
Jakarta, Indonesia
Suara ketukan yang di hasilkan heels seorang perempuan yang baru saja turun dari pesawat sambil membawa satu buah koper berwarna hitam terdengar begitu anggun dan berkelas. Sebuah kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya ia lepas lalu tersenyum ketika sudah mencapai halaman depan bandara.
"Senang bisa kembali !" gumamnya.
Arumi berusaha menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Mata gadis itu berkaca-kaca. Kini, di sinilah dia. Di sebuah tempat yang dulu ia hindari namun nyatanya tetap menjadi tempat untuk ia kembali. Gadis cantik itu harus memulai segalanya dari awal. Semua asa yang sudah ia gantungkan tinggi-tinggi di langit kota Paris nyatanya runtuh bahkan sebelum Arumi membangun kastil impiannya. Dan sekarang, asa itu kembali ia gantungkan di tanah kelahiran sang Ayah. Jakarta. Gadis itu hanya berharap semoga kali ini asa itu akan tetap bertahan hingga Arumi mencapai puncak tertinggi.
Tak berselang lama, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Dia berjalan mencari taksi untuk menuju ke apartemen milik keluarga Aldric. Sebuah apartemen yang dulu di beli oleh Charles sewaktu menetap di Indonesia dan hampir saja terjual jika Arumi tak mendadak ingin pulang ke kota ini lagi.
Tiba di apartemen milik keluarga Aldric, Arumi bergegas membuka pintu dan memasukkan kopernya ke dalam. Gadis itu mendesah samar ketika melihat kondisi apartemen itu. Sangat kotor dan berdebu. Ciri khas hunian yang sudah bertahun-tahun tak di sentuh sama sekali.
Karena merasa sangat lelah, Arumi merasa tak mampu membersihkan unit apartemen itu sendiri. Jadi, dia pun menghubungi pengurus apartemen. Bertanya apakah mereka memiliki jasa kebersihan untuk membersihkan tempatnya. Sebuah keputusan yang bagus karena memang apartemen elit itu hampir memiliki segalanya.
"Aru ? Kau sudah sampai ? Bagaimana perjalananmu ?" Suara antusias Charlie menyapa pendengaran Arumi ketika sambungan video call itu tersambung.
"Ya. Aku sudah sampai. Dan sekarang aku sudah berada di apartemen kalian," jawab Arumi sambil memperlihatkan setiap sudut apartemen yang sedang di bersihkan oleh petugas yang ia panggil.
"Bagaimana, Sweetheart ? Kau suka dengan tempat tinggal **baru**mu ?" kali ini, Isabella yang bertanya. Wajah wanita penyayang itu hampir memenuhi layar ponsel. Terdengar suara celetukan Charlie dari belakang yang berseru protes karena wajahnya tidak kelihatan.
"Ya. Aku sangat suka, Aunty ! Tapi, tetap saja ini terlalu besar untukku !" jawab Arumi dengan wajah memelas.
"Kau harus membiasakan dirimu ! Daripada harus membeli atau menyewa tempat tinggal lagi, lebih baik tabunganmu kau pakai untuk membuka usaha barumu, Sweetheart !"
Arumi mengangguk. Perkataan Isabella benar. Lebih baik uangnya ia pakai untuk merintis usaha kecil-kecilannya.
"Terima kasih karena sudah memperlakukan Aru dengan sayang, Aunty !" lirih Arumi pelan.
"It's okay, little girl ! Jangan sungkan pada kami," ucap Isabella dengan ciuman jauh ke arah kamera untuk Arumi.
__ADS_1
"Di mana Uncle Charles, Aunty ?" tanya Arumi yang baru sadar bahwa hanya ada Charlie dan Isabella saja.
"Uncle sedang lembur, Sweetheart ! Dia masih belum pulang," kata Isabella.
"Baiklah ! Kalau begitu, Aru titip salam untuk Uncle ya, Aunty !"
"Akan Aunty sampaikan ! Bye !!"
"Bye, Aru !!!" Charlie di belakang Isabella turut melambaikan tangan.
Arumi memutus sambungan video call itu sambil menghapus jejak air mata yang tumpah dari sudut matanya. Rasa haru karena memiliki keluarga sebaik Charlie dan kedua orangtuanya benar-benar membuat Arumi sangat bersyukur. Setidaknya, dia masih memiliki keluarga Aldric yang mencintainya.
Tanpa sadar, Arumi tiba-tiba kembali teringat ayah kandungnya, Jonathan. Ayah yang tak pernah menyayanginya namun tetap saja masih sulit untuk Arumi lupakan. Andai saja ayahnya memiliki rasa sayang seperti Uncle Charles, pasti Arumi akan merasa sebagai anak yang paling bahagia.
"Ayah apa kabar ya ?" gumamnya dalam hati.
Arumi hanya memesan makanan sederhana. Nasi goreng dan ice lemon tea baginya sudah cukup untuk mengisi tenaganya kembali. Gadis itu menyambut dengan antusias makanan pesanannya sambil bertepuk tangan ketika pelayan mengantarkannya.
"Terima kasih !" Arumi tersenyum seraya mengangguk kecil ke pelayan wanita yang melayaninya.
"Sama-sama," sahut sang pelayan ramah.
Arumi segera menyantap makanannya. Sesekali ia tersenyum sambil memejamkan mata ketika nasi goreng itu mencapai indra pengecapnya. Begitu nikmat dan membuat Arumi benar-benar ketagihan.
"Aru ?" seorang pria mendekat dan duduk di kursi tepat di samping Arumi.
Gadis itu menengok dan sepersekian detik berikutnya, nasi goreng di dalam mulut Arumi keluar karena mendadak batuk. Kaget dengan kemunculan Devan yang tiba-tiba di dekatnya.
"Minum, minum !" Devan memberikan ice lemon tea pada Arumi.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa ?" tanya Devan khawatir. Tangan pria itu menepuk-nepuk punggung Arumi khawatir.
"Aku tidak apa-apa," jawab Arumi meyakinkan.
Devan mengangguk dan kembali menjauhkan tangannya dari punggung Arumi. Merasa sedikit canggung pada sikap refleknya yang di rasa cukup berlebihan.
"Sedang apa kau di daerah ini ? Bukankah rumahmu terlampau jauh untuk datang kemari ?" tanya Devan kemudian.
"A-aku ..." Arumi berpikir keras untuk mengarang alasan. "Aku hanya kebetulan lewat saja, Kak !" katanya.
"Kebetulan ?" Mata Devan memicing seolah tak mempercayai perkataan gadis di sampingnya.
"Ya. Kebetulan !" Arumi tersenyum lebar. Meyakinkan Devan melalui sinar matanya bahwa yang ia katakan adalah kebenaran. Walaupun, pria itu tentu tahu bahwa Arumi jelas tidak pandai berbohong.
Membiarkan kebohongan Arumi tetap berjalan, Devan memilih untuk mengikuti alur permainan gadis itu. Ia mengerti bahwa pasti Arumi tidak ingin dia memberitahu siapapun perihal pertemuan mereka. Apalagi, kepada Irgi. Orang yang sudah menyakiti gadis itu terlalu dalam.
"Apa kabar ?" lirih Devan kemudian. Ia tak menyangka bisa bertemu kembali dengan gadis yang pernah dia sukai di masa lalu secara kebetulan seperti ini.
"Baik !" Arumi menjawab singkat.
"Kau kemana saja selama ini, Aru ? Apa kau tahu bahwa Irgi sudah mencarimu kemana-mana ?"
Perkataan Devan sontak membuat jantung Arumi berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Gadis itu tidak percaya pada indra pendengarannya sendiri. Apa ? Irgi mencarinya ? Jadi, email yang selama ini terus masuk kepadanya adalah benar email kiriman dari Irgi ? Tapi, kenapa ? Kenapa baru sekarang Irgi mencarinya setelah semua perlakuan kejam yang pria itu sudah berikan untuknya ?
"Untuk apa dia mencariku, Kak ?" Bibir gadis itu bergetar. Semua kepingan kesakitan yang sudah ia buang telah berkumpul kembali di dalam otaknya. Semua yang ingin dia lupakan kini kembali menghantamnya lagi.
"Entahlah ! Aku juga tidak tahu. Mungkin, karena dia sudah menyadari kesalahannya terhadapmu di masa lalu," terang Devan.
Arumi tertawa sumbang mendengar ucapan Devan. Hatinya sudah terlanjur beku untuk mendengar kata maaf dari Irgi. Dan jika ucapan Devan benar, maka penyesalan Irgi baginya hanya sekedar angin lalu. Irgi di matanya kini tak lebih dari sekedar orang asing.
__ADS_1