Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
Mr. Kovalev's Party


__ADS_3

"Nanti malam, kalian berdua harus bersiap. Mr. Kovalev, kolega daddy akan mengundang kita ke acara ulang tahun pernikahannya malam ini." Seru ayah Charlie memperingatkan sebelum dia berangkat untuk menghadiri pertemuan lagi.


Charlie dan Arumi yang masih asyik menikmati sarapan mereka di meja makan saling berpandangan dan mengernyit bingung.


"Haruskah kami datang, dad ?" Tanya Charlie.


"Harus. Kalian berdua wajib datang. Dan kau, Aru ! Kau ingat dengan bocah kembar yang kau ajak bermain kemarin ?"


"Iya. Tentu, uncle." Angguk Arumi.


"Mereka berdua sangat menyukaimu, sayang. Jadi, Mr. Kovalev dan istrinya sangat berharap kau bisa datang."


"Tentu, uncle ! Aru dan Charlie pasti akan ikut." Charlie langsung menyikut lengan Arumi yang di balas melotot oleh gadis cantik itu.


Usai ayah Charlie berlalu, barulah Arumi membalas perlakuan sahabatnya itu dengan menghadiahkan sebuah cubitan maut.


"Apa-apaan kau ini ?" Geram Arumi kesal. Ia hampir saja tersedak makanan akibat ulah Charlie tadi.


"Kau yang apa-apaan ? Kenapa kau malah mengiyakan perintah daddy, sih ?" Balas Charlie tak kalah galaknya.


"Memangnya kenapa ?" Arumi menusuk sebuah sosis dengan garpu yang ia pegang lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"Apa kau tidak tahu pesta jenis apa yang akan kita hadiri ?"


"Pesta dengan tema formal, bukan ?" Jawab Arumi santai.


"Dan kau tahu apa artinya ?" Charlie mendekatkan wajahnya pada Arumi dengan sangat serius.


"Apa ?" Bisik Arumi.


"Itu artinya gaun pesta yang anggun, Aru !" Teriak Charlie tiba-tiba. " Oh, God ! Aku mana tahan memakai pakaian seperti itu. Apalagi harus memakai make-up. Itu mustahil."


Arumi tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan Charlie. Rupa-rupanya Charlie memang masih belum berubah. Dirinya tetap saja tidak suka mengenakan pakaian feminim dan juga make up layaknya gadis seumuran mereka yang lain. Charlie tetap setia dengan gaya tomboy dan wajah polos anti riasannya meski sudah bertambah dewasa.


"Ya, aku mengerti. Tapi, bukankah kita bisa pulang lebih cepat jika kau merasa tidak nyaman ?"


"Itu mustahil, Aru ! Kau tahu sendiri bagaimana watak daddy dan mommy ku. Mereka pasti akan sibuk mengenalkan aku pada rekan bisnis mereka untuk di jodohkan dengan anak-anak mereka."


"Itu bagus ! Sudah saatnya kau memang harus memiliki kekasih, Char !"


Kembali, Arumi tertawa terbahak-bahak. Charlie yang memang sudah sangat stres karena membayangkan dirinya yang memakai gaun dan riasan di wajah semakin bertambah kesal. Tanpa peringatan lebih dulu, Charlie sudah mencubit lengan Arumi dengan sangat keras.

__ADS_1


"Sakit, Char !" Teriak Arumi sambil mengusap bekas cubitan Charlie yang tampak memerah di permukaan kulitnya yang putih.


"Makanya, jangan jahil."


"Siapa yang jahil ?" Protes Arumi tak terima.


"Siapa suruh kau menertawaiku." Dengus Charlie kesal.


*


*


*


Leon duduk di sofa dengan wajah tertunduk dan jemari saling bertautan satu sama lain . Di sebelahnya, ada Zack yang tak berbeda jauh keadaannya dengan Leon. Kedua pria itu sedang sangat tegang dan ketakutan sekarang.


Duke Xander, ayah kandung Leon tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan sama sekali. Hal itu membuat baik Leon maupun Zack benar-benar panik dan gugup.


"Jadi, jelaskan pada daddy ! Kenapa kau menghilang tanpa kabar dan berada di pulau ini ?" Suara berat Duke Xander semakin menambah aura ketakutan dua pria muda itu.


Leon dan Zack saling bersitatap. Tak ada yang berani menjawab.


"Leon, jawab !" Bentak Duke Xander geram. Dirinya sama sekali tidak menduga bahwa putra yang sudah satu minggu lebih menghilang dari rumah tanpa kabar ternyata bersembunyi di pulau ini. Untung saja, Duke Xander mendapat undangan ulang tahun pernikahan dari Mr. Kovalev. Jika tidak, dia pasti masih bingung untuk menemukan di mana keberadaan putranya.


"Tapi, dad..." Leon memberanikan diri mengangkat kepalanya dan hendak melayangkan protes sebelum sang ayah segera memotong.


"Tidak ada tapi-tapi. Jangan coba-coba membantah ucapan daddy, Leon !" Geram Duke Xander penuh penekanan.


Ia kemudian memandang Leon dan Zack bergantian.


"Bersiaplah, nanti malam ikut dengan daddy ke pesta perayaan ulang tahun pernikahan Mr. Kovalev." Duke Xander kemudian melangkah pergi sebelum Leon sempat menjawab.


Ah ! Bukan seperti itu. Perintah tadi bukanlah sesuatu yang harus di jawab Leon melainkan sesuatu yang wajib ia lakukan. Suka atau tidak suka, jika sang ayah sudah memutuskan, maka Leon berkewajiban menuruti seluruh perkataan Duke Xander.


Ayah Leon yang sangat keras dan tegas itu adalah seseorang yang membuat Leon merasa sangat tertekan. Ia selalu merasa bahwa Duke Xander adalah aturan hidup yang harus Leon patuhi. Semua yang ada dalam kehidupan Leon, harus berdasarkan keputusan dari sang ayah.


Termasuk dengan pertunangannya dengan Jane. Leon dan perempuan itu sudah di jodohkan oleh Duke Xander sejak berusia 5 tahun. Bahkan, yang lebih parah lagi, dengan siapa Leon berteman juga harus sesuai dengan keinginan Duke Xander. Hal itulah yang memicu Leon untuk melakukan pemberontakan yang pertama kali dalam hidup yaitu dengan kabur ke pulau ini. Meskipun, ia tetap saja ditemukan oleh sang ayah dengan begitu cepat.


"Kau tidak apa-apa, kawan ?" Hibur Zack sesaat setelah Duke Xander naik ke kamarnya untuk beristirahat.


"Ini benar-benar menyebalkan, Zack ! Kenapa aku tidak bisa melawan pria itu sama sekali ?" Marah Leon pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Zack menepuk pundak Leon prihatin. "Sudahlah ! Setidaknya Duke Xander tidak menghukummu kali ini."


"Persetan dengan hukuman, Zack ! Asalkan aku bebas dan menentukan jalan hidupku sendiri, aku tidak apa-apa. Aku muak jika harus di perlakukan seperti boneka olehnya."


"Aku mengerti, tapi kita harus apa ?"


Leon mengusap wajahnya kasar. Zack benar. Dia bisa apa ? Di ancam sedikit saja oleh ayahnya, nyali Leon sudah menciut. Apalagi jika hendak melawan lebih jauh lagi. Dirinya selamanya akan tetap hidup seperti ini jika mulut Leon tetap enggan untuk bersuara. Sayangnya, demi melakukan hal itu, Leon belum memiliki pemicu. Ia masih terlalu takut untuk menyuarakan isi hatinya di depan sang ayah.


Malam pun tiba dan pesta akan segera di mulai. Arumi sedang mendandani Charlie dengan sangat serius.


"Sudah selesai apa belum ? Kenapa lama sekali ?" Gerutu Charlie tak sabaran.


"Sabar ! Tetap tutup matamu dan buka jika aku sudah mengizinkan." Arumi masih sibuk memakaikan eyeshadow di kelopak mata Charlie.


"Awas jika kau merubah wajahku jadi badut, Aru !"


"Itu hanya akan terjadi jika mulut bebekmu tidak mau diam." Ancam Arumi sambil menyentil bibir Charlie yang manyun.


"Sekarang, kau boleh membuka mata !"


Arumi memegang kedua sisi pundak Charlie sambil menatap ke arah cermin. Menunggu dengan antusias bagaimana ekspresi yang akan di tampilkan Charlie.


"Astaga !" Charlie melompat ke atas kursi yang di dudukinya seraya menunjuk pada cermjn dengan begitu kaget.


"Ada apa ?" Tanya Arumi panik.


"Siapa gadis cantik di dalam sana, Aru ? Apa itu aku atau bidadari ?" Ujarnya memuji diri sendiri.


Arumi memukul kepala Charlie sebagai balasan. Namun, gadis tomboy itu tampak tidak menggubris dan lebih memilih mendekat ke arah cermin untuk memperhatikan wajahnya secara seksama.


"Kau benar-benar berbakat, Aru !" Puji Charlie yang sukses membuat Arumi tersipu malu.


"Jangan berlebihan !" Jawabnya tersenyum.


"Tidak !" Charlie berteriak lalu berbalik menatap Arumi sambil memegang wajahnya.


"Bukan hasil riasanmu yang bagus, tapi aku yang memang sudah cantik dari sananya."


Arumi tertawa dengan sangat terpaksa. Sungguh ! Charlie benar-benar menguji kesabaran Arumi. Baru saja dia membuat Arumi melayang dengan pujian yang ia lontarkan, namun sepersekian detik berikutnya, Charlie justru membanting kembali Arumi ke bumi tanpa aba-aba.


Pisau mana pisau ? Bisa jadi, Arumi akan di tangkap dengan kasus pembunuhan terhadap sahabat baiknya sendiri karena masalah ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2