
Arumi meneguk ludahnya susah payah. Perlahan, ia mengangkat kepalanya dan menatap sepasang bola mata berwarna kecoklatan milik pemuda yang saat ini mendekapnya dengan penuh kehangatan. Sulit bagi Arumi terlepas dari kuncian sepasang mata yang selalu bisa membuatnya tenggelam itu.
Dapat Arumi lihat, luka yang tersirat di dalam sana. Entah seperti apa Leon menjalani hidupnya selama mereka berpisah. Yang jelas, Arumi tahu bahwa hidup Leon juga tidak mudah seperti dirinya.
Jemari Leon bergerak menyampirkan beberapa helai anak rambut Arumi yang menghalangi sebagian wajah cantiknya. Senyum kecil penuh arti ia terbitkan untuk gadis yang selamanya akan tetap menjadi pemilik hatinya itu. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Mereka adalah sepasang insan yang saling mencintai namun belum bisa bersama karena adanya luka yang masih terlalu sulit untuk di ikhlaskan. Khususnya Arumi.
Gadis itu masih mengingat segalanya. Ia masih ingat bagaimana Claire mempermalukan dia. Ia masih ingat bagaimana Duke Xander mengingatkan dia akan posisinya. Ia masih ingat bagaimana Duke Xander ingin membeli harga dirinya.
Namun, Arumi juga tidak bisa menampik bahwa dia masih sangat mencintai Leon. Terlepas dari kebohongan yang pernah pemuda itu ciptakan demi mendapatkannya dan juga penghinaan dari ayah kandung pemuda itu, Arumi masih tetap tak bisa menghapus perasaannya begitu saja.
"Cantik sekali !" gumam Leon pelan. Ia membelai sisi wajah Arumi dengan tangannya.
Gadis itu masih bergeming. Ia masih tenggelam dalam pesona sepasang netra kecoklatan milik Leon. Darahnya berdesir ketika Leon mengatakan bahwa dirinya cantik dengan tangan pemuda itu yang membelainya dengan begitu lembut.
"Sampai kapan kau akan terus berbaring di atasku, Aru ?" tanya Leon dengan senyum menggodanya.
Mata gadis itu berkedip. "Hah ?" Arumi tampak linglung. Otaknya belum bisa memproses kalimat yang di ucapkan Leon barusan.
"Aku tanya, sampai kapan kau akan terus berbaring di atasku ?" ujar Leon mengulang pertanyaannya.
"A-apa ?"
Leon menghela napas. Pemuda itu tertawa. "Sebenarnya, aku tidak masalah walau kau ingin berada di atasku selama berjam-jam sekalipun." Leon memberi jeda. Kepalanya terangkat dan berbisik pelan di telinga Arumi.
"Tapi, kita bisa melakukannya dengan bebas di kamar pengantin kita nanti. Untuk sekarang, kau harus turun karena ada orang yang sedang menyaksikan tontonan gratis kemesraan kita," ujar Leon sambil mendaratkan kembali kepalanya di sofa.
Kedua alis Arumi mengkerut heran. Ia masih belum mengerti juga akan perkataan Leon. Ragu, Arumi menoleh ke arah pintu dan menemukan Devan bersama Selina yang menatap ke arahnya dengan rahang terbuka nyaris terjatuh.
Mata Arumi seketika membulat. Gadis itu menoleh lagi pada Leon dan baru saja tersadar akan posisinya yang belum berpindah dari atas pemuda tersebut. Arumi memekik. Secepat kilat ia bangkit dan merapikan rambut serta penampilannya dengan gugup. Leon masih berbaring telentang. Pemuda itu hanya tertawa santai kemudian bangun dengan perlahan. Ia kini dengan santainya duduk dan menertawakan ekspresi wajah Arumi yang mulai memerah.
"A-apa yang kalian lakukan?" Tanya Selina dengan terbata.
__ADS_1
"Ti-tidak ada," jawab Arumi dengan senyum menahan malu.
"Ka-kalau ke-kedatangan kami mengganggu, kami akan pulang saja. Kalian bisa melanjutkan kembali kegiatan kalian." Devan segera menarik Selina dengan cepat untuk keluar dari dalam ruangan Arumi dan menutup kembali pintunya.
Wajah Arumi kaku. Malu. Itu yang dia rasakan untuk saat ini. Bagaimana bisa ia kena pergok oleh Selina dan Devan ketika berada dalam posisi seintim tadi dengan Leon. Mata gadis itu terpejam. Membayangkan pikiran-pikiran apa saja yang akan memenuhi isi kepala sepasang kekasih tadi.
"Oh iya, jangan lupa mengunci pintu agar tidak ada orang yang memergoki kalian lagi. Bye!" Selina tiba-tiba memunculkan kepalanya dari balik pintu sebelum menutup rapat kembali pintu itu.
Arumi menghela napas kasar. Kesalahpahaman ini benar-benar sangat memalukan untuknya. Belum lagi, Leon masih belum berhenti menertawainya.
"Diamlah, Leon!" pinta Arumi. Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal sebelum berpindah menuju ke meja kerjanya.
Disana, ia mendudukkan badannya dengan keras di kursi kerjanya dengan tangan kiri yang memijit-mijit ujung pelipisnya.
"Kau marah?" Leon menaikkan sebelah kakinya ke kaki yang satunya.
"Semua ini gara-gara kau!" ujar Arumi menyalahkan.
"Kau yang tiba-tiba menarikku dan membuat Devan dan Selina salah paham dengan posisi kita," terang Arumi.
"Tapi, kau menyukainya bukan?"
"Apa?" Arumi terperanjat tak percaya. Menyukainya ? Yang benar saja. Itu tidak mungkin.
"Kau memang masih mencintaiku, Aru! Akui saja dan kita bisa memulai semuanya lagi dari awal. Kali ini, tanpa kebohongan." Leon menatap Arumi sungguh-sungguh.
Gadis itu memalingkan wajahnya. Tak mudah untuk memulai dari awal lagi jika luka lama saja masih belum sembuh.
Leon berdiri. Ia melangkah kemudian menarik kursi di depan Arumi lalu duduk di sana.
"Kau tahu bahwa yang selalu ada di dalam hatiku hanya kau, Aru!" lirih Leon. Ia menggenggam tangan Arumi yang tergeletak bebas di atas meja.
__ADS_1
"Tolong jangan memaksaku, Leon!" Arumi menarik tangannya.
"Kau masih meragukanku?"
"Apa ayahmu tahu bahwa kau datang kemari untuk menyusulku?" Mata gadis itu kembali mencoba menantang netra kecoklatan pemuda di hadapannya.
Leon mengangguk. "Tentu saja. Bahkan, dia yang memintaku untuk menyusulmu, Aru! Percayalah! Kali ini hubungan kita akan berhasil tanpa halangan dari siapapun!" ucap pemuda itu bersungguh-sungguh.
Arumi mendesah samar. Gadis itu merasa kembali di perdaya dengan kebohongan Leon. Mustahil Duke Xander merestuinya untuk bersama Leon mengingat betapa selektifnya pria dingin itu memilihkan calon istri untuk putranya.
"Aku tidak ingin terluka dengan hal yang sama lagi, Leon! Aku tahu bahwa kau lagi-lagi membohongiku kan?"
"Apa maksudmu dengan berbohong?" Tanya Leon tak mengerti.
Arumi bangkit dari kursinya. Gadis itu melangkah dan membuka tirai yang menutupi dinding kaca bening yang menampakkan keramaian lalu lalang orang di depan bangunan berlantai dua itu.
"Ayahmu tidak akan pernah merestui hubungan kita," ucap Arumi lirih.
Leon ikut berdiri. Ia menghampiri Arumi dan membalik badan gadis itu agar menghadapnya. Kedua tangannya memegang kedua bahu gadis cantik itu dengan tatapan berkaca-kaca.
"Dia sudah merestui hubungan kita, Aru! Ku mohon, percayalah!" lirihnya.
Arumi menurunkan kedua tangan Leon dari bahunya. "Itu hal yang mustahil terjadi ketika Ayahmu sendiri yang memintaku untuk menjauhimu!"
Arumi menarik napas dalam. "Apa kau tahu bahwa Ayahmu bahkan menghargai diriku dengan uang satu juta dolar?"
"Apa maksudmu?"
Arumi mengangguk dengan senyum miris menahan luka. "Ayahmu membayarku satu juta dolar Demi menjauhimu! Apa kau tidak tahu?"
__ADS_1