
Arumi menghela napas panjang ketika lagi-lagi mendapatkan email dari Irgi, sang mantan suami yang sudah ia ikhlaskan berbahagia dengan kakak tirinya sendiri.
//Aku merindukanmu, Aru ! Di mana kau ? Tolong katakan ! Akan ku jemput di manapun kau saat ini.//
Gadis cantik itu memijit kepalanya yang tiba-tiba saja mendadak sakit. Di tutupnya laptop di hadapannya kemudian meletakkan benda tersebut di atas nakas. Arumi membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur___menarik selimut tebal di ujung kakinya sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya.
"Ada apa dengan Kak Irgi ? Apa dia dan Kak Beverly bekerja sama untuk mengerjaiku ?" Gumam Arumi yang masih memikirkan perihal email yang di kirimkan oleh Irgi tadi.
"Atau, Kak Lily yang melakukannya tanpa sepengetahuan Kak Irgi ? Tapi kenapa ?" Gadis itu masih berusaha memecahkan permasalahan email Irgi yang di rasanya mustahil jika Irgi sendiri yang mengiriminya. Mana pernah pria itu mengatakan rindu sekalipun ? Jika pun iya, tentu saja itu tertuju untuk Beverly dan bukan untuk Arumi.
"Arrggghh... Kepalaku semakin sakit gara-gara memikirkannya." Geram Arumi kesal. Sekeras apapun otaknya berpikir, dia tak pernah mendapatkan jawaban atas hal apa yang mendasari Irgi mau mengirim email berisi kata-kata rindu seperti itu.
"Lebih aku tidur saja. Besok harus bekerja dan bertemu dengan Leon." Gadis itu tersenyum saat menyebutkan nama Leon. Meski tak ada orang lain di dalam kamarnya, gadis itu tetap menyembunyikan wajah merahnya di balik selimut karena malu.
* * *
"Sudah kau dapatkan hal yang ku minta ?" Tanya Claire pada seseorang yang sedang dia telepon.
"Sudah, Nona. Laporannya sudah saya kirim ke email anda."
"Baiklah ! Akan ku periksa segera. Terima kasih."
Claire memutus sambungan telepon itu dan bergegas membuka laptop yang berada di atas meja. Gadis itu mengecek email yang katanya baru saja di kirim oleh mata-mata yang dia sewa untuk mencari tahu siapa gadis yang sudah lancang merebut perhatian Leon darinya.
Menemukan email yang dia cari, Claire menyeringai tipis sembari membukanya dengan sedikit terburu-buru.
Sepersekian detik kemudian, Claire tersenyum miris. Antara tidak menyangka bahkan tidak menduga bahwa ternyata yang menjadi kekasih Leon adalah perempuan yang sudah sangat dia kenal. Seorang perempuan yang dia tunjuk sebagai perancang gaun pengantinnya sendiri. Kebetulan macam apa ini ?
"Rupanya kau, Aru ! Maaf, kau mungkin wanita yang baik. Tapi, sikapmu tetap saja takkan bisa aku maafkan. Lihat saja ! Akan ku balas kau dengan sesuatu yang sangat menyakitkan." Geram Claire tak terima. Otaknya mulai berpikir keras untuk menyusun rencana jitu guna memberi pukulan telak pada Arumi agar gadis itu tak lagi berani mengganggu miliknya.
"Kau juga, Leon ! Kau juga harus merasakan rasa sakit yang sama seperti yang saat ini sedang ku rasakan." Tangan Claire terkepal erat. Matanya menyorot tajam pada sebuah foto yang berada di pinggir meja. Dengan sekali sapuan tangan, bingkai foto itu jatuh dan pecah akibat berbenturan dengan lantai marmer berwarna putih di bawahnya. Foto yang baru saja dia pecahkan itu adalah foto masa kecil dirinya dan Leon.
"Ada apa, Jane ? Mommy dengar ada sesuatu yang pecah. Kau tidak apa-apa ?" Nyonya Renee datang terburu-buru memasuki kamar putrinya yang memang pintunya sudah setengah terbuka.
"Tidak apa-apa, Mom. Jane hanya tidak sengaja menyenggol bingkai foto." Tutur Claire berpura-pura tersenyum.
__ADS_1
Nyonya Renee melihat bingkai foto yang sudah pecah itu dengan prihatin. Lalu kembali menatap wajah putrinya. "Baiklah ! Lain kali kau harus lebih berhati-hati. Akan Mommy panggilkan pelayan untuk membersihkannya. Jangan melakukannya sendiri, oke ?"
"Baiklah, Mom." Angguk Claire.
Nyonya Renee bergegas keluar dari kamar Claire. Masih dapat Claire dengar suara ibunya yang berteriak memanggil pelayan untuk membersihkan kaca bingkai yang pecah akibat ulahnya. Tak lama berselang, seorang pelayan wanita berseragam putih hitam masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf, Nona ! Saya disuruh Nyonya untuk membersihkan kamar anda." Ucap pelayan itu sambil membungkuk hormat.
"Baiklah ! Kau cukup bersihkan pecahan beling ini." Claire menunjuk pecahan kaca bingkai foto di dekat kaki meja kerjanya.
"Baik, Nona !" Pelayan itu mengerti dan segera melakukan pekerjaan yang di suruhkan oleh Nona mudanya.
Sementara Claire sendiri terlihat begitu frustasi.
Apa kelebihan Arumi di bandingkan aku, Leon ? Kenapa kau lebih memilih mencintai dia dan bukannya aku ?
* * *
Arumi sedang sibuk menggambar desain gaun pesta untuk salah satu sahabat Nyonya Nastya lagi. Kelihatannya, banyak orang yang sangat menyukai gaun rancangannya yang dulu pernah di pesan sahabat Nyonya Nastya yang lain untuk pesta ulang tahunnya beberapa waktu lalu. Tentu saja, Arumi sangat senang. Meski, kesibukannya mungkin saja akan semakin bertambah dari hari ke hari.
Tanpa di suruh, Claire sudah mendaratkan bokongnya di salah satu kursi di dalam ruangan pribadi Arumi. Dua bodyguard yang biasa bersamanya, sengaja dia suruh menunggu di luar.
"Pagi, Claire. Kenapa kau datang sepagi ini ?" Tanya Arumi sembari meletakkan pensil yang sejak tadi dia pakai untuk mencorat-coret di atas kertas.
"Tidak ada. Hanya ingin mampir saja." Jawab Claire tersenyum anggun seperti biasa.
Arumi balas tersenyum sebelum dia menelepon seseorang untuk mengantarkan secangkir teh untuk Claire.
"Kau sedang tidak sibuk, Aru ?" Claire bertanya memastikan.
"Selain menggambar sketsa, aku tidak memiliki kesibukan lain hari ini."
"Baiklah ! Berarti kau bisa mendengarkan curhatku sebentar saja, bukan ?"
"Curhat ? Curhat tentang apa ?"
__ADS_1
" Ini tentang tunanganku."
Arumi menggaruk halus dagunya. Alisnya mengkerut ragu___harus mendengar curhatan Claire atau tidak.
"Hmmm... Apa kau tidak apa-apa jika menceritakan mengenai tunanganmu padaku ?"
"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa aku tidak boleh bercerita tentangnya padamu ?" Claire memutar bola matanya malas.
"Kita kan baru saja saling mengenal, Claire ! Apa kau mempercayaiku untuk membicarakan hal sepribadi ini ?"
"Ya. Aku mempercayaimu, Aru ! Kau kan temanku." Claire lagi-lagi tersenyum. Dia melepaskan kacamata hitamnya dan menyimpannya di atas meja.
Tak lama kemudian, salah seorang OG(Office Girl) yang bekerja di butik Nyonya Nastya datang dengan membawa secangkir teh di atas nampan.
"Terima kasih !" Arumi tersenyum ramah pada OG itu ketika dia sudah selesai meletakkan teh yang di bawanya tepat di depan Claire.
OG itu mengangguk lalu bergegas keluar. Hanya menyisakan Arumi dan Claire berdua saja di dalam ruangan.
"Ada apa dengan tunanganmu, Claire ?" Ucap Arumi memutus keheningan.
Claire meletakkan kembali cangkir tehnya setelah menyesap cairan itu beberapa kali. Raut wajah wanita cantik itu tiba-tiba saja berubah muram.
"Tunanganku, dia memiliki wanita lain, Aru !" Claire tertunduk dengan air mata yang mulai menetes.
"Apa ? Siapa wanita itu ?" Tanya Arumi setengah terkejut. Lelaki mana yang masih bisa berselingkuh dan melirik wanita lain jika sudah mendapatkan wanita sesempurna Claire ?
"Entahlah, Aru ! Aku tidak tahu siapa wanita itu. Aku sangat sedih. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Padahal, pernikahan kami tinggal sebentar lagi." Claire menyapu air matanya dengan punggung tangan. Perempuan itu masih terisak dengan wajah tertunduk.
Arumi segera berinisiatif berpindah tempat duduk ke sebelah Claire. Di peluknya perempuan yang sedang terisak itu dengan prihatin. Arumi baru saja teringat akan nasibnya sendiri. Tak jauh dari kisah Claire, kisah cintanya di masa lalu juga hampir sama mirisnya dengan Claire. Bahkan, jika boleh di katakan, kisah cinta Arumi jauh lebih miris dari milik Claire. Bagaimana tidak ? Yang merebut suaminya sendiri bukanlah orang lain, melainkan kakaknya sendiri.
"Jangan menangis ! Kau tidak boleh bersedih. Jika kau memang sangat mencintai tunanganmu, rebut kembali dia dari tangan perempuan itu."
"Apa menurutmu aku bisa, Aru ?" Claire melerai pelukan mereka dan menatap sendu wajah Arumi.
"Tentu saja kau bisa. Kau cantik, pintar dan berbakat. Tidak ada laki-laki yang tidak luluh dengan pesonamu. Aku yakin, perempuan selingkuhan tunanganmu itu pasti tak ada apa-apanya di banding kau." Arumi tersenyum menyakinkan seraya menyampirkan anak rambut Claire yang menghalangi wajah perempuan cantik itu ke belakang telinga.
__ADS_1
Tentu saja kau memang tidak ada apa-apanya di banding denganku, Aru ! Dasar kau, wanita penggoda.