Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#59


__ADS_3

"Aru ! Kenapa kau turun ? Cepat, naiklah lagi ke atas. Biarkan aku yang menangani pemuda brengsek ini." Charlie berlari menghampiri Arumi dan memegang kedua bahu sahabat baiknya itu. Tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran yang begitu dalam.


"Aru ! Ku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya." Leon berusaha mendekati Arumi namun di halau oleh Charlie.


"Jauhkan tanganmu dari temanku !" desis Charlie seraya memegang erat lengan Leon.


"Biarkan Charlie ! Aku ingin mendengar apa yang ingin dia katakan," kata Arumi sambil memegang pundak Charlie.


"Kau sudah gila ? Kenapa kau masih mau mendengarkan pembelaan laki-laki br*ngsek ini Aru ?" tanya Charlie tak terima.


"Tidak apa-apa. Percayalah padaku !" Arumi berusaha meyakinkan Charlie.


Charlie menatap Arumi meminta kepastian sekali lagi. Apa benar sahabat baiknya itu mau memberi kesempatan pada pria yang sudah menyakitinya itu atau tidak untuk menjelaskan semuanya. Arumi mengangguk. Seolah mengerti keraguan yang tersirat lewat sorot mata Charlie.


"Baiklah ! Akan ku tinggalkan kalian berdua," kata Charlie seraya memeluk singkat Arumi. Ia kemudian memutuskan masuk ke dalam mansion dengan tatapan sinis yang masih mengarah pada Leon.


* * *


"Apalagi yang ingin kau jelaskan Leon ?" tanya Arumi dingin. Dia berbicara tanpa niat memandang wajah Leon. Mereka kini sedang berada di taman depan mansion dan duduk saling berjauhan.


Leon tertunduk. Nampak sekali bahwa pemuda itu sama terlukanya dengan Arumi.

__ADS_1


"Aku dan Jane memang sudah di jodohkan sejak kami kecil, Aru ! Tapi, itu semua adalah kemauan Daddy ku. Aku tidak pernah menginginkan perjodohan ini seumur hidup. Dan ketika pertama kali aku mencoba memberontak demi melawan kehendak Daddy, aku berlari ke Moorea. Dan di sana aku bertemu denganmu," Leon menjelaskan panjang lebar.


"Sejak pertama kali melihatmu, aku mulai menyukai dirimu sejak saat itu. Ya, aku tidak berbohong bahwa pada awalnya aku hanya berniat bermain-main denganmu..." Leon menggantung ucapannya sesaat. Senyum kecil saat mengingat masa lalunya yang indah membuat dia sedikit menemukan oasis di tengah kehancuran yang saat ini menggempurnya.


Gadis Asia di sampingnya bergeming. Tak berniat sedikit pun melihat wajah Leon meski hanya sekilas. Dia dengan segala kekuatan yang tersisa mencoba untuk tetap kuat. Mempertahankan harga diri yang masih tersisa kala mengingat kejadian memalukan ketika di tampar Claire karena di anggap sebagai perebut calon suami orang.


Leon pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Awalnya ku pikir kau hanya akan sekedar menjadi hiburan di tengah-tengah masalah yang sedang menghimpitku Aru ! Namun, seiring berjalannya waktu, aku tahu bahwa aku tidak lagi menganggapmu sekedar hiburan semata. Aku benar-benar jatuh untukmu Aru. Aku tenggelam di dalam permainan yang aku buat sendiri. Aku bahkan sekarang tidak sanggup membayangkan bagaimana hidupku jika kau tidak ada di dalamnya." Leon mulai menitikkan air mata. Sementara Arumi masih enggan menoleh dan masih tak ingin mengeluarkan suara sedikit pun.


" Aru ! Demi Tuhan ! Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan ini semua darimu. Aku hanya terlalu takut jika kau mengetahui segalanya, kau akan meninggalkan aku. Aku tidak mau itu terjadi," lanjut Leon lagi. Suaranya terdengar mulai bergetar putus asa. Namun tak cukup untuk meluluhkan hati Arumi yang terlanjur sudah membatu.


"Apa kau pernah berpikir tentang bagaimana perasaanku ?" Arumi bertanya dengan nada lirih.


"Dengan kelakuanmu yang menyembunyikan segalanya, aku merasa menjadi wanita paling rendah di dunia. Bagaimana bisa aku menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah menjadi calon suami perempuan lain ?" serak Arumi yang berusaha menahan isak tangisnya.


Untuk sekali ini saja Tuhan ! Biarkan Arumi terlihat tegar tanpa harus meneteskan air mata di depan wajah pria yang lagi-lagi menyakitinya.


"Aru ! Aku sungguh-sungguh tidak bermaksud membuatmu berada dalam posisi seperti ini. Daddy yang memaksaku melakukan semuanya. Aku hanya ingin membahagiakan Daddy dengan menjadi anak yang penurut namun tetap bisa bahagia bersama denganmu juga," ucap Leon.


"Jadi maksudmu, kau ingin memiliki Claire dan aku sekaligus ? Begitu ?" kali ini Arumi tidak bisa lagi untuk tak menatap wajah Leon. Gadis itu mengeratkan cengkramannya pada pegangan besi bangku taman.

__ADS_1


Apa aku serendah itu sehingga hanya ingin di jadikan simpanan ? sinis Arumi dalam hati.


"Apa kau keberatan untuk itu ?" tanya Leon dengan suara rendah. Seolah-olah perkataannya tadi tidak ada yang salah.


"Kau pikir aku wanita seperti apa, hah ? Hanya karena statusku sudah pernah menikah dan kau berpikir bahwa aku akan rela menjadi wanita simpanan ?" Arumi mendesis tak terima. Jika memang itu yang di pikirkan Leon, maka selesai sudah. Pemuda itu benar-benar sudah sangat keterlaluan.


"Aru ! Tolong mengerti posisiku ! Aku benar-benar hanya mencintaimu, Aru ! Setelah aku menikahi Claire, aku akan tinggal terpisah dengannya. Pernikahan kami hanya sekedar status saja. Dan kita bisa bersama-sama lagi tanpa gangguan dari ayahku ataupun orang lain," bujuk Leon sambil berusaha menggenggam erat kedua tangan Arumi.


"Jangan sentuh aku !" Arumi menghempas tangan Leon kemudian berdiri dengan tatapan berapi-api.


"Simpan mimpi indah itu untukmu sendiri Leon. Apapun alasannya, aku menolak menjadi yang kedua. Aku tidak peduli pada kekangan Ayahmu atau aturan apapun yang berlaku di dalam keluargamu. Dan mulai sekarang, jangan pernah muncul di depanku lagi," bentak Arumi yang kini sudah berbalik dan berlari hendak memasuki mansion.


Leon berhasil menyusul dan menahan tubuh Arumi. Di peluknya gadis itu meski Arumi mencoba menolak dan ingin mendorongnya pergi.


"Lepaskan aku, Leon ! Lepaskan !" Arumi meronta-ronta putus asa. Semakin Leon memperlakukan dia seperti ini, semakin sakit pula hati Arumi karena tersiksa.


"Aku mencintaimu Aru ! Tolong jangan mendorongku pergi. Aku mohon ! Ijinkan aku tetap di sisimu," mohon Leon lirih sambil mencium puncak kepala gadis yang masih terus meronta meminta di lepaskan.


"Ada apa ini ?" suara bariton seorang pria membuat perhatian Leon teralih sesaat.


Hal itu segera di manfaatkan Arumi untuk mengambil celah dengan menginjak kaki Leon dengan keras. Usahanya berhasil. Pelukan pria itu akhirnya terlepas dari tubuhnya. Arumi segera berlari masuk ke dalam mansion secepat mungkin dengan lelehan air mata yang mulai bercucuran tak karuan.

__ADS_1


Leon yang melihat Arumi kabur darinya berniat mengejar. Akan tetapi, sebuah tangan yang memegang kerah kemejanya membuat pria itu tertahan. Dan tak lama kemudian, dia terjatuh ke tanah dengan hidung yang berdarah setelah mendapat pukulan dari orang yang sudah mencegahnya itu.


"Jangan pernah berani kau melukai Aru kami sedikit pun. Bahkan, jika kau anak Duke Xander sekalipun, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu saat ini juga." Mata Charles memerah menatap penuh kebencian pada Leon. Demi apapun, tak akan pernah dia biarkan satu orang pun untuk menyakiti anggota keluarganya termasuk Leon.


__ADS_2