Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#46


__ADS_3

"Dasar gadis pembohong !" Leon terkekeh ketika membaca pesan balasan dari Arumi.


Ya. Leon tahu bahwa Arumi berbohong dari Charlie. Pemuda itu memang memiliki kontak Charlie yang entah dia dapat darimana. Leon berpura-pura menanyakan keberadaan Arumi pada Charlie dan mengatakan bahwa ponsel gadis itu tak bisa di hubungi. Dan, dengan lancar Charlie mengatakan bahwa Arumi di mansion sementara dia dan orang tuanya sedang ada undangan makan malam.


Hati pemuda itu menghangat saat tahu benar alasan mengapa Arumi mengarang cerita bodoh itu untuk mengelabuinya. Gadis itu pasti takut membuat perasaan Leon menjadi tidak enak. Padahal, dalam kasus ini Leon duluanlah yang memulai kebohongan itu.


Rasa ingin menemui Arumi semakin menyesakkan dada Leon. Pria itu mulai memaksa otaknya untuk berpikir keras demi mendapatkan cara agar bisa keluar dari mansion tanpa sepengetahuan siapapun.


Tiba-tiba, ide itu muncul begitu saja. Dia masih ingat menyimpan sebuah kapsul yang jika di masukkan ke dalam mulut akan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah persis menyerupai darah. Itu adalah mainan yang dia dan Zack beli pada acara Halloween beberapa bulan yang lalu.


Leon membongkar seluruh isi laci meja kerjanya namun tak juga mendapatkan barang yang dia cari. Pemuda itu berlari masuk ke dalam Walk in Closetnya, membuka setiap paperbag yang berjejer rapi di bawah gantungan pakaian mahal miliknya.


Sesaat kemudian, pemuda itu menerbitkan senyum yang menandakan bahwa barang yang dia cari sudah ketemu.


Leon mengambil sekitar 3 butir. Menggenggamnya dalam kepalan tangan lalu kembali keluar dari dalam Walk in Closetnya. Pria itu sengaja membuat kegaduhan di dalam kamar dengan berpura-pura berteriak meringis kesakitan dan memecahkan beberapa barang.


Usahanya berhasil. Terdengar dari luar ketukan pintu dari beberapa pengawal sambil berteriak menanyakan apakah Leon baik-baik saja atau tidak.


Tak lama kemudian, suara Ronald terdengar. Leon segera memasukkan ketiga pil itu ke dalam mulutnya dan ketika Ronald membuka pintu, dia berpura-pura sedang batuk dan akhirnya memuntahkan darah. Leon kembali berakting jatuh dan meringis kesakitan di lantai.


"Bawa Tuan Muda ke mobil ! Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang." Ujar Ronald berseru panik.


Dua bodyguard segera masuk dan membopong tubuh Leon. Melaksanakan perintah Ronald dengan cepat sementara pria itu berusaha menghubungi Duke Xander untuk kembali secepatnya ke rumah.


"Bagaimana ini ? Cepat susul Asisten Ronald di dalam. Bilang bahwa kondisi Tuan Muda semakin parah." Ucap salah satu bodyguard itu kepada temannya.


Yang di suruh melangkah cepat masuk ke dalam mansion. Sementara yang menunggu Leon di dalam mobil berinisiatif mengambilkan tisu untuk mengelap darah palsu yang mulai memenuhi kaos Leon yang berwarna biru langit.

__ADS_1


Merasa sudah ada celah, Leon segera bangkit. Berpindah dari belakang ke kursi pengemudi dan melajukan mobil menjauh dari pelataran mansion. Tiba di depan gerbang, Leon mengklakson untuk memberitahu penjaga gerbang untuk membuka benteng kokoh itu. Sang penjaga gerbang yang belum tahu bahwa Leon sedang dalam masa hukuman tak boleh keluar mansion segera membukakan gerbang besar itu untuk mobil Leon.


Pemuda itu berseru senang sambil buru-buru melajukan mobil yang dia bawa menuju ke kediaman keluarga Aldric untuk menemui pujaan hatinya.


"Dimana mobilnya ? Di mana Tuan Muda ?" Tanya Ronald murka.


Dua bodyguard tadi saling berpandangan lalu kompak tertunduk. Memang, hanya mereka yang saat ini bertugas karena teman-teman yang lainnya sedang makan malam. Jadilah pengamanan menjadi agak longgar karena memang mereka berpikir tak mungkin Leon bisa kabur dari dalam kamar yang terkunci dari luar.


Namun nyatanya, pemuda itu tetap bisa kabur dengan idenya yang tergolong cerdik.


"Kenapa kalian meninggalkan Tuan Muda sendirian, Hah ?" Ronald masih murka dan menendang tulang kering kedua penjaga itu satu per satu.


"Maafkan kami, Asisten Ronald ! Tadi saya hanya berniat mengambilkan tisu untuk membersihkan darah milik Tuan Muda. Saya tidak menyangka jika..."


"Jangan memberi alasan untuk membenarkan kelalaian kalian." Potong Ronald dengan suara rendahnya.


"Cari dia sampai dapat !" Geram Duke Xander.


Ronald hanya menelan ludahnya kasar. Dia tahu benar bahwa saat ini Duke Xander pasti kembali di bakar amarah. Padahal, baru beberapa saat yang lalu atasan dinginnya itu terdengar begitu panik dan memerintah Ronald untuk membawa Leon ke rumah sakit.


Dia takut pemyakit putranya parah dan malah akan berakibat fatal jika hanya di tangani oleh dokter pribadi keluarga tanpa perlatan rumah sakit yang mendukung. Tetapi sekarang, saat tahu bahwa putranya hanya bersandiwara, Duke Xander mulai kembali di kuasai emosi.


* * *


Leon tiba di depan gerbang kediaman keluarga Aldric. Pemuda itu mematikan mesin mobil dan mengirim pesan singkat pada Arumi untuk menyuruh gadis itu turun.


Sekitar 10 menit menunggu, Leon menangkap sosok Arumi yang baru keluar dari gerbang dan melangkah tergesa-gesa menghampiri dirinya yang sedang bersandar di depan mobil. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan kaos yang masih sama.

__ADS_1


"Kenapa kau datang kemari ? Bukankah kau sibuk ?" Tanya Arumi dengan heran.


Pemuda itu masih diam. Tak bergeming dari posisinya.


"Leon ! Kau kenapa ? Apa ini darah ?" Pekik Arumi cemas. Dia memegang bibir dan baju Leon yang tampak di penuhi cairan kemerahan seperti darah yang sudah mengering.


Leon menangkap tangan Arumi. Menatap dalam ke netra gadis yang saat ini sedang sangat mengkhawatirkannya. Masih tetap bungkam, Leon menarik tangan Arumi. Mendudukkan gadis itu ke kursi penumpang sebelum dia sendiri masuk ke bangku pengemudi. Pria itu melesatkan mobil menjauh dari kediaman keluarga Aldric.


"Kita mau kemana ?" Tanya Arumi heran.


Leon masih diam tak menjawab. Arumi mulai merasakan ada hal yang tidak beres.


"Ada apa sebenarnya ?" Lirih Arumi dengan lembut.


Leon tetap bungkam.Pemuda itu membelokkan mobilnya masuk ke bawah sebuah jembatan yang sepi. Mematikan mesin mobil dan masih tetap setia dalam kebisuannya.


"Leon ? Ada apa ?"Arumi masih mendesak agar pria itu berbicara.


"Ku mohon ! Bicaralah !" Lanjut gadis itu yang masih belum juga menyerah.


Leon memandang Arumi sejenak sebelum keluar dari dalam mobil. Tak lama kemudian, dia ikut menarik Arumi keluar dan membuka pintu belakang mobil. Dia mendorong Arumi masuk ke dalam sebelum dirinya sendiri merengsek masuk dan menindih tubuh langsing gadis cantik itu.


"Ada ap...."


Pertanyaan Arumi sudah di bungkam Leon dengan mulut pemuda itu. Dia mencium Arumi dengan rakus. Mencecap setiap rasa manis dari bibir atas dan bawah gadis itu secara bergantian. Rasa yang sudah sangat ia inginkan sejak pertama kali bertemu gadis itu di Pulau Moorea.


Leon semakin mendorong tubuh Arumi masuk kedalam kemudian menutup pintu mobil kembali. Di lanjutkannya kembali menciumi bibir gadis itu dengan penuh perasaan yang campur aduk. Antara cinta, sedih, marah dan juga nafsu. Semuanya tercampur dalam keliaran ciuman itu.

__ADS_1


Arumi yang perlahan ikut terbuai mulai meremas rambut brunette Leon. Membiarkan pemuda itu memojokkannya di sudut pintu mobil yang satunya dengan posisi tubuh pria itu yang tepat di atasnya. Dia bahkan tanpa sadar membuka mulutnya agar pemuda itu bisa dengan bebas mengeksplor isi mulutnya dengan lidahnya.


__ADS_2