
Peresmian Leon sebagai wakil pimpinan di perusahaan Ayahnya berlangsung meriah. Duke Xander terlihat sangat bangga karena Leon akhirnya mau mengemban tugas itu setelah sekian lama Leon hanya meminta untuk menjalani jabatan sebagai manager periklanan di perusahaan ayahnya tersebut.
"Selamat untukmu, Leon! Aunty senang kau akhirnya mau menerima jabatan ini!" ucap Inessa seraya mengecup pipi Leon secara bergantian.
"Terima kasih, Aunty! Terima kasih karena sudah menyempatkan hadir malam ini!" balas Leon tersenyum.
Kehadiran Inessa untuknya membuat suasana terasa istimewa. Wanita itu seperti mengisi posisi Duchess Greysha yang harusnya ada di sisinya malam ini.
"Selamat, Bocah manja!" Kali ini, giliran Zack yang memberi selamat. Pemuda itu mengacak-acak rambut rapi Leon dengan sengaja.
"Zack! Jangan perlakukan adikmu seperti itu!" ucap Duke Xander kesal.
"Sorry, Dad!" balas Zack dengan cengiran tak berdosanya.
"Rasakan itu!" bisik Leon tepat di telinga Zack.
"Dasar anak manja!" cibir Zack kesal.
Duke Xander yang mencuri-curi pandang ke arah kedua putranya tersenyum bahagia. Zack dan Leon adalah harta paling berharga yang pernah ia miliki. Dan, ia merasa beruntung masih di beri kesempatan untuk menyadari itu semua sebelum ajal datang menjemputnya.
Zack sendiri sudah memiliki perusahaan yang ia bangun sendiri. Berkat nama besar sang ayah, tentu bukan perkara sulit untuk Zack bisa menemukan banyak investor yang ingin menanam modal di perusahaan miliknya. Meskipun, awalnya Duke Xander tentu saja menentang. Karena, pria dingin itu merasa perusahaannya terlalu banyak jika hanya Leon saja yang mengurus. Namun, karena keteguhan Zack, Duke Xander akhirnya luluh dan membiarkan putra pertamanya untuk mendirikan perusahaan sendiri dan mengelola keuangannya sendiri.
"Sepertinya, Leon sudah baik-baik saja." Inessa berucap pelan sembari memandang ke arah Leon yang tertawa lepas bersama Zack.
"Tidak, Inessa!" sangkal Duke Xander. Inessa pun reflek menoleh.
Duke Xander menarik napas dalam sebelum mempertemukan netra kecoklatannya dengan netra abu-abu milik Inessa. Wajah pria dingin itu tampak menaruh sedih.
"Putraku tidak sedang baik-baik saja. Dia masih terluka namun tetap berusaha tersenyum demi kita semua."
Ya. Duke Xander tahu putranya tidak sedang baik-baik saja. Semua tawa itu hanya kedok demi menyenangkan orang-orang. Di balik topeng senyuman itu tersimpan wajah Leon yang asli. Wajah berbalut luka dan kesedihan yang entah kapan akan sembuh.
***
Seminggu kemudian, Duke Xander pamit berangkat ke London, Inggris. Ia sudah meminta cuti dari pekerjaannya untuk sepuluh hari ke depan dan berjanji akan kembali sebelum ulang tahun Leon yang ke-26 tahun di adakan.
"Berhati-hatilah, Dad!" ucap Leon seraya memeluk sang ayah singkat.
__ADS_1
"Tentu," jawab Duke Xander. "Zack! Jaga adikmu baik-baik!" lanjutnya seraya menatap Zack.
"Baik, Dad!" angguk Zack patuh.
"Sampaikan salam kami untuk Uncle Fred!" teriak Leon begitu mobil yang di tumpangi Duke Xander bergerak lamban keluar dari mansion. Ia melambaikan tangan pada sang Ayah sambil menggandeng bahu Zack.
Setelah itu, dua kakak beradik itu memasuki mobil masing-masing dan berangkat menuju perusahaan mereka masing-masing.
"Doris, tolong berikan berkas ini ke bagian penasihat hukum. Minta mereka untuk memeriksa apakah kontrak perjanjian itu ada masalah atau tidak!" pinta Leon kepada Doris, Sekretarisnya.
"Baik, Sir!" angguk Doris patuh.
Setengah jam kemudian, Doris kembali. Sekretaris cantik itu tersenyum dan mengembalikan berkas berisi kontrak kerjasama perusahaan itu pada Leon.
"Bagaimana?" tanya Leon ketika menerima berkas tersebut.
"Tidak ada masalah. Semuanya aman, Sir!" jawab Doris.
"Baik. Kau boleh keluar!" ucap Leon dengan sedikit senyuman.
Setelah kepergian Doris, Leon kembali melanjutkan pekerjaannya. Beginilah rutinitasnya setiap hari. Selalu menenggelamkan diri dalam pekerjaan agar pikirannya bisa teralih dari Arumi. Meskipun, sesekali hal tersebut tidak berhasil. Arumi terkadang masih membayang tiba-tiba tanpa Leon sangka.
"Kau masih sibuk?" suara ringan di sertai suara ketukan pada pintu membuat fokus Leon yang sedang memikirkan Arumi teralih.
"Zack?" Leon segera menutup laptop di depannya dan mempersilahkan Zack untuk duduk.
"Ini sudah sore, Leon! Kau belum mau pulang?" tanya Zack.
"Duluan saja! Pekerjaanku masih banyak."
"Baiklah! Selamat bekerja! Tapi, sebelum pukul 8 malam, kau harus sudah ada di rumah. Kau mengerti?"
Leon memutar bola matanya malas. " Ya. Aku mengerti!"
***
Sepuluh hari kemudian, Duke Xander kembali tepat ketika malam harinya acara ulangtahun Leon akan di adakan. Meski, Leon sudah berkali-kali menolak, namun Duke Xander tetap bersikeras agar ulangtahun putranya diadakan dengan meriah.
__ADS_1
Leon terlihat tampan dengan balutan tuksedo berwarna hitam. Dengan langkah malas, ia tetap berusaha bersikap seramah mungkin dengan rekan bisnis Ayahnya yang sekarang menjadi rekan bisnisnya juga. Pemuda itu tetap tersenyum. Menimpali ucapan mereka dengan antusias dan berusaha mengikuti alur pembicaraan mereka. Duke Xander yang memperhatikan itu semakin takjub. Putranya benar-benar sudah dewasa dan bertanggung jawab.
"Daddy bangga dengan dirimu yang sekarang, Son!" kata Duke Xander.
"Ini semua karena Daddy juga."
"Untuk itu, Daddy rasa kau pantas mendapatkan hadiah yang besar." Duke Xander tersenyum lebar. Sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
"Kejutan?" Mata Leon menyipit.
"Ya. Aku sudah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari," balas Duke Xander. Wajahnya nampak begitu penuh dengan tipu muslihat. Entah apa kejutannya.
Selesai meniup lilin serta ucapan sepatah kata darinya, Leon memutuskan untuk pergi menyendiri. Pemuda itu meraih segelas sampanye dan memilih duduk di salah satu meja yang berada paling belakang. Tak ada yang akan mengganggunya di sini. Ia bebas menampakkan raut wajahnya yang bersedih karena suasana temaram yang lebih mendominasi.
Pemuda itu mengangkat telunjuknya ke arah pelayan yang lewat. Meminta satu gelas lagi usai gelas pertama tadi sudah kosong. Kembali, pria itu meneguk sampanyenya dalam hening.
BUM!
Seluruh lampu mati. Gelap gulita dan tak ada cahaya sama sekali. Leon memilih untuk tetap diam di tempatnya. Mengabaikan riuh tamu yang bertanya-tanya ada apa lampu tiba-tiba mati mendadak.
"Leon!" bisikan itu sontak membuat Leon berdiri dari tempat duduknya.
"Aru?" gumam Leon. Dalam kegelapan, pupilnya membesar. Mencoba menangkap objek manusia yang berada di dekatnya. Nihil. Tak ada siapapun. Membuat ia harus kembali menelan pil kekecewaan.
"Mungkin hanya ilusiku saja."
"Leon!" bisikan itu terdengar lagi. Kali ini, terasa sangat nyata karena bibir basah itu terasa menyentuh daun telinga Leon.
"Aru! Itu kau?" panggil Leon dengan penuh harap. Berharap ini bukan khayalan. Berharap bahwa yang datang adalah Arumi yang asli. Namun, hingga lampu kembali menyala, Leon menyadari bahwa Arumi tak ada di mana-mana.
"Apa yang kau harapkan, Bodoh!"
Leon menertawai dirinya sendiri sembari kembali duduk di tempatnya semula dan menyesap sisa sampanyenya.
"Uhuk!" Sampanye itu keluar kembali dari dalam mulutnya begitu ia melihat seorang perempuan dengan gaun berwarna ombre sedang berdiri di atas panggung dan bergabung dengan beberapa artis yang berada di sana.
"Aru?" gumam Leon dengan mata membulat sempurna. Beberapa kali ia menggosok matanya dengan telapak tangan karena mengira penglihatannya tentang Arumi yang berada di atas panggung adalah efek dari sampanye yang ia minum. Namun, berapa kali pun ia melakukannya, sosok Arumi tak juga kunjung menghilang.
__ADS_1
Note : Tersisa dua bab lagi setelah ini. Dan, cerita ini akan tamat! 🥰🥰🥰