Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#64


__ADS_3

Zack berdiri dengan wajah tertunduk di belakang Duke Xander. Beberapa saat yang lalu, ayah sahabat baiknya itu menelepon dan memintanya untuk segera datang. Zack sudah bisa menebak alasan Duke Xander memanggilnya. Semuanya pasti berhubungan dengan rencana Duke Xander dan Claire yang ia bocorkan kepada Leon.


"Kau pasti sudah tahu alasanku memanggilmu kemari, bukan ?" tanya Duke Xander dingin. Dia berbalik dan kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang bertumpu di meja kerja. Mata tajamnya menyorot Zack penuh kemarahan.


"Maafkan saya, Uncle !" tutur Zack menyesal.


"Apa mulut besarmu itu tidak bisa menjaga rahasia sedikit saja ?"


Zack tidak menjawab. Bahkan, sepasang matanya sekali pun tidak berani untuk sekedar bersitatap dengan pria yang kini duduk di hadapannya.


"Aku menempatkanmu di sisi Leon selama ini bukan untuk berbalik mengkhianatiku Zack !Cih, dasar tidak berguna !" cibir Duke Xander kesal.


Zack pasrah menerima penghinaan dan kemarahan Duke Xander. Tak ada yang bisa dia lakukan selain itu.


"Daddy yang tidak berguna !" suara Leon tidak hanya mengejutkan Duke Xander. Zack pun turut terkesiap dan langsung berbalik menatap Leon dengan mata membulat.


Leon melangkah masuk ke ruangan kerja ayahnya. Pemuda itu berdiri berdampingan dengan Zack sambil menatap tajam ayahnya. Duke Xander mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia malas jika harus kembali berdebat dengan Leon.


"Kenapa Daddy mengatakan bahwa Zack tidak berguna ? Bukankah dia selama ini selalu memuaskan Daddy dengan kerja kerasnya ?" tanya Leon sembari memegang pundak Zack yang berdiri di sampingnya.


"Apa maksudmu ?" Duke Xander balik bertanya.


"Daddy memang sekejam ini ! Hanya karena Zack melakukan kesalahan sekali, Daddy sudah mengatai Zack sesuka hati. Apa menurut Daddy itu tidak keterlaluan ?"


"Tahu apa kau ?" Duke Xander memukul meja dengan keras. " Keluar dari sini !" Duke Xander mengusir Leon dengan mata berkilat amarah.


"Kalau aku tidak mau ?" Leon menantang sembari melipat kedua tangannya.


"Maka akan Daddy panggilkan bodyguard untuk menyeretmu dengan paksa !" ancam Duke Xander.


"Lakukan !" Leon merentangkan tangannya sambil tersenyum.


Tangan Duke Xander kembali terkepal erat. Kedua matanya mulai terlihat memerah karena terlalu marah. Tanpa pikir panjang lagi, Duke Xander memutari mejanya dan langsung menghadiahkan pukulan di wajah Leon dengan geram.

__ADS_1


"Anak kurang ajar !" umpatnya sinis.


Leon terjerembab di lantai. Namun bukannya meringis, pemuda itu justru tertawa dengan keras.


"Kenapa pukulan Daddy selemah ini ? Apa Daddy belum makan ?" ejek Leon sarkas.


"Diam !" Duke Xander kembali hendak menghajar Leon. Tetapi, tangannya segera di cegat oleh Zack.


"Cukup, Uncle !" tahan Zack.


"Berani sekali kau menahan tanganku !" kata Duke Xander sembari berbalik memukul Zack. Kali ini, pemuda itu yang menjadi samsak tinju untuknya.


Zack tidak melawan. Pemuda itu diam sembari menerima pukulan Duke Xander pasrah.


"Hentikan Dad !" teriak Leon dari belakang.


"Ini bukan urusanmu, Leon !" Duke Xander masih memukuli Zack penuh emosi.


"Daddy memang ayah yang tidak berguna !" teriak Leon lagi. Kali ini teriakannya membuahkan hasil. Duke Xander tak lagi memukuli Zack dan kini berbalik mendekati Leon lagi.


Leon mengikis jarak antara dirinya dan Duke Xander. Tepat di depan wajah ayahnya itu, pemuda tersebut tersenyum sinis dengan air mata yang mulai menggenang di sudut matanya.


"Daddy ayah yang tidak berguna ! Apa kurang jelas ?" kata Leon dengan penuh penekanan.


"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan ?"


"Ya. Aku serius. Bukankah Zack putramu juga Duke ?" tanya Leon dingin.


Mata Duke Xander berkedip tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Apa barusan Leon bilang ? Zack juga putranya ? Tak hanya Duke Xander yang terkejut. Zack juga sepertinya tak kalah terkejut.


"Jangan sembarangan bicara Leon !" ucap Duke Xander memperingatkan.


"Bukankah itu memang kenyataan ? Zack adalah putramu bersama Aunty Inessa."

__ADS_1


Pernyataan Leon cukup membuat Duke Xander terpukul. Pria itu terpundur hingga menabrak meja kerja di belakangnya.


"Da-darimana kau tahu ?" tanya Duke Xander dengan suara bergetar.


"Aku sudah cukup lama mengetahuinya Dad ! Tepatnya, di hari upacara pemakaman Mommy !" kata Leon berterus terang.


Duke Xander mendadak lemas. Ia hampir saja merosot ke lantai jika saja tangannya tidak berpegangan pada ujung meja kerjanya. Pun dengan Zack. Pemuda itu juga sama tak percayanya dengan Duke Xander bahwa Leon ternyata sudah mengetahui rahasia tentang dirinya selama 20 tahun belakangan.


"Apa menurut Daddy aku terlalu bodoh sehingga bisa Daddy perdaya selama ini ? Apa Daddy mengira aku tidak tahu alasan kenapa Daddy memintaku berteman dengan Zack yang notabenenya berasal dari kalangan biasa ?" Leon mulai menyerang titik lemah ayahnya.


"Waktu itu di pulau Moorea. Bukankah Daddy mengetahui keberadaanku di sana dari Zack ? Bahkan, kedekatanku dengan Arumi bukankah Zack juga yang melaporkan semua itu pada Daddy ?" lanjut Leon yang semakin berapi-api.


Duke Xander tidak tahu harus menjawab apa karena semua yang di katakan Leon adalah kebenaran. Zack memang putra kandungnya. Putra yang terlahir dari hasil ketidaksengajaan.


"Orang-orang mengatakan bahwa Daddy adalah orang yang paling bermartabat di negara ini. Tapi, bagiku Daddy justru adalah pengecut paling penakut sepanjang sejarah ! Kenapa Daddy tidak mau mengungkap putra pertama Daddy di depan publik, hah ? Apa karena Zack anak yang di lahirkan di luar nikah oleh mantan sekretaris Daddy ? Apa Daddy malu jika orang-orang yang memuja Daddy tahu sifat asli ?"


"Hentikan omong kosongmu, Leon !" Duke Xander membentak dengan keras.


"Ini bukan omong kosong Dad ! Ini fakta. Seharusnya, jika Daddy saja boleh berselingkuh dengan wanita lain bahkan memiliki anak, kenapa aku juga tidak bisa melakukannya ?"


"Leon !" geram Duke Xander. Pegangannya pada ujung meja mulai melemah. Hingga akhirnya pria dingin itu jatuh terduduk di lantai. Zack yang melihat itu langsung membantu Duke Xander untuk kembali berdiri.


"Uncle tidak apa-apa ?" tanya Zack khawatir.


"Panggil dia dengan sebutan Daddy, Zack ! Dia juga ayahmu ! Kau berhak memanggilnya begitu," kata Leon.


"Cukup Leon ! Tutup mulutmu !" Duke Xander masih berusaha meminta Leon untuk berhenti berbicara.


"Kenapa Dad ? Kenapa aku harus berhenti ? Daripada Daddy sibuk mengurusi hubunganku dan Aru, lebih baik Daddy memikirkan cara untuk membuat pengakuan pada orang-orang bahwa Zack adalah putra hasil perselingkuhan Daddy ketika masih bersama Mommyku !"


"Bicaramu sudah semakin keterlaluan Leon !" Zack berseru memperingatkan.


"Aku hanya sedang membantumu mendapatkan pengakuan, Zack ! Harusnya, tunjukkan rasa terima kasihmu sedikit saja pada adikmu ini," ucap Leon tajam.

__ADS_1


Pemuda itu tak lama berderap meninggalkan Zack dan ayahnya yang masih di landa syok berat di dalam ruangan itu. Dia sendiri memutuskan untuk kembali ke kamar untuk mengisi perut kosongnya. Leon memutuskan untuk makan agar energinya sedikit bisa terkumpul agar ia bisa menemui Arumi. Pemuda itu masih ingin memperjuangkan cintanya.


__ADS_2