Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#37


__ADS_3

Leon baru saja selesai berganti pakaian di dalam walk in closet sebelum menemukan Claire yang sedang berbaring di tempat tidurnya sambil melihat-lihat majalah. Pria itu menghela napas kasar lalu bergegas memakai jam tangan di pergelangan tangan kirinya tanpa menghiraukan keberadaan Claire.


"Good Morning, Calon suami ! Kau tidak mau menyapaku ?" Claire tersenyum lalu meletakkan majalah bisnis yang baru saja dia baca di atas nakas.


Leon melirik Claire sekilas lalu kembali fokus pada aktifitasnya. Kini, dia sedang mengenakan jasnya dan bersiap untuk berangkat kerja pagi ini.


"Kenapa kau datang sepagi ini ?" Tanya Leon basa-basi.


"Memangnya kenapa ? Ada yang salah jika aku berkunjung pagi-pagi ke tempat calon suamiku ?" Ujar gadis itu balik bertanya. Kedua bahunya terangkat acuh.


"Jangan menyebutku dengan panggilan seperti itu. Aku tidak suka." Peringat Leon dengan tajam.


Claire tertawa sinis menanggapi ketidaksukaan Leon terhadapnya. Pria itu masih saja tidak mau menerima keberadaan dirinya sampai saat ini.


"Memangnya kenapa ? Ada yang salah ?"


"Kau tahu bahwa aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini, Jane !" Ujar Leon penuh penekanan.


"Lalu, kenapa kau tetap akan melakukannya jika tidak suka ? Batalkan saja jika kau mau." Tantang Claire seraya bersedekap. Seringai sinis masih menjejak di sudut bibirnya.


Leon bungkam akan perkataan Claire. Gadis itu paling tahu bahwa Leon sama sekali tidak akan bisa melakukannya. Semua keputusan berada di tangan Duke Xander.


"Kenapa kau diam, Sayang ? Kau tidak mau atau kau tidak bisa ? Hah ?"


"Jangan memancing emosiku pagi-pagi. Keluarlah !" Usir Leon muak.


Claire bangkit dari tempat tidur Leon, melangkah mendekati pria itu dan memainkan dasi berwarna hitam yang Leon kenakan.


"Kau lama-lama harus bisa menerimaku, Leon ! Kau sendiri tahu bahwa kau tidak bisa melawan ayahmu, kan ? Jadi, terima saja perjodohan ini dan belajarlah mencintaiku." Claire mendaratkan kecupan singkat di bibir Leon lalu bergegas keluar. Mengabaikan tatapan marah dan tidak suka pria itu yang sudah bersiap menyemburnya dengan makian jika saja dia tidak segera menyelamatkan diri. Menyenangkan bisa membuat mood Leon menjadi buruk sepagi ini.


"Selamat pagi, Jane !" Sapa Zack yang kebetulan berpapasan dengan Claire di lorong menuju kamar Leon.

__ADS_1


Claire berhenti dan menatap kesal pada Zack yang tampak kelihatan bodoh di hadapannya.


"Panggil aku, Claire ! Jangan sembarangan memanggil nama depanku dengan lancang."


"Memangnya kenapa ? Kurasa tidak ada yang salah." Sahut Zack bingung.


"Yang boleh memanggilku Jane hanya keluarga dekat, calon mertua dan calon suamiku saja. Makhluk kasta rendah sepertimu tidak layak untuk memanggil nama depanku dengan lancang. Kau mengerti ?" Ucap Claire dengan nada merendahkan.


Zack tertawa sumbang mendengar ucapan Claire. Apa begini watak asli calon menantu yang di pilih Duke Xander ?


"Apa tadi kau bilang ? Aku makhluk kasta rendah ?" Tanyak Zack memastikan.


"Ya. Kau makhluk kasta rendah. Jika saja kau tidak menjilat pada Leon, mana mungkin kau memiliki kesempatan bekerja di perusahaan milik Duke Xander."


"Jaga bicaramu, Miss Savich. Kau sudah sedikit keterlaluan." Zack masih tersenyum meski rasa jengkel sudah mendominasinya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, tuan penjilat ? Ingin membalasku ?" Claire mendekatkan wajahnya ke wajah Zack. Mengolok pria itu dengan tatapan sinis merendahkan sebelum menjauhkan wajahnya kembali.


"Kau mengancamku ?"


"Tidak. Ini bukan ancaman. Hanya sedikit nasehat." Zack menepuk pundak Claire yang langsung tepis gadis itu. Setelahnya, ia melanjutkan langkah menemui Leon di dalam kamarnya.


* * *


"Cari tahu siapa gadis yang dekat dengan Leon akhir-akhir ini !" Perintah Claire pada seseorang yang sedang dia telepon. Perempuan cantik itu sedang berada di salah satu apartemen mewah miliknya yang terletak di pinggir kota Paris.


Setelah mendapatkan jawaban dari orang suruhannya, Claire mematikan sambungan teleponnya sambil menyeringai sinis.


"Sebentar lagi, kita akan lihat ! Apa kau masih akan bertingkah acuh terhadapku atau tidak Leon !"


Perempuan cantik itu sudah menyusun skenario sempurna untuk menghancurkan siapa pun gadis yang sudah berani mengganggu calon suaminya. Siapa pun gadis itu. Dari keluarga kaya mana pun dia berasal, Claire akan memberi balasan yang cukup mahal karena sudah menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Itu harga setimpal untuk di bayar oleh gadis tidak tahu diri yang sudah merebut cinta tunangan Claire.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang ?" Seseorang baru saja tiba dan memeluk pinggang ramping Claire dari belakang. Menghadiahkan kecupan di pipi dan leher Claire beberapa kali yang membuat perempuan cantik itu tertawa geli.


Claire memutar tubuhnya sembari mengalungkan kedua tangannya di leher pria berambut hitam itu. Bibirnya menabrak bibir pria itu singkat lalu memeluknya.


"Kapan kau tiba ?" Tanyanya pada pria yang tengah dia peluk.


"Baru saja." Jawab pria itu singkat.


"Aku merindukanmu, Max !" Claire tersenyum. Menghadiahkan ciuman kembali pada bibir pria yang selama ini sudah menjalin hubungan diam-diam dengannya. Bukan sebagai pacar. Lebih seperti simbiosis mutualisme. Hubungan pertemanan dengan keuntungan yang bisa memuaskan keduanya.


Max sudah tahu bahwa Claire sudah bertunangan dengan Leon dan akan segera menikah. Pun dengan Claire. Dia juga sudah tahu bahwa Max memiliki seorang kekasih yang sama-sama bekerja di bidang entertainment seperti dirinya. Bahkan, bisa di bilang bahwa Claire dan kekasih Max berteman cukup baik. Namun, mereka tetap saja nekat bermain api. Mencari kepuasan yang sama-sama tidak mereka dapatkan dari pasangan masing-masing.


* * *


"Bersiaplah ! 15 menit lagi aku akan menjemputmu !"


Begitu isi pesan yang baru saja Arumi terima dari pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya. Tunggu ! Apa Arumi baru saja bilang kekasih ? Astaga ! Wajah gadis itu kembali memerah. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan kekasih sesempurna Leon. Rasanya sekujur tubuh Arumi mendadak terbakar. Entah kenapa, dirinya merasa bangga sendiri ketika menyadari bahwa dirinyalah gadis paling beruntung yang bisa mendapatkan seorang Leon Wyatt Wellington.


Dengan senyum merekah indah, gadis asia itu buru-buru menyelesaikan tugasnya segera. Mengabaikan segala tatapan heran rekan kerja yang lain terhadap dirinya. Gadis itu sedang senang. Jadi, jangan sampai ada yang berani-berani mengganggu mood-nya saat ini.


Pukul 5 sore tepat, Arumi keluar dari butik dan menemukan Leon sudah berdiri gagah dengan bersandar di tiang lampu jalan tepat di depan butik. Pria itu masih lengkap mengenakan setelan jas kerja yang baru kali ini Arumi lihat sepanjang mereka saling mengenal. Dan entah kenapa, ketampanan pria itu berada di level tertinggi yang pernah Arumi lihat. Bolehkah, Arumi memfoto pose Leon yang sudah mirip foto model profesional itu ?


" Hai !" Pria itu melambaikan tangan saat menyadari keberadaan Arumi. Dia tersenyum lebar dan berlari kecil menghampiri Arumi yang tampak mematung memperhatikan dirinya.


"Aru ? Ada apa ?" Tanya Leon heran. Pasalnya, mata gadis itu sejak tadi mengunci dirinya. Entah karena hal apa, Leon juga tidak tahu.


"Kau terlihat tampan memakai setelan jas seperti ini." Puji Arumi jujur.


Wajah Leon langsung bersemu merah menahan malu. Hatinya bersorak senang mendengar Arumi memujinya.


"Kau menyukainya ?" Tanya pria itu sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

__ADS_1


"Ya. Sangat." Arumi tersenyum lebar menampakkan jejeran gigi putihnya. Leon sudah hampir meleleh karena melihat senyum cantik itu. Jantungnya seperti mau meledak karena gadis asia kesayangannya selalu saja bisa membuat Leon melambung ke langit ke tujuh.


__ADS_2