Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#61


__ADS_3

Arumi berusaha bangun dan merasakan kepalanya begitu berat saat ia mencoba bangkit. Dia pun meringis sambil memegang kepalanya. Dia berusaha bersandar di kepala ranjang agar tidak terjatuh.


"Kenapa kepalaku terasa sangat sakit ?" gumam Arumi lemah.


"Kau sudah bangun ?" suara Isabella yang baru keluar dari dalam kamar mandi membuat Arumi sedikit tersentak kaget.


"Iya Aunty. Ngomong-ngomong, jam berapa sekarang ?"


Isabella melirik jam di atas nakas sebelum duduk di samping Arumi.


"Jam setengah satu siang. Ada apa ?"


"Apa ? Aunty ! Maafkan Aru ! Tidak seharusnya Aru bangun sesiang ini," ucap Arumi tak enak hati.


"Tidak apa-apa Aru ! Kau sedang sakit sekarang. Wajar jika kau beristirahat dan tidur kesiangan," balas Isabella dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.


"Aru sakit apa Aunty ?" tanya Arumi penasaran.


"Tidak parah. Kata dokter Ford kau hanya demam akibat kelelahan dan tekanan darahmu juga sangat rendah. Kau harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran sayang," kata Isabella dengan sangat lembut sambil mengelus pipi Arumi singkat.


"Terima kasih karena Aunty dan Uncle sudah menyayangiku selama ini. Aku sangat bersyukur memiliki kalian di dalam hidupku," lirih Arumi penuh arti. Tatapan sendu itu menembus netra biru Isabella begitu dalam. Membuat naluri keibuan wanita itu terbangun bukan karena anak kandungnya, melainkan gadis lain yang sudah ia anggap seperti putri sendiri.


"Jangan berterima kasih Aru ! Dari dulu kami sudah menganggapmu sebagai keluarga kami. Mana mungkin kami meninggalkanmu, Sweetheart !" ucap Isabella sambil menitikkan air mata.


Arumi segera menghapus air mata Isabella dengan tangannya yangg masih bergetar lemah.


"Jangan menangis Aunty !" pintanya seraya tersenyum. Tapi kini justru Arumi yang terlihat sedang meneteskan air mata. Isabella terkekeh kecil melihat itu dan balas menghapus air mata Arumi.


"Kau melarang Aunty menangis. Tapi lihatlah ! Justru kau yang malah menggantikan Aunty untuk menangis," kata Isabella.


Dua wanita beda generasi itu tertawa bersama. Ada bahagia yang tetap terasa di hati Arumi setelah semua luka yang sudah ia alami. Kini gadis itu hanya bisa pasrah. Membiarkan takdir membawa kisahnya dan Leon berakhir pada jurang kehancuran. Yang ingin Arumi lakukan sekarang hanyalah kembali bangkit kembali. Mencoba menata hidup baru demi orang-orang yang masih tersisa di hidupnya. Untuk Charlie, Uncle Charles dan Aunty Isabella tentunya.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, perut Aru lapar sekali Aunty !" ujar Arumi malu-malu sambil memegangi perutnya yang terus-terusan berbunyi sejak tadi.


Lagi-lagi Isabella tertawa dan segera memberikan semangkuk bubur untuk Arumi makan.


"Buka mulutmu !" pinta Isabella dengan tangan yang bersiap memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Arumi.


Mata Arumi berkaca-kaca melihat betapa baiknya Aunty Bella terhadapnya. Dia yang tak punya hubungan darah sedikit pun dengan Arumi mampu memperlakukan dia layaknya anak kandung sendiri. Sementara, Jonathan yang merupakan ayahnya sendiri tak pernah memperlakukan dia sebaik ini.


"Buka mulutmu Aru !" tegur Isabella yang berhasil menarik kembali Arumi ke dunia nyata.


Gadis itu menurut dan membuka mulut selebar-lebarnya. Dia menerima suapan dari Isabella dengan rasa bahagia yang tiada tara. Sudah berapa lama dia sakit dan ada yang memperhatikan dirinya seperti ini ? Belasan tahun ? Ya. Sepertinya memang sudah selama itu hingga Arumi bahkan sempat melupakan rasanya di suapi oleh sosok wanita yang biasa orang lain panggil dengan sebutan 'ibu'.


* * *


"Kau sudah pulang ?" Isabella menyambut Charles dengan sukacita. Dia mengambil alih tas kerja yang di pegang Charles dan menuntun suaminya duduk di ruang tamu.


"Kenapa kau pulang lebih awal hari ini ? Tidak seperti biasanya," tanya Isabella penasaran. Ini baru pukul satu siang. Seharusnya Charles masih berada di kantor pada jam segini. Tapi, tumben sekali suaminya itu kembali ke rumah empat jam lebih awal dari biasanya.


Charles mendaratkan bokongnya di atas sofa sambil mendesah samar. Tampak sekali bahwa dirinya sedang memendam sebuah masalah.


Charles menoleh dan menatap wajah Isabella dengan sendu. Membuat Isabella semakin ingin tahu tentang ada apa sebenarnya.


"Aku di pecat dari kantor, Sayang !" aku Charles dengan nada suara yang begitu putus asa. Dia mengusap kepala bagian belakang dengan kedua tangan.


"Apa ? Kenapa mendadak seperti ini Sayang ? Apa salahmu ?" tanya Isabella histeris.


"Semuanya ulah Duke Xander," ucap Charles.


"Duke Xander ? Tapi kenapa ?"


"Dia tahu bahwa aku sudah memukul dan mengusir putranya tadi malam. Mungkin dia dendam dan meminta atasanku untuk memecatku tanpa alasan yang jelas."

__ADS_1


"Kenapa jadi seperti ini ?" Isabella memijit pelipisnya. Dia merasa tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi masalah ini.


"Tolong rahasiakan dulu hal ini dari anak-anak. Aku tidak ingin mereka bersedih. Terutama pada Arumi. Kau bisa kan ?"


"Baiklah ! Akan ku lakukan !"


Charles memeluk tubuh Isabella sambil memejamkan mata. Puas memeluk istrinya itu, Charles kemudian beralih memegang pundak Isabella dan menepuknya perlahan-lahan.


"Jangan terlalu khawatir. Aku pasti akan segera mendapatkan pekerjaan baru secepatnya," kata Charles yang berusaha menyakinkan Isabella bahwa semua akan baik-baik saja.


Isabella mengangguk. Ia percaya janji yang baru saja Charles ucapkan. Dia tahu bahwa suaminya adalah orang yang sangat pekerja keras. Tanggung jawab kepada keluarganya juga tak bisa di ragukan lagi. Dan Isabella merasa sangat bersyukur karena bisa mendapatkan Charles sebagai suaminya.


Tanpa di ketahui keduanya, Arumi ternyata menguping semua pembicaraan mereka. Air mata gadis itu kembali terjatuh untuk ke sekian kali. Arumi menggigit bibir bawahnya demi mencegah suara isak tangis lolos dari mulutnya. Gadis itu tertunduk sambil memandangi kakinya sendiri.


Maafkan Arumi Aunty ! Maafkan Arumi Uncle ! Jika saja bukan karena Aru, hal ini pasti tidak akan pernah terjadi pada kalian.


Tak tahan lagi, Arumi berderap kembali untuk naik ke kamarnya. Dia meringkuk di bawah selimut sambil menangis tersedu-sedu. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Charles. Andai saja dia tidak jatuh cinta pada Leon, tentu hal ini tidak akan pernah terjadi.


* * *


Sore harinya, Charlie sudah pulang dan langsung menemui Arumi di dalam kamar gadis itu. Bermaksud mengembalikan ponsel dan tas Arumi yang tertinggal di butik Nyonya Nastya.


"Aru ? Kenapa wajahmu pucat sekali ? Kau sakit ?" tanya Charlie gusar.


"Aku baik-baik saja, Char ! Hanya sedikit demam," jawabnya dengan senyum pucat yang merekah.


Charlie menghela napas dan memilih meletakkan ponsel dan tas Arumi di atas nakas. Dia kemudian beralih membuka sepatu boot yang dia pakai dan naik ke atas tempat tidur bersama Arumi. Dia duduk bersandar di kepala ranjang seperti yang Arumi lakukan.


"Apa kau sudah makan ?" tanya Charlie penuh perhatian.


"Sudah. Tadi Aunty sudah membawakan bubur untukku !" jawab Arumi.

__ADS_1


"Apa kau ingin makan sesuatu yang lain ? Aku bisa keluar membelinya jika kau mau," kata Charlie lagi.


Arumi menggeleng lemah. " Tidak perlu Charlie. Aku sedang tidak berselera memakan apa-apa saat ini," tolak Arumi halus.


__ADS_2