Senja Di Moorea

Senja Di Moorea
SDM#87


__ADS_3

Irgi menatap nanar pada manik indah yang kini memandanginya dengan kabut benci yang menyelimuti. Tak ada lagi kelembutan dan cinta yang terpancar dari sepasang bola mata indah milik gadis di hadapannya untuk Irgi. Hal itu menyayat hati Irgi penuh kepedihan hingga rasanya ia tak sanggup untuk berlama-lama menerima kebencian itu.


"Aru, tak bisakah kau memberiku kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya ?" Irgi menahan kedua lengan Arumi. Menatap mantan istrinya penuh permohonan.


"Memperbaiki apa, Kak ? Bukankah tadi sudah ku katakan bahwa urusan di antara kita sudah selesai ?" Arumi menahan geram di dalam hati. Demi apapun. Ia tak akan terjebak dua kali dalam lingkaran yang sama lagi bersama Irgi. Rasa sakit hatinya akan perlakuan Irgi dulu membuat Arumi tak serta merta mampu memberi maaf apalagi kesempatan kedua. Ia bahkan merutuki kebodohannya dahulu yang terlalu di butakan cinta pada sosok lelaki di hadapannya hingga ia rela menahan segala perlakuan kasar dan makian dari Irgi. Dan, di atas segalanya, Arumi sangat membenci dirinya sendiri karena tidak mampu membalas perbuatan Irgi dan Beverly yang berselingkuh di belakangnya.


"Ku mohon, Aru ! Aku sudah menyesali semuanya. Aku kini sudah tahu bahwa waktu itu bukan kau yang bersalah. Semua ini rencana Beverly dan juga orangtuamu ! Harusnya aku tahu itu. Harusnya aku lebih mempercayaimu !" lirih Irgi penuh penyesalan.


"Bukankah sekarang semuanya sudah terlalu terlambat untuk di sadari, Kak ? Berapa banyak waktu yang aku habiskan untuk meyakinkanmu ? Bahkan, hingga detik terakhir pun kau masih menyakitiku, Kak ! Hatimu ini, terlalu buta untuk melihat kebenaranku saat itu !" Arumi menunjuk-nunjuk dada Irgi.


Irgi meraih jemari Arumi yang menekan dadanya. Ia mencium punggung tangan mantan istrinya dengan air mata yang terurai. Sungguh ! Irgi benar-benar merasa menyesal sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Arumi. Dan, kini di saat ia ingin kembali, jalannya ternyata jauh lebih terjal dari yang ia pikirkan.


Arumi menarik paksa tangannya. Memaksa pria yang menangis di depannya mundur selangkah dengan tatapan tak percaya. Hati Arumi yang dulu hangat padanya kini telah berubah menjadi kutub es. Dingin dan tak berperasaan.


"Aru !" Irgi mencoba meraih perempuan cantik itu lagi. Namun, yang terjadi justru Arumi malah pergi dan berlindung di balik punggung Devan. Jemarinya mencengkram erat kedua lengan kemeja Devan dari belakang dengan kepala yang bersandar di punggung lebar nan kokoh itu.


Arumi menangis di sana dalam diam. Devan tahu akan hal itu dan dia tahu apa yang harus ia lakukan. Sementara itu, Irgi yang melihat pemandangan di depannya merasa benar-benar terbakar cemburu. Arumi menjauhinya dan berlindung pada pria lain. Bukan lagi dirinya yang gadis itu perlukan, melainkan Devan.


"Aru ! Kemarilah !" Irgi mencoba menarik tangan Arumi lagi namun segera di halangi Devan. Pria itu menahan tangan Irgi dan mendorong keras tubuh Irgi.


"Menjauh darinya, Irgi !" ucap Devan dingin.

__ADS_1


Irgi tertawa sumbang. Kedua tangannya memegang kedua sisi pinggangnya. Sesaat kemudian, matanya kembali menghunus tajam ke arah Devan.


"Kau tidak berhak memintaku menjauh dari istriku sendiri, Dev !" ucap Irgi emosi.


Gantian. Kini giliran Devan yang tertawa sumbang. "Apa kau bilang ? Istri ? Apa kau sudah lupa bahwa kau yang sudah menggugat cerai Arumi ? Dia sekarang bukan siapa-siapamu lagi, Gi ! Aru berhak bersama siapa saja yang dia mau selama dia bahagia !"


"Dev ! Kau temanku ! Tapi, kenapa kau malah menikung aku seperti ini ? Tak bisakah kau mencari wanita lain untuk kau pacari ?" Irgi menghela napas putus asa. Berat rasanya melepas wanita sebaik Arumi meski untuk seorang Devan sekali pun.


Devan menelan salivanya susah payah. Kini ia paham bahwa Irgi menganggap dirinya memiliki hubungan dengan Arumi saat ini. Itu wajar. Karena, Devan memang tidak pernah memberitahu siapapun selain keluarga besarnya mengenai hubungan antara dia dan Selina. Sejauh ini, teman yang mengetahui hubungan mereka memang baru Arumi.


"Tidak bisa, Gi ! Bukankah sudah pernah ku katakan bahwa aku pernah menyukai Arumi sebelum kau menikah dengannya ? Dulu aku menyerah karena ku pikir kau bisa membahagiakan Arumi. Tapi, sekarang aku tidak akan berbuat hal yang sama lagi. Kali ini, aku ingin bertindak egois dengan memikirkan kebahagiaanku dan Arumi saja. Dan, kau tidak berhak mencampuri hal itu sama sekali."


Irgi berusaha untuk tetap tenang walau hatinya sudah menjerit tak terima. Cemburu. Ya, dia benar-benar sangat cemburu. Apa begini yang dulu Arumi rasakan ketika Irgi memiliki hubungan dengan Beverly di belakang perempuan itu selama pernikahan mereka ? Tidak. Itu hal yang tidak benar. Arumi pasti jauh lebih sakit di banding Irgi sekarang.


"Kau dengar sendiri bukan ? Jadi, sekarang pulanglah, Gi !" pinta Devan.


Irgi merasa hancur. Kebencian Arumi berhasil menghujamnya dengan begitu keras. Merajam hatinya tanpa rasa ampun hingga Irgi merasa batinnya bisa saja gila hanya karena menahan perasaan ini. Terlambat. Itu kata yang bisa mewakilkan semua kebencian yang Arumi tunjukkan padanya.


"Baik. Aku akan pergi, Aru ! Tapi, hanya untuk hari ini. Besok aku akan kembali. Bahkan, besok dan besoknya lagi aku akan tetap datang kemari sampai kau benar-benar mau menerimaku kembali !" ucap Irgi dengan tegas. Setelah itu, ia kembali naik ke mobilnya. Melajukan kuda besi itu dengan gagah menjauh dari tempat wanitanya berada.


"Sial !" Irgi memukul stir mobilnya sendiri. "Kenapa jadi seperti ini, Aru ? Kenapa kau lebih memilih Devan di banding aku ?" lirih Irgi. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil sambil mendesah samar.

__ADS_1


"Apa ini karma karena aku sudah menyia-nyiakanmu di masa lalu ? Apa kau sedang menghukumku, Aru ?" Pria itu terus bermonolog dengan serangkaian pertanyaan yang terus saja memutari otaknya. Sementara, kuda besi yang ia kemudikan sudah memasuki sebuah area perumahan elit tempat di mana ia tinggal.


"Irgi ! Ada apa denganmu ? Kau sakit ?" Nyonya Berta menempelkan punggung tangannya di dahi dan pipi putranya.


Irgi meraih tangan ibunya. Ia memegang tangan Nyonya Berta sambil tersenyum miris.


"Dia sekarang membenciku, Bu ! Dia benar-benar sangat membenciku !" Irgi tak kuasa untuk tidak meledakkan tangisnya.


"Siapa yang kau maksud, Gi ? Siapa yang membencimu ?" tanya Nyonya Berta khawatir.


"Aru !" jawab Irgi singkat.


"Kau sudah menemukannya ?" Mata Nyonya Berta melebar tak percaya.


Irgi mengangguk. Ia menghapus air mata yang terlanjur keluar. "Sayangnya, dia sudah tidak memiliki rasa sedikit pun padaku, Bu ! Dia sudah memiliki pria lain di sampingnya."


Arumi



Irgi

__ADS_1



__ADS_2