Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#35


__ADS_3

"Kejadian itu nyaris membuat nyawa Nona Arumi hampir melayang. Dan yang lebih parah adalah alasan Nyonya Katherine melakukannya hanya karena nona Arumi melawan perintahnya."


"Lalu, apa Tuan Jonathan tahu ?"


"Tentu saja. Tapi, orang itu hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa. Benar-benar ayah yang aneh. Dia bahkan tidak melaporkan tindakan istrinya ke polisi sama sekali." Danu menggeleng-gelengkan kepalanya. Prihatin pada kalimat yang dia rangkai sendiri.


"Memangnya, kejadian itu berhubungan dengan yang terjadi sekarang ?"


"Tentu saja." Danu menjetikkan jarinya membenarkan. "Asal anda tahu, sejak hari itu Nona Arumi tidak pernah lagi membangkang dan menjadi anak penurut. Hal itu yang bisa saja menjadi alasan kenapa dirinya bisa menggantikan nona Beverly di hari pernikahan anda dulu."


"Aku masih tidak percaya, Danu." Geleng Irgi yang masih keukeuh menolak kenyataan.


"Datangi alamat ini !" Danu menunjuk-nunjuk sebuah kertas yang bertuliskan alamat di hadapan Irgi. "Anda akan mendapatkan jawaban yang anda inginkan di sana."


* * *


"Hei ! Kenapa lama sekali keluarnya ?" Sapaan ceria dari seseorang yang begitu Arumi kenal sontak membuat langkah gadis itu terhenti. Entah karena dia sangat merindukan Leon sehingga suara pria itu berputar-putar di kepala Arumi atau memang pria itu yang tiba-tiba muncul kembali setelah seminggu menghilang.


Arumi berbalik dan menemukan sosok yang dia cari sedang berdiri tepat di belakangnya. Menyodorkan sebuah es krim rasa vanilla yang sebenarnya sudah mulai meleleh. Mungkin pria itu mengira Arumi akan selesai bekerja tepat pukul 5 seperti biasa. Makanya, dia membeli es krim itu terlebih dahulu.


"Untukmu." Ucap Leon dengan tangan yang menyodorkan satu buah es krim ke hadapan Arumi. Sementara miliknya sendiri mulai ia habiskan sebelum benar-benar mencair semua.


"Leon ?" Pekik Arumi tersenyum senang. Tanpa sadar, gadis itu memeluk erat tubuh tinggi Leon dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Kau kemana saja ? Apa kau tahu kalau aku merindukanmu ?" Lirih gadis itu yang mulai terdengar serak menahan tangis.


"Aru ? Kau kenapa ?" Tanya Leon yang merasa ada yang aneh dengan tingkah laku Arumi. Tidak biasanya gadis itu memeluknya seperti ini. Bahkan, memang tidak pernah. Yang ada hanya Leon yang selalu memulai dan terkadang sama sekali tak di sambut baik oleh Arumi.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Benar-benar rindu." Ucap Arumi yang masih enggan melepaskan pelukan erat tangannya dari tubuh tegap Leon.


"Sungguh ?" Jantung Leon rasanya ingin meledak. Mungkin, Arumi yang sedang menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya bisa mendengar jelas bagaimana kerja jantung Leon yang memompa tiga kali lebih cepat dari biasanya.


Gadis itu mengangguk sebelum mengangkat kepalanya mendongak pada Leon yang jelas jauh lebih tinggi darinya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak balas memelukku ? Kau tidak suka ?" Mulut gadis asia itu mengerucut lucu. Membuat Leon rasanya ingin mencicipi manis dari bibir berwarna pink alami milik Arumi.


"A-aku ingin. Tapi, bagaimana dengan es krimnya ?" Jawab Leon salah tingkah.


"Buang saja. Nanti kita bisa beli lagi." Perintah Arumi setelah melihat kondisi memprihatinkan es krim yang di pegang Leon. Sudah mencair setengahnya dan nyaris tidak memiliki bentuk lagi.


"Baiklah." Leon mengangkat bahunya lalu menuruti perintah Arumi tanpa pikir panjang. Setelah itu, dia balas memeluk Arumi tak kalah erat. Menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh gadis asia yang seminggu ini begitu dia rindukan hingga nyaris gila. Namun apa daya. Duke Xander menghukum Leon dengan tidak membolehkan pria itu keluar selama seminggu sebagai ganjaran karena sudah berani melawan sang Ayah beberapa waktu yang lalu.


"Aku juga sangat merindukanmu, Aru."


"Leon ?" Panggil Arumi yang masih nyaman di dalam dekapan Leon.


"Hmm ?"


"Tidakkah kau merasa orang-orang sedang memperhatikan kita ?" Tanya Arumi malu-malu. Gadis itu baru sadar bahwa dirinya dan Leon berpelukan di tempat umum dan menjadi tontonan gratis untuk setiap orang yang berlalu lalang.


"Jangan di pedulikan. Mereka hanya iri." Jawab Leon acuh. Posisinya terlalu nyaman untuk bisa di ganggu oleh hiruk pikuk orang yang secara bergantian membicarakan mereka.


"Baiklah ! Akan ku lepas." Sungut Leon mengalah. Ia pada akhirnya melepaskan diri dari pelukan Arumi dengan wajah tidak puas sama sekali. Dia masih terlalu merindukan Arumi. Tetapi, gadis itu malah menyuruh dia melepas pelukan mereka. Padahal, yang memeluk duluan bukannya, Arumi ?


"Kalian pasangan muda yang romantis. Aku jadi mengingat mendiang suamiku dulu. Sama persis gagahnya denganmu, Anak muda." Seorang nenek kisaran usia 60 tahunan mendekati mereka. Memuji dengan senyum tulus sembari menepuk pelan lengan milik Leon.


"Dan aku juga secantik dirimu ketika masih muda, sayang." Sambung Nenek itu sambil menatap penuh arti ke arah Arumi.


"Terima kasih, Nenek." Ucap Arumi tulus.


"Ku doakan, cinta kalian akan sama seperti aku dan suamiku. Kami baru terpisah ketika maut yang memanggil dia lebih dulu." Mata Nenek itu tampak berkaca-kaca. Meski, binar bahagia tetap saja terpancar dari mata sendunya.


"Doakan kami, Nek ! Semoga yang Nenek katakan itu benar." Kali ini Leon yang menyahut dengan begitu antusias.


Tak berapa lama kemudian, seorang perempuan yang Leon dan Arumi yakini sebagai anak dari si Nenek datang dan membawanya pergi. Nenek itu masih sempat melambaikan tangan sebelum ia masuk ke dalam mobil putrinya.


Arumi dan Leon sama-sama tersenyum melepas kepergian Nenek ramah itu. Perlahan namun pasti, jemari Leon mulai mencari-cari keberadaan jemari Arumi di sebelahnya. Setelah dapat, sedikit demi sedikit dia meraih jemari gadis itu. Dan pada detik berikutnya sudah berhasil menggenggamnya dengan penuh perasaan. Senyumnya kian melebar ketika Arumi membalas dan ikut mengeratkan tautan jemari mereka.

__ADS_1


"Aku sepertinya ingin es krim lagi." Gadis itu terkekeh kecil. Menatap Leon dengan Puppy eyes yang menggemaskan.


"Baiklah ! Apapun yang kau inginkan." Leon mencubit hidung Arumi. Menarik gadis itu sesaat kemudian untuk membeli es krim yang di inginkan gadis itu.


"Aru ! Apa aku boleh tahu apa artinya ini ?" Leon mengangkat tangan mereka yang saling bergandengan. Berharap penuh pada jawaban yang akan di berikan Arumi.


"Menurutmu, apa ?" Ujar Arumi balas bertanya. Senyum jahil jelas tercetak di wajah cantiknya.


"Ayolah, Aru ! Jangan membuatku semakin bingung."


"Kau ingin tahu ?"


"Tentu saja."


"Belikan aku es krim dulu !" Tunjuk gadis itu pada kedai es krim yang berada tepat di belakang Leon.


"Baiklah !" Ujar Leon terpaksa. Sepertinya dia harus ekstra bersabar hanya demi sebuah jawaban yang belum tentu akan melegakan hatinya.


"Leon !" Panggil Arumi lagi.


Pria itu berhenti dan menoleh menatap Arumi. "Ada apa ? Kau ingin rasa lain ?"


"Tidak." Gelengnya malu-malu.


"Lalu, untuk apa kau memanggilku ?" Alis Leon terangkat heran.


"I love you." Gadis itu tertunduk menyembunyikan semburat merah yang mulai mencuat di pipi putihnya karena menahan malu. Kedua bibirnya saling mengatup sempurna.


"Apa kau bilang ?" Tanya Leon memastikan. Dia takut jika indra pendengarannya hanya menangkap kalimat yang salah tadi.


"I love you." Kata gadis itu lagi. Kali ini dengan senyum yang berhasil lolos dari bibirnya.


Pria berambut brunette di hadapannya tak mampu menyembunyikan senyum bahagia di wajahnya. Ia tak percaya bahwa Arumi akan mengatakan kalimat itu setelah sekian lama Leon mengharapkannya. Leon berlari menghampiri Arumi dan memeluk gadis itu begitu senang. "I love you more. Really."

__ADS_1


__ADS_2