Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#99


__ADS_3

Misi 20 hari demi mendapatkan Arumi kembali di mulai oleh Leon. Pemuda itu sudah banyak belajar. Tidak ada keuntungan yang akan dia dapatkan jika hanya bersikap lemah dan memohon. Yang harus ia lakukan justru harus bersikap menjadi Leon yang lama. Leon yang bebal. Leon yang tidak pernah mau mendengarkan dan Leon yang selalu bersikap ceria. Itu adalah poin utama yang sempat ia lupakan. Sikap yang dulu berhasil membawa Arumi ke dalam pelukannya.


Arumi mendengus kasar sembari mengintip melalui tirai dinding kaca ruang kantornya ketika pemuda itu beberapa menit yang lalu pamit untuk pulang. Segera Arumi menutup kembali tirai itu ketika Leon ternyata melihatnya dan malah melambaikan tangan padanya dan memberikan ciuman jarak jauh. Antara kesal dan sedikit senang, gadis itu mengulum senyum sambil berusaha memperbaiki ritme detak jantungnya.


"Aru !" suara Selina berhasil mengagetkan Arumi.


"Sel ? Ka-kau di sini ?"


Selina menatap bingung pada Arumi dan memilih untuk menutup kembali pintu dan menuju ke sofa untuk duduk dengan nyaman.


"Memangnya kenapa kalau aku di sini ?" Aktris cantik itu menyilangkan kedua kakinya. Matanya menatap curiga pada Arumi yang terlihat begitu gugup.


"Ada apa denganmu ?" tanya Selina.


"Tidak apa-apa," jawab Arumi dengan suara yang tak mampu menutupi kegugupannya. "Kau ingin minum sesuatu ?"


"Tidak usah ! Aku hanya mampir sebentar," jawab Selina.


"Oh iya, Aru ! Siapa laki-laki bule yang tadi ku temui di bawah ? Apa pelanggan barumu ?"


Arumi terpaku sejenak. Benar-benar sebuah keberuntungan atau justru kesialan karena Selina sudah bertemu dengan Leon. Arumi harus menanyakan pendapat Selina mengenai hal gila yang bisa saja Leon lakukan ke depannya ketika pemuda itu menjalankan misi cinta 20 hari yang terdengar konyol di telinga Arumi. Gadis cantik itu kemudian memutuskan duduk di samping Selina. Raut wajahnya sedikit tegang sehingga Selina cukup merasa aneh.


"Ada hal penting yang harus ku ceritakan padamu, Sel !" kata Arumi serius.


"Tentang apa ?"


"Tentang pemuda lelaki bule yang kau temui di bawah tadi," sahut Arumi cepat.


Selina melipat kedua bibirnya dengan tatapan yang semakin bertambah curiga. Di perhatikannya kedua tangan Arumi yang sedari tadi bergerak gelisah di atas pahanya sendiri.


"Memangnya, siapa lelaki itu ?" tanya Selina penasaran. Belum pernah ada satu pria pun yang bisa membuat Arumi segugup ini selama ia mengenal pribadi gadis cantik itu beberapa waktu belakangan.


"Tapi, kau jangan terkejut apalagi sampai berteriak. Oke ?" ujar Arumi memperingatkan.


Selina tertawa sinis. "Tidak akan," jawabnya.


"Dia Leon !"

__ADS_1


Tawa Selina berhenti. Aktris cantik itu merasa pendengarannya sedikit bermasalah. "Kau bilang siapa ?" tanyanya mengulang pertanyaan.


"Leon."


"What ?" Selina berdiri tiba-tiba sehingga Arumi yang duduk di sebelahnya lagi-lagi tersentak kaget.


"A-apa yang dia lakukan di sini ?" tanya Selina panik. Ia kembali duduk di sebelah Arumi dengan wajah yang jauh terlihat lebih frustasi di banding Arumi sendiri.


Arumi memperbaiki posisi duduknya. "Dia bilang ingin kembali bersamaku lagi, Sel !"


"Bukankah kau pernah bilang kalau dia sudah menikah ?"


Arumi menghela napas panjang. "Seharusnya memang sudah, Sel ! Tapi, dia bilang kalau pernikahan itu sudah di batalkan."


Gadis itu tertunduk sembari menatap tautan jemarinya yang saling beradu gelisah.


"Kenapa di batalkan ?"


Arumi menggeleng. "Tidak tahu."


"Kenapa tidak kau hubungi Charlie saja untuk menanyakan kebenarannya ?" usul Selina.


Berdasarkan ide brilian dari Selina siang tadi, Arumi pun segera menelepon Charlie. Dan benar saja. Pemuda bersurai brunette itu tidak berbohong. Pernikahannya benar-benar sudah di batalkan meski tak seorang pun yang tahu alasan dari pembatalan tersebut. Baik dari pihak keluarga Wellington maupun keluarga Savich, tak ada satu pun yang mengeluarkan statement tentang peristiwa yang sangat mengejutkan itu.


Hati Arumi kini perlahan bimbang. Sikap apa yang harus ia ambil dalam menyikapi Leon. Setulus hati ia masih mendambakan lelaki bermata cokelat dan berambut brunette itu untuk kembali dalam kehidupannya. Namun, ingatan menyakitkan masa lalu membuat ia tidak bisa dengan mudah memberi Leon kesempatan sekali lagi. Pemuda itu telah membohongi Arumi hingga Arumi harus menerima perlakuan kasar serta di rendahkan oleh Claire. Setiap detail kejadian yang terpahat kala itu, masih membekas dengan nyata didalam hati dan pikiran Arumi. Terlalu pedih untuk di ingat namun terlalu berat untuk bisa di hilangkan.


* * *


Suara nyanyian di sertai petikan gitar di depan butik membuat beberapa karyawan butik tertarik untuk menengok keluar. Beberapa dari mereka menatap kagum sambil berbisik centil memuji sosok lelaki asing yang terlihat begitu tampan dengan kaos v neck hitam dan celana jeans berwarna senada yang sedang asyik bernyanyi melantunkan lagu 'It's you' dari Ali Gatie.


So, please, don't break my heart


Don't tear me apart


I know how it starts


Trust me, I've been broken before

__ADS_1


Don't break me again


I am delicate


Please, don't break my heart


Trust me, I've been broken before


Nyanyian merdu itu juga berhasil menarik beberapa pejalan kaki untuk singgah dan turut larut menikmati suara merdu pemuda itu.


Arumi yang juga sedang merapikan beberapa pajangan turut melangkah keluar karena penasaran. Perempuan cantik itu menyibak kerumunan beberapa orang yang semakin banyak berkumpul. Dan, alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa pemuda yang sedang bernyanyi itu.


"Leon ?" gumam Arumi tanpa sadar.


Pemuda yang di sebut namanya itu menoleh. Tangannya masih begitu lincah memetik senar gitar dengan mulut yang bersuara merdu. Leon tersenyum dan mengerling menggoda Arumi yang tanpa sadar tersenyum balik ke arahnya. Ini adalah sisi Leon yang belum pernah Arumi lihat.


Lagu berakhir satu menit kemudian. Cepat-cepat Leon meletakkan gitarnya di atas kursi yang tadi ia pakai dan berlari kecil menghampiri Arumi.


"Kau menyukainya ?" Senyum pemuda itu hampir melelehkan hati setiap wanita yang berada di sana.


"Kau menghalangi pelangganku untuk masuk ke dalam butik Leon. Dan, kau masih bertanya apa aku menyukainya ?" ujar Arumi dengan wajah yang berusaha marah.


Pemuda itu mengatupkan kedua bibirnya. Ia merogoh bagian belakang dan memberikan setangkai mawar untuk Arumi yang sejak tadi ia selipkan di belakang pinggangnya.


"Aku tidak membutuhkan bungamu, Leon !" desis Arumi kesal. Di raihnya bunga itu dan di buang begitu saja.


Raut wajah Leon terlihat sedih. Pemuda itu tertunduk lesu kemudian memungut kembali mawar yang tadi di lempar Arumi.


"Jika kau tidak mau, kau bisa menolak dengan kata-kata, Aru ! Tidak perlu mempermalukan aku seperti ini di hadapan banyak orang ! Aku jauh-jauh ke sini hanya ingin memberimu kejutan. Maaf, jika kedatanganku justru malah mengganggumu," kata Leon.


Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap Arumi. Apa dia sekejam itu pada Leon ? Haruskah wajah Leon sesedih itu ?


"Lihat itu ! Dia benar-benar tega. Padahal, laki-laki itu sudah melakukan semua ini untuknya. Tapi, apa yang dia perbuat ? Berterima kasih pun tidak." Salah seorang perempuan yang sejak awal mengikuti nyanyian Leon mulai bersuara dan memprovokasi orang-orang di sekitarnya.


"Benar ! Padahal, kekasihnya setampan itu. Harusnya dia bisa bersyukur karena lelaki itu mau menyukainya," imbuh yang lain.


Arumi kehabisan kata-kata. Sementara Leon masih menunduk dengan seringai penuh kemenangan.

__ADS_1


"Kau tidak akan bisa mengusirku segampang itu, Aru !"


__ADS_2