
Pukul 5 sore, Arumi dengan sigap meraih mantel dan tasnya. Bergegas lari keluar dari butik dengan mengendap-ngendap sembari menutupi sebagian wajahnya dengan syal yang sengaja dia bawa dari mansion. Teleponnya sudah berdering sejak setengah jam yang lalu dengan nama pemanggil yang sama yaitu 'CALON PACAR' alias Leon.
Mengabaikan deringan ponsel yang entah sudah ke berapa kali, Arumi bergerak menyetop sebuah taksi, masuk ke dalamnya dengan perasaan begitu lega sembari mengatur napas yang tersengal karena berlari. Akhirnya, dia berhasil menghindar dari Leon setidaknya untuk hari ini.
Akan tetapi, rasa lega yang Arumi rasakan tak berlangsung lama. Baru saja dia menghirup udara kebebasan, tiba-tiba pintu taksi kembali terbuka dan menampakkan sosok pria yang sudah berusaha ia hindari merengsek masuk dan duduk di sampingnya dengan begitu santai.
"Kau ?" Mata Arumi melotot kaget tak percaya. Mulutnya terbuka tak mempercayai bahwa semudah ini Leon menemukan dirinya.
"Sir, ke disneyland." Ucap pria itu pada supir taksi.
Sang supir hanya mengangguk dan melajukan mobil menuju ke tempat yang di sebutkan Leon tadi.
"Apa-apaan kau ? Kenapa tiba-tiba saja muncul dan malah membawaku ke tempat lain ? Aku mau pulang Leon." Protes Arumi putus asa.
"Kau yang apa-apaan ? Kenapa tidak mengangkat teleponku daritadi ? Kau sengaja, ha ?" Ujar Leon balas bertanya. Pria tampan itu bersedekap dada dengan wajah yang sengaja dia dekatkan pada wajah Arumi.
Reflek gadis cantik itu mundur. Menjauhkan wajahnya sejauh mungkin dari wajah Leon yang terlihat jauh lebih tampan dari jarak sedekat tadi. Dan menyebalkannya, jantung Arumi justru berdetak kencang hanya karena menyadari betapa gagahnya pria yang selalu membuatnya kesal akhir-akhir ini.
"Kau menelepon ? Aku tidak dengar." Geleng Arumi berbohong.
"Oh ya ?" Alis Leon terangkat.
"Tentu saja." Pekik Arumi setengah marah. Senjata ampuh jika dia sedang terpojok oleh lawan bicaranya seperti sekarang.
Leon semakin merapatkan tubuhnya pada Arumi yang saat ini sudah mentok menabrak pintu mobil yang terkunci di sebelahnya. Mata pria itu tetap setia menatap wajah cantik milik Arumi dengan jarak yang lagi-lagi begitu dekat. Semakin membuat jantung Arumi tidak bisa mengendalikan ritme degupannya.
"Menjauh sedikit, Leon !" Dorong Arumi pada tubuh Leon sehingga jarak kembali tercipta di antara mereka.
"Santai, Aru ! Kenapa kau tampak seperti orang gugup begitu ?" Ujar Leon terkekeh.
"Aku tidak gugup." Seru Arumi memberi pembelaan.
__ADS_1
"Lalu, kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus, nona ?" Sahut Leon menggoda.
"Apa ?" Secepat kilat, Arumi langsung membelakangi Leon sambil memegang kedua pipinya. Matanya terpejam, merasa sangat malu jika hal yang Leon katakan barusan benar.
"Aku hanya bercanda, Aru." Ujar Leon yang langsung di sambut pukulan keras pada bagian dadanya oleh gadis yang sengaja ia goda tadi.
Leon tampak meringis menahan sakit, sementara Arumi hanya memberi tatapan menusuk, seolah mengatakan 'rasakan itu' pada Leon.
Gadis itu mendengus sebal seraya melipat tangan. "Kenapa kau bisa naik taksi ini juga ? Kau mengikutiku ?" Desis Arumi ingin tahu. Kemunculan Leon yang selalu tiba-tiba seperti hantu benar-benar membuat Arumi penasaran.
"Jika ku jawab tidak, kau akan percaya ?"
"Tidak."
"Maka anggap saja aku tadi mengikutimu."
Lagi-lagi Arumi mendengus sebal karena ucapan Leon. Pria itu tak pernah serius jika di ajak bicara oleh Arumi.
"Siapa yang mengendap-ngendap ?" Sanggah Arumi cepat. Dirinya benar-benar merasa malu karena ternyata Leon sudah memperhatikan tingkahnya sejak keluar dari butik Nyonya Nastya. Lantas, kenapa pria itu tidak menegurnya dan malah baru menghampiri Arumi saat sudah menaiki taksi ? Kan, kelihatan sekali kalau Arumi menghindarinya.
"Jangan berbohong. Aku tahu kau ingin menghindariku, makanya aku mengikutimu diam-diam dari belakang sampai naik ke taksi ini."
"Kau licik, Leon." Desis Arumi geram.
"Tak lebih licik darimu yang sengaja menghidariku, nona cantik." Balas Leon tertawa kecil.
Melihat tampang Arumi yang merengut kesal akibat ulahnya benar-benar sangat menyenangkan bagi Leon. Bahkan, jika setiap hari dia hanya melihat wajah Arumi dengan satu ekspresi ini saja, sudah cukup membuat Leon tertawa bahagia sepanjang hari.
"Kita sudah sampai !" Ucap supir taksi itu saat mobilnya dia parkirkan di gerbang masuk ke disneyland kota paris.
Leon segera merogoh sakunya, memberi pada supir itu beberapa lembar lantas membawa Arumi turun untuk memasuki area bermain di hadapan mereka.
__ADS_1
Untuk sekejap, Arumi benar-benar takjub. Belum pernah dia ke tempat seperti ini selama dia hidup. Bahkan, ketika kecil pun dia tak pernah di ajak oleh keluarganya untuk berlibur. Ayah, tante Katherine dan Beverly selalu hanya pergi bertiga. Meninggalkan Arumi kecil di rumah dan di biarkan bekerja mengurus rumah bersama para pembantu.
"Ada apa ? Kau tidak ingin masuk ?" Tanya Leon penasaran.
"Kenapa kau membawaku kemari ?"
"Ini kencan pertama kita. Dan ku rasa, kau pasti tipe perempuan yang suka dengan hal yang lucu-lucu seperti yang akan kita lihat nanti di dalam."
"Apa di dalam sana menyenangkan ?" Gadis itu membulatkan matanya. Sinar matanya begitu hidup, membuat Leon mengernyit heran ingin tahu penyebabnya.
"Tentu saja. Kenapa kau menanyakan hal yang semua orang sudah tahu, Aru ?" Ucap Leon terkekeh.
"Karena aku tidak pernah tahu, Leon."
Napas Leon seakan tercekat saat mendengar pengakuan Arumi. Dirinya tak menyangka bahwa Arumi tidak pernah menginjakkan kaki di taman hiburan seperti ini sebelumnya.
"Lalu, tempat bermain apa saja yang pernah kau datangi ?" Tanya Leon hendak memastikan dugaannya.
"Taman bermain di dekat rumah ayahku." Jawab gadis itu.
Jejak tawa di sudut bibir Leon seketika menghilang. Ia yakin betul bahwa setiap kalimat pengakuan yang gadis itu katakan adalah kebenaran. Pikiran Leon sudah melayang jauh entah kemana. Dia terlalu banyak berpikir tentang bagaimana Arumi selama ini menjalani hidup sebelum dia ke negara ini. Bahkan, ke disneyland pun Arumi belum pernah ? Padahal, Leon cukup yakin bahwa Aru pasti berasal dari kalangan yang cukup berada.
"Kalau begitu, ayo masuk. Akan ku tunjukkan cara bersenang-senang di tempat ini." Senyum Leon kembali terbit. Dia menarik tangan Arumi masuk, berlari menuju ke loket, membeli karcis lalu melenggang mengajak gadis yang ia bawa untuk menikmati setiap hiburan yang di tawarkan di dalam sana.
"Wow ! Mereka lucu sekali, Leon." Pekik Arumi begitu senang saat menyaksikan para karakter disney yang asyik bernyanyi sambil menari di depan mereka.
"Kau menyukainya ?"
"Sangat. Terima kasih karena sudah membawaku kemari." Ucap gadis itu tertawa riang. Tawa yang Leon rindukan selama dia meninggalkan pulau Moorea. Dan tawa yang sama, yang sudah berhasil mencuri hatinya untuk pertama kali.
__ADS_1