Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#55


__ADS_3

Leon masuk ke dalam ruang ganti. Mengganti pakaian dengan jas pengantin rancangan kekasihnya sendiri. Sebuah jas berwarna putih dengan lis hitam di bagian depan. Sedikit kebesaran tapi terlihat sempurna melekat di badannya.


Leon tersenyum miris menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar yang berada tepat di hadapannya. Pemuda itu rasanya ingin menangis saja. Bagaimana bisa dia memakai jas rancangan kekasihnya untuk menikahi perempuan lain ? Leon sungguh tidak sanggup melakukan ini semua.


Sementara di luar, Arumi dan Claire yang menunggu Leon berganti pakaian hanya tersesat dalam diam. Tak ada yang berniat memulai percakapan di antara keduanya. Arumi hanya tercenung. Sementara Claire sibuk memainkan ponsel sambil melirik sekilas Arumi dengan sinis.


Sakit bukan ? Itu juga yang ku rasakan saat tahu bahwa Leon mencintaimu dan bukannya aku Aru ! Gumam Claire dalam hati.


Claire lalu melihat jam di ponselnya. Sudah sekitar 15 menit Leon berada di dalam ruang ganti namun belum juga keluar. Perempuan berbalut mini dress berwarna hitam itu memutuskan untuk menyusul Leon masuk ke dalam ruangan ganti.


Arumi hanya mengikuti langkah Claire dengan pandangan pasrah. Tak ada yang bisa dia lakukan. Membayangkan hal apa yang bisa saja Leon dan Claire lakukan didalam ruangan sempit itu semakin menyakiti perasaan Arumi. Namun, dia punya hak apa untuk merasakan sakit itu ? Cemburu pun dia sama sekali tidak berhak.


Memangnya siapa dirinya ? Apa gelarnya ? Sehingga harus memiliki rasa itu untuk sepasang calon suami istri yang sah ? Sementara dia ? Bahkan, kedudukannya tak berbeda jauh dengan perempuan j*lang yang rela di jadikan selingkuhan. Arumi kembali menghapus air matanya cepat. Dia hanya bisa menatap nanar tautan jemarinya yang kian mengerat satu sama lain.


Beberapa saat kemudian, tirai ruang ganti tersibak dan menampilkan pemandangan yang semakin membuat hati Arumi tertikam ribuan sembilu. Leon dan Claire saling berciuman mesra. Membiarkan Arumi menjadi penonton tunggal dengan perasaan hancur.


Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Jika ingin menuruti hati, mungkin saja sepasang kakinya sudah membawa dia berlari menjauh dari situ. Namun, logikanya masih berusaha bertahan dengan menanamkan keyakinan demi bertindak seprofesional mungkin dalam bekerja.


"Hentikan Jane !" Leon mendorong kasar tubuh Claire agar tautan bibir mereka terlepas.


Claire terdorong ke belakang dan segera berpegang pada tirai agar tak sampai terjatuh. Claire melirik Arumi yang membuang muka ke arah lain sambil berusaha menyembunyikan kesedihannya sebaik mungkin. Perempuan licik itu tersenyum. Lagi-lagi rencananya berhasil.


Leon turut melihat ke arah Arumi. Masih dengan perasaan marah yang menggebu, dia berjalan cepat menghampiri Arumi. Menarik tangan gadis itu tanpa peduli penilaian Claire terhadapnya.

__ADS_1


"Aru ! Aku bisa jelaskan semuanya. Ku mohon ! Beri aku kesempatan sekali saja untuk menceritakan semuanya." Ujar Leon memohon.


"Maaf, Mr. Wellington. Bisa anda lepaskan tangan saya ?" Tanya Arumi yang merasa tidak enak terhadap Claire.


"Tidak sebelum kau mau mengiyakan permintaanku." Tegas Leon yang semakin mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Arumi.


"Apa-apaan ini ? Apa kalian saling mengenal ?" Drama Claire semakin berlanjut. Dia menghampiri Arumi dan Leon seolah belum mengetahui hubungan antara keduanya.


"Tidak Claire. Kami tidak saling mengenal." Bantah Arumi yang kemudian melepaskan tangannya dengan paksa dari cengkraman tangan Leon.


Detik berikutnya, Leon kembali meraih pergelangan tangan Arumi. Kali ini bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Dia menarik tubuh Arumi agar merapat padanya dengan tatapan berapi-api menantang Claire.


"Dia kekasihku. Orang yang aku cintai. Bukankah kau sudah tahu ?" Kata Leon sinis. Mata pria itu berkilat-kilat di penuhi amarah.


"Apa ? Apa kau bilang ?" Claire berpura-pura syok. Dia terpundur ke belakang hingga terjatuh dan berpegangan pada kursi di belakangnya.


"Bukan Claire. Sungguh ! Aku tidak mengenal calon suamimu sama sekali. Ku mohon ! Percayalah padaku !" Sanggah Arumi memohon.


Sungguh ! Arumi benar-benarr tidak tega melihat Claire menangis seperti itu. Dirinya benar-benar merasa bersalah karena sudah melukai hati perempuan sebaik Claire.


"Apa yang kau katakan Aru ? Jangan berkata seperti itu ! Jangan berkata bahwa kau tidak mengenalku !" Bentak Leon tak terima. Kedua tangannya memegang kedua pundak Arumi. Mengguncang-guncang tubuh Arumi putus asa. Dia tidak ingin keberadaannya di sangkal oleh gadis Asia yang sangat dia cintai.


Semua kebersamaan yang selama ini sudah mereka lalui tak mau Leon musnahkan dalam sekejap begitu saja. Seperti apapun Arumi menyangkal, Leon akan tetap keukeuh mempertahankan.

__ADS_1


"Saya memang tidak mengenal anda ! Tolong lepaskan saya !" Tubuh Arumi bergetar. Menatap Claire dan Leon begitu gusar.


"Tidak. Kau jelas sangat mengenaliku. Aku Leonmu Aru ! Aku milikmu !" Leon memeluk paksa tubuh Arumi. Mengabaikan penolakan gadis itu yang meronta-ronta minta di lepaskan.


"Lepaskan saya. Tolong !" Lirih Arumi yang mulai kehabisan tenaga. Tangannya tak lagi berusaha memukul dada Leon. Isak tangisnya semakin menjadi.


"Maafkan aku !" Leon perlahan melepaskan Arumi dari dalam dekapannya. Pemuda itu sadar bahwa sikapnya yang seperti ini semakin menyakiti Arumi. Ia kemudian beralih menangkup wajah gadis itu sambil menatapnya lirih.


Hal itu dimanfaatkan oleh Arumi untuk segera berlari menjauh dari jangkauan Leon dan pergi menghampiri Claire yang masih terduduk di lantai. Arumi bersimpuh dihadapan Claire. Dia masih terisak dan berusaha menggenggam kedua tangan Claire.


" Claire, aku sungguh-sungguh tidak mengenali calon suamimu. Kumohon !percayalah padaku." Lirih Arumi memohon.


Claire mengangkat kepalanya sambil menatap tajam Arumi. Tanpa di sangka Arumi sebelumnya, tiba-tiba saja Claire melayangkan satu tamparan keras ke pipi mulus Arumi hingga membuat tubuh gadis itu terhempas ke samping. Arumi terhenyak sambil memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan keras Claire.


Dia hanya bisa menangis dan dengan pasrah menerima segala amukan kemarahan Claire. Dia tahu bahwa dirinya bersalah karena sudah memiliki hubungan dengan calon suami orang. Tapi, semua itu terjadi karena Arumi benar-benar tidak tahu.


"Dasar wanita penggoda kau Aru !" Claire kembali berdiri. Menunjuk-nunjuk Arumi yang masih terduduk di lantai.


" Aku pikir kau adalah sahabat baikku. Aku bahkan sempat menceritakan permasalahanku dengan Leon padamu. Tapi, ternyata wanita yang kuceritakan padamu adalah justru dirimu sendiri. Kenapa kau tega melakukan ini padaku ? Apa salahku ?" Tutur Claire yang masih menangis tak kalah kerasnya dengan Arumi.


"Jangan membentaknya Jane !" Leon menghampiri mereka. Menarik tangan Claire kasar agar perempuan licik itu menjauh dari kekasihnya.


"Jadi kau membela perempuan penggoda ini ?" Claire menunjuk Arumi yang masih terduduk di lantai.

__ADS_1


"Jaga bicaramu ! Arumi bukan perempuan penggoda." Geram Leon rendah.


Tak tahan lagi, Arumi berusaha menguatkan setiap persendian dalam tubuhnya. Sedikit bekerja keras menahan beban sakit hati yang melemaskan tubuhnya, Arumi bangkit berdiri dan segera pergi menjauh dari jangkauan Claire maupun Leon.


__ADS_2