
Leon berusaha bangkit. Ia menyeka hidungnya yang berdarah menggunakan lengan bajunya. Setelah itu, dia melangkah mendekati Charles tanpa rasa takut sedikit pun. Tangannya memegang lengan pria paruh baya itu.
"Uncle ! Tolong izinkan aku berbicara dengan Arumi," mohon Leon.
Charles melepaskan paksa tangan Leon yang memegang tangannya. Dia kemudian memutar balik badannya membelakangi Leon. Pria paruh baya itu menghela napas demi mengusir amarah yang sudah terlanjur menguasainya dengan cepat.
"Lebih baik kau pergi dari sini. Tinggalkan dan lupakan Aru kami," ucap Charles dengan suara rendah. Dia berkacak pinggang sambil mendongakkan kepalanya menatap langit suram di atas sana.
"Jangan berbicara seperti itu uncle ! Mana bisa aku melakukan semua hal itu," ucap Leon tak percaya. Dia tak pernah menyangka bahwa Charles sekalipun melarang dia untuk menemui Arumi lagi.
"Kau harus bisa !" Charles kembali berbalik dan berhadapan dengan Leon. Matanya masih di penuhi kilatan amarah namun segera ia netralisir kembali.
"Ayahmu tidak akan pernah menyetujui tindakanmu ini, Leon ! Jika kau benar-benar mencintai Arumi dan peduli dengannya, maka lebih baik kau tinggalkan Arumi sendirian," ujar Charles meneruskan kalimatnya.
"Tidak ! Aku tidak mau ! Tidak, tidak, tidak !" Leon meninju pilar yang berdiri kokoh di sampingnya. Meluapkan segala keputusasaan yang dia miliki selama ini.
"Penjaga !" teriak Charles memanggil dua penjaga pintu gerbang.
Tak butuh waktu lama bagi dua orang itu untuk segera datang menghampiri Charles dan Leon yang masih bersitegang.
"Ya Tuan !" jawab mereka serempak.
"Seret pemuda ini keluar dari tempat tinggalku !" perintah Charles tegas.
Kedua penjaga itu saling berpandangan ragu. Antara mau atau tidak, mereka masih setia berdiri mematung di tempat mereka. Keduanya memang sudah mengenal Leon karena pemuda itu menunjukkan kartu identitasnya ketika memaksa masuk ke dalam kediaman Aldric tadi. Nyali mereka seolah menciut saat tahu bahwa Leon adalah putra Duke Xander.
"Apa kalian tuli ? Ku bilang seret dia keluar dari tempat tinggalku !" teriak Charles keras.
Melihat kemurkaan yang di perlihatkan Charles, kedua penjaga itu pun segera melaksanakan tugasnya.
"Baik !" jawab salah satu dari penjaga itu.
Leon pun di seret paksa dan di dorong begitu saja hingga terjerembab di tanah. Kedua penjaga itu kemudian bergegas menutup dan mengunci pintu gerbang agar Leon tidak lagi bisa masuk.
__ADS_1
"Buka pintunya ! Aku ingin bertemu Aru ! Buka !" teriak Leon sambil berusaha menggedor-gedor pintu gerbang berwarna hitam itu. Dia terus melakukan hal itu tanpa lelah hingga satu jam ke depan. Tetapi sayang, usahanya tak membuahkan hasil yang di inginkan sehingga Leon mau tak mau menyerah dan memutuskan pergi dari kediaman keluarga Aldric.
* * *
Sekarang Arumi sedang duduk diruang keluarga bersama Charlie, Charles dan Isabella. Kedua orang tua Arumi hanya bisa mendesah samar saat mendengar segala pengakuan Arumi mengenai hubungan diam-diamnya selama ini bersama Leon. Arumi menangis di dalam pelukan Isabella. Charlie di belakangnya turut memeluk dirinya. Sementara Charles hanya bisa menatap prihatin.
"Bukankah uncle sudah pernah mengingatkanmu Aru ?" desah Charles pasrah.
"Maafkan Arumi, Uncle ! Aru terlalu di butakan cinta," ucap Arumi menyesal.
"Sudah sayang ! Ini bukan salahmu ! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Oke ?" kata Isabella yang berusaha memberi penghiburan.
Arumi tak menjawab. Dia hanya terus menangis di dalam pelukan Isabella yang terasa sangat nyaman untuk ia tempati meringkuk saat ini.
* * *
"Dad ! Mom ! Aku akan berangkat lebih awal hari ini." Charlie menyudahi sarapannya dan segera menghabiskan susu hangat miliknya. Dia kemudian mengambil tasnya dan bersiap untuk segera pergi.
"Tidak Dad ! Hanya saja, aku harus ke tempat Aunty Nastya dulu. Ponsel Aru dan tasnya kemarin ketinggalan di butik," jawab Charlie jujur.
"Baiklah ! Berhati-hatilah menyetir !" kata Charles mengingatkan.
"Thanks Dad !" Charlie tersenyum dan menghadiahkan kecupan ringan di pipi Charles. Ia kemudian beralih mencium pipi Isabella dan akhirnya benar-benar beranjak meninggalkan rumah.
Selepas kepergian Charlie, hanya tersisa Isabella dan Charles di meja makan. Arumi memang sengaja tidak mereka panggil sarapan bersama karena gadis itu masih terlelap. Entah, jam berapa gadis cantik itu berhenti menangis. Yang jelas, matanya benar-benar sudah seperti habis di sengat lebah saking bengkaknya.
"Lebih baik kau bawakan sarapan untuk Arumi ke kamarnya, Sayang !" kata Charles memberi usul.
"Iya. Setelah kau berangkat, aku akan mempersiapkan sarapan untuk Arumi. Jangan khawatir," balas Isabella sambil mengelus lembut lengan suaminya.
Charles mengangguk dan melanjutkan memakan sarapannya kembali.
"Sayang ! Tolong temani Aru terus. Aku takut jika gadis itu nekat melakukan hal bodoh !" peringat Charles sebelum berangkat.
__ADS_1
"Jangan menakutiku seperti itu sayang !" Isabella mencubit lengan Charles khawatir.
"Aku bukannya menakutimu ! Tapi untuk berjaga-jaga, tidak apa-apa bukan ? Aku hanya takut Arumi berpikiran singkat."
"Baiklah ! Aku akan selalu menemaninya sepanjang hari ini," putus Isabella menyetujui.
"Kalau begitu, aku berangkat sekarang !" Charles mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir istrinya sebelum keluar rumah.
Isabella melambaikan tangan seraya tersenyum. Setelah bayangan suaminya tak terlihat lagi, dia pun menyiapkan sarapan untuk Arumi. Sepiring omelette, roti selai nanas dan juga susu hangat. Wanita paruh baya itu kemudian bergegas naik ke kamar Arumi. Dia mengetuk pintu perlahan saat sudah tiba di depan kamar gadis cantik itu.
"Aru sayang ! Kau sudah bangun ? Ini Aunty, Sayang !" teriak Isabella.
Tak ada jawaban dari dalam kamar. Isabella kemudian memutuskan untuk membuka sendiri pintu kamar Arumi. CEKLEK ! Pintu terbuka. Ternyata tidak di kunci sama sekali.
Isabella kemudian melenggang masuk ke dalam kamar Arumi. Meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas, Isabella kemudian duduk di tepi ranjang dan menggoyang-goyangkan tubuh gadis itu.
"Sweetheart ! Ayo bangun !" pinta Isabella dengan lembut.
Gadis itu bergeming. Dia tak bergerak dan tak juga membuka mata. Menyadari ada sesuatu yang aneh, Isabella meletakkan punggung tangannya di dahi Arumi. Dan benar dugaannya. Gadis itu sedang demam. Buru-buru Isabella berlari ke kamarnya. Dia segera menelepon dokter untuk segera datang.
* * *
"Dia tidak apa-apa, Nyonya ! Hanya sedikit kelelahan dan tekanan darahnya memang sangat rendah," ucap dokter Ford.
"Terima kasih Dokter Ford !" balas Isabella yang kini mulai bisa bernapas lega.
"Tolong perhatikan kondisi nona Arumi, Nyonya ! Jangan sampai dia terlalu stres dan banyak pikiran. Itu bisa mempengaruhi kondisi tubuhnya," kata Dokter Ford mengingatkan.
"Tentu Dokter Ford !" jawab Isabella sembari mengangguk.
Setelah mengantar dokter Ford keluar, Isabella kembali ke kamar Arumi. Dia duduk sambil menggenggam tangan Arumi dan menciumnya dengan lembut.
"Kasihan sekali hidupmu, Sweetheart ! Padahal, kau tidak pantas mendapatkan semua ini. Kau tidak pantas untuk di sakiti," tangis Isabella pecah.
__ADS_1