
"Selamat pagi, uncle Xander ! Selamat pagi, Leon !" Sapa Claire yang baru saja tiba. Perempuan cantik itu tersenyum begitu anggun kepada Duke Xander dan Leon, calon suaminya.
"Selamat pagi, Jane." Jawab Duke Xander datar seperti biasa. Bukan karena dia tidak menyukai Claire, memang pembawaan pria itu saja yang memang sudah begitu sejak dulu sekali.
Leon yang sedang mengoles selai stroberi di atas rotinya tampak acuh. Sama sekali tidak peduli dengan kedatangan calon istrinya sendiri. Bagi Leon, hubungannya dengan Claire hanya sebatas di depan publik dan ayahnya saja.
"Ikutlah sarapan dengan kami, Jane !" Perintah Duke Xander masih dengan nada datarnya.
"Baik, Uncle." Claire tersenyum, lalu mengambil tempat duduk di sebelah Leon. Gadis cantik itu tampak tersenyum ke arah Leon sebelum dia mendaratkan sebuah ciuman di pipi pria tampan itu.
"Ada apa ?" Tanya Claire heran ketika Leon tiba-tiba saja menatap tajam padanya.
Leon tidak menjawab. Pria itu hanya menaruh roti yang sudah selesai dia beri selai di atas piring lalu berdiri dan berbalik badan hendak ke kamar.
"Mau kemana kau ?" Suara Duke Xander menghentikan langkah Leon.
Pemuda itu berbalik sambil menghela napas. "Ke kamar, dad."
"Siapa yang menyuruhmu pergi begitu saja ? Habiskan sarapanmu !"
"Aku sudah kenyang, Dad." Jawab Leon hati-hati.
"Leon ! Duduk kembali di kursimu !" Panggil Duke Xander tanpa menoleh. Dia masih berfokus pada sarapan yang dia makan.
"Ku bilang, aku sudah kenyang, Dad !" Kembali , Leon mengulang perkataannya.
Duke Xander meletakkan pisau dan garpu yang dia pakai untuk memakan pancake-nya. Matanya yang tajam perlahan tertuju pada Leon dengan pandangan begitu menusuk.
__ADS_1
"Kau berani membantah perintah daddy, Leon ?"
Leon tertunduk. Suara rendah sarat peringatan dari sang ayah sudah cukup menjelaskan ancaman yang terkandung di dalamnya. Susah payah dia mengatur napas untuk tidak terpancing emosi dan malah semakin menambah keruh suasana pagi ini. Dia tahu, meski ayahnya saat ini masih menampakkan wajah datarnya, tetapi Leon sudah bisa menebak seberapa geram pria tua itu saat ini.
Akhirnya, Leon mengalah. Kembali dia menarik kursi yang tadi sudah dia tinggalkan lalu duduk lagi di atasnya. Wajahnya terlihat memerah menahan kesal karena tak pernah bisa membantah apapun yang Duke Xander katakan. Sementara, Claire di sampingnya tampak senang karena Leon menuruti perintah yang Duke Xander katakan. Terbukti dari seringai tipis yang tertarik di ujung bibir berlipstik merah itu.
"Makanlah bersama, Jane ! Daddy masih ada urusan." Duke Xander mengelap sudut bibirnya dengan kain serbet lalu beranjak pergi meninggalkan Leon dan Claire berdua.
"Ajaklah Jane keluar untuk kencan, Leon ! Kalian berdua harus lebih dekat mulai sekarang karena pernikahan kalian tidak akan lama lagi." Tambah Duke Xander sebelum kakinya membawa sang pemilik memasuki ruang baca.
Leon masih terdiam. Roti yang tadi sudah di buat bahkan tidak berniat lagi dia sentuh. Pemuda itu duduk kembali bukan karena dia mau. Dia hanya menuruti perintah ayahnya saja yang tidak pernah bisa dia bantah.
"Honey, kenapa wajahmu seperti ini ?" Claire merapatkan tubuhnya pada Leon, memegang dagu pria itu.
"Hentikan, Jane !" Protes Leon yang langsung menepis tangan Claire dari dagunya.
"Ada apa, Honey ? Kau marah padaku ?" Ujar Claire tertawa sinis. Meski wajahnya terlihat baik-baik saja, namun hati perempuan itu sedikit merasa tersinggung karena penolakan Leon yang terang-terangan.
"Jangan mencoba-coba untuk berperan seperti pasangan yang romantis, Jane ! Aku sangat tidak menyukainya. Bertindaklah seperti biasa. Acuh, dan tidak saling mempedulikan satu sama lain."
"Ada apa denganmu ? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu ?" Tanya Claire heran.
.
"Aku hanya ingin kau mengingat batasanmu saja Jane. Ingat, kita akan menikah bukan karena cinta, tetapi hanya karena terpaksa akibat perjodohan. Kau mengerti ?"
Claire terkekeh kecil sambil menyambar roti yang tadi Leon buat dan memakannya. Sikap wanita itu terlihat tidak peduli sama sekali dengan apapun yang Leon katakan. Setelah rotinya habis, barulah Claire mulai kembali menanggapi perkataan Leon.
__ADS_1
"Well, kita memang mungkin akan menikah karena perjodohan. Tapi, kurasa tidak ada salahnya jika kita mulai belajar untuk saling mencintai satu sama lain, bukan ?" Claire memandang wajah Leon sambil tersenyum.
Kali ini, Leon yang terkekeh mendengar ucapan Claire yang di rasa cukup mustahil untuk bisa terjadi. Leon sudah lebih dari sekedar hafal akan perilaku liar Claire di luar sana. Perempuan itu tidak pernah ada kata puas jika menjalin hubungan hanya dengan satu lelaki. Jangankan menikah, berpacaran saja Claire tidak pernah bisa berkomitmen.
"Kau sedang bergurau denganku, Jane ? Belajar saling mencintai ? Apa itu lelucon baru yang kau pelajari ? Atau dialog dalam film yang akan kau garap selanjutnya ?" Cercah Leon begitu sarkas.
"Terserah kau menganggapnya apa, Leon ! Tapi, lebih baik jika kau mulai belajar mencintaiku mulai sekarang. Bukankah pilihan yang bisa kau ambil hanya itu ?" Pungkas Claire santai. Dia tahu benar bahwa Leon sama sekali tidak akan bisa membantah apapun yang Duke Xander inginkan, termasuk menikahinya.
Perempuan cantik itu bergerak meraih gelas berisi susu hangat di dekat Leon lalu meminumnya. Tak lama kemudian, Claire keluar dari mansion besar itu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Leon. Menggoda agar pria itu semakin jengkel terhadapnya.
* * *
"Kau tidak jadi mengajak Jane keluar ?" Duke Xander bertanya sambil memperbaiki letak dasinya. Ayah dari Leon itu akan berangkat kerja sesaat lagi.
"Jane ada jadwal syuting pagi-pagi, Dad. Dia tidak bisa."
"Benarkah ?" Lirik Duke Xander sangsi.
"Jika Dad tak percaya, silahkan tanya langsung pada Jane." Ucap Leon sungguh-sungguh.
Duke Xander melanjutkan merapikan setelan jas yang dia pakai. Pria berumur 55 tahun itu tampak diam dan tak berniat melanjutkan pembahasan mengenai Claire lagi. Karena, jika menilik dari raut wajah Leon sekarang, Duke Xander percaya bahwa putranya tidak sedang berbohong. Lagipula, sejak kapan Leon bisa membohonginya ? Sejak kecil hingga sekarang, putra tunggalnya itu tak pernah sekali pun berani melakukan hal yang tak terpuji semacam itu.
"Daddy akan berangkat sekarang. Apa kau ingin ikut bersama Daddy, atau berangkat sendiri ?"
"Leon bisa berangkat sendiri, Dad." Jawab Leon tersenyum.
Duke Xander mengangguk lalu melangkah keluar kamar. Leon masih betah duduk di atas ranjang sang ayah dengan mata terpejam setelah kepergiannya. Harus bagaimana Leon sekarang ? Kemarin-kemarin ketika bersama Arumi, dia sempat lupa bahwa dia sudah memiliki calon istri. Dan sekarang, ia tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
Antara Arumi dan Claire, Leon tidak bisa memilih. Jujur, Leon mencintai Arumi. Namun, Claire adalah wanita yang di pilihkan oleh ayahnya. Dan Leon tahu, baik di masa lalu maupun sekarang, dirinya masih Leon yang sama. Leon yang lemah dan tidak bisa menyuarakan pendapat. Leon si anak baik yang tak pernah mengatakan tidak pada setiap kemauan sang ayah. Muak ? Tentu Leon muak. Tapi bukan pada Duke Xander, melainkan terhadap dirinya sendiri.