
"Hei, gadis nakal ! Kenapa wajah jelekmu semakin bertambah buruk begitu ?" Ujar Charlie yang langsung melompat naik ke atas tempat tidur Arumi. Tidur, dengan posisi kepala yang di sanggah tangan kanannya. Kepalanya menoleh pada sang sahabat baik yang terlihat murung sejak pulang entah darimana.
"Aku sedang tidak berselera untuk berdebat denganmu, Char. Pergilah ! Kembali ke kamarmu sendiri." Usir Arumi lalu memutar tubuhnya membelakangi Charlie.
"Kau kenapa kawan ? Kenapa lagakmu seperti orang yang baru saja patah hati ?" Charlie kembali bertanya seraya bangkit dan duduk bersila di belakang Arumi.
"Aku tidak patah hati." Sanggah Arumi cepat yang juga ikut bangun dan duduk berhadapan dengan Charlie.
"Hei, hei, hei ! Ada apa ini ? Kenapa responmu mencurigakan sekali, gadis nakal ?" Mata Charlie memicing, menatap penuh selidik.
"Mencurigakan ? Tidak. Aku tidak seperti itu." Geleng Arumi kikuk. Pandangannya ia alihkan ke arah mana saja asal tidak pada Charlie.
"Katakan, Aru ! Ada apa sebenarnya ? Dan siapa pemuda yang akhir-akhir ini kencan denganmu ?" Charlie tampaknya semakin penasaran seiring tingkah Arumi yang semakin jelas sedang menyembunyikan sesuatu. Gadis tomboy itu paling tidak bisa di bohongi tentang hal apapun.
"Kencan ? Siapa yang kencan ? Aku tidak pernah melakukannya."
"Ayolah, Kawan !" Charlie menepuk keras paha Arumi. " Katakan saja, atau akan ku cari tahu sendiri." Ancam Charlie seraya bersedekap. Kedua alisnya terangkat sempurna.
Gadis asia itu menghela napas panjang. "Baiklah ! Aku akan jujur." Akhirnya, Arumi menyerah. Charlie lagi-lagi berhasil memperdayainya untuk bercerita.
"Tapi, jangan katakan apapun pada Daddy dan Mommy-mu, okay ?"
Alis Charlie terangkat curiga. Walaupun pada akhirnya, ia menganggukkan permintaan Arumi.
"Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sering keluar bersama Leon."
"What ? Leon ?" Teriak Charlie terkejut bukan main.
"Ssstt." Arumi membekap mulut Charlie. Takut jika orang tua gadis tomboy itu mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Jangan teriak-teriak, Char ! Kau itu bukan Tarzan." Tegur Arumi mendelik.
Gadis tomboy itu mengangguk paham lalu meminta Arumi melepas bekapan tangannya.
"Katakan semua secara jelas dan rinci, Aru ! OMG, ini benar-benar kabar yang menghebohkan." Seru Charlie tak sabaran. Suasana kamar yang dingin mendadak terasa begitu panas saat Arumi menyebutkan nama Leon barusan.
"Atur nafasmu dulu, Charlie. Kau sepertinya sedang kesulitan bernafas."
"I don't care, Aru ! Cerita saja dan jangan pedulikan aku. Okay ? Ceritamu jauh lebih penting di banding sesak nafasku." Sahut Charlie tak sabaran. Tentu saja nafasnya terasa memburu karena Arumi baru saja mengatakan sesuatu mencengangkan. Sahabat baiknya itu, kembali bertemu Leon setelah tiba di Paris. Bukankah ini yang di namakan jodoh ?
"Leon tidak sengaja menemukanku ketika dia dan Zack sedang membeli pizza di restoran sebelah butik Nyonya Nastya. Setelah itu, dia mengikutiku dan jadilah dia mengajakku untuk kencan 5 hari yang tertunda di pulau Moorea dulu."
"Lalu ?"
"Hari ini hari terakhir kencan kami. Dan kau tahu, Char ? Dia menyatakan cinta terhadapku lagi."
"Wow ! Aku tidak bisa mempercayai ini. Jadi, dia benar-benar jatuh cinta padamu, Aru ? Ku pikir, sewaktu di Moorea dulu dia hanya bercanda. Aku tidak menyangka jika Leon sosok laki-laki yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama." Mata Charlie membulat dengan binar antusias yang nampak jelas terlihat.
"Tidak." Jawab Arumi tertunduk lesu. Binar bahagia di wajah Charlie seketika luruh. Pasalnya, dia tak pernah menyangka bahwa Arumi bisa menolak pemuda sesempurna Leon.
"Kenapa kau menolaknya ? Apa karena Irgi ?" Tanya Charlie sambil menggenggam erat kedua jemari Arumi.
"Tentu saja bukan, Charlie." Jawab Arumi terkekeh kecil.
"Lalu ?"
Arumi terdiam sejenak. "Aku hanya takut jika apa yang Daddy-mu katakan benar, Charlie."
"Tentang ?"
__ADS_1
"Tentang kita yang tidak boleh jatuh cinta pada pemuda berkasta lebih tinggi daripada kita. Apalagi yang sekelas Leon. Aku benar-benar tidak berani." Arumi tersenyum kecut di akhir penjelasannya.
"Oh, Aru !" Mata Charlie menatap kasihan pada Arumi.Tangannya membentang, menawarkan pelukan yang tentu saja langsung di sambut Arumi dengan senang hati.
"Apa keputusanku salah, Charlie ?" Tanya Arumi lirih di dalam pelukan hangat Charlie.
"Tidak. Di antara dua keputusan itu, tidak ada yang salah. Pilih saja yang menurutmu akan membawa kebahagiaan untukmu, Aru ! Jika kau merasa bahwa ucapan Daddy benar, selama kau baik-baik saja itu tidak masalah. Tapi, jika jalan yang Daddy berikan membuatmu tidak bahagia, maka sekalipun kau memilih menerima Leon, aku pasti tetap akan mendukungmu selama kau bahagia bersamanya. Jadi, tentukan sesegera mungkin. Mana jalan yang ingin kau ambil sebelum terlambat."
Arumi terpaku dalam diam. Otak dan hatinya mencerna setiap kata demi kata yang di utarakan Charlie. Benar kata sahabat baiknya itu, secepat mungkin Arumi harus bisa memilih. Antara menghindar dari Leon atau justru bersama pria itu, mana yang lebih membuat Arumi tenang. Tentu, setiap keputusan yang akan dia ambil tidak ada yang akan berjalan mudah.
Jika Arumi memilih menjauhi Leon, maka gadis itu harus memulai kembali dari awal untuk belajar melupakan seseorang. Sama seperti saat dia berusaha melupakan Irgi.
Namun, jika dia memilih bersama Leon, maka Arumi harus bersiap berhadapan dengan Duke Xander. Ayah Leon yang terkenal dingin dan tak pernah bisa di bantah siapa pun. Setidaknya, itulah informasi yang pernah Arumi dengar di tengah-tengah pesta Mr. Kovalev sewaktu di Pulau Moorea. Benar atau tidaknya, Arumi harus tetap menyiapkan hati untuk segala kemungkinan.
* * *
"Di mana Leon ?" Duke Xander mencegah langkah Ronald, kepala pelayan di mansion besar miliknya.
Ronald menghentikan langkahnya. Menunduk hormat pada Duke Xander yang sedang terlihat sibuk memeriksa beberapa berkas penting di ruang tengah.
"Sejak tadi, tuan muda belum keluar juga dari ruangan pribadi Duchess Greysha, Duke." Jawab Ronald dengan tatapan tertunduk. Pandangannya tak pernah lebih tinggi dari pria yang terkenal dengan sifat dingin dan wajah datarnya itu.
Duke Xander terlihat menghela napas panjang. Ia meletakkan kembali berkas yang sempat ia baca kemudian melepas kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Bawakan makan malam untuknya. Pasti dia belum pernah makan sama sekali."
"Baik, Duke !" Angguk Ronald sebelum undur diri. Pria berusia 50 tahun itu, segera berbalik dan berjalan memunggungi Duxe Xander untuk melakukan perintah tuan besarnya itu.
Sementara, Duke Xander tampak kembali melanjutkan pekerjaannya. Di liriknya jam kayu besar yang berdiri tegak di sudut ruangan. Sudah jam 11.45 malam. Ada rasa khawatir karena Leon tak juga keluar dari ruangan pribadi milik Duchess Greysha, istri Duke Xander sekaligus ibu kandung Leon yang sudah lama meninggal. Pria paruh baya itu tertegun sebentar.
__ADS_1
"Bagaimana caranya agar aku bisa memberi pengertian pada putramu, Greysha ?" Gumam Duke Xander dalam hati.