
Leon tiba di mansion sambil memarkirkan mobilnya sembarangan. Ronald yang melihat Leon dalam keadaan emosi yang meluap-luap langsung mengekori pemuda itu ketika berderap menuju ke kamar tidur Duke Xander.
"Daddy !" panggil Leon keras.
Tak ada jawaban, Leon berpindah ke ruang baca.
"Daddy ! Kau di mana ?" teriak Leon tak sabaran.
"Tuan Muda, ada apa ? Kenapa anda semarah ini ?" tanya Ronald gusar sambil berdiri di depan pintu ruang baca. Menghalangi langkah Leon yang hendak keluar dari ruangan itu.
"Bukan urusanmu, Ronald !" bentak Leon sambil mendorong kasar tubuh Ronald.
Leon bergerak menuju ke taman belakang mansion. Mulutnya masih berteriak lantang mencari-cari di mana keberadaan Daddynya.
Sementara Ronald tetap gigih membuntuti langkahnya dengan tergopoh-gopoh dari arah belakang.
"Di mana dia ?" tanya Leon pada Ronald.
"Dia siapa Tuan Muda ?" Ronald balik bertanya.
"Daddyku !" geram Leon bertambah kesal.
"Ah, beliau tadi sore sudah berpesan bahwa dia tidak akan kembali ke rumah dua hari ke depan," terang Ronald.
"Ada di mana dia sekarang ?"
"Maaf Tuan Muda. Saya tidak tahu," jawab Ronald.
Leon berdecih sebal sembari menendang pot bunga yang berada di dekat kakinya. Menyebabkan pot itu retak dan membuat tanah sekaligus bunga di dalamnya terhambur keluar.
Mata Ronald membulat seketika. Tindakan Leon akhir-akhir ini sudah benar-benar keluar jalur. Pemberontakannya sudah berada di level maksimal.
__ADS_1
"Ada apa ?" tanya Leon sinis. "Belum pernah melihat seseorang menendang pot bunga, hah ?" lanjutnya sambil berkacak pinggang.
"Bukan seperti itu Tuan Muda. Hanya saja, saya berpikir bahwa itu bukanlah tindakan yang bijak untuk di lakukan oleh seorang bangsawan seperti anda," tukas Ronald berterus terang. Matanya sejak tadi tetap menunduk ke bawah.
"Memangnya, seorang bangsawan yang normal harus bertingkah seperti apa Ronald ? Apa harus bertingkah anggun dan menuruti setiap perkataan orang yang lebih tua ? Bahkan, hewan yang tak memiliki akal sekalipun akan melawan jika merasa tersakiti. Lantas, kenapa aku tidak boleh membangkang sekali-sekali Ronald ? Apa kedudukanku jauh lebih rendah dari hewan-hewan itu ?"
Ronald membisu. Dia bingung harus menjawab apa karena yang di katakan Leon semua ada benarnya. Untuk apa memiliki harta dan kedudukan jika kebahagiaan tidak berdiri berdampingan dengan keduanya ?
"Saya hanya khawatir anda mendapatkan hukuman lagi dari Duke !" kata Ronald kemudian.
"Masa bodoh dengan hukuman Daddy ! Aku sudah tidak peduli," kata Leon yang kembali masuk ke dalam mansion.
Pemuda itu melangkah menuju kamarnya. Ronald sudah berhenti mengikuti dan hanya menggeleng prihatin melihat betapa putus asanya Leon saat ini. Entah apa yang kali ini Duke Xander lakukan sehingga Leon bisa sangat semarah itu.
Tak lama, ponsel kepala pelayan mansion besar itu berbunyi. Melihat siapa nama yang tertera di layar panggilan tersebut, Ronald segera mencari posisi aman untuk mengangkat telepon.
"Ya, Duke ?"
"Apa Leon mencariku ?"
"Biarkan saja ! Bebaskan dia melakukan apapun yang dia inginkan selama dua hari ini. Aku ingin melihat sampai di mana harimau kecil itu akan terus menunjukkan taring dan kuku tumpulnya."
"Baik Duke ! Sesuai perintah anda."
Ronald menarik napas panjang. Lagi-lagi, dia merasa kasihan melihat Leon yang putus asa seperti itu. Entah siapa yang akan menjadi pemenang di garis akhir, Ronald sudah bisa menebak bahwa pasti Duke Xander akan tetap kalah. Seorang ayah tak akan pernah bisa menang melawan putranya.
* * *
Leon menyalakan shower dan membiarkan air hangat membasahi sekujur tubuhnya yang tak terbalut apa-apa. Pemuda itu membiarkan setiap jengkal tubuhnya terbasuh air sambil terus memikirkan bagaimana nasib Arumi.
Apa dia baik-baik saja ? Apa dia sudah tidur ? Apa dia sudah makan ? Apa dia pulang dengan selamat ? Semua pikiran itu terus menjalar dan membuat otak Leon tak bisa memikirkan hal lain lagi.
__ADS_1
Tak tahan dengan rasa khawatir yang berkecamuk memenuhi rongga dadanya, pemuda itu mematikan shower dan bergegas memakai jubah mandi. Dia keluar dari kamar mandi dan bergerak memasuki walk in closet untuk berganti pakaian. Setelah sudah rapi, Leon kembali meraih kunci mobil dan bersiap untuk pergi lagi.
* * *
Ponsel Charlie terus-terusan berdering di atas nakas. Arumi yang terusik akan suara dari benda pipih persegi panjang itu perlahan menggeliat dan membuka mata. Ia bangun dan meraih ponsel Charlie. Mata Arumi menyipit menyesuaikan cahaya ponsel yang memasuki iris matanya.
Tertulis nama Leon di layar panggilan itu. Arumi yang masih setengah sadar langsung terperanjat dan memperbaiki posisi duduknya. Dia mematikan panggilan dari Leon dan menggenggam erat ponsel Charlie dengan kedua tangannya.
Lagi, ponsel itu berdering. Arumi masih tetap mengabaikan panggilan dari Leon dan memilih mematikan ponsel Charlie secara total. Gadis itu memutuskan menuju ke kamar mandi. Membasuh wajah sembabnya dengan air dingin sambil menatap prihatin pada dirinya sendiri.
Kau harus kuat Aru ! Jangan sampai hanya karena Leon kau menghancurkan mimpimu lagi.
Arumi menarik beberapa helai tisu dan mengeringkan wajahnya. Dia kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar mandi dan bergegas turun ke lantai bawah untuk mencari makanan. Tiba-tiba, Arumi mendengar suara keras yang mirip seperti orang yang sedang bertengkar.
"Mina, ada ribut-ribut apa di luar ?" tanya Arumi pada salah seorang pelayan yang dia temui di dekat tangga.
"Nona Charlie bertengkar dengan seorang lelaki di depan pintu utama, Nona Aru," jawab Mina dengan santun.
"Lelaki ? Siapa ?" gumam Arumi penasaran. " Kau boleh pergi, Mina ! Terima kasih," lanjut Arumi mempersilahkan Mina kembali bekerja.
Gadis Asia itu melangkah menuju pintu utama. Sayup-sayup dia mendengar suara amarah Charlie yang berusaha mengusir seseorang.
"Jangan harap aku akan mengizinkanmu untuk bertemu Aru !" suara bentakan Charlie yang menyebut-nyebut namanya membuat Arumi semakin mempercepat ayunan kedua kakinya. Dan ketika dia sudah sampai di depan pintu, di lihatnya Charlie bersama Leon yang saling dorong mendorong.
"Biarkan aku masuk ! Aku ingin menemui Aru !" Leon masih berusaha merengsek masuk.
Air mata Arumi kembali menggenang. Gadis itu menarik napas panjang sebelum menghembuskannya dengan perlahan. Ia bersandar di balik pintu dengan sebelah tangannya menggenggam erat gagang pintu mendengar pertengkaran antara sahabat baiknya dan pria yang sudah mematahkan hatinya.
"Pergilah Leon ! Sudah cukup kau membuat Aru-ku menangis. Aku tak akan mengijinkan kau melakukannya lagi. Sudah cukup !" kata Charlie.
"Aku kemari hanya ingin menjelaskan semuanya, Char ! Aku tidak bermaksud berbohong pada Aru," balas Leon yang berusaha tetap membela diri.
__ADS_1
"Tidak bermaksud ? Mudah sekali kau berbicara. Pertunanganmu dan nona Claire sudah terjalin lama. Harusnya kau sudah mengakui hal itu sejak awal. Tapi apa ? Kau menutupi semuanya. Apa itu yang di maksud dengan tidak berniat berbohong ?" suara Charlie terdengar begitu sinis.
"Biarkan dia masuk Charlie !" suara serak Arumi berhas menghentikan pertengkaran antara Leon dan Charlie.