Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#20


__ADS_3

"Sudah pulang, sayang ? Tumben sekali kau terlambat." Sambut Isabella seraya melirik jam besar yang terdapat di ruang tamu.


Sudah pukul 8 malam saat Arumi tiba di mansion keluarga Aldric. Jadi, wajar jika Isabella sedikit bertanya-tanya karena gadis itu tak pernah lewat dari pukul 6 sore jika tiba di rumah.


"Maaf, aunty ! Tadi Arumi habis berjalan-jalan sebentar." Jawab gadis itu sekenanya.


"Kau pasti lapar. Makanlah dulu sebelum kau beristirahat, Aru !"


"Baik, Aunty. Terima kasih." Arumi tersenyum sambil menyaksikan Isabella yang sudah menaiki tangga untuk ke kamarnya.


Arumi lagi-lagi menghela napas panjang. Pertemuannya dengan Leon tadi benar-benar membuat Arumi merasa frustasi. Dia ingin menghindari pria itu untuk selamanya, namun bagaimana caranya ? Arumi bahkan tidak bisa dengan tegas mengusir Leon begitu saja karena pria itu tak pernah menganggap amarah Arumi sebagai sesuatu yang harus dia hindari. Justru yang ada, semakin Arumi membencinya, semakin Leon menempel padanya seperti lintah.


"Apa yang sedang kau pikirkan, Aru ?" Charlie tiba-tiba datang dan menyentak Arumi dari lamunannya.


"Bisakah kau datang tanpa harus mengagetkan aku ?" Protes Arumi sebal.


"Makanya, kalau makan ya makan, Aru ! Jangan malah di selingi dengan melamun." Ujar Charlie acuh. Gadis tomboy dengan baju tanktop berwarna hitam dan bawahan hotpants berwarna hijau itu duduk di hadapan Arumi sambil meraih buah apel di keranjang buah di dekatnya.


Arumi hanya berdecak kesal sambil memasukkan potong steak yang sudah dia potong ke dalam mulutnya. Matanya melotot horor pada Charlie yang menatapnya seperti orang yang sedang menonton badut di arena sirkus.


"Apa yang kau lihat ? Kenapa tertawa begitu ?" Tanya Arumi ketus. Dirinya benar-benar tidak tahan dengan tatapan mengejek dari sahabat baiknya yang saat ini sedang memakan apel merah di hadapannya.


"Ada apa denganmu ? Kenapa kau terlalu sensitif malam ini ? Apa ada hubungannya dengan keterlambatanmu pulang malam ini ?" Charlie memajukan badannya mendekati Arumi yang di balas dengan ancaman akan menusuk Charlie dengan garpu jika gadis itu tidak segera kembali ke posisi duduknya.


"Jangan sok tahu, Char !" Kilah Arumi cepat. Dia tidak ingin Charlie tahu apapun tentang pertemuannya kembali dengan Leon sore tadi.


"Apa yang kau tutupi dariku, gadis nakal ?" Mata Charlie memicing, menatap Arumi penuh selidik.


Arumi menegakkan punggungnya akibat pertanyaan dari Charlie. Gadis tomboy itu memang paling peka jika Arumi berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Aku tidak sedang menutupi apapun darimu, Char ! Sungguh." Ucap Arumi meyakinkan.


"Lalu kenapa matamu malah menatap ke arah lain dan bukan padaku jika kau sedang tidak menutupi apapun ?"


"Astaga ,Charlie ! Tidak bisakah kau mempercayaiku sedikit saja ?"

__ADS_1


"Maaf, Aru ! Aku tidak bisa."


"Ya sudah. Terserah apa maumu saja, Charlotte !" Ucap Arumi sambil beranjak pergi meninggalkan Charlie sendirian di meja makan.


"Charlie ! Panggil aku, Charlie, Arumi Liem !" Pekik Charlie tak terima karena Arumi baru saja memanggil dirinya dengan nama asli dan bukan nama samaran.


Gadis tomboy itu kemudian mengggaruk-garuk dagunya seraya berpikir keras. Dirinya tetap yakin bahwa Arumi pasti sedang menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.


* * *


"Aru , bagaimana dengan gaun pengantin yang kau kerjakan ?" Tanya Nyonya Nastya yang baru saja tiba.


"Sudah selesai 40 persen , Nyonya ! Anda bisa lihat sendiri." Jawab Arumi.


Nyonya Nastya mendekat dan melihat gaun pesanan nona muda yang sedang di kerjakan oleh Arumi. Aksen-aksen dan detail-detail yang sulit sudah jadi hampir setengahnya. Dia bahkan yakin bahwa gaun pengantin itu bisa Arumi selesaikan sebelum tenggat waktu yang di berikan.


"Kerja bagus, Aru ! Aku menyukai hasil kerja kerasmu." Puji Nyonya Nastya dengan bangga.


"Oh iya, pemilik gaun ini akan datang nanti siang untuk melihat gaun pengantinnya. Pastikan kau melayani dia dengan baik karena aku tidak akan ada di sini saat dia datang." Tambah Nyonya Nastya.


"Jane Claire Savich. Dia nona muda keluarga Savich."


Arumi mengangguk dan melafalkan nama itu dalam otaknya. Nama yang sudah tidak asing lagi mengingat pemiliknya adalah seorang selebriti papan atas yang sudah terkenal dimana-mana.


"Baik, Nyonya. Anda bisa mempercayakannya pada saya."


"Bagus !" Nyonya Nastya menepuk bahu Arumi beberapa saat sebelum dia kembali pergi.


Waktu terus bergulir hingga siang hari datang tanpa terasa. Seorang gadis cantik berkulit putih dengan rambut pirang dan dress merk ternama di atas lutut bergerak memasuki butik dengan di dampingi oleh dua orang lelaki yang bisa Arumi tebak adalah Miss Savich dan bodyguardnya.


Segera, Arumi melangkah dan menyambut tamu terhormat itu dan mempersilahkannya duduk di sofa empuk yang terletak di tengah-tengah butik.


"Selamat datang, Miss Savich !" Sambut Arumi sembari membungkukkan badan.


Perempuan cantik berambut pirang itu membuka kacamata hitam yang sedari tadi membingkai wajah cantiknya lalu tersenyum pada Arumi.

__ADS_1


"Tidak usah terlalu formal. Panggil namaku saja, Claire." Jawab Claire tersenyum.


"Baik, Miss Claire." Angguk Arumi.


"Hanya Claire, tidak pakai nona." Geleng Claire memperingatkan.


Arumi kembali mengangguk dengan begitu canggung. Dirinya merasa tidak enak jika hanya memanggil Claire dengan embel-embel tanpa nona di depan nama gadis itu. Biar bagaimana pun, Claire adalah tamu VVIP butik Nyonya Nastya sekaligus putri dari politisi terkenal di negara ini.


"Kau pasti Arumi, kan ?" Tebak Claire tanpa ragu.


"Benar. Saya Arumi."


"Ternyata wajahmu memang sangat cantik, Arumi." Puji Claire terkekeh.


"Nyonya Nastya sudah bercerita tentangmu terhadapku. Dia bilang kau adalah designer termuda yang dia miliki namun memiliki bakat yang luar biasa hebat. Kau tahu ? Nyonya Nastya selalu membanggakanmu pada siapapun yang dia temui." Ucap Claire panjang lebar.


"Nyonya Nastya kadang terlalu berlebihan, nona." Kekeh Arumi.


"Claire. Hanya Claire, Arumi." Ujar Claire mengingatkan.


Gadis asia di depannya hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seraya memperlihatkan senyum cantik tak berdosanya.


"Di mana gaunku ? Bolehkah aku melihatnya ?"


"Tentu saja. Ikutlah denganku." Ajak Arumi antusias.


Terus terang dia merasa sedikit tegang karena ini adalah kali pertama Claire datang untuk melihat langsung bentuk gaun pengantin yang dia pesan. Nona muda keluarga kaya itu selama ini hanya melihat desainnya saja melalui foto dan belum pernah melihat bahkan menyentuhnya secara langsung.


"Ini dia. Ini masih 40 persen. Jadi, jika bentuknya masih agak aneh, harap anda maklum." Terang Arumi sambil memperlihatkan gaun setengah jadi yang dia buat kepada pemiliknya.


"Wow ! Ini cantik Arumi. Apa kau yang memasang hiasannya sendiri ?"


Arumi mengangguk tersenyum membenarkan perkataan Claire.


"Aku menyukainya Arumi. Aku benar-benar sangat menyukainya." Sambung Claire penuh semangat.

__ADS_1


"Saya senang jika anda menyukainya." Ucap Arumi bernafas lega. Ketegangan yang sempat meliputinya karena takut Claire akan tidak menyukai gaun buatannya langsung sirna seketika saat melihat Claire begitu antusias atas karya yang sudah Arumi buat.


__ADS_2