
"Leon, apa Ayahmu tidak akan marah dengan hubungan kita ?" Arumi bertanya dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Leon yang berdiri beriringan sambil menggenggam jemarinya.
"Kenapa kau bertanya ?" Leon menoleh, balas menatap Arumi yang terlihat sangat mencemaskan sesuatu.
"Hanya ingin tahu saja. Aku tidak mau kau mengalami kesulitan di kemudian hari hanya karena aku." Ujar Arumi tertunduk.
Duke Xander, ayah dari pria yang dia cintai masih menjadi momok yang menakutkan baginya.
Leon menghentikan langkah Arumi dan menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Pemuda itu menebar senyum manis untuk menghibur hati kekasihnya yang sedang gundah.
"Percaya saja padaku ! Biar aku yang menyelesaikannya nanti dengan Ayahku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun."
"Tapi, Leon ! Aku sungguh tidak ingin kau mendapatkan masalah dengan Ayahmu."
"Tenanglah Aru ! Selama kau bersamaku, tidak akan ada hal yang tidak bisa aku tangani." Ucap pria itu sungguh-sungguh.
Arumi kini mulai tersenyum kembali. Dia memegang kedua tangan Leon yang masih menangkup wajahnya. Mengelus kedua lengan pria itu dengan sangat lembut.
Leon meneguk ludahnya gugup. Jantungnya semakin berdebar tak karuan ketika melihat Arumi dalam posisi sedekat ini. Wajah gadis itu semakin terlihat cantik dari hari ke hari. Tanpa sadar, wajahnya semakin mendekat ke wajah Arumi___berniat mencium bibir gadis asia kesayangannya.
"Apa yang sedang kau kau lakukan ?" Pertanyaan Arumi sontak membuat Leon melepaskan tangannya dari wajah Arumi dan membuang pandangan ke sembarang arah. Ia berdehem kecil menetralisir rasa malu karena tidak berhasil meneruskan niatnya. Bahkan, wajahnya sudah mulai memerah karena merasa malu sendiri.
"Tidak ada. Lupakan !" Ucapnya sambil berjalan lebih dulu. Rasa kesal mulai menghampiri___saat Arumi dengan sangat tidak peka malah menegur dirinya barusan. Memangnya Arumi tidak pernah b*rciuman sehingga harus bertanya seperti tadi ? Tidak bisakah gadis itu sedikit peka bahwa Leon sangat menginginkannya sudah begitu lama ?
Ada apa dengannya ? Kenapa tiba-tiba jadi marah-marah begitu ?
Arumi mengernyit heran sembari berlari kecil menyusul Leon yang sudah lebih dulu berjalan di depan. Gadis itu bergelayut manja di lengan pria yang masih lengkap dengan setelan jasnya itu sambil tersenyum ceria.
"Kenapa kau tiba-tiba marah ?" Tanya Arumi heran. Ia masih bergelayut di lengan Leon yang terlihat cuek dan tidak mau menatapnya sama sekali.
"Tidak. Aku tidak marah." Jawabnya setengah kesal.
"Itu kau marah, Leon." Tukas Arumi lagi.
"Ku bilang aku tidak marah, Aru !" Balas Leon tak mau kalah.
"Jika tidak marah, kenapa wajahmu sekesal itu ?" Arumi menahan lengan Leon agar pria itu berhenti berjalan.
"Astaga, Aru ! Aku benar-benar tidak apa-apa." Jawabnya jengah.
"Menunduklah !" Pinta Arumi kepada pria itu. Kedua bibirnya mengatup menahan senyum.
"Untuk apa ?" Tanya Leon heran.
__ADS_1
"Ck, lakukan saja !" Decih Arumi yang sekarang mulai ikutan kesal.
Leon menghela napas lalu melakukan apa yang Arumi minta. Pria itu menundukkan sedikit badannya sesuai titah gadis cantik di depannya. Gadis itu tampak begitu senang. Kedua tangannya bergerak menangkup pipi Leon dan menghadiahkan kecupan di kedua pipi itu. Setelahnya, dia kabur dengan berlari kecil meninggalkan Leon. Sungguh ! Dia yang melakukan justru dia sendiri yang merasa malu bukan kepalang.
Leon masih mematung dengan posisi yang sama. Mulutnya terbuka dengan tangan yang memegang pipinya sendiri. Apa yang barusan terjadi ? Apa itu mimpi atau benar-benar kenyataan ? Astaga ! Leon sepertinya ingin pingsan saat ini juga.
"Apa yang kau lakukan di sana ?" Teriak Arumi yang sontak membuat Leon kembali tersadar.
"Ayo ! Kau harus mengantarku pulang." Lanjut gadis itu lagi.
Leon tertawa lalu melangkahkan kedua kaki jenjangnya untuk menyusul Arumi dengan cepat. Raut bahagia jelas terpancar di wajah pemuda berusia 25 tahun itu. Saat berhasil mencapai Arumi, pria bermata cokelat itu mengalungkan lengannya di leher Arumi dengan erat. Seolah tak ingin melepas gadis itu lama-lama.
Bolehkah Leon merasakan bahagia seperti ini selamanya ? Bolehkah Leon menjadi orang biasa yang bebas tanpa ada jerat tali kebangsawanan yang menjeratnya ? Leon hanya ingin bahagia sederhana yang seperti ini. Dia tak peduli pada kemewahan dan kekuasaan yang ayahnya tawarkan. Namun sayang, Duke Xander tidak pernah mau memahami apa yang lebih di butuhkan putranya di banding kedua hal itu.
* * *
Irgi kini tengah berada di depan sebuah apartemen sederhana yang berada di pinggiran kota. Sekali lagi, dia mencocokkan alamat yang di berikan Danu padanya lalu melihat lagi nomor unit apartemen di hadapannya. Alamatnya sudah benar.
Sedikit ragu, Irgi menekan bel apartemen itu. Tak ada orang yang keluar. Hingga, sampai beberapa kali dia menekan bel tetap saja tak ada orang yang keluar. Irgi menghela napas. Dia memutuskan untuk pergi sebelum pada akhirnya ada seseorang yang membuka pintu apartemen itu.
Seorang pria bule dengan rambut keriting keluar dan segera bergegas menutup pintunya kembali saat tahu siapa yang datang. Jelas dia mengenal Irgi. Namun sayang, Irgi juga tak mau kalah cepat. Dia menahan pintu itu dan memaksakan diri untuk merengsek masuk ke dalam apartemen itu.
"Tunggu ! Aku mau bicara." Kata Irgi yang masih berusaha menerobos masuk.
"Ku bilang, aku ingin bicara !" Irgi mendorong pintu itu lebih keras hingga terbuka sepenuhnya dan menyebabkan pria bule itu terpelanting ke belakang.
"Kau mengenalku, bukan ?" Tanya Irgi dengan napas terengah. Tanpa di suruh, dia menuju ke sofa dan duduk di sana untuk mengistirahatkan diri.
Pria bule tadi hanya mendengus kesal. Tak ada lagi jalan baginya untuk menghindar.
"Kau kenal Beverly istriku ?" Tanya Irgi dengan raut wajah serius.
Pria bule itu tertunduk kemudian mengangguk mengiyakan. "Ya. Saya mengenalnya."
"Kau juga mengenal Matthew Oscott ?"
Pria bule itu menghela napas kasar. " Ya. Saya juga mengenalnya."
Irgi menarik napas panjang. Di keluarkannya sebuah amplop berisi uang tunai yang cukup banyak dan menaruhnya di atas meja.
"Katakan apapun yang kau ketahui tentang hubungan mereka !" Ucap Irgi dingin.
Pria bule itu menatap amplop uang yang di letakkan Irgi di atas meja lalu beralih menatap pria tampan bermata sipit itu.
__ADS_1
"Apa maksudnya ini, Tuan ?"
"Ambillah ! Itu untukmu !" Irgi menyuruh pria itu mengambil amplop uang yang tadi dia letakkan sambil memberikan kode lewat anggukan kepalanya.
"Anda mencoba menyuap saya ?"
"Anggap saja seperti itu. Akan ku tambahkan lagi jika ceritamu memang benar dan tidak mengada-ada. Bukankah bekerja sebagai seniman tidak menghasilkan uang yang terlalu banyak ?" Irgi mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu benar bahwa pria bule itu sedang kesulitan finansial.
Di tambah lagi, pekerjaannya sebagai seorang penyanyi kafe tak cukup memberi uang yang lebih untuk menutupi biaya sewa rumah dan kebutuhan yang lain. Terlebih lagi, dirinya pecandu berat. Begitu, info yang Irgi dapatkan dari Danu. Dan tentu saja, uang adalah hal yang paling di butuhkan untuk membeli kesetiaan orang macam ini.
Pria itu tampak berpikir sebentar sebelum mengiyakan permintaan Irgi. Uang yang Irgi tawarkan cukup untuk dirinya melepas kesetiaan pada Beverly dan Matthew selama ini.
"Akan saya ceritakan apapun yang anda inginkan, Tuan." Pria itu tersenyum dan mengambil amplop uang itu lalu menghitung isinya.
"Beverly dan Matthew sudah berhubungan selama hampir satu tahun sebelum pernikahan anda. Dan, di hari pernikahan itu Beverly kabur bersama Matthew ke Amerika dengan bantuan Tuan Jo dan Nyonya Kathe."
"Kau tahu darimana cerita itu ?" Tanya Irgi memotong cerita pria itu.
"Karena saya yang mengantar mereka ke bandara hari itu. Dan saya juga adalah orang yang mengenalkan mereka berdua pertama kali."
Irgi menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Pernyataan pria bule di hadapannya semakin membuat dirinya frustasi. Jadi, selama ini perkataan Arumi benar ? Gadis itu tidak pernah berbohong bahkan justru sama-sama menjadi korban seperti dirinya.
"Apa lagi yang kau tahu ?" Tanya Irgi yang mencoba menguatkan hati.
"Beverly dan Matthew bertengkar lalu Beverly memilih kembali ke Indonesia. Tapi, tak di sangka Matthew juga menyusul dan mereka sempat menjalin hubungan kembali selama beberapa bulan sebelum Matthew memutuskan pergi setelah bertemu dengan wanita lain."
"Kau tahu berapa bulan mereka menjalin hubungan saat Beverly kembali kemari ?"
"Mungkin, sekitar 3 bulan ?" Pria itu tampak ragu namun setelahnya dia mengangguk yakin. "Ya. Kira-kira sekitar itu."
Bagai mendapat pukulan yang bertubi-tubi di ulu hatinya, Irgi hanya bisa menutup mata. Semua fakta yang baru saja dia dapatkan membuat Irgi menyesali semua yang sudah dia lakukan. Mengapa dia bisa sebodoh itu selama ini ?
Leon
**Arumi
Irgi
__ADS_1
**