
Irgi tergugu mendengar perkataan Darius. Ada rasa haru dan bangga yang tiba-tiba saja merasukinya ketika tahu bahwa perempuan penyabar yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya kini menjelma menjadi seseorang yang hebat. Gadis itu sudah mewujudkan mimpinya dengan menjadi seorang desainer sungguhan. Irgi tahu bahwa Arumi memang sangat menyukai menggambar desain pakaian. Karena, beberapa kali Arumi pernah memperlihatkan gambarnya pada Irgi namun tidak pernah sekali pun di pedulikannya. Untuk Irgi yang saat itu merasa menjadi korban satu-satunya, perbuatan Arumi sama sekali di anggap tak berarti.
Namun, kini semuanya telah berubah. Semenjak Irgi mengetahui fakta sebenarnya di balik kasus berubahnya calon mempelai di hari pernikahannya, Irgi sekarang tak lagi menaruh benci kepada Arumi. Bahkan, Irgi hanya ingin kembali pada mantan istri yang telah dia sia-siakan itu. Memulai hidup baru dari awal lagi dan menggapai berbagai mimpi yang dulu pernah tertunda bersama.
"Aku tidak menyangka bahwa Aru benar-benar sudah menggapai mimpinya," gumam Irgi dengan senyum kecil.
Darius ikut tersenyum kecil. " Irgi ! Sejak awal kau sudah ku beritahu, bukan ? Arumi itu perempuan yang baik. Dia tidak sejahat yang orang lain ceritakan ! Andai saja kau mendengar kata-kataku, pasti kau tidak akan pernah sehancur ini !"
"Ya. Aku tahu bahwa semua ini terjadi juga karena salahku ! Dan sekarang aku sudah menyesalinya jauh lebih dalam dari yang orang-orang tahu. Aku merindukan dia, Darius !" lirih Irgi dengan tatapan sayunya yang penuh permohonan.
Darius menghela napas. Sepertinya, Irgi memang benar-benar sudah menyesali perbuatannya. Untuk apa dia selama ini terlalu memuja batu kerikil yang ia temukan di jalan dan malah mengabaikan berliannya yang begitu berharga ?
"Akan ku beritahu di mana butik tempat Arumi bekerja. Hanya saja, aku ragu jika dia masih di sana," kata Darius.
"Apa maksudmu ?"
"Harusnya, dua hari yang lalu, Arumi sendiri yang mengantarkan jas dan gaun pengantin untuk kami. Tapi, yang datang bukan dia. Melainkan orang lain," jawab Darius.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mencari jejaknya dari sana jika Arumi memang benar-benar sudah tidak bekerja di butik itu," ucap Irgi bersikukuh. Apapun yang terjadi, kali ini ia tak akan kehilangan petunjuk mengenai keberadaan Arumi lagi.
* * *
Irgi sampai di depan sebuah butik bertuliskan 'Carole Bigielman' di atas pintu masuk. Dengan langkah tak sabaran, Irgi memasuki butik yang terkesan glamour dan vintage itu sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Selamat siang, Tuan ! Ada yang bisa kami bantu ?" Seorang pegawai wanita datang menyapa Irgi dengan ramah dan sopan.
"Aku ingin menanyakan seseorang. Bisakah anda membantuku ?" tanya Irgi seraya mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya.
"Tentu saja. Jika saya tahu, pasti akan saya bantu !"
__ADS_1
"Ini dia. Anda mengenalnya ?" Irgi memperlihatkan sebuah foto gadis yang sedang bermain dengan hewan peliharaannya di atas tangga. Hanya itu foto Arumi satu-satunya yang ia punya selain foto pernikahan mereka. Itu pun, bukan Irgi yang memotret. Melainkan Farel, anak dari kakak sepupunya yang lain.
Pegawai wanita itu tersenyum usai melihat foto tersebut. Tentu dia sangat tahu siapa gadis cantik yang ada di dalam foto yang di tunjukkan Irgi.
"Tentu saja saya sangat mengenalnya. Dia Arumi Liem, mantan desainer di butik kami."
"Mantan desainer ? Maksudnya, Aru sudah berhenti ?"
"Iya, Tuan. Saya dengar, Aru sudah kembali ke negaranya sekitar 3 minggu yang lalu," kata pegawai itu dengan jujur.
Irgi terhenyak mendengar pernyataan pegawai itu. Ternyata, Arumi sudah berada di Indonesia. Tapi, kenapa mereka belum pernah bertemu selama ini ? Apa keluarganya sengaja menyembunyikan keberadaannya dari Irgi ? Ya. Itu mungkin saja. Pasti semuanya adalah ulah Beverly dan ibunya karena tidak terima Irgi menceraikan Beverly.
"Apaan-apaan kau, Jill ? Kenapa kau membocorkan informasi pegawai kita ke sembarang orang ?"
"Maafkan saya, Nyonya !" kata Jill.
"Kembali ke belakang !" perintah Nyonya Nastya.
"Baik !" Jill mengangguk dan segera pergi dari sana.
Kini hanya tersisa Irgi dan Nyonya Nastya. Tatapan wanita pemilik butik itu masih terlihat tajam ke arah Irgi.
"Siapa kau ? Kenapa kau menanyakan informasi pribadi mengenai pegawaiku ?"
"Maaf jika saya lancang, Nyonya !" ujar Irgi yang merasa tidak enak. "Saya Irgi, suami dari Arumi !" lanjutnya lagi.
Nyonya Nastya mengangkat sebelah alisnya sebelum tertawa lebar. "Suami ? Setahuku, Arumi itu sudah bercerai. Dan mungkin saja, kau mantan suami br*ngsek yang di ceritakan itu !"
__ADS_1
"Apa Arumi mengatakan semuanya pada anda, Nyonya ?" tanya Irgi setengah tak percaya.
"No. Bukan Aru, tapi Charlie !" ucap Nyonya Nastya sembari menggeleng kecil. Beberapa saat kemudian, tawa wanita mereda dan berganti raut wajah serius kembali.
"Pergilah dari sini ! Jill sudah memberitahumu bahwa Arumi tidak di sini lagi," lanjut Nyonya Nastya seraya berjalan menuju ke ruangan pribadinya.
Irgi masih mematung di tempatnya. Charlie ? Siapa Charlie yang di maksud Nyonya Nastya ? Itu adalah nama yang terdengar asing di telinga Irgi. Ia tidak pernah tahu bahwa Arumi ternyata memiliki teman dengan nama seperti itu. Atau, apa dia kekasih Arumi ? Jika benar, maka usahanya untuk mendapatkan Arumi tentu tidak akan berjalan mulus.
* * *
"Aru ! Bagaimana jika yang ini ku pasang di patung yang di depan sana ?" Selina datang dengan membawa sebuah dress panjang berwarna hitam dengan belahan memanjang hingga ke atas paha tepat di bagian kaki sebelah kiri.
"Ya. Itu terlihat cantik. Lakukan saja, Sel !" jawab Arumi yang juga sedang sibuk menata pajangan baju di sepanjang rak yang menempel pada dinding.
Hari ini adalah hari peresmian butik Arumi. Semua berjalan cepat berkat bantuan dari Selina yang mencarikan Arumi pegawai tanpa perlu menunggu lama. Meski koleksi pakaiannya masih terbilang sedikit, namun Arumi sudah mantap untuk melakukan launching perdana hari ini. Koleksi baru pasti akan bertambah seiring waktu jika pelanggan mulai banyak yang berdatangan.
"Kau siap untuk hari ini, Aru ?" tanya Selina seraya merangkul bahu Arumi. Keduanya memandangi suasana butik dengan perasaan puas.
"Tentu saja. Terima kasih sudah membantuku, Sel !"
"Sama-sama !" Selina tersenyum.
Arumi kembali memulai awal yang baru. Namun, kali ini terasa sedikit berbeda. Bayang-bayang Leon masih membekas dalam ingatan gadis itu. Setiap apapun yang Arumi lakukan, rasanya selalu ada Leon yang mendekapnya dari belakang. Selalu membisikkan kalimat agar Arumi tak menyerah ketika dia sudah hampir tumbang karena kelelahan.
Setiap mata Arumi ingin terpejam di malam hari, bayangan Leon yang memohon padanya terakhir kali selalu menjadi ingatan paling menyakitkan yang terus mengantar Arumi memasuki mimpi buruk. Entah bagaimana kabar pemuda itu sekarang. Arumi hanya berharap, pernikahan Leon dan Claire akan berjalan bahagia. Gadis itu sudah merelakan cintanya kandas untuk kedua kali namun belum bisa mengikhlaskan sepenuhnya.
Dua hari lagi. Hanya tinggal dua hari lagi, Claire dan Leon akan resmi menjadi sepasang suami istri. Dan untuk itu, Arumi sudah memasang tembok tinggi-tinggi. Mencegah ombak kesakitan untuk meluluh-lantahkan hatinya untuk ke sekian kali karena pernikahan pria yang di cintainya dengan perempuan lain. Perempuan yang setara dengan gelar kebangsawanan yang kekasihnya miliki.
"Semoga kau bahagia, Leon !".
__ADS_1