
"Kau yakin akan tetap berangkat kerja hari ini ?" Selina bersedekap dan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar. Aktris cantik itu sibuk memperhatikan Arumi yang sedang berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat ke butik.
Arumi berbalik menghadap Selina. Gadis itu menghela napas panjang lalu tersenyum.
"Apa ada alasan aku tidak boleh berangkat ?" Arumi berbalik kembali. Duduk di depan meja rias kemudian memoleskan make up tipis ke wajahnya.
"Tentu saja ada, Aru !" Selina melangkah mendekat. "Apa masalah semalam tidak cukup untuk di jadikan alasan ? Bagaimana kalau Irgi kembali melakukan hal buruk lagi padamu ?"
"Tinggal di sini juga tidak akan menjamin keselamatanku, Sel ! Kak Irgi tahu kalau aku tinggal di apartemen ini. Ku rasa, aku akan lebih aman jika berada di tengah keramaian daripada sendirian di dalam apartemen !" balas Arumi yang mengemukakan pendapat dari sudut pandangnya sendiri.
"Kau bisa mengunci pintu, Aru !" Selina bersikeras melarang Arumi untuk tidak kemana-mana.
"Tapi, tidak ada jaminan kalau Kak Irgi bisa saja berbuat nekat, bukan ?"
Selina menghela napas. Aktris cantik itu memilih mengalah.
"Baiklah ! Terserah apa katamu ! Sekarang, cepatlah bersiap ! Kita akan berangkat bersama pagi ini." Selina berucap sambil duduk di tepi ranjang lalu merogoh ponselnya dari dalam tas untuk menelepon Lukas agar menjemputnya menuju ke parkiran basement.
"Benarkah ? Sebuah kehormatan besar untukku bisa di antar oleh aktris terkenal sepertimu !" Arumi tersenyum dan menangkup kedua pipinya sendiri. Matanya berkedip lucu menggoda Selina.
Selina yang masih menunggu panggilannya tersambung tertawa geli melihat kelakuan Arumi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
* * *
"Terima kasih sudah mengantarku ! Berhati-hatilah !" kata Arumi sembari membuka pintu mobil. Ia lalu turun dan melambaikan tangan pada Selina.
Usai mobil milik Selina sudah menghilang dari pandangannya, Arumi melangkah masuk ke dalam butik. Sisa-sisa senyum yang masih melekat ketika melepas kepergian Selina segera luntur saat menemukan Irgi sudah berada di depan butiknya. Berdiri begitu gagah di sana, sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Arumi langsung memalingkan wajahnya secara reflek ketika Irgi menabrakkan pandangan ke arahnya. Gadis itu mendadak gugup. Serpihan ketakutan karena perbuatan Irgi tadi malam masih membekas di ingatan Arumi.
Sementara Arumi ketakutan, Irgi justru terlihat begitu senang. Ia bahkan melambaikan tangan dan sudah mulai melangkah kecil hendak menuju ke arah Arumi.
__ADS_1
Rasa gugup Arumi semakin bertambah. Akalnya memerintahkan dia untuk segera berlari. Namun, sepasang kakinya enggan di ajak bekerja sama. Air mata Arumi sudah mulai menganak sungai kembali. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengeratkan pegangannya pada tas yang ia sampirkan di bahu kanannya dan berharap seseorang bisa membantunya keluar dari masalah ini.
Langkah Irgi kini hanya berjarak tak kurang dari dua meter ke arahnya. Gadis itu sudah pasrah. Ia memejamkan mata dan membiarkan ketakutan itu menguasainya secara keseluruhan.
Benar dugaannya. Pria itu kini sudah memeluknya. Membuat Arumi mulai mengepalkan tangan dan bersiap untuk memukul Irgi meski ia ragu akan mampu mengalahkan tenaga pria itu.
"Apa ini ? Kenapa wanginya berbeda ? Ini bukan wangi parfum Kak Irgi. Ini wangi parfum milik..... Tidak mungkin !"
Gadis itu menggeleng. Mengusir segala pikiran mustahil yang sempat hinggap dan memenuhi kepala.
Dengan segera Arumi membuka mata. Ia terkejut ketika melihat Irgi berhenti dan berdiri terpaku dalam jarak kurang lebih 8 langkah lagi darinya. Kini, saliva Arumi terasa mengering. Di liriknya denga ragu kepala pria yang sedang memeluknya saat ini. DEG ! Itu surai brunette milik pria yang sangat di kenali Arumi. Leon.
"Le-leon ?" panggil Arumi setengah tak percaya.
"Ya. Ini aku, Aru ! Ini aku !" lirih pemuda itu yang saat ini semakin mengeratkan pelukannya di tubuh rapuh gadis itu.
"Ba-bagaimana kau bisa ada di sini ?" Mata Arumi mulai mengeluarkan air mata. Sungguh ! Dia sangat merindukan Leon. Namun, ia juga cukup sadar diri untuk menerima kenyataan bahwa Leon sudah menjadi milik Claire.
"Aku merindukanmu !" jawab Leon yang saat ini sudah mendaratkan ciuman di dahi Arumi cukup lama.
Gadis itu memejamkan mata. Ia tak munafik bahwa dirinya juga merindukan Leon sebesar pria itu merindukannya. Meski, Leon sudah menjadi milik Claire, namun bisakah Arumi menikmati momen ini sebentar saja ?
"Apa yang kau lakukan ?" Irgi yang naik pitam melihat perlakuan pemuda asing itu kepada Arumi langsung menyentak Leon dengan kasar.
Leon berbalik dan menghadap Irgi. Dia yang belum mengetahui siapa Irgi hanya menatap mantan suami Arumi itu dengan tatapan bingung.
"Apa masalahmu ?" tanya Leon.
Irgi tak menjawab. Rahang pria itu kian mengetat saat melihat tangan Leon yang menggenggam jemari mungil Arumi dengan erat. Seolah-olah tak ingin gadis itu menjauh darinya.
"Lepaskan dia !" Irgi berhasil menarik paksa Arumi hingga kini pegangan gadis itu berpindah padanya.
__ADS_1
"Apa-apaan kau ? Kau yang harus melepaskan dia !" Leon ingin merebut Arumi lagi namun Irgi mendorongnya hingga terpundur.
"Jangan coba-coba menyentuh Arumi. Dia milikku !" ucap Irgi dengan tajam.
Leon tampak terkejut. Arumi pun merasakan hal yang sama.
"Milikmu ? Benarkah ?" Leon menyeringai sinis ke arah Irgi.
"Tentu saja. Jadi, ku peringatkan dari sekarang ! Jangan coba-coba mengganggu Arumi lagi !" kata Irgi dengan suara yang sarat akan ancaman.
"Aru ! Apa yang pria ini katakan benar ? Apa dia kekasihmu ?" lirih Leon dengan lembut. Ia menatap Arumi penuh harap.
"Katakan bahwa dia berbohong, Aru ! Aku mohon !"
"Dia benar. Dia mantan suami yang ku ceritakan padamu !" kata Arumi setelah menarik napas panjang demi mengutarakan kebohongan yang sudah pasti akan menghancurkan Leon.
Benar saja. Dalam sekejap, tubuh Leon melemah. Pemuda itu nyaris kehilangan keseimbangan karena perkataan Arumi yang seolah meruntuhkan dunia Leon tanpa ampun. Sementara itu, Irgi menoleh menatap Arumi dengan raut wajah bahagia. Jelas ia merasa bahwa Arumi mau memberinya kesempatan kedua.
"Kau benar-benar kembali padanya ?" tanya Leon tak percaya.
"Iya." Arumi mengangguk singkat meski mata itu enggan menatap lawan bicaranya.
"Dia sudah menyakitimu, Aru ! Apa kau sudah lupa ?"
"Dan menurutmu kau tidak ?" serak Arumi dengan suara yang nyaris tenggelam di akhir kalimat. Di banding Irgi, Leon jelas jauh lebih menyakitinya. Tentu alasan yang membuat Arumi berpikir seperti itu karena ia jauh lebih mencintai Leon di banding Irgi dulu.
Leon tertunduk diam. Perkataan Arumi benar. Dia juga sama saja.
"Apa kau tidak bisa memberiku satu kesempatan lagi ?" Leon mencoba meminta meski ia tahu itu tidak akan berguna.
"Tidak," tegas Arumi.
__ADS_1