
Duke Xander tersenyum. Jantungnya di dalam sana sudah mulai berdetak dengan ritme yang sedikit lebih kencang dari sebelumnya. Pembangkangan dari gadis Asia di hadapannya membuat Duke Xander sedikit terpancing emosi. Hal yang sangat jarang ia alami jika berhadapan dengan orang lain.
"Apa kau tidak takut akan konsekuensi yang kau terima jika berani menolak perintahku ?" tanya Duke Xander dengan pembawaannya yang masih berusaha untuk tetap tenang.
"Memangnya apa konsekuensi yang akan saya dapatkan jika melanggar perintah anda, Duke ?" Arumi balik bertanya.
"Apa kau tidak takut kehilangan pekerjaanmu ?"
Arumi terkekeh sinis. "Apa keahlian anda hanya itu-itu saja, Duke ? Selalu membuat orang kehilangan pekerjaannya. Apa anda tidak merasa bahwa perbuatan anda itu sedikit pengecut ?" Kini, wajah gadis itu mulai terlihat marah.
"Anggap saja seperti itu," kata Duke Xander.
"Memangnya, kenapa anda ingin membuang saya jauh dari negara ini ?"
"Bukankah kau sudah tahu jawabannya ?"
"Tidak. Saya tidak tahu," jawab Arumi tegas.
Duke Xander menghela napas. Gadis di hadapannya benar-benar ingin membuat dia murka besar.
"Karena kau sudah berani menggoda putraku !"
"Menggoda ? Saya sama sekali tidak pernah menggoda putra anda, Duke ! Dia sendiri yang datang kepada saya," jawab Arumi tak terima. Duke Xander tak tahu apa-apa tentang cerita yang sebenarnya. Lantas, kenapa pria itu kini malah menghakiminya seolah-olah dialah yang salah. Padahal, jika saja Leon jujur dari awal bahwa dirinya sudah bertunangan, Arumi juga tidak akan sudi untuk membuka hatinya terlalu dalam.
"Aku tahu gadis macam apa kau ! Gadis yang hanya mengincar harta dan kedudukan demi menaikkan derajat sosialmu ! Bukan begitu ?" vonis Duke Xander secara sepihak.
"Anda salah, Duke ! Tidak semua perempuan sama seperti yang anda katakan !" sanggah Arumi cepat.
"Bukankah kau menikah dengan mantan suamimu terdahulu karena harta dan tahta ? Kau bahkan menculik kakakmu sendiri demi mewujudkan obsesimu itu !" Duke Xander tersenyum penuh kemenangan. Bagian mana dari masa lalu gadis di hadapannya yang tak ia ketahui ?
__ADS_1
Mata Arumi mulai berkaca-kaca. Sungguh ! Perkataan Duke Xander sudah benar-benar keterlaluan. Gadis itu mendongak menatap langit-langit mewah restoran. Berusaha, agar air matanya tidak tumpah di depan Ayah Leon. Ia tidak boleh terlihat lemah atau Duke Xander akan semakin berada di atas angin.
"Jika anda tidak tahu apa-apa, maka lebih baik anda diam, Duke !" geram Arumi menahan amarah.
"Kau tersinggung ?" tanya Duke dengan mengangkat sebelah alisnya.
Arumi kembali mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Sekali lagi, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Duke Xander.
"Apa yang akan anda berikan jika saya mengabulkan keinginan anda ?" tanya Arumi.
Duke Xander menyeringai. Kemudian, pria itu bertepuk tangan dan muncullah seorang pria yang membawa sebuah koper dari arah pintu masuk dan berjalan mendekat ke arah mereka. Pria itu membuka isi koper tersebut dan meletakkannya di atas meja, menghadap ke Arumi.
"Apakah satu juta dollar cukup" tanya Duke Xander penuh percaya diri.
Arumi melihat uang yang terdapat di dalam koper. Gadis itu menggeram dalam hati. Apa menurut Duke Xander harga dirinya bisa di beli dengan uang ?
"Kenapa ? Kau bisa membuka butikmu sendiri dengan uang sebanyak ini. Bukankah itu yang menjadi impianmu ? Atau, apa uangnya kurang ?"
"Benar. Impian saya memang memiliki butik sendiri. Tapi, tidak dengan uang dari anda, Duke !"
"Terima atau keluarga Aldric akan ku buat lebih menderita daripada ini," ujar Duke Xander mengancam.
Arumi semakin mengepalkan tangannya di bawah meja. Duke Xander memegang kelemahannya yang terakhir, yaitu keluarga Aldric. Bagaimana bisa, Arumi membiarkan keluarga Aldric terlibat masalah hanya karena dirinya lagi ? Tidak. Hal itu tidak akan terjadi. Sudah cukup pengorbanan yang di lakukan Charlie dan kedua orangtuanya hanya demi dirinya.
"Saya punya permintaan yang lain," sahut Arumi kemudian.
"Katakan !"
"Kembalikan pekerjaan Uncle Charles dan berjanjilah untuk tidak mengusik keluarganya lagi."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Duke Xander langsung menerima tawaran tersebut. Itu hal yang terbilang sangat mudah baginya. Semudah ia menghirup udara dengan bebas.
"Baiklah !" jawab Duke Xander mengangguk. "Asal kau bisa pergi dari hadapan putraku untuk selamanya, maka akan ku kabulkan," kata Duke Xander ringan.
"Sebaiknya anda menepati janji anda, Duke !" Arumi berdiri dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu ingin segera pergi namun kembali di cegah oleh Duke Xander.
"Ambil uangnya !" kata Duke Xander.
Air mata Arumi sudah menetes. Tak mengindahkan perintah Duke Xander, gadis itu tetap melangkah hendak keluar dari sana. Duke Xander memberi kode kepada pria yang tadi membawa koper berisi uang satu juta dollar itu untuk mencegat Arumi di depan pintu.
"Anda tidak boleh kemana-mana sebelum menuruti perintah Duke, Nona !" cegah si pria sembari memboikot jalan Arumi dengan badan besarnya.
Arumi kembali berbalik menghadap Duke Xander dengan tatapan penuh kebencian. Duke Xander tersenyum. Menikmati betul kesengsaraan yang gadis itu rasakan berkat perbuatannya. Pada akhirnya, dirinyalah aturan yang wajib di ikuti oleh siapapun. Tak terkecuali gadis angkuh di hadapannya.
"Ambillah ! Jangan sok jual mahal !" cibir Duke Xander.
Arumi melangkah cepat dan mengambil koper berisi uang tunai yang terletak di atas meja. Itu pilihan satu-satunya yang tersedia jika dia ingin cepat pergi dari sini. Sebelum pergi, gadis itu menyeringai ke arah Duke Xander. Entah apa rencana yang terpikir di dalam otaknya saat ini.
"Biarkan aku lewat !" kata Arumi kepada pria yang masih berdiri di depan pintu.
Tanpa menunggu jawaban, Arumi langsung saja menerobos pintu keluar. Dia melangkah sambil menenteng koper berisi uang yang baru saja di berikan oleh Duke Xander. Sampai di area restoran yang sangat ramai, Arumi membuka koper itu. Menghamburkan isinya ke udara hingga semua orang yang berada di sana menjerit histeris dan berlomba memunguti uang yang berhamburan di lantai.
Sementara itu, Arumi kembali melanjutkan langkahnya usai membuang koper yang sudah kosong itu ke tempat sampah terdekat. Gadis itu kemudian keluar restoran dengan langkah penuh percaya diri.
"Harga diriku tidak senilai dengan uang-uang itu" Gumam Arumi dalam hati.
"Gadis yang menarik !" puji Duke Xander yang ternyata mengikuti Arumi dari belakang. Ia melihat semuanya. Melihat bagaimana beraninya gadis itu menentang perintahnya tanpa rasa takut.
Pria itu berdiri sambil menatap punggung Arumi yang akhirnya menghilang di balik pintu restoran. Ia sama sekali tidak terganggu dengan banyaknya orang yang sedang berlomba memunguti uang yang berceceran di lantai. Tak hanya pengunjung, bahkan pegawai restoran pun tak mau kalah. Semua orang terlalu gila dengan lembaran-lembaran itu.
__ADS_1