Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#75


__ADS_3

"Kenapa kau tertawa ? Apa menurutmu aku sedang bergurau ?" tanya Devan heran pada ekspresi yang di tampilkan Arumi.


Arumi melipat bibirnya. Meredam kembali tawa yang sudah terlanjur keluar.


"Ya. Kak Devan pasti sedang bergurau. Mana mungkin Kak Irgi mencariku. Apa dia sedang membutuhkan baby sitter untuk bayinya atau apa ?" ucap Arumi sinis. Gadis itu kembali melanjutkan aktifitas makannya.


"Kau belum tahu ?"


"Tahu apa ?"


"Irgi dan Beverly sudah bercerai. Apa orang tuamu tidak memberitahu ?" tanya Devan penuh selidik.


Gerakan tangan Arumi menyendok nasi gorengnya terhenti. Ia pun mengubah posisi duduknya agak menyerong. Berhadapan langsung dengan wajah Devan.


"Apa ? Bagaimana mungkin ?" Arumi terkesiap tak percaya.


"Kau tahu bahwa Lily sedang hamil, 'kan ?"


"Ya. Aku tahu," angguk Arumi. Jelas ia lebih tahu dari siapapun. Bukankah itu alasan Irgi meninggalkannya ?


"Anak itu bukan anak Irgi. Tapi, anak Beverly dari laki-laki lain," lanjut Devan lagi.


Bagai tersengat listrik, sekujur tubuh Arumi mendadak terkejut. Gadis itu tak pernah menyangka kisah cinta Irgi dan Beverly akan berakhir setragis ini. Tak berbeda jauh dengan kisah cintanya sendiri.


"Lalu, di mana Kak Lily sekarang ?"


"Bukankah dia kembali ke rumah kalian ?" Mata Devan kembali memicing. Menduga-duga barangkali tebakannya benar. "Apa jangan-jangan kau tidak pernah kembali ke rumahmu lagi semenjak hari itu, Aru ?"


Arumi menggeleng. Devan menyandarkan punggungnya lemas ke sandaran kursi.


"Lalu, di mana kau selama ini ? Siapa yang menemanimu ketika kau hancur, Aru ? Kenapa kau tidak pernah datang padaku ?"

__ADS_1


"Apa Kak Devan mau membantuku jika aku datang pada Kak Devan ?" Mata Arumi mulai menganak sungai kembali. Tetesan bening dari sana siap untuk kembali terjatuh dengan begitu rapuh.


"Ya. Tentu saja. Aku selalu akan ada untukmu !" jawab Devan bersungguh-sungguh.


Arumi tertunduk seraya menyeka air mata yang keluar. Ia tertawa miris mengasihani hidupnya sendiri. Mengapa selalu orang luar yang peduli terhadapnya sedangkan keluarganya sendiri tak satu pun yang ingin melakukan hal itu untuknya ?


"Devan ?" suara seorang perempuan menelisik masuk dengan begitu lembut ke telinga Arumi dan Devan. Keduanya kompak menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang perempuan berkacamata hitam dan mengenakan masker berdiri di depan mereka.


Devan langsung tersenyum kemudian berdiri menyambut kehadiran perempuan itu. Ia langsung memeluk dan menghadiahkan kecupan di kening perempuan yang belum membuka maskernya itu.


"Siapa dia ?" tanya perempuan tadi seraya menunjuk Arumi.


Devan berbalik. Berdiri di samping wanita itu seraya tersenyum ke arah Arumi. Sedangkan, Arumi menatap Devan dan perempuan di samping pria itu bergantian. Sedikit merasa tak enak karena Arumi sudah bisa menebak bahwa perempuan itu pasti adalah kekasih Devan.


"Dia Arumi, teman lamaku. Dan Aru, ini Selina Gabriella, tunanganku."


Arumi merasa familiar dengan nama tunangan Devan. Namun, ia tak ingat di mana pernah mendengar nama itu.Mengabaikan rasa penasarannya, Arumi memilih berdiri dan mengulurkan tangan dengan ramah ke arah tunangan Devan.


"Hai, Arumi ! Senang juga bertemu denganmu. Aku Selina !" ucap Selina seraya menyingkap sedikit maskernya dan memperlihatkan keseluruhan wajahnya pada Arumi.


Arumi reflek membekap mulutnya saat ingin memekik riang. Orang yang di depannya kini adalah Selina Gabriella, si bintang film terkenal. Pantas saja tadi dia merasa sangat familiar dengan nama perempuan cantik itu.


"Kau Selina yang itu ?" Arumi menunjuk gambar Selina di salah satu poster produk kosmetik yang tertempel di dinding restoran.


Selina mengikuti arah pandang Arumi lalu mengangguk. Perempuan itu tersenyum meski tak bisa di lihat Arumi karena mengenakan masker.


"Ya. Aku Selina yang itu," ujar Selina.


"Aru, karena kau sudah tahu bahwa Selina adalah tunanganku, bisakah kau merahasiakannya pada siapapun ? Hubungan kami masih belum di publikasikan di depan publik. Jadi, tolong bantu kami, ya ?" celetuk Devan.


"Tentu saja. Kak Devan jangan khawatir. Tapi, Aru juga ingin meminta hal yang sama ke Kak Devan. Tolong rahasiakan pertemuan kita dari siapapun. Terutama pada Kak Irgi dan keluargaku."

__ADS_1


Devan menghela napas panjang. Arumi sepertinya benar-benar sudah sangat membenci Irgi saat ini. Benar-benar di sayangkan. Ketika Irgi sudah mulai ingin mendekat, kini malah Arumi yang bergerak menjauh.


* * *


Arumi menghempaskan tubuhnya ke kasur hotel yang nyaman. Untuk malam ini, dia akan menginap di tempat ini. Apartemennya ternyata membutuhkan waktu pembersihan lebih lama di banding dugaannya.


Suasana sepi yang hanya berteman lampu tidur yang remang, kini memaksa Arumi untuk teringat kepada pemuda berambut brunette yang telah membawa hatinya pergi. Terlepas dari raga gadis itu hingga rasanya begitu menyiksa karena tahu bahwa hatinya hanya bisa di patahkan oleh pemuda itu.


"Kenapa sesulit ini hanya sekedar untuk melupakanmu, Leon !" Arumi meringkuk. Memeluk guling di sampingnya sambil meneteskan air mata. Hatinya yang terlanjur patah sangat sulit untuk ia rekatkan kembali.


Di belahan bumi yang lain, pemuda yang Arumi tangisi juga sedang meringkuk di tempat tidurnya. Menangis seharian karena merasa kehilangan. Terserah orang-orang mengatakan bahwa Leon lemah. Yang pemuda itu tahu adalah bahwa kehilangan benar-benar sulit untuk di ikhlaskan. Tidak ketika Duchess Greysha meninggalkannya kala ia kecil, dan tidak pula kala Arumi meninggalkannya ketika dia mulai mempercayai yang namanya cinta.


* * *


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Leon ?" Frederick menatap prihatin tubuh keponakannya yang meringkuk di atas tempat tidur. Sementara, dia sendiri masih setia berdiri di depan pintu kamar Leon sambil bersandar di sisi pintu.


"Entahlah, Uncle ! Aku tidak tahu !" jawab Leon lemah.


Frederick menghela napas kasar. Ia kembali menutup pintu kamar Leon dan bergegas menemui adiknya di kamar pria yang tega menyiksa putranya sendiri itu.


"Kenapa kau datang kemari ?" Duke Xander bertanya tanpa menoleh.


"Sampai kapan kau akan keras kepala seperti ini, Xander ? Putramu benar-benar akan mati jika kau tidak mau mengalah seperti ini," ucap Frederick yang menahan diri untuk tidak memukul Duke Xander.


"Aku tidak peduli, Fred ! Leon akan menyerah menyiksa dirinya sendiri jika dia tahu bahwa aku tidak mengindahkan permintaannya," kata Duke Xander dengan nada sedikit keras. Terlalu percaya diri pada dugaannya sendiri.


"Kau ingin tetap menikahkan Leon dengan Jane ?"


"Ya. Aku akan tetap melakukannya. Dan tidak akan ada yang bisa merubah keputusanku itu, termasuk kau !"


"Baiklah ! Jika itu kemauanmu, maka lakukan ! Tapi, ingat baik-baik, Xander ! Kau akan merasakan akibat dari sifat keras kepalamu ini, cepat atau lambat !" Frederick membanting pintu kamar Duke Xander dengan kasar setelah dia berderap keluar. Duke Xander hanya bisa memejamkan mata dengan tangan yang terkepal erat di bawah sana.

__ADS_1


"Takkan ada penyesalan dalam hidupku, Fred ! Tidak sepertimu !" Duke Xander menggeram menahan luapan amarah yang sudah terkumpul di dalam dadanya. Dan, PRANG ! Sebuah vas bunga yang berdiri indah di atas meja bundar di sampingnya sudah tercerai berai di lantai. Luluh lantah karena kemarahan pria dingin itu.


__ADS_2