Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#93


__ADS_3

Arumi tertidur pulas di dalam ruang rawat Jonathan. Operasi ayahnya berjalan lancar dan menurut dokter kondisinya sudah mulai stabil. Perlahan, usapan lembut di kepalanya mau tidak mau membuat Arumi merasa terusik dan akhirnya membuka mata meski rasa kantuk itu masih terlalu berat untuk ia kalahkan.


"Ayah sudah sadar ?" Arumi menegakkan punggungnya sembari mengusap wajahnya.


Jonathan tersenyum sambil mengangguk kecil. "Apa kau yang membawa Ayah kemari ?" tanya Jonathan lemah.


"Iya," jawab Arumi singkat. "Apa ayah butuh sesuatu ?"


"Tidak. Ayah tidak butuh apapun ! Terima kasih karena masih peduli pada keadaan Ayah !" ucap Jonathan tulus.


"Kalau begitu, akan ku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Ayah !" putus Arumi kemudian sambil berusaha tersenyum ke arah ayahnya. Ia tak tahu harus menjawab dengan kalimat apa ungkapan terima kasih Jonathan barusan.


* * *


Setelah dokter keluar dari ruangan Jonathan, kini dia dan Arumi hanya diam dan tak ada yang berniat bersuara lebih dulu. Mereka sama-sama tidak menemukan pokok pembahasan untuk mengurai suasana hening yang menyergap mereka di dalam ruangan itu. Hingga pada akhirnya, Arumi memutuskan untuk berbicara lebih dulu.


"Perlu ku panggilkan Tante Katherine dan Beverly kemari ?"


"Tidak usah. Aku tidak membutuhkan mereka," tolak Jonathan dengan cepat.


Arumi terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia tak menyangka bahwa Jonathan bisa mengatakan hal seperti itu dengan tegas. Sejak kapan ia menolak Nyonya Katherine dan Beverly seperti ini ?


"Kenapa ? Bukankah mereka istri dan anak kesayangan Ayah ?"


Jonathan menghela napas. Pandangannya terlempar ke langit-langit ruang rawatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ucapan Arumi sukses menyindir dirinya di masa lalu.


"Kau benar. Ayah memang benar-benar bodoh di masa lalu. Ayah sudah membuangmu dan ibumu karena Ayah berpikir Ayah bersalah pada Katherine dulu. Tapi, sekarang Ayah sudah menyadari semuanya. Keputusan Ayah di masa lalu benar-benar adalah kesalahan. Ayah terlalu buta untuk melihat kebenaran yang ada. Maka dari itu, berikan Ayah kesempatan satu kali lagi agar Ayah bisa memperbaiki segalanya, Aru !"

__ADS_1


Arumi memejamkan matanya rapat-rapat. Ungkapan penyesalan Jonathan nyatanya tak mampu menyembuhkan luka hatinya begitu saja. Berapa banyak waktu yang Arumi buang hanya demi memperoleh kasih sayang dari Jonathan ? Dan sekarang, ketika ia tidak mengharapkan hal itu lagi, Jonathan justru baru datang dan mengatakan akan menebus segalanya di masa lalu.


"Apa Ayah yakin bisa menepati janji Ayah ?" Arumi kembali membuka matanya. Ia tahu, bahwa sekeras apapun nuraninya berusaha memupuk benci, hal tersebut tak pernah berkembang sebesar yang Arumi inginkan. Pada akhirnya, bunga kebencian yang ia tanam terlalu mudah layu jika sudah melihat Jonathan menjadi serapuh ini.


"Tentu saja." Jonathan mengangguk cepat. "Ayah akan menceraikan tante Katherine dalam waktu dekat, jadi kau tidak perlu khawatir jika Ayah akan kembali goyah karena perempuan ular itu."


"Tapi kenapa ?" Arumi masih belum paham yang sudah terjadi selama ia tak ada. Tampaknya, banyak sekali masalah yang timbul usai ia memutuskan untuk pergi ke Paris.


"Ceritanya panjang, Aru ! Akan Ayah ceritakan lain waktu. Itu pun, jika kau masih sudi untuk menemui Ayah lagi." Ucapan Jonathan kembali terdengar lemah di akhir kalimat.


* * *


"Sudah kau bawa semua perlengkapanmu ?" Zack yang sedang menggeret satu koper besar milik Leon menuju ke halaman mansion bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa perlengkapan Leon sudah di bawa semua.


"Sudah, Zack ! Ayolah ! Jangan terlalu cerewet !" ucap Leon jengah. Zack sudah tampak seperti ibunya dan bukan kakaknya.


"Aku hanya sekedar mengingatkan, anak manja !" balas Zack sambil menarik daun telinga Leon.


"Maaf, Dad !" kata Zack tersenyum canggung. Setelah itu, ia melotot ke arah Leon sambil bergumam kecil. "Dasar anak manja !"


Duke Xander melangkah mendekat. Ia juga menarik kuping Zack, sama seperti yang pemuda itu lakukan pada adiknya beberapa saat yang lalu.


"Kenapa Daddy menarik telingaku ?" tanya Zack tak terima. Ia memegang telinganya yang terasa sakit akibat perbuatan ayahnya sendiri.


"Sakit ?"


"Tentu saja."

__ADS_1


Duke Xander beralih memukul kepala Zack. "Jika tahu sakit, kenapa kau melakukan hal itu pada adikmu, bocah nakal ? Kau tahu 'kan, kalau adikmu baru saja sembuh ?" lanjut Duke Xander lagi.


"Maaf, Dad !" ucap Zack mengalah. Ia mengerti bahwa Duke Xander memang semakin over protective pada Leon sejak kejadian Leon di bawa ke rumah sakit beberapa waktu lalu. Namun, hal itu tak lantas membuat Zack cemburu. Rasa sayang yang di tunjukkan Duke Xander padanya dan Leon memang jauh berbeda. Jika Leon di perlakukan manja, maka dirinya justru di perlakukan dengan tegas.


Akan tetapi, Zack tidak mempermasalahkan hal itu. Ia tahu bahwa Duke Xander memperlakukannya jauh lebih keras karena memang dirinya lebih dewasa di banding Leon. Sudah sepantasnya dia di didik lebih keras agar bisa mengejar dengan cepat pengetahuan dan etika yang jauh lebih dulu di kuasai Leon. Terlebih lagi, Duke Xander sudah mengumumkan secara besar-besaran ke seluruh penjuru negeri bahwa Zack adalah salah satu keturunannya juga. Pewaris sah kerajaan bisnis miliknya sama seperti Leon. Meski, gelar kebangsawanan tidak bisa Zack dapatkan karena bukan anak dari hasil perkawinan yang sah.


"Jika kau sudah tiba, Alarick akan menjemputmu di bandara dan mengantar kau ke rumah milik kita yang ada di sana. Ingat, jangan lupa kabari Ayah jika sudah sampai dan beritahu jika kau butuh apa-apa pada Alarick ! Kau mengerti ?" Duke Xander memegang kedua bahu Leon.


"Baik, Dad !" angguk Leon. "Terima kasih karena Daddy sudah mau menuruti kemauanku !" lanjut Leon sembari memeluk tubuh ayahnya.


"Berhati-hatilah ! Maaf, karena Ayah tidak bisa mengantarmu ke bandara !" ucap Duke Xander.


"Tidak apa-apa, Dad ! Aku mengerti !" Leon melepaskan pelukannya. "Aku berangkat !" lanjutnya sembari membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.


Duke Xander tampak melambaikan tangan. Zack juga ikut masuk ke dalam mobil usai meletakkan koper milik Leon di dalam bagasi mobil.


"Bagaimana perasaanmu, hah ?" tanya Zack di dalam mobil yang sudah melaju menuju ke bandara Paris de Gaulle.


"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu kembali dengannya, Zack !"


Zack menghela napas melihat raut wajah adiknya yang tampak menanggung rindu yang menggebu-gebu untuk gadis Asianya.


"Kau tahu bahwa hal ini tidak akan berjalan dengan mudah, bukan ?"


Leon menengok Zack yang sedang fokus menyetir.


"Tentu saja. Aku sadar hal apa yang akan ku lalui demi membawa Aru kembali. Tapi, aku juga tidak akan mudah menyerah, Zack ! Aku tidak akan menyia-nyiakan perjuanganmu dan juga Uncle Fred yang sudah mati-matian membuat Daddy mengerti !"

__ADS_1


Zack tersenyum lalu menepuk-nepuk bahu adiknya dengan pandangan yang masih fokus ke arah jalan.


"Baguslah jika kau tahu."


__ADS_2