Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#19


__ADS_3

Leon terpana memandangi wajah gadis cantik di hadapannya yang kini sedang membersihkan luka pada punggung tangannya yang sempat lecet. Gadis itu sesekali meniup-niup kecil luka Leon.Dengan telaten gadis itu juga mengoleskan obat merah menggunakan cotton bud kemudian menempelkan plester luka di atasnya. Membuat pria pemilik luka itu merasa berbunga-bunga seperti baru menemukan cinta.


"Kenapa kau berhenti ?" Tanya Leon sesaat setelah Arumi melepaskan tangannya.


"Apanya ?" Ujar gadis itu balik bertanya.


"Mengobatiku."


"Sudah selesai, Leon. Kau tidak lihat ?" Seru Arumi seraya memandang pada punggung tangan Leon yang sudah terbalut plester pada keseluruhan lukanya.


Pria itu pun ikut memandangi punggung tangannya lalu terkekeh kecil setelahnya. Saking seriusnya dia memandangi wajah gadis asia di depannya, ia sampai tak sadar bahwa lukanya sudah selesai di obati.


"Katakan ! Bagaimana caramu menemukanku ?" Tanya Arumi kemudian. Gadis itu memberanikan diri memecah kesunyian yang sempat mengisi celah antara dia dan juga Leon. Ia menoleh pada Leon di sampingnya yang saat ini sudah sama-sama menghadap ke depan, menikmati pemandangan langit sore menjelang malam di pinggir sungai Seine. Salah satu tempat paling romantis di Paris dan merupakan destinasi wajib bagi traveler yang berkunjung ke kota modis dan bersejarah itu.



"Entahlah ! Aku tidak tahu." Jawab Leon dengan nada suara yang lembut. Manik matanya masih memandangi pemandangan sungai Seine di depannya dengan penuh ketenangan.


Arumi terkekeh kecil mendengar jawaban Leon. Dia merasa bahwa lelaki itu sekali lagi pasti sedang berbohong padanya.


Namun yang sebenarnya adalah Leon sama sekali tidak sedang berdusta. Dia memang tidak tahu, kenapa dia bisa menemukan Arumi setelah dua bulan terakhir dia sudah hampir menyerah dan memutuskan untuk ikhlas dan melupakan Arumi selamanya. Dan, ketika dia sudah benar-benar membulatkan tekad, dirinya menemukan gadis yang selama ini dia cari sedang berjalan keluar dari sebuah butik tepat di hadapan Leon yang sedang menunggu Zack membeli makanan di toko sebelahnya.


Sebuah kebetulan yang bagi Leon adalah sebuah takdir. Dia yakin betul bahwa Arumi mungkin saja benar-benar memiliki keterikatan takdir dengannya di masa depan. Keyakinan itu pulalah yang menyeret langkah Leon mengikuti Arumi dan pada akhirnya tanpa pikir panjang langsung menghampiri gadis itu.


"Sudah malam, aku harus cepat pulang sebelum Charlie dan orang tuanya mencariku." Ucap Arumi sambil berdiri.


"Ingin ku antar ?" Leon ikut berdiri.

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku bisa naik taksi sendiri." Geleng Arumi cepat. Jangan sampai Leon yang mengantarnya atau Charlie akan membombardir dirinya dengan pertanyaan yang akan sulit untuk Arumi jawab.


"Kau yakin ?"


"Aku yakin, Leon." Jawab Arumi jengah.


Tak lama kemudian, ponsel Leon berdering. Segera di angkatnya ketika melihat nama Zack di layar benda pipih itu. Leon memejamkan mata. Bagaimana bisa dia melupakan keberadaan Zack yang sudah pasti kebingungan mencarinya ke mana-mana ?


"Ya, Zack ?"


"Hei, tuan muda ! Kenapa baru mengangkat ponselmu, hah ? Apa kau tahu aku sudah berapa lama berkeliling mencarimu ?" Suara omelan Zack sontak membuat Leon meringis merasa bersalah.


"Maaf, sobat ! Aku melupakanmu." Jawab Leon penuh rasa bersalah.


"Melupakanku ? Yang benar saja, Leon ! Apa yang sedang kau lihat sehingga kau bisa melupakanku yang masuk memesan pizza demi dirimu, hah ?"


"Hei, apa maksudnya ?"


"Sudahlah ! kau terlalu cerewet, Zack ! Nanti akan ku jelaskan." Seru Leon yang langsung memutus telepon secara sepihak.


"Akan ku antar kau sampai ke depan untuk memesan taksi." Ujar Leon pada Arumi seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.


"Baiklah." Jawab Arumi patuh. Dirinya sudah kehilangan tenaga untuk berdebat dengan Leon. Maka, berdamai dan menuruti kemauan pria aneh itu adalah hal yang harus dia lakukan saat ini.


Tiba di pinggir jalan raya, Leon memberhentikan satu taksi yang kebetulan langsung ada. Dengan cekatan, dia segera membukakan pintu mobil untuk Arumi dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Sebelum menutup pintu mobil kembali, Leon meminta ponsel Arumi terlebih dahulu. Hampir saja dia melupakan hal terpenting dari pertemuan mereka ini.


"Berikan ponselmu !" Pinta Leon dengan tangan terulur.

__ADS_1


"Untuk apa ?"


Leon berdecak. "Sudahlah ! Kemarikan saja, Aru !"


Tak mau berdebat panjang, Arumi menuruti permintaan Leon. Di serahkannya benda pipih yang baru saja dia rogoh dari dalam tasnya dengan perasaan bertanya-tanya.


Pria itu tampak menekan tombol di layar ponsel Arumi dengan cekatan, lalu menghubungi sebuah nomor yang ternyata adalah nomor ponselnya sendiri. Setelah tersambung, dia merogoh ponsel dari dalam sakunya dan menyimpan nomor Arumi entah dengan nama apa di dalam sana.


"Jam berapa biasanya kau pulang kerja ?"


"Jam 5 sore." Jawab Arumi polos.


"Oke. Besok sore akan ku hubungi setelah kau pulang kerja. Kita akan jalan-jalan untuk melanjutkan misiku yang sempat tertunda di Moorea." Lagi-lagi Leon tersenyum, mengulurkan kembali ponsel milik Arumi ke pemiliknya dan menutup pintu mobil.


Dia menyuruh supir taksi untuk segera jalan sebelum Arumi sempat melayangkan protes pada keputusan sepihak Leon yang ingin mengajaknya jalan esok hari.


Sambil menggerutu tidak jelas, Arumi menatap layar ponselnya. Kekesalannya kian memuncak saat membaca nama apa yang Leon tuliskan untuk menyimpan kontaknya di ponsel Arumi tadi. Tertulis di sana dengan huruf kapital besar-besar 'CALON PACAR' yang membuat Arumi setengah mati menahan diri untuk tidak meledak.


Apasih, maunya lelaki itu ? Kenapa dia harus kembali setelah aku sudah melupakan semua tentangnya. Ku pikir, mimpiku tentang Leon sudah berakhir, ternyata mimpi itu masih akan berlanjut dan sepertinya akan berlangsung lebih lama.


Arumi tertunduk dalam. Sebisa mungkin menguasai hati untuk tidak benar-benar jatuh ke dalam pesona seorang Leon Wyatt Wellington yang hanya akan membuat Arumi terluka nantinya. Uncle Charles sudah berpesan beberapa hari yang lalu, bahwa jangan sampai Arumi jatuh cinta pada pria dengan kasta tinggi atau dia hanya akan mendapat derita yang jauh lebih menyedihkan.


Arumi cukup tahu diri untuk mengartikan apa maksud tersirat dari pesan uncle Charles. Dia tahu bahwa rakyat jelata macam dirinya mustahil bisa bersanding dengan bangsawan terhormat seperti Leon sekalipun pria itu benar-benar tulus mencintai Arumi.


Jadi, Aru harus apa ? Menghindar dari Leon juga bukan ide yang baik. Pasalnya, jika dia ingin melakukan hal itu, maka dia harus berhenti dari butik Nyonya Nastya karena Leon sudah tahu dia bekerja di sana. Hah ! Masalah ini akan semakin rumit jika Arumi tidak bisa membatasi perasaannya terhadap pria itu untuk sekedar berteman.


Jangan jatuh cinta padanya, Aru ! Atau kau hanya akan terluka di kemudian hari.

__ADS_1


Arumi menghela napas lalu membuang pandangannya ke arah jendela. Menikmati pemandangan malam kota Paris yang begitu indah untuk sekedar memberi penghiburan pada hati yang mulai kembali goyah hanya karena kehadiran pemuda si pemilik senyum lepas yang ia temui di pulau Moorea.


__ADS_2