Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#63


__ADS_3

"Akh !!" Leon memegangi kepalanya yang terasa sakit ketika dia mencoba mendudukkan badannya dengan bersandar di kepala ranjang.


"Kau sudah bangun ?" tanya Duke Xander yang baru saja terbangun saat mendengar suara rintihan Leon.


Leon memandangi punggung tangannya yang tertancap jarum infus. Pemuda itu lalu memegang dahinya yang di perban dan berusaha mengingat apa yang sudah terjadi. Sesaat kemudian ingatan itu mulai terbayang. Yang dia ingat dirinya sedang merasa tidak enak badan dan memutuskan menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ketika dia selesai dan hendak mencuci tangan, tiba-tiba di dalam penglihatan pemuda itu, semua benda seperti berputar. Dan tak lama kemudian, semua menjadi gelap lalu Leon tak ingat apa-apa lagi.


"Bagaimana keadaanmu ?" Duke Xander bangun dari sofa dan berjalan cepat mendekati Leon. Ia memegang lengan putranya dengan tatapan khawatir.


"Tidak usah berpura-pura peduli," desis Leon marah. Pemuda itu menarik lengannya yang di pegang Duke Xander dengan kasar. Usai mendengar segala rencana kotor ayahnya bersama dengan Claire dari mulut Zack, rasa hormat Leon benar-benar menguap untuk pria itu.


Duke Xander terhenyak. Untuk spersekian detik Duke Xander merasa sedikit tercubit di ulu hatinya. Leon menolak perhatiannya ketika sedang sakit untuk pertama kali.


Mengabaikan rasa nyeri di dalam hati, Duke Xander memilih menjauh sedikit dari Leon. Ia kemudian menekan interkom yang tertempel di dinding untuk menghubungi Ronald.


" Ronald ! Suruh pelayan membawakan makanan untuk Leon !" katanya dengan suara datar seperti biasa.


"Baik, Duke !" Ronald menjawab dengan cepat.


Kini hanya hening yang mengisi sekat antara ayah dan anak yang hubungannya sedang dalam masa perang dingin itu. Sambil menunggu Ronald, Duke Xander hanya berdiri diam di dekat jendela. Sedangkan Leon turut membuang tatapan kosongnya pada tembok kamar yang di dominasi warna abu-abu.


Ronald tiba 5 menit kemudian bersama dua orang pelayan wanita yang masing-masing membawa nampan. Satu nampan berisi bubur hangat dan air putih, dan satu lagi berisi biskuit dan secangkir teh hijau. Usai meletakkan makanan yang mereka bawa, dua pelayan tersebut segera pamit untuk pergi.


Ronald mengambil bubur hangat itu dan mendekati Leon. Pria itu meraih sebuah kursi dan duduk di dekat Leon yang sedang bersandar di kepala ranjang. Ronald mengaduk-aduk bubur itu bermaksud untuk mendinginkannya lebih dulu.


"Waktunya makan Tuan Muda," kata Ronald sambil menyendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Leon.


"Tidak. Bawa kembali makanan itu ! Aku tidak mau makan," tolak Leon sembari menjauhkan mulutnya. Pemuda itu tetap keras kepala tidak ingin memakan apapun.


Ronald menghela napas. Dia masih berusaha mencoba.

__ADS_1


"Kata dokter Norris anda sakit karena tidak pernah makan dan minum sama sekali. Maka dari itu, anda harus makan sekarang agar anda bisa cepat pulih," bujuk Ronald.


"Aku tidak ingin sembuh, Ronald ! Biarkan saja aku seperti ini." Leon menatap kosong pada lampu tidur yang berada di atas nakas. Suaranya terdengar lemah dan penuh keputus-asaan.


Lagi-lagi Ronald menghela napas. Pria itu kemudian memandang Duke Xander yang masih betah berdiri di dekat jendela. Seolah meminta solusi tentang hal apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Biar aku saja yang menyuapinya," seru Duke Xander sambil berjalan mendekati Ronald.


Ronald segera berdiri dan mempersilahkan Duke Xander duduk di kursinya tadi. Mangkuk bubur yang tadi ia pegang kini beralih ke tangan Duke Xander.


"Tinggalkan kami berdua Ronald !" perintah Duke Xander kemudian.


"Baik !" Ronald mengangguk patuh dan bergegas keluar kamar. Ia menutup rapat pintu kamar Leon setelahnya demi memberi privasi kepada ayah dan anak itu.


"Semoga hubungan kalian bisa membaik seperti dulu lagi," batin Ronald penuh harap.


Leon masih bergeming. Pemuda itu mendengus kasar sembari melirik sinis Duke Xander melalui ekor matanya. Tangannya terkepal erat menggenggam selimut yang menutupi separuh tubuhnya.


"Makanlah !" pinta Duke Xander. Tangannya bergerak ingin menyuapi putranya.


Leon mematung. Dirinya bagaikan batu yang tak bisa bergerak apalagi bersuara. Perintah Duke Xander hanya di anggapnya sebatas angin lalu.


"Apa kau tidak mendengar apa kata Daddy ?" tanya Duke Xander yang mulai terpancing amarah kembali. Ia geram melihat kelakuan Leon yang semakin hari semakin tidak dapat ia kendalikan. Putranya sekarang menjadi liar.


Leon masih bertahan dalam posisinya. Ini adalah bentuk pertahanan baru yang dia ciptakan demi melawan ayahnya.


Duke Xander menyerah. Dia meletakkan mangkuk bubur itu di dekat Leon. Duke Xander berdiri dan menarik napas dalam.


"Lihatlah kelakuanmu sekarang ! Kau semakin hari semakin melupakan jati dirimu ! Kau menjadi anak yang pembangkang dan melupakan semua etika baik yang Daddy ajarkan padamu !" Duke Xander menyuarakan kekesalannya.

__ADS_1


Leon tersenyum sinis mendengar perkataan Duke Xander. Kini pria paruh baya itu berhasil membuat perhatiannya terpancing.


"Etika baik seperti apa yang Daddy ajarkan padaku ?" tanya Leon sinis. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum mengejek.


"Aku tidak merasa Daddy mengajarkan etika apa-apa selain hanya tunduk pada perintah Daddy seperti anjing peliharaan," lanjutnya dengan penuh penekanan.


"Jaga bicaramu !" Duke Xander memperingatkan dengan tajam. Telunjuknya teracung di udara.


"Ada yang salah dengan bicaraku Dad ?" Leon menyeringai menantang. Sorot matanya yang tajam semakin menegaskan bahwa dirinya yang sekarang memang sudah benar-benar berubah. Selamat tinggal untuk Leon yang penurut.


Duke Xander bernapas kasar. Emosi memenuhi seluruh tubuhnya.


"Ini semua gara-gara gadis Asia itu !" ucap Duke Xander. Ia menyalahkan seseorang yang sebenarnya tidak pernah melakukan apapun.


"Jangan bawa-bawa Arumi dalam permasalahan ini ! Sudah cukup Daddy mengganggunya dan mempermalukan dia bersama Jane," bentak Leon tak terima.


Duke Xander terkesiap. Sepertinya, rencana yang ia susun bersama Jane beberapa waktu lalu sudah di ketahui Leon.


"Apa maksudmu ?" tanya Duke Xander mengelak.


"Zack sudah menceritakan semuanya Dad ! Jadi, berhenti berpura-pura lagi," jawab Leon geram. Pemuda itu tertawa lemah.


"Etika baik ? Daddy sok mengingatkan aku tentang hal itu. Tapi, lihatlah ! Siapa yang tidak tahu etika selama ini ! Aku atau Daddy ?"


"Jaga bicaramu, Leon !" geram Duke Xander dengan rahang bergemeletuk.


Leon kembali tertawa. Sangat menikmati wajah murka Duke Xander yang jarang ia lihat. Ya. Seperti inilah harusnya wajah asli ayahnya. Orang yang angkuh, pemarah dan merasa paling berkuasa. Bukan Duke Xander yang datar, berwibawa dan bermartabat.


"Dengarkan aku Dad ! Jika aku tahu Daddy masih berani melakukan hal yang tidak baik kepada Arumi di belakangku, akan ku pastikan Daddy akan menyesalinya," ancam Leon bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Duke Xander kehabisan kata-kata. Dia dengan marah berderap meninggalkan kamar putranya begitu saja.


__ADS_2