Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#72


__ADS_3

Leon turun dari mobil Zack dan melangkah masuk ke dalam mansion seperti mayat hidup. Tatapannya kosong. Semua persendian dan indra di tubuhnya seperti mati rasa.


"Darimana kau ?" tegur Duke Xander.


Pemuda itu tak menjawab. Ia sama sekali tak mengindahkan pertanyaan Duke Xander. Ia terus berjalan. Menyusuri tangga mansion dengan gontai untuk menuju kamarnya. Duke Xander yang melihat itu sedikit tidak tega. Namun, sekali lagi sifat angkuhnya menang dari sifat perhatian yang seharusnya ia tunjukkan layaknya seorang ayah pada umumnya.


"Apa yang terjadi padanya ?" Duke Xander memutuskan bertanya pada Zack yang baru saja ikut memasuki mansion.


"Haruskah ku jawab ?" Zack menatap Duke Xander penuh kebencian.


"Ya. Kau harus !" jawab Duke Xander masih dengan sifat angkuhnya.


"Bukankah ini semua berkat ulah anda, Duke ?" Zack mendekat. Berkata dengan nada begitu rendah namun terdengar tajam. Tatapan matanya menghujam Duke Xander penuh dengan kemarahan.


"Perhatikan etikamu, Zack !" Duke Xander menggeram memperingatkan. Mata tajamnya memindai Zack dari atas ke bawah dan begitu pula sebaliknya.


"Ada apa dengan etikaku ? Apa yang salah ?"


"Jangan mencoba menantangku, Zack !" Duke Xander berkata rendah. Matanya tertutup menahan kesal yang semakin membuncah. Bahkan, Zack pun kini mulai berani terhadapnya.


"Memangnya kenapa jika aku menantangmu ?" Zack membentak. Meluap bagaikan kobaran api yang siap melahap apapun di hadapannya.


"Aku ayahmu !"


"Sejak kapan kau ingin di panggil ayah olehku ?" sergah Zack cepat. Tubuhnya bergetar hebat. Sudah lama sekali dia ingin melakukan ini namun baru sekarang ia menemukan alasan untuk memancing keberaniannya keluar.


Sudah cukup Duke Xander mempermainkan nasibnya dan Leon. Kali ini, Zack tidak akan mudah tunduk seperti sebelumnya. Kali ini, Zack ingin keluar dark kotak yang selama ini mengungkungnya.

__ADS_1


"Zack !"


"Diam !" Zack membentak lagi. Duke Xander benar-benar terdiam. Lidahnya kelu saat menemukan fakta bahwa anak pertama yang selama ini selalu menurut padanya kini juga ikut membangkang. Hebat sekali. Zack sudah mengikuti jejak Leon dengan sangat baik.


"Dengarkan aku, Duke ! Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Leon, aku akan membunuhmu ! Camkan itu !" Zack mendorong keras tubuh ayahnya itu sebelum pergi dari sana.


"Duke !" Ronald berlari dan segera membantu Duke Xander yang terduduk di lantai untuk berdiri kembali. "Anda tidak apa-apa ?"


"Tidak," geleng Duke Xander dengan tatapan yang sangat sulit di artikan ke arah punggung Zack yang perlahan semakin mejauhinya.


Selang beberapa detik, gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan yang hening dimana kini hanya tersisa Duke Xander dan Ronald saja. Keduanya tersentak dengan mata melebar ketika melihat siapa yang datang. Seorang lelaki yang 2 tahun lebih tua dari Duke Xander dengan rambut brunette bergelombang dan mata cokelat yang indah. Pria itu menyeret sebuah koper besar yang menandakan bahwa dirinya akan tinggal lama di mansion yang sudah sangat lama tidak ia injak ini.


"Ada apa ? Kau tidak ingin menyambut kakak kandungmu, Xander ?" Frederick Wellington tersenyum. Merentangkan kedua tangannya sembari berjalan dan memeluk Duke Xander yang masih terlalu terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


Ketika memeluk Duke Xander, Frederick memandang ke arah Ronald. Ia kemudian tersenyum pada kepala pelayan itu yang di balas Ronald dengan senyum tak kalah lebar. Ronald bernapas lega. Akhirnya, orang yang ia tunggu-tunggu datang juga walaupun di detik-detik terakhir.


"Ada apa ? Ada yang salah ? Aku kemari karena merindukan adik dan keponakanku, Xander. Lantas, di mana masalahnya ? Kenapa kau tidak terlihat senang melihatku di sini ?"


"Lalu, apa maksudmu dengan membawa koper sebesar itu ? Kau ingin tinggal lama ?" Duke Xander menunjuk koper besar yang berada di belakang Frederick.


"Ya. Kira-kira seperti itu," jawab Frederick seadanya.


"Tapi kenapa ?" tanya Duke Xander lagi.


"Karena aku ingin," tukas Frederick dengan senyum lebarnya.


"Baiklah ! Terserah kau saja," ucap Duke Xander mengalah. Berurusan dengan Frederick tak akan pernah mencapai kata selesai jika ia tetap bersikeras melarang kakak kandungnya itu untuk tinggal. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya. Belum selesai masalah dengan Leon dan Zack, kini masalah Duke Xander akan semakin bertambah dengan kehadiran Frederick yang tiba-tiba.

__ADS_1


"Selamat datang Tuan Fred ! Saya senang akhirnya anda datang juga !" sapa Ronald yang tentu saja dengan rona yang bahagia.


"Ayo tunjukkan kamarku, Ronald ! Kita bicara di dalam kamar saja," Fred menepuk bahu Ronald dan meminta kepala pelayan mansion itu untuk menunjukkan jalan untuknya.


Tiba di dalam kamar tamu yang sudah di siapkan oleh Ronald, Frederick langsung duduk di tepi kasur dan melepas coat hitam yang sedari tadi ia gunakan.


"Kenapa anda baru datang sekarang, Tuan ?" tanya Ronald putus asa. Ia sudah selesai menyimpan koper milik Frederick di dekat lemari pakaian dan beralih duduk di samping Fred.


Di banding Duke Xander yang kaku dan sedikit kolot, Frederick memang orang yang jauh lebih bersahaja dan memandang setiap orang setara. Bukan hal tabu bagi Ronald jika hanya sekedar duduk berdampingan seperti ini dengan kakak tuannya. Berbeda sekali jika bersama Duke Xander. Ronald hanya boleh berdiri di belakang pria itu dan tidak pernah berani mengangkat kepala lebih tinggi daripada Duke Xander.


"Aku ini bukan pengangguran yang jika kau panggil akan datang saat itu juga, Ronald ! Aku seorang polisi. Kau pikir mudah meminta cuti kepada atasanku ?" Frederick mengomel kesal.


"Tapi, keadaan semakin memburuk dari ke hari, Tuan Fred ! Hubungan Duke Xander dengan kedua putranya semakin kacau," ucap Ronald cemas.


"Aku mengerti. Tapi kau juga tahu, 'kan ? Aku tidak sekaya Xander. Jika aku pergi tanpa izin dan aku di pecat atasanku, bagaimana nasib istri dan kedua putriku ?" ucap Frederick sambil berdecak kesal. "Bahkan, gajimu saja lebih besar dari gajiku !" lanjutnya lagi.


Ronald mencebik kesal. Kenapa Frederick malah membandingkan pendapatan di antara mereka sekarang ? Sedangkan, ada hal yang jauh lebih penting dari itu yang saat ini tengah mereka hadapi.


"Tuan Fred ! Lebih baik anda menemui Tuan Muda Leon ! Saya yakin, Tuan Muda pasti akan merasa lebih baik jika bertemu dengan anda," tutur Ronald.


"Apa yang terjadi padanya ? Apa dia sakit ?"


"Ya. Tuan Muda sakit. Tidak hanya fisiknya saja. Tapi hatinya juga," terang Ronald dengan suara yang terdengar prihatin.


Frederick meneguk ludahnya kasar. Sepertinya, keadaan di mansion besar ini memang sedang di dalam suasana yang genting.


"Ceritakan padaku semuanya tentang apa yang terjadi di rumah ini, Ronald !" ucap Frederick yang kini sudah memasang tampang serius.

__ADS_1


__ADS_2