
Entah sejak kapan mata pemuda itu sudah mulai berkaca-kaca karena tak percaya pada penglihatannya sendiri. Sosok perempuan yang selama ini ia rindukan. Sosok perempuan yang selama ini menjadi alasan untuk perubahan besar dalam dirinya sedang berdiri hanya beberapa meter dari tempatnya berada sekarang.
Leon tersenyum kecil. Tertunduk menyeka sudut matanya yang berair. Setelah itu, pandangannya kembali tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang berbaur dan bernyanyi bersama beberapa penyanyi terkenal di atas panggung. Sesekali, perempuan cantik itu tersenyum ketika netranya tak sengaja bertabrakan dengan netra kecoklatan Leon.
Dada Leon sesak di penuhi kebahagiaan yang terlalu banyak. Hanya dengan melihat gadisnya saja sudah mengangkat berton-ton beban yang selama ini sudah menghimpit dada Leon tanpa rasa iba. Hanya dengan suara lembutnya saja yang menyapa indra pendengaran Leon, gadis itu sudah mampu mengembalikan sesuatu yang hilang dari diri pemuda itu. Yakni, cara untuk menikmati bahagia.
Duke Xander menatap putranya dari kejauhan. Secarik senyum kecil terbit di sudut bibirnya. Pria paruh baya dengan aura kekuasaan dan kebangsawanan yang mendominasi itu sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya yang turut hadir malam ini. Ayolah! Siapa yang akan melewatkan undangan ulang tahun penerus kerajaan bisnis terkemuka itu? Hanya orang bodoh yang tentu saja akan melakukannya.
"Nikmati bahagiamu mulai sekarang!" gumam Duke Xander dalam hati.
"Dad!" panggil Zack yang datang menghampiri ayahnya.
"Ada apa?" tanya Duke Xander dengan raut wajah yang mencoba menyembunyikan rasa harunya. Untuk pertama kali, ia merasakan bagaimana bangganya menjadi seorang Ayah yang benar-benar menjalankan perannya.
"Terima kasih karena membawa sumber kebahagiaan adikku kembali," lirih Zack dengan rasa haru yang luar biasa.
Tanpa pernah di duga oleh Duke Xander, Zack tiba-tiba memeluk erat dirinya. Pemuda itu menenggelamkan wajahnya di bahu sang Ayah seraya terisak. Membuat Duke Xander hanya bisa terperangah dan salah tingkah akibat ulahnya.
"Orang-orang sedang menyaksikan kita, Zack! Kau tidak malu menangis sambil memeluk Daddy begini?" bisik Duke Xander sembari memperhatikan sorot mata beberapa kolega bisnisnya yang mengarah pada mereka. Kedua tangannya terentang. Masih belum membalas pelukan Zack.
"Aku bangga memiliki Daddy sebaik dirimu. Kau adalah Ayah paling hebat sedunia. Dan, aku dan Leon beruntung menjadi anak-anakmu!" lirih Zack lagi. Mata pemuda itu memerah. Air matanya sudah membasahi jas mahal milik sang Ayah tanpa sadar.
Pria yang terkenal dingin itu tercenung. Perkataan Zack sukses menyentuh relung hatinya yang paling dalam. Sebuah tempat yang selama ini sudah terlalu lama tak pernah terjamah oleh siapapun. Dan, pada kenyataannya, Zack berhasil mencapai tempat itu. Menjadi orang kedua yang mampu menggerakkan emosi Duke Xander setelah ketegaran Duchess Greysha di masa lalu.
"Daddy yang justru beruntung memiliki kalian berdua. Apa jadinya Daddy tanpa kalian!" Duke Xander tak mampu membendung perasaan harunya. Untuk pertama kali, pria angkuh dengan emosi setenang air itu menunjukkan bahwa dia juga hanya manusia biasa. Air matanya tumpah. Di saksikan oleh orang-orang yang berdiri di dekatnya dengan perasaan yang turut merasakan bahagia mereka.
***
"Di mana perempuan tadi?" Leon bertanya pada dua orang penyanyi yang tadi bernyanyi bersama Arumi di atas panggung.
"Mungkin sedang di ruang ganti." Salah satu dari mereka menjawab dengan tatapan bingung.
"Dimana tempatnya?"
__ADS_1
"Di ujung lorong sebelah sana," ucapnya perempuan itu lagi seraya menunjuk sebuah ruangan di ujung lorong.
"Terima kasih," balas Leon dengan senyum sekenanya. Setelah itu, ia segera berlari ke arah yang para penyanyi itu tunjuk. Tanpa berlama-lama, Leon masuk ke dalam ruangan itu.
Kosong.
Tak ada siapapun.
"Sedang mencari siapa?" Pertanyaan di sertai tepukan lembut pada pundaknya menyadarkan Leon. Pemuda itu segera berbalik dan menemukan perempuan yang sedang ia cari tengah berdiri di depannya dengan gaun berwarna hitam yang sangat pas di tubuh indahnya.
"Kau!" jawab Leon.
Pemuda itu langsung menarik tengkuk Arumi. Mencium bibir gadisnya tanpa perlu meminta izin. Kehadiran Arumi malam ini cukup menjadi bukti bahwa gadis itu menerimanya.
Mata Arumi terbelalak. Demi apapun, ia tidak siap menerima serangan tiba-tiba dari Leon. Gadis itu awalnya ingin menjauhkan tubuh Leon darinya. Namun, untuk beberapa saat kemudian gadis itu membiarkan pemuda itu melakukan apa yang ia mau.
Leon tidak menciumnya hanya dengan nafsu. Lebih banyak kerinduan dan rasa putus asa yang dapat Arumi rasakan lewat ciuman itu. Ia menutup mata. Meletakkan kedua tangannya di dada bidang milik Leon begitu pemuda tersebut membawanya duduk di salah satu kursi dengan Arumi yang berada di atas pangkuannya.
"Terima kasih telah kembali!" Leon memeluk Arumi begitu tautan ciumannya ia lepas dengan lembut. Pria itu bersandar di dada Arumi dengan sebelah tangannya yang membelai lembut lutut gadis itu.
"Maaf karena telah membuatmu terluka," lirih Arumi dengan rasa bersalah.
Leon mendongak. Menatap wajah Arumi yang sudah mengambil ancang-ancang untuk melesakkan air mata.
"Jangan menangis. Bedakmu bisa luntur!" ucap Leon dengan menangkup sebelah pipi Arumi dengan tangan kanannya.
"Cih! Ini bedak mahal. Tidak akan luntur hanya karena menangis sekali." Arumi menjawab kesal meski bibirnya mengukir senyum lebar.
"Kau tidak akan pernah pergi lagi kan?" tanya Leon.
"Tergantung." Gadis itu menjawab dengan memandang ke atas. Seolah sedang memikirkan matang-matang permintaan Leon.
"Tergantung apa?" Alis Leon mengernyit heran.
__ADS_1
"Kau ingin menjadikanku apa setelah ini." Arumi mengangkat alisnya tersenyum.
Leon terdiam cukup lama. Ia mengerti apa yang Arumi maksud dalam kalimatnya yang tersirat. Dan, tentu saja Leon dengan senang hati akan mengabulkannya.
"Menikahlah denganku, Aru!" Permintaan itu meluncur mulus dari mulut Leon.
Arumi hanya bisa tertegun. Matanya berkaca-kaca menahan rasa bahagia yang membuncah.
"Aku menolak," jawabnya dengan wajah serius.
Napas Leon tercekat. Patah hati itu datang lagi untuk ke sekian kali.
"Ke-kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar.
Mata Arumi memicing. Ia menepuk bahu Leon dengan agak keras.
"Aku menolak di lamar dengan cara seperti ini."
"Hah?"
"Lamar aku di tempat pertama kita bertemu."
Arumi tersenyum. Kedua lengannya melingkar di leher Leon. Cukup berhasil membuyarkan kekhawatiran Leon yang bisa ia baca beberapa detik yang lalu.
"Tentu saja."
...Leon...
Arumi
__ADS_1