Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#45


__ADS_3

Arumi menghela napas usai membalas pesan Leon. Gadis Asia itu melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke trotoar jalan untuk menyetop taksi. Rasa kecewa jelas terpahat sempurna di wajah cantik itu. Namun, Arumi bisa apa ? Leon sedang sibuk dan dia tidak boleh bersikap egois dengan tetap memaksa Leon menuruti kehendaknya.


Sampai di mansion kediaman keluarga Aldric, dirinya di sambut dengan tatapan heran Charlie yang memandanginya dengan penuh tanya.


"Ada apa denganmu, Aru ? Kau sudah berjalan persis seperti mayat hidup." Tegur Charlie.


"Aku hanya lelah, Char." Jawab Arumi yang memaksa bibirnya tetap tersenyum.


"Kau yakin hanya karena itu ?" Tanya Charlie penuh selidik.


"Tentu saja. Apalagi ?"


"Bukan karena Le...."


Sebelum Charlie sempat menyelesaikan kalimatnya, Arumi sudah melompat terlebih dahulu untuk menutup mulut bocor Charlie.


"Sudah ku katakan jika berbicara tentang dia pelankan suaramu !" Bisik Arumi dengan mata melotot.


"Kau mau Mommy dan Daddymu tahu, hah ?" Lanjut Arumi lagi.


Charlie mengangguk paham dan memberi kode pada Arumi untuk melepaskan bekapannya dari bibir seksi miliknya.


"Aku lupa, Aru ! Maaf." Ucap Charlie dengan tampang penuh dosanya.


"Ya sudah. Aku sedang tidak ingin membahas dia. Lebih baik aku bergegas ke kamar untuk mandi." Ucap Arumi kemudian dan meninggalkan Charlie yang masih merasa bersalah.


Usai dengan ritual mandinya yang hampir memakan waktu kurang lebih satu jam, Arumi keluar dengan menggunakan jubah mandi dengan handuk yang masih melilit rambut panjangnya. Gadis itu bergegas duduk di meja rias. Melepas lilitan handuk di rambut yang masih basah dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Arumi lalu memakai serum dan cream wajahnya lalu beranjak menarik piyama tidur dari dalam lemari. Selesai berganti pakaian, Arumi melompat ke atas kasur. Gadis itu memeluk guling sambil bersiap untuk tidur meski hari belum terlalu petang. Sepertinya, semangat gadis itu menguap karena batal berkencan dengan pemuda berambut brunette yang sudah berhasil memikat hatinya.


//Kau sedang apa ?//


Sebuah pesan yang baru saja masuk sukses membatalkan niat awal Arumi untuk tidur. Gadis itu pada akhirnya memilih untuk bermain ponsel.

__ADS_1


"Tidak ada. Kau sendiri ?"


//Masih bekerja. Bukankah kau ingin keluar bersama Charlie ?//


Balasan dari Leon membuat Arumi reflek menepuk jidatnya sendiri. Gadis itu lupa bahwa tadi sore dia berbohong pada Leon bahwa dirinya akan keluar bersama Charlie. Hal itu dia lakukan demi mengurangi rasa bersalah sang pujaan hati. Lantas, harus beralasan apa lagi dia sekarang ?


"Charlie masih bersiap. Mungkin sejam lagi baru kami berangkat."


//Boleh aku tahu kalian ingin kemana ?//


Arumi kembali kebingungan. Harus menjawab apa lagi dia sekarang ?


"Ke pesta ulang tahun teman kampus Charlie."


Sebuah ilham menghampiri kepala Arumi sehingga gadis itu bisa memberi alasan yang masuk akal. Meski dirinya merasa tidak enak karena sudah membohongi Leon, namun Arumi juga tidak ingin membuat kekasihnya itu merasa bersalah.


//Bersenang-senanglah ! Suruh Charlie mengemudi dengan hati-hati dan jangan dandan terlalu cantik. Aku tidak ingin kau menjadi pusat perhatian.//


"Baik."


Jawaban singkat, padat dan jelas baru saja di kirim Arumi. Wajahnya bersemu merah saat membayangkan bagaimana ekspresi Leon jika sedang cemburu. Pasti menyenangkan melihatnya langsung ketimbang hanya berkhayal seperti ini.


"Aru !" Panggil Isabella sembari mendorong pintu kamar Arumi hingga terbuka setengah.


"Ya Aunty !" Jawab gadis itu setengah terkesiap.


"Aunty dan Uncle akan keluar makan malam bersama rekan bisnis Uncle. Kau tidak ingin ikut ?" Isabella melangkah masuk. Duduk di tepi ranjang bersama Arumi.


"Tidak Aunty ! Arumi di rumah saja." Geleng gadis itu tersenyum.


"Kau yakin ?" Isabella menyibak rambut Arumi yang menutupi sebagian wajah gadis itu.


"Ya." Jawab Arumi singkat.

__ADS_1


"Kau sakit Sayang ?" Isabella terpekik dan segera menempelkan punggung tangannya di dahi Arumi.


Gadis cantik itu pun mengernyit keheranan karena tingkah tiba-tiba Isabella. Sakit ? Arumi bahkan merasa sangat sehat 200 %.


"Tidak Aunty. Arumi baik-baik saja."


"Lalu, kenapa wajahmu memerah ? Kau alergi sesuatu ?" Tanya Isabella yang masih merasa begitu khawatir. Dirinya memegang wajah Arumi sambil memeriksa dengan teliti wajah gadis itu yang terlihat sangat memerah.


Arumi mengatupkan kedua bibirnya. Rasa malu menyeruak begitu saja karena perkataan Isabella. Semerah apa pipinya saat ini ? Apa gara-gara membayangkan wajah Leon yang cemburu hingga pipinya bisa memerah ini ? Sungguh memalukan !


"Ti-tidak Aunty. Mungkin karena cuaca sedang dingin." Arumi melepas kedua tangan Isabella yang menangkup pipinya. Tersenyum manis mendukung alasan di buat-buatnya.


"Dingin ? Tapi, suhu kamarmu justru terasa hangat. Dingin darimana ?"


"Mungkin karena Arumi baru saja selesai mandi Aunty. Iya, begitu." Jawab Arumi yang kelimpungan sendiri membalas pertanyaan Isabella.


"Memangnya kau mandi dengan air dingin ?" Alis Isabella mengkerut. Matanya menatap penuh selidik pada anak angkatnya yang terlihat begitu manis jika sedang berbohong.


"Iya Aunty ! Arumi pikir jika mandi air dingin akan menyegarkan. Ternyata, setelah mandi malah sedingin ini." Ucap gadis berdarah Asia itu seraya memeluk dirinya sendiri. Berpura-pura sedang kedinginan.


"Baiklah ! Kalau begitu jaga rumah baik-baik. Jika butuh sesuatu, panggil saja pelayan. Jangan melakukan apa-apa sendiri. Kau mengerti ?" Isabella mengalah. Meski dia tahu bahwa Arumi sedang membohonginya, dia tidak ingin menyelidiki alasan sebenarnya lebih lanjut. Sebentar lagi acara makan malam akan di mulai. Dan dia bisa terlambat jika menuruti rasa penasarannya akibat tingkah menggemaskan Arumi.


"Mengerti Aunty. Selamat bersenang-senang." Arumi melambaikan tangannya pada Isabella yang kini sudah beranjak keluar dari kamarnya. Setelah memastikan Isabella tidak akan kembali lagi, Arumi segera bangkit dan mengunci pintu kamarnya. Gadis itu kembali berbaring di tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


Rasa malu menjalari setiap jengkal tubuh Arumi. Alasan konyol apa yang barusan dia buat ? Apa Isabella akan percaya begitu saja ? Arumi rasa tidak. Nampak sekali bahwa perempuan berusia sekitar 53 tahun itu menahan senyum setelah mendengar alasan tidak masuk akal Arumi. Hah ! Memang tidak mudah berbohong pada orang yang pengalaman hidupnya jauh lebih banyak di banding dirinya.


Satu jam berlalu. Gadis cantik itu masih belum juga bisa memejamkan mata. Tubuhnya berguling ke sana kemari di atas tempat tidur. Rasa bosan mulai menjadi hal yang paling mendominasi Arumi sekarang. Matanya tidak ingin di ajak bekerja sama untuk terlelap lebih awal. Menonton televisi pun tak ada gunanya. Arumi bosan menonton tontonan asing yang sama sekali belum terbiasa dia lihat. Dan pada akhirnya dirinya berakhir dengan posisi telentang dengan rambut menjuntai di sisi tempat tidur.


Ponsel Arumi kembali bergetar. Segera, gadis itu membuka pesan yang baru saja masuk.


//Keluarlah ! Aku di depan gerbang.//


Arumi segera terbangun dengan perasaan terkejut luar biasa. Di pastikannya lagi nama pengirim pesan yang baru saja masuk. Benar. Itu dari Leon. Tapi mau apa pria itu kemari malam-malam begini ?

__ADS_1


__ADS_2