
Beberapa hari kemudian, Arumi sudah mulai keluar dari apartemennya. Berjalan-jalan sembari mencari ruko untuk ia tempati membuka usaha yang baru. Namun, hingga sampai sore hari berkeliling di sekitaran tempat tinggalnya, Arumi belum juga menemukan lokasi yang pas.
Lelah berkeliling, gadis itu memutuskan untuk kembali ke apartemen. Ketika hendak membuka pintu, ia di kejutkan dengan sapaan Selina yang baru keluar dari unit apartemen tepat di sebelah Arumi.
"Arumi ? Rupanya kau tinggal di sini juga ?" Senyum Selina mengembang cantik. Hanya mengenakan dress merah selutut dengan rambut yang di ikat asal tanpa riasan make up yang tebal, sudah cukup memancarkan aura kecantikan wanita itu dengan sempurna.
"Kau tinggal di sini ?" Arumi bertanya memastikan.
"Ya. Ini apartemenku. Aku yang tidak menyangka bahwa ternyata kita ini bertetangga. Padahal, jelas-jelas kemarin Devan berkata bahwa kau tidak tinggal di sini," ucap Selina mencebik. Merasa Devan adalah pembohong besar karena memberitahunya kabar palsu mengenai tempat tinggal Arumi.
Arumi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Itu jelas bukan salah Devan melainkan salahnya. Namun, bagaimana menjelaskan situasinya pada Selina jika sudah seperti ini ?
"Kau ingin kemana, Selina ?" Arumi bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Membeli makan siang di restoran yang ada di bawah. Aku lapar," jawab Selina.
"Mau makan di tempatku ? Itu pun kalau kau mau menunggu aku memasak untuk kita," ujar Arumi menawarkan.
"Kau bisa memasak, Aru ?" tanya Selina dengan mata berbinar. Seolah baru saja menemukan salah satu dari tujuh keajaiban dunia.
"Tentu saja," Arumi mengangguk sambil tertawa melihat bagaimana polosnya ekspresi wajah Selina.
"Masuklah !" ajak Arumi sesaat setelah membuka pintu apartemennya.
Arumi meletakkan tasnya di ruang tamu lalu berjalan memasuki area dapur. Selina masih setia mengikuti dari belakang dan duduk di kitchen bar. Perempuan cantik itu menopang dagunya dengan kedua tangan seraya memperhatikan Arumi yang dengan lincah mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin.
"Sejak kapan kau bisa memasak, Aru ?" tanya Selina memecah keheningan. Ia yang terperangah takjub melihat betapa lihainya Arumi memotong berbagai macam sayuran dan ayam dengan cepat sangat-sangat penasaran.
"Hmmm... Mungkin sejak usiaku 10 tahun," jawab Arumi tak yakin. Ia tak ingat betul kapan ia pertama kali mulai belajar memasak. Namun, yang ia ingat, usianya masih sangat muda waktu itu.
__ADS_1
"Wow ! Kau hebat, Aru ! Aku saja sampai sekarang hanya bisa memasak air," Selina nyengir sendiri. Merasa sedikit malu karena baru saja mengutarakan salah satu kekurangannya di depan perempuan yang baru ia kenal kemarin.
"Nanti jika kau sudah menikah, kau juga pasti akan belajar pelan-pelan. Jangan khawatir !" Arumi tersenyum. Memberi hiburan untuk Selina yang sedikit berkecil hati.
Sekitar 30 menit menunggu, makanan lezat sudah tersaji di atas meja. Bukan menu mewah yang Arumi buat. Hanya sekedar menu rumahan namun cukup mengundang selera. Ada capcay, ayam goreng lengkap dengan sambalnya dan juga udang goreng tepung. Aroma lezat yang menusuk hidung semakin membuat cacing di dalam perut Selina menagih minta di beri makan.
"Apa aku boleh makan sekarang ?" tanya Selina pada Arumi yang sedang mengambil air di dapur.
"Tentu saja," kekeh Arumi yang begitu terhibur dengan tingkah Selina yang ternyata berbeda jauh dari karakternya di film-film yang sering gadis itu bintangi.
Usai meletakkan air minum di atas meja makan, Arumi ikut bergabung makan bersama Selina. Makan malam mereka hanya di selingi dengan perbincangan ringan mengenai pekerjaan dan sedikit kisah cinta antara Selina dan Devan. Keduanya mulai tampak begitu akrab dalam waktu yang terhitung singkat.
* * *
"Jadi, kau sedang mencari ruko untuk tempat usaha ?" tanya Selina memastikan.
"Ku rasa Devan masih memiliki beberapa ruko yang belum dia kontrakkan. Apa kau tertarik untuk melihat-lihat ? Barangkali ada yang cocok dengan seleramu !" usul Selina tiba-tiba.
"Benarkah ? Aku mau jika memang ada," balas Arumi yang merasa mendapat sedikit harapan.
"Baiklah ! Aku akan menelepon Devan terlebih dulu ! Jika benar ada, besok aku akan menemanimu, untuk melihat-lihat," tukas Selina sembari menelepon Devan. Dia pun agak beringsut menjauh dari Arumi.
Setelah percakapannya dengan Devan di telepon berakhir, senyum Selina segera kembali terbit.
"Kata Devan, dia punya satu ruko yang menurutnya sangat pas dan sesuai dengan keinginanmu !"
"Benarkah ?" Arumi terkejut tak percaya.
"Iya. Dan besok, pukul 8 pagi, Devan akan menjemput kita untuk melihat-lihat," sahut Selina senang.
__ADS_1
"Apa kalian tidak sibuk ?"
"Tidak. Besok aku libur syuting, sedangkan Devan hanya akan ke kantor pukul 10 pagi untuk menghadiri rapat direksi di kantornya."
"Terima kasih. Maaf karena telah merepotkan kalian !"
"Tidak masalah, Aru ! Aku dan Devan senang jika bisa membantumu."
* * *
Keesokan harinya, Arumi berangkat bersama Devan dan Selina untuk melihat ruko milik Devan yang di rekomendasikan semalam. Lokasinya berada di pusat kota. Tak jauh dari apartemen mereka namun terbilang sangat strategis. Ruko itu berada di jejeran berbagai ruko lainnya yang juga merupakan butik dan beberapa swalayan dan tempat makan kecil-kecilan. Suasana di sana tampak ramai dan banyak orang yang berlalu lalang. Tanpa pikir panjang, Arumi langsung menyetujui untuk mengambil ruko dua lantai tersebut. Masalah uang sewa, tentu saja mendapatkan sedikit diskon dari Devan yang notabenenya merupakan salah satu teman Arumi. Pria itu bahkan ingin memberi Arumi hanya separuh harga dari uang sewa yang biasa orang lain bayar. Namun, gadis itu dengan cepat menolak dan pada akhirnya sepakat dengan diskon 20 persen dari harga yang seharusnya.
"Sekarang, aku hanya tinggal membuka lowongan pekerjaan dan membeli beberapa bahan untuk membuat pakaianku sendiri," ujar Arumi puas saat perjalanan pulang.
"Jadi, kau ingin mendesain bajumu dan menjahitnya sendiri, Aru ? Itu terdengar luar biasa !" kata Selina yang semakin takjub pada perempuan yang sedang duduk di bangku belakang.
"Tentu saja. Aku ini seorang desainer, Selina ! Rencananya, aku juga akan memasarkan pakaian buatanku secara online ! Ku dengar, pasar online sedang banyak di minati saat ini," lanjut Arumi.
"Kalau begitu, biarkan aku saja yang menjadi modelnya," ujar Selina lagi dengan antusias.
"Kau mau ?"
"Of course ! Kau teman Devan dan juga sekarang menjadi temanku. Tidak ada alasan untuk tidak membantumu, Aru !"
"Terima kasih. Kau sangat baik, Selina ! Pantas Kak Devan jatuh cinta padamu !" Arumi menggombal seraya mengerlingkan matanya ke arah Selina dan Devan bergantian.
Devan yang melirik dari arah kaca spion hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. Ucapan Arumi tak salah. Selina memang gadis yang baik hati. Meski, dirinya seorang selebriti papan atas, calon istrinya itu bukan orang yang sombong. Hal itulah yang membuat Devan yang kala itu patah hati karena Arumi ternyata memilih menikah dengan Irgi kembali menemukan cinta.
Di balik sikap anggun dan dewasa yang selalu gadis itu tampakkan di depan layar, Selina aslinya adalah gadis yang teramat polos dan apa adanya. Tak jarang, kebaikannya di manfaatkan oleh beberapa orang yang berkedok teman. Dan, hal itu yang membuat Devan begitu over protektif pada calon istrinya. Namun kini, Devan mulai bisa tenang. Ia yakin, Arumi bisa menjadi teman yang baik untuk Selina ke depannya.
__ADS_1