
Melihat Irgi yang sudah tersungkur ke lantai, Arumi dengan segera ingin berlari menjauh dari sana. Namun, sebuah tarikan pada pergelangan tangannya membuat gadis itu kembali menjerit histeris.
"Lepaskan aku ! Lepas..." teriaknya ketakutan.
"Hei ! Aru, ini aku ! Selina !" ucap Selina sambil berusaha menahan kedua bahu Arumi.
Gadis yang masih bergetar ketakutan itu berusaha menjernihkan pandangannya dari air mata yang membuatnya berkabut. Jelas melihat siapa sosok yang sedang memegangnya, Arumi langsung memeluk tubuh Selina dengan erat.
"Tenang, Aru ! Kau sudah aman bersamaku !" kata Selina menenangkan.
"Nona Selina, mau di apakan pria mesum ini ?" tanya pria yang baru saja mendaratkan pukulan pada wajah Irgi. Dia adalah Lukas, bodyguard Selina.
"Suruh dia pergi dari sini ! Kalau tidak mau, seret paksa saja sekalian !" tegas Selina dengan rasa geram yang luar biasa.
Irgi mendengus marah. Ia bangkit sambil memperbaiki jasnya yang sempat kusut. Pria itu menatap Arumi yang sedang terisak di dalam pelukan Selina dengan pandangan nanar. Untuk ke sekian kali, yang bisa ia lakukan hanyalah melukai Arumi. Namun, Irgi juga tidak memiliki pilihan lain, bukan ? Jika dengan cara baik-baik Arumi enggan menerimanya, maka Irgi rela melakukannya dengan cara kotor sekalipun asal Arumi bisa menjadi miliknya kembali.
"Aru, kau marah ?" tanya Irgi dengan nada lembut meski tidak terkesan menyesal.
"Selina, suruh dia pergi dari sini ! Aku tidak ingin melihatnya," ujar Arumi tanpa niat melihat wajah Irgi.
Baginya, sudah cukup Irgi selalu menggoreskan luka yang sama di hatinya. Dulu, ketika Arumi begitu mencintai pria itu, namun Irgilah yang membuat Arumi menjauh. Dan, ketika Arumi sudah menjauh, justru Irgi yang malah memaksa untuk dekat kembali dengan Arumi.
Lukas segera menangkap tubuh Irgi. Berniat menyeret paksa pria itu jika tidak mau pergi sendiri dari sana. Namun, Irgi segera memberontak menolak sentuhan Lukas.
"Aku bisa pergi sendiri !" ucap Irgi menahan emosi.
"Aru, aku pasti akan datang lagi," lanjutnya sebelum melangkah pergi.
Selina dan Arumi lalu masuk ke dalam apartemen milik Selina. Sementara, Lukas menyusul Irgi. Pria itu mendapatkan tugas untuk memastikan Irgi benar-benar pergi dari sana.
"Kau sudah tidak apa-apa ?" Selina duduk di dekat Arumi yang sedang menyesal teh Chamomile di ruang tamunya.
"Ya. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena kau datang tepat waktu, Sel !" ujar Arumi tersenyum.
__ADS_1
"Habiskan tehmu ! Itu akan membuat pikiranmu menjadi sedikit lebih tenang dan rileks !"
Arumi mengangguk. Tak ada lagi yang bisa ia ucapkan lewat mulutnya yang masih terasa kelu untuk berbicara. Ancaman Irgi masih terngiang-ngiang di kepalanya. Pria itu berjanji akan datang kembali. Hal itu membebani Arumi dengan ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika Irgi melakukan hal seperti tadi lagi terhadapnya ? Jika hari ini ia bebas karena kebetulan Selina pulang tepat waktu, namun besok bagaimana ? Siapa lagi yang akan muncul untuk menyelamatkannya dari Irgi ?
* * *
Pukul 22.30 waktu Indonesia barat, pria bersurai brunette itu sudah menginjakkan kaki di bandara sambil menggeret satu koper besar di tangan kanannya. Ia melepas kacamata hitam yang membingkai wajahnya sedari tadi. Tersenyum dan melambaikan tangan ketika Alarick sudah berdiri tak jauh dari tempat ia berada sekarang.
Tanpa menunggu waktu lama, Leon segera mempercepat langkah kakinya lalu menghadiahkan sebuah pelukan pada Alarick. Salah satu kerabat jauh ayahnya yang menetap di Indonesia.
"Leon, apa kabar ?" tanya Alarick dengan senyum sumringah.
"Aku baik-baik saja, Rick ! Bagaimana denganmu ?" Leon melepas pelukannya dan memperhatikan penampilan Alarick dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.
"Semakin luar biasa setelah bertemu denganmu, Little brother !" balas Alarick terkekeh.
"Ingin langsung ke rumah atau berkeliling dulu ?" tanya Alarick menawarkan.
"Oke ! As you wish, bro !" Alarick mengambil koper yang di bawa oleh Leon lalu menggandeng bahu sepupu jauhnya itu untuk melangkah keluar dari bandara.
Perjalanan dari bandara ke rumah Duke Xander yang ada di Indonesia ternyata hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja. Jauh lebih dekat dari perkiraan Leon sebelumnya. Pemuda bersurai brunette itu segera mengekori langkah Alarick yang jauh lebih dulu sudah berjalan masuk ke rumah berlantai dua itu.
"Rumah ini sudah di bersihkan siang tadi sebelum kau kemari ! Besok, akan ada dua pembantu yang datang untuk bersih-bersih dan memasak untukmu ! Mereka akan di sini sampai jam 5 sore. Jadi, jika butuh apa-apa kau bisa minta mereka untuk membelinya untukmu !" terang Alarick panjang lebar sembari menuntun Leon menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"Bagaimana menurutmu ?" tanya Alarick ketika membuka pintu kamar untuk Leon.
Pemuda itu masuk lalu meletakkan tas ransel yang sejak tadi ia bawa di atas kasur. Senyum menawan tampak membingkai wajahnya ketika pandangan matanya berlarian menatap ke sekeliling ruangan bernuansa monokrom itu.
"Ini cukup nyaman. Aku menyukainya," jawab Leon puas.
"Kau ingin ku pesankan makanan atau sesuatu yang lain ?" ucap Alarick lagi.
"Tidak perlu, Rick ! Aku hanya ingin tahu tentang informasi gadis yang ku minta sebelum aku kemari ! Apa sudah dapat ?" tanya Leon penuh harap.
__ADS_1
Alarick tertawa mendengar permintaan tidak sabaran Leon. Ia mengira bahwa Leon hanya sekedar bercanda mengenai gadis itu, namun ketika ia mendengar kabar bahwa Leon akan kemari demi menyusul gadis tersebut, Alarick seketika kehilangan kata-kata. Sejak kapan Leon jadi budak cinta seperti ini ? Terlebih lagi, Duke Xander tidak berkomentar apa-apa mengenai hal itu.
"Duduklah dulu !" Alarick menarik tangan Leon untuk duduk di tepi tempat tidur bersamanya.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu memberikannya kepada Leon.
"Apa ini ?" tanya Leon sambil menerima ponsel yang di sodorkan Alarick.
"Gadismu," jawab Alarick.
Dengan tak sabaran, Leon segera melihat apa isi yang ada di dalam ponsel itu. Dan, sepersekian detik berikutnya, mata Leon sudah berkaca-kaca saat menemukan foto gadis yang sangat ia kenal di dalam ponsel Alarick.
"Hei, kau kenapa ?"
"Dia masih sama, Rick ! Senyumnya masih indah seperti saat pertama aku mengenalnya !" lirih Leon dengan kerinduan yang berkali-kali lipat semakin menggebu di dalam dada. Entah, harus dengan apa Leon bisa meredam rindu yang tiba-tiba bercabang dan tumbuh semakin tak terkendali di dalam raganya. Karena, mustahil dirinya menemui Arumi di larut malam seperti ini.
"Kau benar-benar jatuh cinta rupanya," kata Alarick dengan di sertai tawa kecil.
Leon masih menatap lekat foto Arumi. Jemarinya mengelus dengan lembut gambar gadis yang tampak sedang fokus mengerjakan sesuatu di dalam foto itu. Ia tersenyum penuh arti.
"Tidak ada pria yang tidak akan jatuh cinta padanya, Rick !" Leon menoleh menatap Alarick sebelum kembali memandang foto Arumi. "Gadis Asiaku itu istimewa. Dia selalu mempunyai kebaikan dan ketulusan yang akan selalu bisa menjerat siapapun untuk mencintainya," lanjut Leon penuh kesungguhan.
Pria itu sudah berjanji untuk berjuang sekali lagi. Meski, Arumi mengatakan ingin kembali pada mantan suaminya ketika perpisahan menyakitkan mereka yang terakhir kali, namun Leon masih berharap bahwa hal itu semoga saja tidak terjadi. Selama ia masih belum mendengar kabar pernikahan Arumi, maka kesempatan Leon untuk memperjuangkan Arumi masih terbuka lebar. Meski, jalan yang ia lalui tentu saja akan di penuhi dengan berbagai macam rintangan.
Leon
Arumi & Selina
Mohon maaf untuk telat updatenya ya guys ! Lagi banyak kerjaan di dunia nyata soalnya. Jadi, nulis lanjutan novelnya gak bisa maksimal. Saya hanya bisa up semampu dan sesempatnya aja buat minggu-minggu ini. Jadi, harap maklum ya !!!😁
__ADS_1