
"Apa itu, Leon?" tanya Arumi yang berhasil mencegat langkah Ayahnya yang hendak menuju ke dapur.
"Ya." Jonathan mengangguk.
Pria itu melanjutkan langkahnya menuju ke dapur dengan Arumi yang mengekor tepat di belakangnya. Jonathan mengambil segelas air minum sementara Arumi duduk di kursi meja makan sembari melipat kedua tangannya.
"Apa yang Ayah katakan padanya?" tanya Arumi lagi.
Suara dentingan gelas dengan permukaan pantry yang terbuat dari marmer hitam terdengar sedikit nyaring ketika Jonathan meletakkan gelas bekas minumnya tersebut dengan sedikit keras. Pria paruh baya itu mendekati putrinya. Duduk tepat bersisian dengan Arumi kemudian menggenggam erat tangan sang putri.
"Ayah melakukan semua ini demi kebaikanmu sendiri, Aru! Ayah hanya tidak ingin kau terluka lagi. Ayah mohon! Berjanjilah kau akan melupakan pemuda itu selamanya demi Ayah. Berjanjilah bahwa kau akan jatuh cinta kembali dengan pria yang jauh lebih baik dan sepadan denganmu di masa depan!" mohon Jonathan sungguh-sungguh.
"Tapi... "
"Ayah mohon! Lakukan demi Ayah!" Jonathan sudah merosotkan tubuhnya. Bersimpuh di depan sang putri penuh permohonan.
Arumi yang kaget tak percaya segera memaksa Jonathan untuk bangkit kembali. Ia berusaha menarik kedua lengan ayahnya agar kedua lutut pria itu tak lagi menyentuh lantai.
"Jangan seperti ini. Berdirilah, Ayah!" pinta Arumi.
Bukannya menurut, Jonathan semakin menundukkan kepalanya. "Tidak, sampai kau berjanji akan memenuhi permintaan Ayah."
Arumi memejamkan mata. Ia sungguh tidak tega melihat Ayahnya seperti ini. Namun, disisi lain melepaskan Leon adalah sesuatu yang Arumi tahu akan menghancurkan dirinya lagi seperti dulu.
"Baik! Aru berjanji akan melupakan Leon mulai detik ini!" putus Arumi dengan suara bergetar menahan sakit.
Hancur. Patah. Seperti itulah kondisi hati Arumi saat ini. Mengikhlaskan Leon untuk selamanya adalah sesuatu yang harus ia mulai dari awal lagi. Setelah semua hal yang beberapa hari ini mereka lewati, setiap detiknya terasa semakin sulit membuat Arumi melupakan Leon begitu saja.
Kini, setiap jejak itu harus ia hapus kembali. Berusaha menapak jalan berduri sendiri tanpa Leon lagi. Jika itu yang bisa memuaskan Jonathan, maka Arumi akan berusaha melakukan meski ia tahu mustahil sanggup untuk ia lakukan.
"Maafkan, Ayah! Dan, terima kasih." Jonathan menghambur memeluk Arumi yang hanya bisa menatap kosong. Nyawa gadis itu seolah melayang dalam hitungan detik. Air mata pun kini tidak tumpah lagi. Ia mati rasa.
"Ayah tahu ini berat untukmu! Tapi, Ayah hanya tidak ingin kau jauh lebih tersakiti jika orangtua pemuda itu menentang hubungan kalian. Ayah tidak ingin kau di permalukan lagi, Nak!" ucap Jonathan lembut seraya mempererat pelukannya di tubuh ringkih sang putri.
"Ayah harap kau mengerti!"
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa terdiam. Semua yang Jonathan katakan ada benarnya. Ia akan jauh lebih tersakiti jika Duke Xander kembali menolaknya. Leon bisa saja berbohong dengan mengatakan bahwa Duke Xander telah merestui mereka. Pria sekeras batu itu mustahil memberikan restunya begitu saja. Bahkan, bisa saja kedatangan Leon ke Indonesia juga karena pemuda itu kabur dari ayahnya. Ya. Itu mungkin saja. Leon pernah melakukannya. Bahkan, sering. Dan, sekarang, tentu saja itu bukan hal yang mengherankan jika Leon melakukannya lagi.
Keesokan harinya, Leon datang lagi. Kali ini, Arumilah yang membuka pintu dan bukannya Jonathan. Senyum pemuda itu terbit. Dengan hati yang lapang, ia memeluk gadis Asianya dengan erat. Mengecup beberapa kali puncak kepala dan pipi gadis itu.
"Aku senang melihatmu baik-baik saja, Aru!" Leon kembali memeluk Arumi.
"Aku merindukanmu!" lanjutnya lagi.
"Lepaskan aku!" ucap Arumi datar.
"Apa kau bilang?" tanya Leon yang merasa salah mendengar.
"Lepaskan aku, Mr.Wellington!" ucap Arumi mengulang perintahnya.
Hati Leon bagai di sayat ketika Arumi menyebutnya dengan sebutan formal. Lelaki bersurai brunette itu tahu bahwa sesuatu sudah terjadi.
Dengan berat hati, Leon melakukan hal yang Arumi perintahkan. Ia melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah dengan perasaan terkoyak.
"Kali ini, apalagi salahku?" tanyanya dengan suara rendah penuh kesakitan.
"Tidak ada." Arumi menjawab tanpa melihat wajah Leon. Demi apapun! Ia juga sama hancurnya dengan Leon.
"Aku ingin kau melepaskan aku selamanya!" Mata Arumi terpejam rapat. Hatinya teriris sembilu yang begitu menyakitkan. Ia ingin berteriak untuk menumpahkan rasa sakit itu namun Leon masih berdiri gontai di hadapannya. Pemuda itu juga merasakan sakit yang sama dengannya.
"Tidak. Aku tidak mau!" geleng Leon keras. Ia marah. Ia kesal. Ia merasa kembali gagal. Apa salahnya? Ia sudah berjuang selama ini. Namun, kenapa hasilnya selalu tak sesuai dengan harapan yang ia inginkan?
"Ayahku sudah merestui kita, Aru! Kita bisa bersama sekarang!" lanjutnya dengan sisa-sisa harapan yang masih berusaha untuk ia kumpulkan.
"Aku tidak percaya!" bentak Arumi. "Dulu kau membohongiku! Apa jaminannya jika sekarang kau tidak melakukannya?"
Leon terdiam. Untuk sepersekian detik otaknya berhenti berpikir.
"Akan ku telepon Daddy sekarang jika kau tidak percaya!" Pemuda itu buru-buru mengeluarkan ponselnya. Mencari-cari nama Duke Xander di layar benda pipih itu dan menghubungi ayahnya.
Dalam hati, Arumi berdoa semoga semua itu benar. Semoga Duke Xander benar-benar menerimanya dan membuat Jonathan pada akhirnya bisa percaya. Namun, hingga panggilan ke empat, panggilan itu tak kunjung di angkat.
__ADS_1
"Daddy pasti sedang tidur saat ini. Kau tahu perbedaan waktu antara Jakarta dan Paris kan?" Leon berusaha tertawa meski jemarinya sudah bergetar hebat sedari tadi.
"Akan ku hubungi Ronald dan memintanya membawa kan ponselnya untuk Daddy!" ucap Leon tak putus asa.
Arumi menghela napas. Sepertinya, memang inilah akhir dari kisahnya bersama Leon.
"Cerita kita berakhir di sini, Leon! Pergilah! Lupakan aku! Kita mungkin memang terlahir dan di takdirkan bertemu dan saling mencintai. Tapi, kita berdua sayangnya tidak di takdirkan untuk berjodoh."
"Tidak. Jangan bicara seperti itu! Aku tidak bisa menjauhimu, Aru! Ku mohon!" Air mata Leon sudah membasahi pipi pemuda itu. Ia di hancurkan dalam sekali serangan oleh wanita di hadapannya. Leon lunglai. Ia jatuh bersimpuh di depan Arumi.
"Jika kau memang mencintaiku, maka pulanglah! Anggap saja aku hanya bagian dari mimpi burukmu yang akan langsung menghilang begitu kau terbangun di atas tempat tidurmu nanti!"
"Aku tidak mau, Aru!" geram Leon marah.
Arumi tersentak. Gadis itu menangis. Ucapan kemarahan Leon yang jauh lebih terdengar seperti raungan putus asa menghujam Arumi dengan begitu dalam. Sakit, sakit dan sakit. Lagi-lagi, hanya itu yang terasa.
"Kau masih ingin melihatku hidup bukan?" tanya Arumi dingin.
Leon mendongak. Menatap Arumi dengan tatapan bertanya. Sepersekian detik berikutnya, mata pria itu membulat. Di tangan Arumi sudah ada sebilah pisau yang entah darimana gadis itu dapatkan.
"Jangan lakukan, Aru!" Leon menggeleng keras. Pisau itu sudah Arumi letakkan di atas urat nadi pergelangan tangan kirinya. Gadis itu bersiap untuk menyayat tangannya sendiri.
"Berjanjilah kau akan melupakan aku dan kembali ke negaramu!" Suara Arumi bergetar. Matanya memancarkan kesungguhan. Kedua bibir merah mudanya mengatup sempurna.
"Aru..."
TESS!!
Darah menetes dari pergelangan tangan Arumi. Leon yang melihat hal itu syok bukan main. Dengan sisa kesadaran serta kekuatan yang masih ada, ia berdiri. Membuka kaos berwarna burgundy yang ia kenakan lalu merobeknya dan mengikatkan di pergelangan tangan Arumi.
"Apa kau gila?" ujar Leon berteriak marah.
Arumi Liem
__ADS_1
Leon Wyatt Wellingt