
Usai mendapat telepon dari Duke Xander, Claire lalu kembali datang ke rumah sakit. Gadis itu sudah tidak sabar untuk menanyakan perihal pesta pernikahannya yang seharusnya ia gelar besok. Claire tidak ingin jika pernikahannya harus batal karena adanya insiden ini.
Tiba di rumah sakit, Claire langsung berjalan terburu-buru dengan di kawal oleh dua orang bodyguard yang selalu berjaga di sekitarnya. Keduanya, memiliki tugas untuk menjauhkan orang-orang dan penggemar yang di anggap mengganggu Nona Muda mereka.
Claire mengetuk pelan kamar rawat Leon sebelum memasuki ruangan tersebut. Di sana sudah ada Duke Xander yang sedang meminum teh bersama dengan Zack. Claire langsung menatap tak suka ke arah Zack sementara pemuda itu tampak tak acuh dengan kedatangan Claire.
"Masuklah, Jane !" pinta Duke Xander.
"Baik, Uncle !" jawab Claire yang langsung melaksanakan perintah Duke Xander dengan senyum semanis madunya.
"Bagaimana keadaan Leon ?" Claire mendekati Leon dan mengelus surai brunette calon suaminya dengan begitu lembut.
"Sudah stabil," jawab Duke Xander singkat.
"Lalu, kenapa dia masih belum sadar juga, Uncle ?" Claire menoleh menatap Duke Xander.
"Dia sudah sadar. Hanya saja, dia mungkin kelelahan sehingga tertidur kembali. Biarkan saja ! Jangan di ganggu."
Peringatan Duke Xander di kalimat terakhir pria dingin itu sontak membatalkan tangan Claire yang berniat menepuk pipi Leon. Dengan perasaan sedikit tidak enak hati, Claire menjauhkan kembali tangannya yang sudah terlanjur terulur.
Zack tersenyum mengejek. Sementara Duke Xander masih dengan santai menyesap teh buatan Ronald yang memang selalu sesuai dengan seleranya. Meski sadar bahwa ada aura permusuhan antara Zack dan Claire, Duke Xander memilih untuk tidak peduli.
"Kemarilah, Jane ! Duduk di samping Zack !" panggil Duke Xander lagi.
Menarik napas panjang, Claire pada akhirnya mau tidak mau duduk berdampingan dengan Zack. Sorot matanya yang sinis, menatap tidak suka pada Zack yang berada di sampingnya. Zack bersikap tidak peduli. Pemuda itu tetap menikmati tehnya dalam hening. Persetan dengan gadis menyebalkan di sebelahnya.
"Ada sesuatu yang harus ku sampaikan padamu secara langsung !" kata Duke Xander yang memulai topik pembicaraan serius.
"Apa, Uncle ?" tanya Claire bersemangat.
Duke Xander menghela napas. "Sepertinya, pernikahanmu dan Leon harus di undur untuk waktu yang belum bisa di tentukan," ucap Duke Xander.
__ADS_1
"Apa ? Bagaimana mungkin hal itu terjadi, Uncle ? Apa kata orang-orang nanti ?" teriak Claire protes.
"Maafkan aku ! Ini semua di luar keinginanku !" ujar Duke Xander menyesal.
"Undangan sudah terlanjur di sebar, Uncle ! Para wartawan juga sudah mengetahui tentang hal ini. Apa yang harus aku katakan pada orang-orang ?"
"Tenang saja ! Pengacaraku sudah menangani permasalahan itu bersama kedua orang tuamu ! Kau tidak perlu khawatir." Duke Xander kembali menyesap tehnya dengan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Tapi, aku tetap tidak bisa terima !" sahut Claire dengan nada gusar.
Duke Xander menatap tajam Claire. "Kau harus tetap terima, Jane ! Kau tahu sendiri bahwa Leon baru saja selesai di operasi. Dia masih butuh banyak waktu untuk pulih."
"Uncle !"
"Take it or leave it." Duke Xander sudah mengeluarkan titah mutlaknya. Terserah Claire ingin mengambil jalan yang mana. Menerima keputusan Duke Xander, atau justru meninggalkan segalanya.
Wajah Claire terlihat sangat kusut usai mendengar keputusan Duke Xander. Ia benar-benar tidak menduga bahwa hal ini bisa terjadi ketika hari dimana dia memiliki Leon seutuhnya sudah tinggal hitungan jam saja. Kenapa nasib Claire bisa sesial ini ? Bahkan, ketika Arumi sudah tidak ada pun, langkahnya tetap saja tersendat dan tak pernah bisa berjalan mulus demi mendapatkan Leon.
Saat Leon terbangun dari tidur siangnya, wajah Claire adalah hal pertama yang ia lihat. Pemuda bersurai berunette itu mengerjap. Berharap agar penglihatannya mungkin belum terlalu jeli dalam mengenali seseorang. Demi apapun, melihat wajah Claire untuk saat ini jauh lebih mengesalkan daripada bermimpi buruk di malam hari.
"Kau sudah bangun, Sayang ?" Suara lembut Claire pada akhirnya menjadi kunci bagi Leon untuk menyadari bahwa apa yang di lihatnya bukanlah imajinasi semata. Semuanya benar-benar real dan matanya sama sekali tidak bermasalah. Claire memang ada di sini.
"Untuk apa kau ke sini ?" tanya Leon sinis. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Enggan menatap wajah wanita licik yang menjadi penyebab kekasih sejatinya harus pergi.
"Untuk melihat keadaan calon suamiku !" jawab Claire sumringah.
Leon berdecak kesal mendengar ucapan Claire. Pemuda itu terlihat begitu jijik ketika mulut manis Claire menyebutnya dengan sebutan 'calon suami'.
"Sudah ku bilang, kalau aku tidak ingin menikah denganmu !" desis Leon dengan nada lemah namun masih terdengar tajam di indra pendengaran Claire.
"Leon ! Apa kau tidak bisa pasrah dan menerima saja perjodohan ini ?"
__ADS_1
"Tidak," geleng Leon tegas.
Rahang Claire sudah mulai mengerat. Ia tidak habis pikir kenapa Leon sangat tidak-tidak menyukainya. Apa yang kurang dari Claire ? Seorang selebriti papan atas dengan bentuk tubuh dan wajah yang cantik. Para model dan aktor pria bahkan selalu memperebutkan dirinya hampir setiap hari. Tapi kenapa ? Kenapa harus Leon yang justru ia sukai ? Kenapa hatinya harus menyimpan rasa pada pemuda itu saja ? Seorang pria yang bahkan meliriknya saja seolah tak ingin.
"Waktunya makan !" Zack masuk bersama seorang perawat yang membawakan makanan untuk Leon.
"Biar aku saja yang menyuapinya," ucap Claire sambil berdiri dan mengambil makanan yang di bawa suster tadi. Sang Suster langsung memberikan makanan itu dengan ramah. Sementara Zack terlihat sangat tidak senang atas kelakuan perempuan itu.
Claire kembali duduk di tempatnya tadi. Sementara Zack memilih duduk di sofa sambil membuka-buka majalah bisnis.
"Bisa kau tinggalkan kami berdua, Zack ?" tegur Claire yang menyadari bahwa Zack bukannya keluar ruangan dan malah duduk dengan nyaman di sofa yang ada di belakang Claire.
Zack mendongak kembali saat mendengar namanya di sebut-sebut oleh Claire.
"Jika kalian ingin berbicara, bicara saja. Anggap aku tidak ada di ruangan ini," balas Zack dengan santai. Pemuda itu masih sibuk membaca majalah yang ia ambil.
"Tolong, Zack ! Ini privasi !" ujar Claire.
"Biarkan Zack tetap di sini," sahut Leon menyela. Claire kemudian menoleh kembali pada Leon dengan perasaan tak percaya.
"Tidak ada rahasia di antara aku dan Zack ! Jadi, tak masalah jika Zack ingin tetap berada di sini atau tidak," putus Leon dengan tegas.
"Kau dengar sendiri, bukan ?" Zack mengerling sambil tersenyum puas. Melihat wajah memerah Claire karena memendam kekesalan yang semakin bertumpuk membuat Zack terlihat sangat bahagia.
"Baiklah ! Jika itu maumu," angguk Claire mengalah.
"Kalau begitu, ayo kita makan !" Claire mengarahkan sesendok makanan ke mulut Leon.
PRANG !
Sendok bersama mangkuknya sudah terjatuh ke lantai. Mangkuk keramik itu pun pecah sehingga membuat Zack dan Claire terperanjat bukan main.
__ADS_1
"Aku tidak mau makan !" kata Leon tajam.