masa depan. Duke Xander pasti akan menentang hubungan mereka. Namun, Leon sudah berjanji tidak akan pernah melepas Arumi sampai kapan pun. Keduanya berkomitmen akan menghadapi kemarahan Duke Xander bersama-sama suatu saat.


"Ya. Kau bisa karena kau memang pantas." Charlie mengangguk dengan mata yang ikut berlinang air mata. Ia berusaha membuang segala prasangka buruk yang baru saja dia pikirkan.


* * *


"Darimana saja kau ?" Suara dingin itu lagi-lagi menyambut Leon ketika baru saja tiba di rumah.


Langkah pria berambut brunette itu berhenti. Matanya terpejam sebentar sembari menarik napas dalam.


"Memangnya, ada apa Daddy ? Apa Daddy harus selalu tahu mengenai urusan pribadiku ?" Tanya Leon sambil berbalik badan menghadap pada ayahnya yang saat ini sedang menyorotnya tajam. Tatapan matanya tak kalah tajam menantang ayahnya.


Duke Xander menyeringai tipis. Putranya memang sudah mulai berubah. Pemuda yang dulu ia kira tak akan pernah berani menantangnya bahkan sekarang sudah bisa membalas sorot mata tajamnya tanpa tertunduk. Hukuman mengurung putra semata wayangnya selama seminggu di mansion nyatanya tak berbuah apa-apa.


"Apa begitu sikapmu terhadap Daddymu sendiri, Leon ?"


"Memangnya, seperti apa sikapku ?" Leon balas bertanya.


Amarah Duke Xander sudah mulai mendidih. Ia bangkit berdiri dan menggebrak meja di depannya. Kesabaran pria paruh baya itu sudah mulai habis karena menghadapi perubahan sikap Leon yang tiba-tiba. Sikap yang sama sekali tidak pernah ia harapkan akan datang dari putranya sendiri.

__ADS_1


"Jangan menjawab pertanyaan Daddy dengan pertanyaan juga, Leon !" Geram Duke Xander marah. Urat-urat di sekitar dahinya perlahan terlihat seiring rahangnya yang kian mengerat.


Leon tertawa sinis memandang kemarahan ayahnya. Baru kali ini, dia merasa sangat puas karena telah berhasil membuat ayahnya terpancing amarah. Apa seperti ini nikmatnya membangkang untuk pertama kali ?


"Memangnya kenapa ? Ada yang salah ?" Tantang Leon semakin menjadi. Dia bahkan sudah mengabaikan rasa hormatnya terhadap ayahnya sendiri.


"Perhatikan etika kesopananmu, Leon ! Kau sadar dengan siapa kau berbicara saat ini ?"


"Tentu saja aku sadar, Dad ! Aku sedang berbicara dengan Daddyku sendiri."


"Kau tahu siapa aku ? Kau tahu apa gelar dan jabatanku ?" Amarah Duke Xander semakin meluap. Kedua tangannya terkepal seiring tubuhnya yang mulai bergetar murka.


"Tentu saja saya tahu siapa anda, Yang Mulia Duke ! " Leon membungkuk hormat. "Itu berlaku jika yang berbicara dengan anda adalah orang lain. Tapi, jika aku yang berbicara, maka hubungan kita tidak lebih dari sebatas ayah dan anak. Setidaknya jika kita sedang berada di rumah seperti ini." Tambahnya lagi tanpa rasa takut.


"Leon !" Bentak Duke Xander.


"Jangan membentakku, Dad ! Aku tidak salah. Aku hanya mengingatkanmu tentang peranmu di rumah ini. Kau Daddyku, bukan atasanku." Desis Leon marah kemudian berlalu pergi.


Duke Xander terduduk tak percaya di kursi di belakangnya. Napasnya memburu karena insiden barusan. Apa ini hanya sekedar mimpi atau putranya memang baru saja mengguruinya masalah peran sebagai ayah ? Gadis asia itu benar-benar sukses merubah putranya.


"Ronald !" Panggil Duke Xander setengah berteriak.


Tak butuh dua kali berteriak hingga kepala pelayan di mansion besar miliknya itu datang menghampiri.


"Ya, Duke ! Anda memanggil saya ?"


"Ambilkan obatku !" Ucap Duke Xander sambil memegangi dadanya. Mungkin, penyakit jantungnya mulai sedikit kumat karena bersitegang dengan Leon barusan.


"Baik, Duke !" Ronald menunduk, dan segera mengambil obat beserta air minum untuk Duke Xander.


Duke Xander masih berusaha menetralkan kembali emosinya. Dia tidak bisa terpancing seperti ini atau Leon malah akan semakin menjadi. Dia harus mulai memikirkan langkah untuk menundukkan kembali anak harimau yang sudah mulai menunjukkan taringnya pada ayahnya sendiri.


"Kita lihat, Leon ! Sampai kapan kau akan berani menantang Daddymu sendiri. Akan Daddy pastikan kau akan menyesali perbuatanmu."

__ADS_1


__ADS_2